It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 36



28 Mei 1997.


"Alexa ...?" Dari nada suaranya, Roy lebih terdengar seperti dia sedang bertanya, daripada sedang menyapa Alexa.


"Hai! ... Roy! ... Claire!" sapa Alexa, sambil berusaha keras agar bisa tersenyum.


"Mark ...?" Nada suara yang keluar dari mulut Claire, juga terdengar mirip seperti Roy tadi.


Baik Claire maupun Roy tampak memandangi, Alexa dan Mark berganti-gantian, seolah-olah mereka sedang kebingungan dengan apa yang mereka lihat.


"Hai, Claire! Ini Alexa ... Kekasihku."


Mark yang memperkenalkan Alexa sebagai kekasihnya, benar-benar membuat mereka di situ tampak sangat terkejut.


Termasuk Alexa yang sama sekali tidak menyangka, kalau Mark akan menyebutnya sebagai kekasihnya.


Alexa hanya bisa menoleh ke sampingnya, untuk melihat Mark yang masih terlihat santai, dan tampak masa bodoh dengan apa yang baru saja dia katakan.


"Jadi, ini calon suamimu?" tanya Mark.


"Iya!" Raut heran di wajah Claire segera berubah menjadi raut bahagia, saat memamerkan Roy, calon suaminya.


"Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Kekasihku sangat lelah karena perjalanan jauh. Aku akan membawanya ke kamarnya untuk beristirahat," ujar Mark, lalu membawa Alexa berjalan melewati Roy dan Claire yang masih berdiri terpaku di situ.


Alexa masih sempat melihat kalau pandangan mata Roy mengikutinya, hingga Alexa masuk ke dalam hotel, Roy masih berbalik untuk melihat Alexa, meskipun dia tidak berkata apa-apa.


Menurut Alexa, Roy pasti sangat terkejut dengan adanya Alexa di situ, ditambah lagi dengan pengakuan Mark, kalau Alexa berkencan dengannya.


Ketika Alexa mencoba untuk berbalik agar bisa melihat Roy, Mark menariknya sambil berkata,


"Apa kamu lebih suka terlihat menyedihkan di depan laki-laki itu?"


Memang benar yang dikatakan Mark, Alexa pasti terlihat pathetic kalau dia masih terus berusaha memandangi Roy.


Tapi ...


"Sir! Kenapa anda mengatakan kalau kita adalah pasangan kekasih?" tanya Alexa.


"Apa kamu tidak mendengar perkataanku tadi?" Mark balik bertanya.


"Aku menyelamatkanmu, agar tidak terlihat menyedihkan di depan laki-laki yang tidak bisa menyadari betapa istimewanya kamu, saat kamu berada di dekatnya," lanjut Mark.


Alexa terdiam, dan hanya mengikuti Mark yang membawanya ke meja resepsionis.


Setelah mengambil kunci kamar, Alexa yang masih bersama Mark, kemudian memasuki lift, dan sebelum pintu lift menutup, Alexa melihat ke luar.


Di pintu masuk hotel yang masih bisa terlihat dari pintu lift, Alexa bisa melihat kalau Roy dan Claire sudah tidak berada di sana lagi.


Alexa kemudian melepaskan tangan Mark yang masih merangkul pinggangnya.


"Anda bisa melepaskan saya, Sir. Sudah cukup sandiwaranya. Sudah tidak ada yang perlu ditipu lagi," ujar Alexa.


"Umm ... Aku tidak bersandiwara. Aku memang menginginkanmu untuk menjadi kekasihku," sahut Mark.


"Sir! Tolong hentikan! Saya benar-benar tidak sedang dalam situasi yang bisa anda ajak bercanda," sahut Alexa.


Mark kelihatannya mau mengerti dengan apa yang Alexa rasakan sekarang ini, karena setelah itu, Mark tidak bicara apa-apa lagi, hingga mereka berpisah saat keluar dari dalam lift, dan memasuki kamar masing-masing.


Sendirian, tangisan Alexa pecah, ketika dia sudah di dalam kamar hotel yang disewa oleh Mark itu.


Alexa merasa sangat bodoh, karena meskipun hatinya terasa sangat sakit, tapi dia masih bisa menilai, kalau Roy sekarang ini terlihat semakin tampan dan dewasa.


Astaga!


Alexa benar-benar menyesali dirinya yang pengecut, yang tidak mau memberitahu tentang rasa cintanya kepada Roy, di saat dia masih ada kesempatan di masa yang lalu.


Sekarang ini, kesempatan itu benar-benar sudah menghilang, dan menjadi hal yang mustahil meskipun Alexa bertindak nekat, memberanikan diri untuk mengakui perasaannya kepada Roy.


Alexa hanya akan menjadi pengganggu dalam kebahagiaan calon pengantin itu, dan mungkin saja, hanya akan membuat Roy membencinya.


