It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 26



29 Februari 2000.


07:30.


Arthur menikmati secangkir kopi panasnya, dengan dua potong roti panggang polos tanpa topping, dan hanya terasa gurih karena olesan sedikit butter.


Rencananya, setelah Arthur menghabiskan sarapannya, maka Arthur akan segera pergi ke rumah sakit jiwa.


Pemantik Zippo dan buku berjudul A SEASON IN HELL, sudah dimasukkan Arthur ke dalam kantong kertas, dan siap untuk dibawanya pergi.


Agak mengherankan bagi Arthur saat melihat di jalanan yang ada di depan gedung apartemennya, di jam sekarang sudah tampak ramai kendaraan bermotor yang berlalu lalang.


Sebelum Arthur pergi ke rumah sakit dengan mengendarai mobil pribadinya, Arthur masih menyempatkan untuk membeli sebungkus rokok di minimarket yang ada di dekat gedung apartemennya itu.


Sekotak rokok dengan bungkusan berwarna merah putih yang dibelinya lantas dimasukkan ke dalam saku jaketnya, setelah mengeluarkan satu batang dari dalam bungkusan itu.


Sambil dengan sebatang rokok yang menyala di mulutnya, Arthur memacu laju mobilnya di jalanan, mengarah langsung ke rumah sakit, tanpa singgah di mana-mana lagi.


Sesekali, sembari Arthur menyetir, Arthur melirik kantong kertas yang menjadi bawaannya untuk bertemu Alexa.


Arthur benar-benar tidak sabar untuk melihat reaksi dari Alexa, saat Arthur mengembalikan pemantik yang dipinjamnya sejak bertahun-tahun yang lalu.


Dan bagaimana nanti Alexa akan merespon buku yang menjadi kado ulang tahun Arthur untuknya, juga membuat Arthur jadi semakin penasaran, dan ingin buru-buru tiba di rumah sakit jiwa.


Ketika Arthur tiba di rumah sakit, Arthur berjalan di koridor berbarengan dengan seseorang yang tampak memakai seragam dari salah satu perusahaan pengantar barang.


Orang itu terlihat membawa buket bunga mawar merah berukuran besar di tangannya, lalu tampak menghentikan langkah seorang perawat, yang saat itu berjalan berlawanan arah dengan Arthur dan pengantar barang itu.


Arthur tidak menghiraukan apa yang mungkin sedang dibicarakan oleh pengantar barang itu dengan perawat, melainkan terus berjalan hingga Arthur melihat Alexa yang ada di bangku taman, tempat biasanya Arthur bertemu dengannya.


"Alexa! Atau aku harus memanggilmu Alex saja?" sapa Arthur sambil tersenyum.


"Pffftt ...! Ada apa dengan senyummu itu?" tanya Alexa, yang tampak ikut tersenyum saat dia melihat Arthur yang berjalan menghampirinya.


"Apa kabarmu?" tanya Arthur berbasa-basi, sambil duduk di samping Alexa.


"Masih sama seperti terakhir kali kamu menjengukku," jawab Alexa lalu tampak seperti sedang berpikir sesuatu.


"Umm ... Kapan kamu terakhir ke sini? Aku sampai-sampai hampir tidak mengenalimu lagi," lanjut Alexa, sambil tersenyum dan hampir tertawa.


"Maafkan, aku. Aku lama tidak mengunjungimu karena aku sibuk merawat ini ..." Arthur beralasan, sambil mengangkat lengan kirinya, untuk memperlihatkan kalau dia sudah tidak memakai penyangga tangan lagi.


"... Besok, aku sudah kembali aktif bekerja," lanjut Arthur.


"Permisi! Apa anda Mistress William?" Seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Arthur dan Alexa, melontarkan pertanyaan yang menyela percakapan antara Arthur dan Alexa.


Arthur memperhatikan kalau orang itu adalah pengantar barang yang berpapasan dengannya tadi, dan se-buket bunga mawar merah di tangannya, berarti adalah kiriman untuk Alexa.


"Iya," jawab Alexa.


"Ini untuk anda!" ujar orang itu, sambil menyodorkan buket bunga kepada Alexa. "Saya pergi dulu!"


Orang itu kemudian beranjak pergi meninggalkan Alexa dan Arthur di situ, setelah Alexa menerima buket bunga yang dia bawa tadi.


"F*king b*st*rd!" Dengan raut wajah kesal, Alexa memaki, saat dia mengambil dan melihat tulisan di kartu yang ada di bagian atas buket bunga.


Sambil meremas kartu kecil yang dilihatnya tadi, Alexa tampak hampir membanting buket bunga itu ke tanah, namun dia menghentikan gerakannya saat dia melihat Arthur yang sedang menatapnya lekat-lekat.


"Apa kamu mau ini?" tanya Alexa, dengan kedua alisnya yang terangkat sambil menatap Arthur.


