It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 36



18 Maret 2000.


Entah mengapa, Alexa terlihat sangat berbeda saat ini, meskipun Arthur juga ada di situ sambil berdiri di samping Sir Miller.


Seakan-akan, Alexa memang sengaja menenggelamkan pikirannya hingga hilang kesadarannya, walaupun matanya tetap terbuka.


Tatapan kosong yang diperlihatkan oleh Alexa, benar-benar mengganggu bagi Sir Miller, Steven, juga Arthur.


Menurut Arthur, Alexa tidak berpura-pura dengan kondisinya saat itu, dan memang begitulah keadaan Alexa yang sebenarnya saat bertemu orang lain, selain Arthur.


Arthur yakin dengan dugaannya, karena meskipun Steven seolah-olah menyentak Alexa dengan candaannya, Alexa sama sekali bergeming.


Seolah-olah jiwa Alexa memang tidak berada di situ, dan hanya tubuhnya saja yang duduk diam di antara mereka, seperti boneka tak bernyawa.


"Saya benar-benar menyesal. Seharusnya saat itu, saya datang menemuinya, dan dia tidak perlu mengemudi sendiri, sampai akhirnya dia mengalami kecelakaan....


.... Lalu diduga kehilangan ingatannya, dan harus dirawat tempat ini, karena kesehatan mentalnya yang juga dianggap sedang terganggu," celetuk Sir Miller.


"Ugh ...? Kapan kejadiannya?" tanya Arthur.


Rasanya, Arthur tidak pernah mengetahui tentang kecelakaan lain, apalagi sampai Alexa hilang ingatan.


"Beberapa bulan yang lalu," jawab Sir Miller, sambil memandangi Alexa. "Sejak saat itu, dia jadi seperti ini setiap kali saya mengunjunginya."


"Maaf, Chief! Apa anda bisa menceritakan tentang kejadian itu?" tanya Arthur penasaran.


Sir Miller menatap Arthur lekat-lekat.


"Maaf, Chief! Saya hanya ingin tahu saja. Maafkan saya, kalau anda merasa terganggu untuk menceritakannya," lanjut Arthur.


"Huuffft ...!" Sir Miller tampak menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Saat itu Alexa tiba-tiba menghubungi saya, di sekitar jam sembilan malam. Dia berkata kalau ada yang ingin dia bicarakan dengan saya....


... Saat itu, George sedang sakit, jadi saya memintanya agar keesokan harinya saja kami bertemu. Entah dia yang menemui saya, atau saya yang mendatanginya," kata Sir Miller.


"Dari suaranya, saya bisa mendengar kalau ada sesuatu yang mengganggu Alexa. Namun saya tidak terlalu memikirkannya, karena pikiran saya terbagi dengan kondisi kesehatan George....


... Ternyata, malam itu juga Alexa berkendara mengarah ke distrik Utara. Saya sama sekali tidak mengetahuinya. Hingga saya mendengar kalau dia mengalami kecelakaan, sebelum mencapai perbatasan," lanjut Sir Miller.


Sir Miller tampak seolah-olah akan menangis saat itu juga, hingga beberapa kali Sir Miller terlihat menarik nafasnya dalam-dalam.


"Arthur! Apa kamu bisa menemaniku ke toilet? Aku tidak tahu di mana letaknya," ujar Steven tiba-tiba.


Menurut Arthur, Steven ingin membicarakan sesuatu, atau mungkin ingin menghentikan Sir Miller dari membahas tentang kecelakaan Alexa itu.


Dengan begitu, Arthur kemudian membawa Steven pergi dari situ, dan berjalan bersamanya menuju toilet umum di rumah sakit itu.


"Jangan kamu bertanya lagi tentang hal itu kepada Chief! Sudah cukup kesulitan yang dia rasakan, dengan menyalahkan dirinya sendiri," kata Steven.


"Kalau kamu hanya sekedar ingin tahu, aku bisa menceritakannya, karena aku tahu sedikit tentang hal itu," lanjut Steven.


Arthur manggut-manggut mengerti.


"Lalu apa yang kamu tahu?" tanya Arthur.


"Setelah kecelakaan itu, Alexa dirawat di rumah sakit, hingga beberapa minggu kemudian. Saya sempat beberapa kali mengunjungi Alexa bersama Chief dan Igor....


...Bahkan, Madam Miller dan George pernah ikut mengunjunginya. Namun, selama beberapa kali kami mengunjunginya, Alexa sedang tidak sadarkan diri....


... Jadi, kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hingga dia bisa mengalami kecelakaan. Lalu ketika tersadar, dia justru jadi seperti sekarang ini," kata Steven menyambung cerita Sir Miller.


"Tapi ... Alexa pernah bilang kepadaku, kalau dia menabrak dinding rumahnya. Karena itu, dia dianggap melakukan percobaan bunuh diri, hingga di rawat di rumah sakit jiwa ini," ujar Arthur.


"Ugh ...? Mobilnya bertabrakan dengan sebuah minivan di daerah xxx. Itu di dekat perbatasan wilayah, jaraknya sangat jauh dari rumahnya," sahut Steven yang terlihat bingung.


"Sebentar, sebentar! Katamu, dia menceritakannya padamu?" lanjut Steven buru-buru, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Arthur.


"Iya," jawab Arthur.


