It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 27



29 Februari 2000.


09:03.


Untuk beberapa waktu lamanya, Alexa tampak terfokus di buku pemberian Arthur, dan tidak mengajak Arthur untuk bercakap-cakap dengannya.


Arthur juga menahan diri untuk tidak menggangu konsentrasi Alexa, yang tampak asyik tenggelam dalam bacaannya.


Melihat tingkah Alexa yang seakan lupa dengan apa yang di sekitarnya saat sudah membaca, dalam hati, Arthur semakin merasa kalau memang banyak kemiripan antara dirinya dan Alexa.


Arthur yang melamun kosong, tanpa sengaja menjatuhkan Zippo yang digenggamnya sedari tadi.


Dengan terburu-buru, Arthur memungut benda itu kembali dari tanah.


"Apa itu?" tanya Alexa tiba-tiba, yang tampak sudah mengalihkan pandangannya dari buku, dan kini menatap Arthur lekat-lekat.


"Pemantik," jawab Arthur.


Arthur memperlihatkan Zippo di tangannya, kepada Alexa, dan Alexa segera mengambil benda itu dari atas telapak tangan Arthur yang terbuka.


Alexa tampak memperhatikan benda itu untuk beberapa saat, lalu raut wajahnya berubah drastis.


"Aku ingat pemantik ini. Ini milik temanku sesama kurir waktu aku bekerja untuk Sir Miller. Aku meminjam—" Alexa berhenti bicara, lalu menatap Arthur lekat-lekat.


"... Aku akhirnya mengingat di mana aku pernah bertemu denganmu," lanjut Alexa sambil tersenyum lebar.


"Apa kamu mengingatku? Aku yang meminjamkan pemantik ini kepadamu, namun hingga aku pulang bersama keluarga Miller, kamu tidak mengembalikannya padaku," ujar Alexa lagi.


"Iya. Aku juga baru mengingatmu, setelah aku menemukan benda ini kembali....


... Tapi aku harap kamu tidak akan menyalahkanku karena tidak ingat pertemuan kita waktu itu. Karena di malam itu, aku mengira kalau kamu adalah seorang laki-laki ... Alex," kata Arthur.


"Hahaha! ... Okay, okay! Tapi, aku bisa menyalahkanmu, karena kamu yang tidak mengembalikan pemantik itu, bukan?" ujar Alexa sambil tertawa.


"Iya, kamu bisa memarahiku sekarang ... Karena waktu itu, aku benar-benar lupa untuk mengembalikannya padamu," sahut Arthur sambil tersenyum.


"Pffftt ...! Apa ada cerita di balik pemantik ini? Benda ini sudah kamu pinjam bertahun-tahun lamanya," ujar Alexa.


"Malam itu, Josh mengajakku pulang, sesaat setelah aku selesai berbincang-bincang dengan Chief Miller, karena ada laporan kasus baru yang tidak bisa ditunda penanganannya....


...Aku berniat mengembalikan pemantik itu kepadamu nanti, dengan menitipkannya kepada Steven atau Igor, kalau aku bertemu dengan mereka....


...Karena aku khawatir benda itu hilang selama aku belum bisa pergi ke distrik Utara, aku lalu menyimpannya di dalam brankas di apartemenku....


... Dan akhirnya hanya terlupakan. Hingga kemarin aku membuka brankas, saat sedang membersihkan apartemen tempat tinggalku," kata Arthur.


"Siapa itu Damian? Nama itu terukir di pemantik itu," lanjut Arthur.


"Dia pemilik pemantik ini, aku hanya meminjamnya darinya. Dia adalah temanku yang juga mengajarkanku merokok," jawab Alexa.


"Oh, iya! Kamu tadi sudah bilang kalau pemilik pemantik itu adalah rekanmu sesama kurir," ujar Arthur. "Tapi apa aku boleh tahu, bagaimana hingga kamu bisa menjadi kurir untuk Chief Miller?"


"Umm ... Sebelumnya, aku memang sudah bekerja sebagai supir pribadi untuk keluarga Ruppert—" Alexa tidak sempat menyelesaikan perkataannya, karena Arthur menyelanya.


"Ruppert?" Arthur menyela perkataan Alexa dengan pertanyaan. "Apa maksudmu Sir Hans Ruppert?"


"Iya," jawab Alexa. "Apa aku bisa melanjutkan ceritaku?"


"Ugh ...? Oh, iya! Tentu saja!" sahut Arthur.


"Kalau kamu mengetahui tentang Sir Hans Ruppert, berarti kamu tahu tentang kecelakaan lalu lintas yang dialaminya, hingga membuatnya meninggal dunia?" ujar Alexa.


"Aku yang menyetir SUV keluarga Ruppert, dan membawa Sir dan Madam Ruppert, juga seorang bodyguard yang bekerja untuk keluarga Ruppert," sahut Alexa.