Membayangkan untuk tetap berada di tempat itu selama beberapa hari ke depan, dan tentu saja akan ada kemungkinan bagi Alexa, untuk kembali berpapasan dengan Roy dan Claire, membuat dada Alexa semakin terasa sesak.


Entah berapa lama Alexa menangis, sampai akhirnya dia tertidur karena kelelahan.


***


"Alexa!"


"Alexa!"


Seruan yang memanggil namanya diselingi dengan suara ketukan di pintu, membuat Alexa terbangun dari tidurnya.


Matanya terasa pedih, dengan pandangan yang buram, Alexa bangkit dari tempat tidur, dan pergi membuka pintu kamarnya.


"Kamu terlihat buruk! Apa kamu sudah puas menangis?" ujar Mark yang tampak berdiri di depan pintu kamar Alexa.


Mark tampaknya baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, ketika dia mendatangi kamar Alexa itu.


"Apa kamu masih akan menangis? Atau mau ikut makan malam denganku?" tanya Mark lagi.


Alexa mengucek matanya yang penglihatannya masih belum terlalu jelas.


"Hentikan!" seru Mark, sambil memegang tangan Alexa, untuk menahan gerakan tangan Alexa di matanya itu. "Kamu hanya memperburuk kondisi matamu saja."


"Saya tidak ikut makan malam, Sir!" kata Alexa.


"Kenapa? Jangan bertingkah bodoh! Walaupun kamu mati kelaparan, tidak akan ada yang berubah. Pernikahan itu akan tetap berlangsung," sahut Mark.


"Sir! Aku lupa mengambil koperku di mobil. Jadi, aku tidak memiliki pakaian ganti," ujar Alexa beralasan.


"Umm ... Itu saja? Kalau begitu aku akan menyuruh bodyguard-ku mengambilkannya," sahut Mark. "Kunci mobilmu mana?"


"Maaf, Sir! Kami tidak diperbolehkan meminjamkan kunci mobil kepada siapa-siapa," sahut Alexa kembali beralasan.


"Kamu pasti bercanda!" kata Mark, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku pinjam telepon di kamarmu sebentar," lanjut Mark. "Tidak perlu menutup pintu, kalau kamu cemas jika kita hanya berdua di dalam sini."


Dengan membiarkan pintu kamarnya tetap terbuka lebar, Alexa membiarkan Mark masuk dan menggunakan telepon yang ada di atas meja, yang ada di dekat tempat tidur.


"Halo! Saya Mark William. Bawakan saya gaun ukuran—"


Mark tiba-tiba berhenti bicara dengan seseorang di telepon itu, sambil menatap Alexa dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.


"... Gaun ukuran nomor—"


Mark tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Alexa tersadar kalau Mark tampaknya sedang memesan pakaian untuk Alexa, dan segera menghentikan niat Mark itu.


"Tidak, Sir! Saya tidak suka memakai gaun. Anda tidak perlu memesankan pakaian untuk saya. Saya bisa turun mengambilnya di bawah," kata Alexa, menyela pembicaraan antara Mark dan orang di telepon.


"Umm ... Bukan gaun, melainkan setelan jas saja ... Ukurannya? ... Umm ... Satu nomor lebih kecil dari ukuranku," lanjut Mark di telepon itu.


"Sir!" ujar Alexa.


"Iya, sekarang!" ujar Mark kepada orang di seberang telepon, tanpa memperdulikan Alexa yang menolak untuk dipesankan pakaian yang lain, hingga dia mengakhiri percakapannya di ponselnya itu.


"Kamu bisa mandi sekarang! Aku akan menunggu pakaian untukmu diantar," ujar Mark, lalu tampak berjalan menuju ke balkon yang ada di kamar itu.


Menurut Alexa, percuma saja berdebat dengan Mark yang keras kepala, Alexa lalu memilih untuk pergi membersihkan dirinya di kamar mandi.


***


Ketika Alexa sudah selesai mandi, terlihat ada satu setelan jas yang tergeletak di atas tempat tidur, pintu kamarnya masih terbuka lebar, dan Mark, terlihat masih duduk di balkon, dengan asap rokok yang mengepul di sekitarnya.


Alexa mengambil pakaian ganti di atas tempat tidur itu, dan memakainya di dalam kamar mandi.


Ukuran yang dipesan Mark, ternyata pas di badan Alexa, dan dengan membiarkan bagian kerah kemeja tetap sedikit terbuka karena tidak dikancingnya, tampilan Alexa jadi semi kasual, saat dia memakai jasnya.


Alexa kemudian menyusul Mark di balkon. "Sir! Saya sudah siap!"


"Okay! Kita turun sekarang!" sahut Mark, sambil berdiri dari tempat duduknya, setelah sempat memandangi Alexa dari ujung rambut hingga ke kakinya.


"Kalau kamu terus-terusan memakai pakaian seperti ini, maka aku bisa dikira sebagai seorang penyuka sesama jenis," celetuk Mark, saat mereka berdua memasuki lift.