It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 12



22 Januari 2000.


08:42.


"Apa anda pernah mencoba duduk sendiri?"


Dokter yang merawat Arthur, menampakkan raut wajah kurang senang, saat melontarkan pertanyaannya kepada Arthur.


Arthur memang bebal.


Arthur bisa saja menekan tombol pengaturan di ranjang, agar posisi ranjang bisa sedikit terangkat, dan Arthur tidak perlu menggerakkan bagian pinggangnya yang masih cedera.


Namun, sepulang Alexa dari situ kemarin siang, Arthur yang ingin segera dipulangkan dari rumah sakit, memaksakan diri untuk duduk sendiri, agar terlihat kalau dia baik-baik saja.


Setelah Arthur melihat reaksi dari dokter, barulah Arthur menyadari kebodohan yang telah dia lakukan.


Dokter yang merawat Arthur, tampak berhati-hati saat memeriksa luka di bagian pinggang Arthur itu, lalu membiarkan salah satu perawat, menggantikan perban di lukanya itu.


"Kapan kamu bisa mengunjungiku, kalau kamu malah memperlambat proses penyembuhanmu?"


Alexa yang tiba-tiba sudah berada di dalam ruang perawatan Arthur, benar-benar mengejutkan Arthur dengan suara beratnya yang mendadak bertanya.


Arthur tersenyum lebar, ketika Alexa tampak sudah terduduk di kursi yang tidak jauh dari bagian kaki ranjang.


"Apa kamu sengaja melakukannya, agar aku yang harus datang menjengukmu?" tanya Alexa lagi.


"Ale— ... Aauuch!"


Arthur tidak sempat menyebut nama Alexa, karena dia yang meringis kesakitan, ketika salah satu perawat memasangkan perban baru, di bahu bagian kiri Arthur.


Setelah perawat dan dokter selesai memeriksa dan merawat luka Arthur, mereka kemudian bergegas pergi dari ruangan itu.


Seketika itu juga, Alexa kemudian menarik kursi agar mendekat ke bagian samping ranjang.


"Kamu mengunjungiku hanya seminggu sekali, sedangkan aku mengunjungimu setiap hari. Apa kira-kira balasan untukku nanti?" ujar Alexa.


Arthur yang masih dalam posisi setengah duduk, kemudian mengulurkan tangan kanannya, dengan harapan, Alexa mau memegang tangannya itu.


Alexa tampak melihat ke arah tangan Arthur untuk beberapa saat, namun dia tidak menyambutnya, melainkan hanya melihatnya saja, lalu kembali menatap mata Arthur.


"Alexa ...!" ujar Arthur dengan suara memelas. "Tanganku pegal!"


Alexa tampak hampir tertawa, lalu akhirnya menyambut tangan Arthur.


"Mungkin memang benar kalau aku sudah gila. Demi memeriksa keadaanmu, aku memaksa dokter pendampingku, agar aku bisa keluar lagi dari rumah sakit hari ini," kata Alexa.


Saat itu juga, Arthur sebenarnya ingin berkata sesuatu, namun karena Alexa tampak masih ingin berbicara, maka Arthur menunggu hingga Alexa selesai mengatakan, apa yang ingin dia utarakan.


"Tapi, kamu jangan salah paham! Aku mau menemuimu, karena aku benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu saja, dan tidak memikirkan hal yang lain....


... Sebagai teman, aku rasa kamu butuh dukungan, agar kamu bisa cepat sembuh. Lagipula, tidak banyak yang bisa aku lakukan di rumah sakit," lanjut Alexa.


"Sebaiknya kamu jangan menyebut dirimu sendiri sakit jiwa. Aku tahu kalau kamu baik-baik saja," kata Arthur.


"Hmm ... Apa kamu tahu? Mengobrol dengan pasien rumah sakit jiwa, maka kamu akan ikut menjadi gila," lanjut Alexa, lalu tertawa kecil.


"Hufft ...!" Arthur mendengus kasar.


"Tidak perlu menunjukkan rasa iba kepadaku. Aku tidak membutuhkannya," ujar Alexa.


"Alexa ...! Aku mungkin belum terlalu lama mengenalmu, ..." Masih ada yang ingin Arthur katakan kepada Alexa, namun dia mengurungkan niatnya untuk membicarakannya.


Arthur melepaskan genggamannya dari tangan Alexa, lalu mengangkat tangannya itu, dan menyentuh salah satu sisi wajah Alexa.


"Arthur! Apa yang kamu lakukan?" ujar Alexa, lalu dengan cepat menepis tangan Arthur dari wajahnya.


"Aku hanya ingin menyentuh wajahmu sebentar saja. Bisa?" tanya Arthur pelan.