Menurut Arthur, Alexa mungkin menduga kalau Arthur tertarik dan ingin memiliki buket bunga itu.


Namun, tentu saja Arthur tidak menginginkan benda itu, karena Arthur hanya merasa penasaran akan siapa yang mengirim buket bunga itu kepada Alexa.


Arthur juga hampir saja dengan refleksnya menggelengkan kepalanya, namun akhirnya Arthur bisa menahan diri untuk tidak menggeleng, dan justru mengambil buket bunga itu dari tangan Alexa.


Arthur tidak menanggapi perkataan Alexa, melainkan sibuk merapikan pita ikatan buket bunga yang hampir rusak, karena diremas Alexa tadi.


Arthur kemudian mendekatkan buket bunga di samping wajah Alexa, seolah-olah sedang membandingkan antara Alexa dan sekumpulan bunga mawar itu.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Alexa heran.


Tanpa berkata apa-apa, Arthur melihat Alexa dan bunga itu berganti-gantian.


"Apa kamu tahu, kalau kamu ternyata jauh lebih cantik daripada bunga-bunga yang cantik ini?" ujar Arthur.


Seketika itu juga raut wajah Alexa yang tadinya sempat terlihat masam, tampak berubah drastis.


"Hahaha!" Alexa tertawa lepas, lalu tampak mengatur nafasnya, seolah-olah ingin berhenti tertawa.


"Okay, okay! Melontarkan rayuan gombal, hanya untuk mendapatkan se-buket bunga. Tapi, aku suka caramu ... Hahaha!" ujar Alexa sambil tetap tertawa.


"Kamu bisa membawanya. Aku tidak membutuhkan bunga yang akan segera layu seperti itu di sini."


Alexa bicara sambil menunjuk tanaman berbunga yang berwarna-warni, yang tumbuh di dekat bangku taman tempat mereka duduk.


Arthur lalu meletakkan buket bunga di sisinya di atas bangku itu, kemudian mengangkat kantong kertas yang dia bawa tadi bersamanya.


Arthur merogoh Zippo dari dalam situ dan menggenggamnya, agar Alexa tidak segera melihat benda itu, saat Arthur menyerahkan kantong kertas berisi buku kepada Alexa.


"Selamat ulang tahun!" ucap Arthur.


"Ugh ...? Kamu mengingatnya?" Alexa tampak bingung, sambil menerima kantong kertas pemberian Arthur.


Alexa tampak mengintip ke dalam kantong yang terbuka, kemudian kembali mengangkat pandangannya, dan menatap Arthur.


"Buku ... Kamu menghadiahkan aku sebuah buku?" tanya Alexa.


Arthur tidak mengerti sama sekali, apa yang disiratkan raut wajah Alexa sekarang ini, entah dia menyukai hadiah Arthur itu, atau tidak.


"Kamu tidak suka?" tanya Arthur cemas.


Alexa kemudian tampak tersenyum lebar.


"Ini hadiah terbaik! A Season In Hell? Aku sudah pernah membacanya. Buku itu berisikan puisi yang chaotic, namun itu adalah karya sastra yang tidak ternilai harganya....


... Rasanya benar-benar menyenangkan, saat ada yang mau memberiku buku ini secara cuma-cuma," ujar Alexa.


"Jadi kamu menyukainya?" tanya Arthur memastikan.


"Tentu saja! Dulu, aku bisa membacanya karena dipinjamkan oleh seseorang yang cukup penting bagiku," jawab Alexa.


Entah saking senangnya karena diberikan hadiah yang disukainya, Alexa tampak spontan mendekat, lalu mengecup salah satu pipi Arthur, dan berkata,


"Terima kasih. Aku sangat menghargai pemberianmu ini. Aku akan merawatnya dengan baik."


Jantung Arthur rasanya akan meloncat keluar dari dadanya, saking senang dan kaget akan reaksi Alexa, saat mendapatkan hadiah buku dari Arthur itu.


Kalau begitu, Arthur memang tidak salah memilih hadiah yang cocok untuk Alexa.


"Arthur Rimbaud. Kalau tidak salah, itu nama penulisnya, kan? Setiap membaca buku ini, aku pasti akan teringat padamu.... Tapi—" Alexa tiba-tiba berhenti bicara, seolah-olah ada yang sedang dia pikirkan.


"... Umm ... Apa kamu sengaja memberikan buku ini, agar aku selalu mengingatmu?" lanjut Alexa, sambil mengeluarkan buku dari dalam kantong kertas.


Untung Alexa tidak melihat raut wajah Arthur, saat dia bertanya tentang sengaja, atau tidak sengajanya Arthur memberi buku itu, pikir Arthur.


Karena Alexa mungkin akan tahu, kalau Arthur merasa sedikit panik karena rencananya yang langsung ketahuan oleh Alexa.