It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa: Part 9



1 Juli 1990.


Dibantu Roy yang mengemudikan SUV dan Alexa yang mengemudikan sedan Volvo, Alexa bisa mengantar dua mobil itu sekaligus ke tempat pencucian mobil, lalu melakukan perawatan di bengkel.


Dengan begitu, Alexa bisa menghemat waktunya, karena tidak perlu bolak-balik membawa mobil-mobil itu satu persatu.


Setelah perawatan mobil-mobil itu selesai dilakukan, lalu Alexa dan Roy membawanya kembali ke kediaman keluarga Ruppert, Alexa kemudian meminta izin kepada Mistress Ruppert, agar dia bisa memakai SUV untuk berjalan-jalan dengan Roy.


Tanpa Alexa perlu mengalami kesulitan, Mistress Ruppert yang tampaknya tidak keberatan sama sekali, segera mengizinkan Alexa memakai salah satu mobil mereka itu.


09:48.


Dengan alasan kalau Roy ingin Alexa menikmati hari liburnya, Roy melarang Alexa untuk mengemudi, dan cukup menjadi penumpang saja, sementara Roy yang akan mengantar Alexa kemanapun Alexa mau pergi.


"Kita pergi ke pusat pertokoan dulu, ya?" ajak Alexa kepada Roy, setelah mobil yang dikendarai Roy mulai melaju di jalanan.


"Okay!" jawab Roy.


Tidak berapa lama, mereka berdua sudah tiba di pusat pertokoan di tengah kota, dan berjalan-jalan di antara bangunan-bangunan toko yang memperdagangkan berbagai macam barang.


Alexa lalu mengajak Roy masuk ke dalam salah satu toko yang menjual pakaian, sekaligus dengan perlengkapannya untuk laki-laki.


"Untuk apa kita masuk di sini?" tanya Roy.


Alexa tidak menjawabnya, dan dengan tetap menggandeng lengan Roy, Alexa menarik Roy agar ikut dengannya.


Untuk beberapa saat, Alexa melayangkan pandangannya ke seluruh bagian toko, sambil mencari-cari benda apa yang cocok untuk dibelinya dan dijadikan hadiah bagi Roy dan ayahnya.


Akhirnya pandangan Alexa terkunci di pajangan dasi, yang menurut Alexa akan jadi hadiah yang cukup bagus untuk ayahnya Roy.


"Bantu aku memilih dasi yang cocok untuk Daddy-mu!" ujar Alexa.


"Alexa ...! Kan aku sudah bilang kalau kamu tidak perlu menghabiskan uangmu, hanya untuk membelikan barang untuk kami?!" sahut Roy.


"Ayolah! Apa kamu tidak tahu, kalau kita bisa memberikan sesuatu kepada orang kita sayangi, itu rasanya menyenangkan?" kata Alexa memberi alasan.


Walaupun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Roy tidak membantah Alexa, lalu akhirnya membantu Alexa untuk memilih.


Setelah menentukan dasi pilihan mereka berdua, Alexa lalu membawa Roy ke bagian toko yang memajang arloji, lalu mulai memilih di antara pajangan di situ, arloji yang cocok bagi Roy.


"Alexa ...!" ujar Roy pelan, tampak tidak setuju dengan apa yang sedang Alexa lakukan.


"Pilih yang mana yang kamu suka! Dengan begitu, saat kamu memakainya nanti kamu akan selalu mengingatku," kata Alexa sambil tersenyum.


Roy memeluk Alexa dengan erat.


"Aku tidak butuh barang apapun untuk mengingatkanku padamu. Karena aku pasti akan selalu ingat akan wanita yang bernama Alexa," ujar Roy.


"Pffftt ...! Bagaimana nanti kalau kamu bertemu orang lain, lalu memiliki nama yang sama denganku?" tanya Alexa menggoda Roy.


"Don't tease me!" ujar Roy geram.


"Kalau pun sampai ada orang lain yang memiliki nama yang sama sepertimu, tidak mungkin aku akan melupakanmu....


... Jadi, tidak perlu kamu membelikan apa-apa untukku. Kita pergi saja dari sini," lanjut Roy.


"Geez ...! Kamu merusak kesenanganku saja!" ujar Alexa. "Ayolah! Pilih satu saja! Aku tidak akan pergi dari sini, sebelum ada yang kamu pilih!"


"Kamu memang keras kepala!"


Roy akhirnya tampak menyerah, lalu melihat-lihat arloji yang di pajang di dalam lemari kaca berukuran panjang.


Setelah memilih yang dia sukai, Roy lalu memperlihatkannya kepada Alexa.


"Model ini bagus tidak?" tanya Roy.


"Bagus," jawab Alexa. "Kamu mau yang itu?"


Roy mengangguk pelan. "Iya."


Alexa membayar semua belanjaannya, lalu menyuruh Roy segera memakai arloji yang baru dibeli tadi.