Steven tampak seperti sedang berpikir keras, dengan memijat-mijat keningnya.


"Apa saja yang dia ceritakan padamu?" tanya Steven.


"Banyak hal. Apa aku harus mengatakan semua ceritanya kepadamu?" ujar Arthur.


"Chief! Anda harus mendengar ini!" ujar Steven bersemangat.


"Alexa bisa berbincang-bincang dengan Arthur, tentang kejadian apa saja yang pernah dia alami!" lanjut Steven.


Sir Miller tampak sangat terkejut, hingga dia berdiri dari tempat duduknya, dan menatap Arthur dan Alexa berganti-gantian.


"Kamu tidak sedang bercanda, kan?" tanya Sir Miller, sambil menatap Arthur lekat-lekat.


"Tidak, Chief. Alexa menceritakan banyak hal tentang masa lalunya kepadaku," jawab Arthur.


Sir Miller lalu tampak melihat ke sana kemari, seolah-olah dia sedang memperhatikan semua yang ada di sekitarnya.


"Arthur! Kamu tahu! Sedangkan dengan dokternya saja, Alexa tidak akan menceritakan masa lalunya, kecuali dalam pengaruh hipnosis," ujar Sir Miller setengah berbisik, namun tetap terdengar tegas.


"Jadi, bagaimana kamu bisa yakin, kalau dia memang menceritakan tentang masa lalunya?" lanjut Sir Miller.


"Dia menceritakan tentang anda, Chief. Bagaimana sampai dia bisa bekerja menjadi kurir. Kecelakaan keluarga Ruppert....


... Bahkan rekan sesama kurir yang mengajarinya merokok pun, diceritakannya. Dan semuanya yang saya dengar, rasanya masuk akal," jawab Arthur.


Sir Miller tampak seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, dan menurut Arthur, Sir Miller mungkin masih tidak percaya dengan apa yang Arthur katakan.


Arthur yang sejak tadi terhalang oleh Sir Miller, kemudian mencoba mendekati Alexa, dan berjongkok di depannya, lalu menggenggam tangan Alexa.


"Hai, Alexa!" sapa Arthur.


Seketika itu juga, pandangan mata Alexa tampak kembali hidup, matanya bergerak melihat ke arah Arthur, lalu membalas sapaan Arthur, "Hai, Arthur!"


"Alexa! Aku datang bersama dengan Sir Miller dan Steven," ujar Arthur. "Mereka ingin bertemu denganmu."


Alexa terlihat mengangkat pandangannya, dan melihat ke arah Sir Miller dan Steven, bergantian, lalu tersenyum lebar.


"Apa kabar, Sir? Steven?" ujar Alexa, seolah-olah dia baru saja melihat Sir Miller dan Steven, dan tidak ada yang aneh pada dirinya barusan.


Baik Sir Miller maupun Steven, raut wajah mereka tampak tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Alexa!" seru Steven yang hampir berteriak.


"Steven! Arthur marah kepadamu, karena kamu tidak memberitahunya, kalau aku bukan laki-laki," kata Alexa.


Steven tampak bingung, jadi Arthur menjelaskan seadanya, "Pesta pergantian tahun, beberapa tahun yang lalu."


Ketika Arthur melihat Sir Miller, laki-laki paruh baya itu tampak tidak bisa menahan air matanya yang mengalir di wajahnya, meskipun dia tidak mengeluarkan suaranya.


"Sir! Kenapa anda menangis?" tanya Alexa, lalu membuka kedua lengannya lebar-lebar, seolah-olah ingin memeluk Sir Miller.


Sir Miller mendekat lalu berpelukan dengan Alexa.


"Maafkan saya, Alexa," ucap Sir Miller berbisik, namun masih didengar oleh Arthur.


"Sir! Anda tidak melakukan kesalahan apa-apa," kata Alexa. "Bagaimana kabar George dan Madam?"


"Mereka baik-baik saja. Mereka tidak ikut karena George mulai aktif les piano," jawab Sir Miller. "Nanti, saya akan mengajak mereka bersama-sama menemui Alexa."


"Okay! Aku menunggu. Berhubung aku juga tidak akan bisa pergi ke mana-mana," sahut Alexa, sambil melepaskan pelukannya dari Sir Miller.


Seperti anak anjing yang ingin dimanja, Steven pun mendekat dan tampaknya ingin mendapat pelukan dari Alexa.


"Pffftt ...! Ada apa denganmu? Kenapa kamu bertingkah seperti anak kecil?" tanya Alexa sambil menatap Steven.


"Apa aku juga bisa mendapatkan pelukan?" tanya Steven dengan wajah memelas.


"Tentu saja!" sahut Alexa, lalu berpelukan dengan Steven untuk beberapa saat.


"Sir! Aku ingin merokok. Sir tidak akan mengomeliku, kan?" tanya Alexa.


"Tidak. Alexa bisa melakukan apa saja yang Alexa mau," sahut Sir Miller.


"Arthur! Rokokku habis. Apa kamu membawa rokok?" tanya Alexa.


Steven maupun Arthur, sama-sama menyodorkan bungkusan rokok milik mereka kepada Alexa, namun Alexa menerima bungkusan rokok yang diberikan oleh Arthur.


Sedangkan, Sir Miller tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil mendengus pelan.