Alexa hanya terdiam, dan bagi Arthur, Alexa yang tidak melarangnya, berarti Alexa mengizinkan Arthur untuk menyentuh wajahnya.


Ketika Arthur memperlakukan wajah Alexa seperti itu, Alexa tampak menundukkan pandangannya, seolah-olah dia sedang menyembunyikan sesuatu dari Arthur.


"Ehheem! ... Ehheem!"


Suara batuk yang dibuat-buat, cukup mengejutkan Arthur, hingga segera menoleh ke arah datangnya suara, dan Alexa juga menepis tangan Arthur dari wajahnya.


Josh terlihat sudah berpakaian rapi, dan tidak mengenakan pakaian rumah sakit lagi, tampak berjalan menghampiri ranjang perawatan Arthur.


"Kamu sudah bisa pulang?" tanya Arthur.


"Iya. Tapi, sebelum aku pergi dari rumah sakit ini, aku mau melihat keadaanmu, sebentar," jawab Josh.


Dari raut wajahnya, Arthur menilai kalau Josh tidak senang dengan adanya Alexa di situ, namun Arthur tidak menghiraukannya, dan berpura-pura tidak menyadari ketidaksukaan Josh itu.


"Alexa! Ini Josh. Dia rekan kerjaku," kata Arthur memperkenalkan Josh kepada Alexa.


"Aku mengenalnya. Kami sudah beberapa kali bertemu," sahut Alexa, lalu tampak berdiri dari kursinya, dan seolah-olah akan pergi dari situ.


Arthur menahan tangan Alexa, hingga Alexa menghentikan gerakannya, dan berdiri terpaku sambil menatap Arthur.


"Kamu mau ke mana? Kamu belum terlalu lama di sini, kamu masih bisa menghabiskan sedikit waktu lagi untuk menemaniku, kan?" tanya Arthur memaksa.


"Pergunakan saja waktumu! Kamu tidak bisa selalu bebas keluar, bukan?! Aku tidak akan lama," kata Josh kepada Alexa, seolah-olah mendukung keinginan Arthur, agar Alexa tetap menemani Arthur di situ.


Alexa kemudian duduk kembali di kursinya, dan tidak berkata apa-apa.


"Bagaimana keadaanmu? Apa kamu merasa sudah jauh lebih baik?" tanya Josh sambil menatap Arthur.


"Aku masih belum bisa pulang," jawab Arthur datar.


Kalau Arthur bisa jujur, Arthur masih merasa kesal karena melihat wajah Josh, yang tetap mempertahankan raut wajah tidak senangnya.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Kamu bisa menghubungiku kapan saja, kalau kamu butuh apa-apa," kata Josh, lalu tampak berbalik, tanpa menunggu tanggapan dari Arthur.


Kelihatannya, Josh juga menyadari kalau Arthur merasa terganggu dengan kedatangannya di dalam ruang perawatan itu, hingga dia tidak mau berlama-lama di situ.


"Arty ...! Maafkan aku...." ujar Alexa pelan, ketika beberapa saat telah berlalu, sejak keluarnya Josh dari ruangan itu.


Arthur mengerutkan alisnya dalam-dalam.


"Kenapa kamu meminta maaf?" Arthur balik bertanya.


"Terus terang, aku masih ingin kalau kita masih bisa berteman. Tapi, seharusnya aku tidak menemuimu lagi," jawab Alexa.


Arthur yang masih memegang wajah Alexa, hanya bisa terdiam mendengarkan perkataan wanita itu.


"Aku masih menemuimu lagi, karena aku ingin agar kamu bisa membuka pikiranmu....


...Aku berharap agar kamu bisa tersadar, kalau kamu tidak bisa tertarik lebih dari teman kepadaku....


... Tapi kelihatannya, aku hanya memperburuk keadaan," lanjut Alexa.


Menilai dari suara Alexa yang sedikit bergetar, seolah-olah sedang menahan tangis, Arthur merasa kalau Alexa memang menyesali situasi saat itu.


"Jangan meminta maaf! Ini semua bukanlah kesalahanmu. Justru aku yang harus meminta maaf, kalau aku hanya membuatmu merasa tidak nyaman....


... Maafkan sikapku yang menjadi serakah, dan memaksakan perasaanku padamu," kata Arthur pelan.


"Huuuffftt ...!" Alexa tampak menghembuskan nafasnya yang terdengar berat.


"Sekarang apa? Apa masih mungkin kalau hubungan kita, hanya sebatas kenalan seperti saat pertama kali kita bertemu?" tanya Alexa.


"Tentu saja! Kamu bisa berpura-pura tidak tahu, kalau aku menyukaimu," ujar Arthur buru-buru.


"Pffftt ...! Kamu seperti anak kecil," ujar Alexa sambil tertawa mengejek. "But, I like it!" lanjutnya.