
10 Agustus 1991.
17:47.
"Jam berapa sekarang?" tanya Louis.
"Hampir jam enam sore," jawab Alexa yang baru saja melihat arloji di pergelangan tangannya.
Louis kelihatannya tidak tahu akan melakukan apa di tempat itu, hingga semenjak mereka tiba, sampai saat ini, Louis hanya berdiri menempel di dekat Alexa.
"Apa tidak ada satupun yang kamu kenali?" tanya Alexa, lalu menyesap sedikit minuman di dalam gelas yang dipegangnya sejak tadi.
Menurut Alexa, raut wajah Louis berubah menjadi sedih atau kecewa, sesaat setelah Alexa bertanya.
"Ada apa denganmu? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" tanya Alexa heran.
Louis menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Aku dibesarkan di daerah pinggiran kota. Hanya akan menjadi mimpi bagiku, untuk memiliki kenalan orang-orang yang berkelas seperti ini," kata Louis.
"Umm ... Aku tidak berniat untuk menyinggung perasaanmu....
...Hanya saja aku terpikir, kalau di antara orang-orang ini, kan bukan hanya orang kaya saja, melainkan ada juga orang-orang dengan status yang sama dengan kita....
... Kalau kamu sejak lahir tinggal di kota ini, mungkin saja kan?! Kalau ada yang kamu kenali di antara orang-orang ini," ujar Alexa.
"Sayangnya tidak ada. Sebagai warga pinggiran kota, aku sudah termasuk dalam kategori orang yang sangat beruntung, saat aku bisa bekerja bersama keluarga Ruppert....
... Biasanya, orang-orang sepertiku hanya berakhir menjadi seorang kriminal di jalanan," sahut Louis.
"Keluarga Ruppert, walaupun dari kalangan orang terpandang, tapi sangat baik dan sederhana. Kamu tidak bisa membayangkan, bagaimana senangnya aku bisa bekerja untuk mereka," lanjut Louis.
"Kalau begitu, kita berdua sama-sama beruntung," celetuk Alexa sambil tersenyum.
"Hehehe ... Iya. Ditambah lagi, aku juga senang bisa bekerja bersamamu, walaupun kamu orangnya cuek dan sedikit galak," sahut Louis.
"Ckckck ... Setelah memujiku tinggi-tinggi, lalu membantingku dengan keras ke tanah," ujar Alexa sambil tersenyum lebar, dan hampir tertawa.
"Pffftt ...! Aku hanya bercanda. Aku tahu kalau kamu sebenarnya ramah, hanya wajahmu saja yang kelihatan seperti orang pemarah....
... Jadi, saranku sebagai temanmu, sebaiknya kamu harus lebih sering-sering tersenyum," kata Louis menimpali.
"Okay, okay! Tapi apa kamu sadar kalau kamu mengulanginya lagi? Jangan memuji, jika di ujungnya kamu hanya akan menyebutkan kebalikannya!" ujar Alexa.
"Hey! Itu demi kebaikanmu! Orang-orang akan menilai saat melihatmu pertama kali, dan bukannya saat sudah mengenalmu cukup lama....
... Kamu akan kesulitan menemukan teman, apalagi kekasih kalau kamu terus-terusan memasang wajah sangar seperti itu," sahut Louis tampak tidak mau kalah.
Alexa tahu kalau dia tidak akan menang jika akan berdebat dengan Louis, jadi Alexa memilih untuk tidak menanggapi perkataan Louis lagi.
Mendadak pembicaraan orang-orang di dalam ruangan itu, terdengar semakin ramai dan nyaring, seolah-olah ada sesuatu yang menarik perhatian para tamu yang hadir, hingga membuat mereka berdecak kagum.
"Itu dia!"
"Pewaris utama Willing Grup!"
"Dia terlihat hebat!"
"Pakaiannya saja didesain khusus oleh desainer terkenal!"
Percakapan orang-orang itu ikut menarik perhatian Alexa, hingga ikut melihat ke arah di mana orang-orang yang bercakap-cakap itu memandang.
Di tangga yang ada di tengah-tengah ruangan, terlihat seorang laki-laki sedang berjalan santai menuruni anak tangga.
Sebagai seorang wanita, Alexa merasa kalau selain penampilannya yang berpakaian perlente dan tampak mahal, tidak yang istimewa dari fisik laki-laki itu.
Wajahnya tidak tampan, bahkan menurut penilaian singkat oleh Alexa, Louis masih jauh lebih tampan daripada laki-laki itu.