"Benarkah? Persidangan kasus itu dilakukan secara tertutup. Bahkan, distrik lain hanya bisa mendapatkan sedikit informasi dari distrik Utara," kata Arthur.


"Iya. Sebenarnya hasil persidangan itu mengecewakan, namun aku tahu kalau Sir Miller sudah berusaha keras, agar bisa membuktikan bahwa kecelakaan itu, bukan hanya karena alasan mabuk itu saja....


...Karena, sebelum kecelakaan itu terjadi, mobil yang aku kendarai sambil membawa Madam Ruppert, sempat dibuntuti, namun masih bisa aku hindari....


... Lalu, di kejadian yang naas itu, aku merasa banyak kejanggalan, walaupun aku baru menyadarinya setelah kecelakaan itu terjadi," ujar Alexa.


Alexa tampak sedih saat membicarakan tentang kecelakaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa dari Sir Hans Ruppert dan Madam Meir Ruppert.


"Jadi, bagaimana kelanjutannya?" tanya Arthur penasaran.


"Maksudku, bagaimana kelanjutannya, hingga kamu bisa bekerja untuk Chief Miller?" lanjut Arthur buru-buru.


"Aku seharusnya ikut dalam program perlindungan saksi. Namun, aku menolak karena aku tidak bisa mempercayai pihak kepolisian....


...Bukan tanpa alasan, hingga aku tidak percaya dengan kepolisian....


...Sebelum kecelakaan terjadi, Madam Ruppert sudah memberitahuku kecurigaannya akan adanya petinggi di kepolisian, yang mungkin terkait dalam kasus yang sedang ditangani oleh Sir Ruppert....


...Bahkan, saat aku akan melapor kepada pihak kepolisian ketika kami dibuntuti, Madam Ruppert menentang rencanaku itu....


...Madam Ruppert bersikeras kalau nanti dia akan meyakinkan Sir Ruppert, untuk 'lepas tangan' dari kasus yang sedang ditangani Sir Ruppert itu, agar nanti tidak ada yang akan mencoba mencelakai kami lagi....


...Jadi, karena aku tidak mau ikut program perlindungan saksi, dan aku juga tidak memiliki tempat tinggal....


... Akhirnya, Sir Miller menawarkan pekerjaan sebagai kurir di bisnis pengantaran barang miliknya," ujar Alexa menjelaskan.


"Jadi itu yang membuatmu jadi akrab dengan Chief Miller, berikut juga dengan Steven dan Igor?" tanya Arthur.


"Steven dan Igor, mereka yang menjagaku di rumah sakit yang selama kurang lebih hampir tiga bulan aku tidak sadarkan diri , karena kecelakaan yang aku alami....


... Setelah aku tersadar, sejak saat itu kami jadi sering berbincang-bincang. Makanya, aku bisa berhubungan cukup akrab dengan mereka berdua," jawab Alexa.


"Wah! Kalau begitu, Steven memang brengsek!" ujar Arthur gemas.


"Ugh ...? Kenapa kamu bilang begitu?" Alexa tampak bingung.


"Dia tahu kalau kamu itu wanita, tapi dia tidak memberitahu aku. Dia membiarkan aku tenggelam dalam prespektifku sendiri, yang mengira kalau kamu adalah laki-laki....


... Seandainya saja dia memberitahuku waktu itu, mungkin akan berbeda ceritanya sekarang ini. Mungkin sekarang kamu akan berkencan denganku," ujar Arthur.


"Hahaha! ... Apa-apaan kamu ini? Itu bukan kesalahannya, kamu sendiri yang tidak mau bertanya, kan?" ujar Alexa sambil tertawa.


"Kamu juga bersalah! Apa kamu tahu itu? Siapa yang menyuruhmu berpenampilan seperti laki-laki? Huh?" sahut Arthur tidak mau kalah.


"Hahaha! ... Okay, okay! Kalau begitu kita sama-sama salah. Puas?!" ujar Alexa sambil tertawa.


"Tidak. Kamu berhutang penjelasan padaku! Karena kamu telah menipuku! Kamu tahu kalau kamu bisa aku tangkap, untuk kasus tindak penipuan?" sahut Arthur lagi.


Arthur sebenarnya hanya bercanda, dan berpura-pura seolah-olah dia masih bersikeras, kalau Alexa telah melakukan kesalahan.


Selama Arthur bisa bertemu dengan Alexa, rasanya baru hari ini Arthur bisa melihat Alexa yang tampak senang, dan bisa tertawa lepas berkali-kali.


Seakan-akan, hari ini adalah hari keberuntungan bagi Arthur, hingga bisa melihat sisi Alexa yang berbeda yang tampak lebih santai dan terbuka, saat bercakap-cakap dengannya.