
1 Juli 1990.
Walaupun Alexa baru bekerja kurang lebih selama dua minggu sebagai supir pribadi keluarganya, namun Mister Ruppert semalam sudah memberikan upah kerja Alexa yang pertama.
——————
"Saya baru dua minggu bekerja, Sir, Madam. Kenapa gaji saya dibayar sebulan penuh?"
Alexa benar-benar kebingungan, ketika melihat lembaran uang di dalam amplop yang diberikan Mister dan Mistress Ruppert padanya, yang tampaknya lebih banyak dari yang seharusnya Alexa terima.
Dan setelah Alexa menghitung ulang uang yang ada di dalam amplop itu, dugaan Alexa memang benar adanya, kalau pembayaran upah kerjanya itu berlebihan.
"Tidak masalah. Saya dan Madam sudah memperhitungkan ulang, kalau gaji yang awalnya kami tawarkan padamu itu terlalu rendah....
... Dengan jadwal kami yang padat, hingga sebagian besar waktumu di setiap hari harus bekerja lembur, kami akan melipat gandakan gajimu agar sesuai dengan pekerjaanmu," jawab Mister Ruppert.
"Lalu bagaimana dengan ongkos latihan menembak dan kelas taekwondo? Kenapa anda tidak memotongnya dari gajiku itu?" tanya Alexa lagi.
"Alexa ...! Alexa tidak perlu memikirkan apa-apa. Segala sesuatunya sudah kami perhitungkan. Jadi, sebaiknya Alexa terima saja," ujar Mistress Ruppert tampak memaksa.
Alexa akhirnya hanya bisa terdiam untuk beberapa saat kemudian, sebelum akhirnya dia berucap,
"Terima kasih banyak, Sir! Madam!"
"Sama-sama. Alexa bekerja dengan baik jadi Alexa pantas mendapatkannya," sahut Mister Ruppert.
"Oh iya, saya hampir lupa! ... Alexa! Apa Alexa mau tinggal di rumah ini saja? Tentu sangat melelahkan kalau Alexa harus bolak-balik ke kediaman keluarga Hoover," ujar Mistress Ruppert.
"Apalagi, mulai minggu ini, kesibukan saya akan bertambah banyak, hingga kita akan banyak melakukan perjalanan ke luar kota," lanjut Mistress Ruppert.
Walaupun Mistress Ruppert tidak mengungkitnya, Alexa sudah sangat sadar bagaimana rasa lelahnya.
Hampir setiap hari dengan berpindah-pindah tempat, Alexa harus mengantar Mister Ruppert ke sana kemari.
Selain dari itu, Alexa juga masih harus mengikuti latihan menembak dan kelas taekwondo yang memakan waktunya di malam hari, tiga kali dalam seminggu.
Sehingga pada tiga dari hari-hari yang panjang dalam seminggu itu, Alexa akan kembali ke rumah keluarga Hoover, pada saat hari sudah jauh di tengah malam.
Dan bukan hanya Alexa yang kelelahan, kelihatannya Roy juga pasti ikut merasakan imbasnya, karena dia harus menunggu Alexa pulang di setiap malamnya.
Tapi, tetap saja....
"Umm ... Maaf, Sir, Madam. Tapi, saya ingin membicarakannya dulu dengan keluarga Hoover. Sesudah itu, barulah nanti saya berikan jawabannya," kata Alexa.
——————
07:00.
Walaupun hari ini adalah hari libur Alexa, namun Alexa tetap harus pergi sebentar ke rumah keluarga Ruppert, untuk mengambil semua kendaraan bermotor beroda empat keluarga itu, dan membawanya ke tempat pencucian mobil untuk dibersihkan.
Selain dibersihkan, Alexa juga harus memeriksakan kondisi kendaraan-kendaraan yang sering dipakainya itu, dengan membawanya ke bengkel langganan keluarga Ruppert.
Begitu juga keluarga Hoover yang terlihat tidak hanya bersantai-santai, tetap sesuai jadwal yang tampaknya sudah menjadi kebiasaan, hingga di jam sekarang ini, semua anggota keluarga sudah bersiap-siap untuk makan pagi bersama.
"Sir! Madam!" ujar Alexa saat dia dan semua anggota keluarga Hoover sudah duduk berkumpul di meja makan, dan mulai menikmati makan paginya.
"Saya diminta Mister dan Mistress Ruppert, untuk pindah dan tinggal bersama mereka," kata Alexa. "Katanya, mulai minggu ini jadwal perjalanan mereka akan semakin padat."
Ayah dan ibunya Roy tampak bertatap-tatapan, dan tidak segera menanggapi perkataan Alexa barusan.
Sedangkan Roy, tampak menatap Alexa lekat-lekat, dan hampir sama seperti orang tuanya, Roy juga hanya terdiam.