Begitu juga postur tubuhnya, dengan tinggi badan yang mungkin saja Alexa masih lebih tinggi beberapa centimeter darinya, sama sekali tidak mencolok hingga bisa membuat Alexa merasa kagum.
Menurut Alexa, karena status dan hartanya saja, hingga orang-orang memandang laki-laki itu seolah-olah dia adalah orang yang sangat istimewa.
"Mark William!" celetuk Louis.
"Ugh ...? Apa katamu?" tanya Alexa yang tidak mendengar dengan baik perkataan Louis, karena sibuk melamun.
"Itu yang namanya Mark William!" Louis mengulang perkataannya, sambil menunjuk dengan matanya ke arah laki-laki yang tadi dilihat Alexa, sedang berjalan menuruni tangga.
"Pewaris utama Willing Grup. Orang terkaya di kota, hingga ke seluruh penjuru negeri ini," lanjut Louis menjelaskan maksudnya. "Banyak wanita tergila-gila kepadanya!"
"Pffftt ...!" Alexa tertawa tertahan.
"Kenapa kamu tertawa? Apa yang lucu?" tanya Louis, sambil memasang raut wajah heran.
"Tergila-gila katamu?" tanya Alexa sinis. "Umm ... Mungkin memang benar katamu. Tapi, aku yakin kalau wanita-wanita itu tidak melihat orangnya, melainkan hanya melihat dompet di kantongnya."
"Apa kamu tidak tertarik melihatnya?" tanya Louis masih terlihat heran.
"Tentu saja tidak" jawab Alexa.
"Apa kamu yakin?" tanya Louis lagi, seolah-olah tidak percaya.
"Mau jawabanku yang jujur?" Alexa balik bertanya.
Louis mengangguk pelan.
"Baik wajah dan fisiknya tidak ada yang menarik. Bahkan, rasanya sia-sia saja pakaian mahal yang dia pakai, karena kamu masih terlihat lebih keren daripada dia....
...Ditambah lagi, menurutku orang-orang yang lahir dengan 'sendok emas di mulutnya', rata-rata bukanlah orang yang berguna....
... Orang-orang seperti itu hanya memanfaatkan hasil dari kerja keras orangtuanya," jawab Alexa.
"Jadi kamu menganggapku keren?" tanya Louis sambil tersenyum lebar.
"Pffftt ...! Iya, kalau hanya dibandingkan dengannya. Karena masih banyak laki-laki lain yang lebih keren darimu," jawab Alexa sambil tertawa.
"Hahaha!" Louis tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangannya. "Kamu memang berbeda. Tapi, apa kamu yakin kalau kamu bukan penyuka sesama jenis?"
"Hey! Jangan membuatku marah! Tentu saja aku tertarik kepada laki-laki. Hanya saja, wajar kan kalau ada tipe laki-laki tertentu yang bisa membuatku tertarik?" ujar Alexa.
Louis tampak manggut-manggut seolah-olah mengerti maksud dari perkataan Alexa.
"Benar katamu. Terus terang, aku juga menganggap kalau dia—Mark William— itu tidak menarik. Hanya karena dia orang kaya saja yang menjadi daya tarik utamanya," ujar Louis.
"Berarti kamu setuju dengan perkataanku?" tanya Alexa memastikan.
"Iya, tentu saja," jawab Louis.
Sembari Alexa dan Louis menikmati minuman mereka, sesekali mereka memandangi ke arah Mark William yang di dekati orang-orang yang berkerumun, tampak seperti seorang artis yang dikerumuni penggemarnya.
"Ting! Ting! Ting!"
Suara gelas yang berdenting saat dipukul dengan sendok oleh seseorang di tengah ruangan yang tepat berdiri di anak tangga terakhir, tampak sengaja membunyikannya untuk menarik perhatian para tamu yang hadir.
"Acara ... Bla ... Bla ... Dimulai ... Bla....!" Orang yang membunyikan gelas tadi, menyampaikan pengumuman untuk acara pesta yang akan dimulai, dengan beberapa pengumuman lain tentang acara pesta itu.
Namun Alexa tidak terlalu memperhatikan apa saja yang dikatakan oleh orang itu, dan lebih tertarik melihat dua orang anak kecil yang berdiri sambil memegang boneka di dekatnya.
Boneka bebek berwarna kuning, meskipun berukuran kecil, namun tetap bisa mengingatkan Alexa kepada Roy.
Apa yang dilakukan Roy sekarang?
Apakah dia masih mengingat Alexa?
Apakah dia tahu kalau Alexa merindukannya?
"Huuffft ...!" Alexa mendengus pelan.
Sudahlah....