"Maafkan kami, Alexa ... Alexa jangan salah paham. Bukannya kami hendak melarang Alexa untuk pindah ke rumah keluarga Ruppert....
Walaupun sebenarnya kami lebih suka kalau Alexa tetap tinggal di sini. Tapi kami juga tidak akan menahan Alexa.
... Jadi, kami hanya bisa mendukung apa yang menjadi pilihan Alexa saja," kata ayahnya Roy.
Sekarang ini, Roy tampak menundukkan pandangannya ke arah meja, mendorong-dorong makanan dalam piringnya menggunakan sendok di tangannya, terlihat seolah-olah Roy telah kehilangan selera makannya.
"Kalau aku jadi tinggal di sana, aku masih bisa datang ke sini setiap hari Minggu, saat aku libur bekerja," ujar Alexa, sambil melirik ke arah Roy.
Roy tampak mengangkat pandangannya, lalu kembali menatap Alexa lekat-lekat, meskipun dia tetap tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Menurut Alexa, walaupun Alexa sudah berkata kalau dia akan datang berkunjung di setiap hari Minggu, namun dari raut wajah Roy saat ini, Roy sedang menampakkan rasa tidak senangnya akan apa yang menjadi pembahasan Alexa.
***
07:35.
Alexa sudah selesai membantu ibunya Roy untuk membersihkan semua peralatan makan, berikut juga dengan semua peralatan memasak bekas pakai yang kotor.
Alexa melihat ke sana kemari, dan Roy tampak tidak terlihat di seluruh area yang bisa terjangkau penglihatan Alexa.
"Madam! Apa masih ada yang bisa aku bantu?" tanya Alexa.
"Tidak ada. Alexa bisa istirahat saja. Saya dan ayahnya Roy berencana untuk pergi berbelanja sekarang ini," jawab ibunya Roy.
"Kalau begitu, aku ke atas dulu!" ujar Alexa. "Oh, iya! ... Madam! Sebentar lagi, aku akan pergi ke rumah keluarga Ruppert, kalau-kalau Madam dan Sir sudah pulang dari berbelanja, lalu aku tidak ada di sini."
"Iya. Alexa hati-hati di jalan, ya?!" ujar ibunya Roy.
"Iya, Madam! Anda dan Sir juga berhati-hatilah di jalan," sahut Alexa.
Dugaan Alexa, Roy mungkin berada di dalam kamarnya, hingga Alexa lantas bergegas menaiki tangga, menuju ke kamar Roy di lantai dua.
"Roy!" seru Alexa, di depan pintu kamar Roy yang tertutup.
Butuh berapa waktu, barulah Roy akhirnya membukakan pintu untuk Alexa.
Raut wajah Roy tampak kesal, saat berhadapan dengan Alexa di situ.
"Boleh aku masuk?" tanya Alexa.
Tanpa menjawab pertanyaan Alexa, Roy membuka pintunya lebar-lebar, lalu berbalik dan berjalan membelakangi Alexa.
Dengan berjalan pelan, Alexa masuk ke dalam kamar Roy, lalu duduk di bagian pinggir tempat tidur.
"Roy! Apa kamu marah denganku?" tanya Alexa.
Roy yang duduk di depan belajarnya dengan posisi membelakangi Alexa, untuk beberapa saat hanya terdiam, dan tampak enggan untuk menjawab pertanyaan Alexa itu.
Alexa kemudian berdiri menghampiri tempat Roy duduk, lalu memeluk Roy dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Roy, dari bagian belakang.
"Aku tidak mau membuatmu lelah menungguku pulang setiap malam," ujar Alexa pelan.
"Memangnya kamu pernah dengar aku mengeluh?" tanya Roy ketus.
"Tidak. Kamu memang tidak pernah mengeluh," jawab Alexa.
"Apa kamu sibuk hari ini?" lanjut Alexa buru-buru mengalihkan pembicaraan.
Roy memegang tangan Alexa yang masih melingkar di lehernya, lalu mengelusnya perlahan-lahan dengan ibu jarinya.
"Kenapa?" Roy balik bertanya.
"Aku semalam baru menerima gaji pertamaku. Aku mau mentraktirmu makan di luar, sekalian jalan-jalan, lalu membeli sedikit hadiah untuk Mommy dan Daddy-mu....
... Tapi sebelumnya, aku harus mengurus mobil-mobil Mister Ruppert yang biasa aku pakai. Apa kamu mau ikut?" ajak Alexa.
"Umm ... Iya, aku mau ikut. Tapi bukan untuk menghabiskan gajimu, melainkan untuk menghabiskan waktu liburmu saja," jawab Roy.
"Pffftt ...! Okay, okay!" ujar Alexa. "Ayo kita pergi sekarang! Semakin cepat aku selesai mengurus mobil-mobil itu, semakin cepat kita bisa bebas jalan-jalan."