"Kamu bisa menunggu di luar! Aku mau ke toilet sebentar!" kata Roy tiba-tiba, sebelum mereka pergi dari toko itu.


Alexa hanya menganggukkan kepalanya, lalu berjalan ke luar toko, meninggalkan Roy yang masih di dalam sana.


Untuk beberapa saat Alexa menunggu, Roy akhirnya terlihat menghampirinya, dan Alexa mengajak Roy untuk lanjut berjalan menyusuri pertokoan.


Alexa masih menyempatkan singgah di salah satu toko, dan membeli sebuah syal dan Bros untuk ibunya Roy, sebelum mereka berdua kemudian kembali ke mobil.


Di dalam mobil, Roy tidak segera menyalakan mesin kendaraan itu, melainkan tampak merogoh sesuatu dari saku jaketnya, lalu menarik tangan kiri Alexa.


"Ada apa?" tanya Alexa heran.


Tanpa bicara apa-apa, Roy tampak memasangkan arloji di pergelangan tangan Alexa.


Arloji yang dipasangkan Roy di tangan Alexa itu, memiliki model yang sama seperti yang dibelikan Alexa untuk Roy tadi.


"Hey! Apa-apaan ini?" Alexa kebingungan, karena mengira kalau Roy mengembalikan arloji pemberian Alexa tadi.


Roy mendekatkan tangannya yang memakai arloji, bersebelah-sebelahan dengan tangan Alexa, seolah-olah sedang membandingkan dua benda yang sama itu.


"Aku membeli satu lagi arloji dengan model yang sama untukmu. Jadi, bukan cuma aku yang akan mengingatmu, aku mau kamu juga harus selalu mengingatku," kata Roy.


Kalau begitu, Roy tadi membohongi Alexa dengan berkata kalau dia hanya akan pergi ke toilet, padahal dia berniat membeli arloji yang sama untuk Alexa.


"Aku tidak akan melepaskannya. Jadi, kamu juga jangan pernah melepasnya dari tanganmu! ...


... Di setiap saat, apapun yang sedang kamu lakukan, entah di manapun kamu berada, berjanjilah padaku, kalau kamu tidak akan pernah melupakan aku. Okay?!" lanjut Roy.


Tatapan mata Roy saat berbicara dengan Alexa, terasa aneh bagi Alexa, hingga bisa membuat perut Alexa terasa seperti sedang digelitik.


Alexa menarik nafas panjang, untuk menenangkan dirinya sendiri, karena tiba-tiba dada Alexa jadi berdebar-debar.


Apalagi, Roy yang saat ini mendadak memeluk Alexa dengan erat, membuat Alexa merasa kalau dia tidak mau lagi melepaskan pelukan Roy darinya.


Padahal bukan baru kali ini Roy menatapnya ataupun memeluknya seperti itu, tapi kenapa kali ini tubuh Alexa bisa bereaksi dengan sangat aneh.


Wajah sampai ke bagian leher Alexa terasa sangat panas, detak jantungnya yang tampaknya meningkat tajam, sampai-sampai Alexa bisa mendengar suara desiran aliran darahnya di telinganya.


Bukan itu saja, Alexa juga merasa kalau di dalam perutnya tiba-tiba terasa tidak nyaman, hingga sekujur tubuhnya yang juga seakan-akan kehilangan tenaganya.


Entah apa yang terjadi pada Alexa saat ini, Alexa sama sekali tidak mengerti, karena perasaan sekacau itu belum pernah dirasakan Alexa sebelumnya.


Yang Alexa ingat, hanya kalau dia merasa sangat gugup dan malu, saat Roy mempererat pelukannya.


"Kamu tahu kalau aku menyayangimu, kan?" tanya Roy sambil tetap memeluk Alexa.


"I-iya. Aku, ... tahu, " jawab Alexa terbata-bata.


"Aku tahu kalau kamu pasti merasa sangat lelah belakangan ini, meskipun kamu selalu menutup-nutupinya, dan tidak pernah memperlihatkan rasa lelahmu di depanku," ujar Roy.


Alexa kemudian bisa merasakan, kalau Roy sedang mencium pucuk kepala Alexa untuk beberapa saat.


"Kalau aku bisa jujur, sebenarnya aku sama sekali tidak setuju dengan niatmu untuk pindah ke rumah keluarga Ruppert....


Karena kalau tidak tinggal bersama kami lagi, maka aku belum tentu bisa bertemu denganmu setiap hari.


Walaupun aku bisa berkunjung ke rumah keluarga Ruppert saat aku merindukanmu, tapi mungkin saja kalau kedatanganku hanya akan mengganggu kegiatanmu.


Jadi, saat kamu sedang tidak sibuk, aku berharap agar kamu mau datang menemuiku. Atau paling tidak, kamu harus menghubungiku, maka aku akan pergi ke sana untuk menemuimu.


... Ingat untuk sering-sering mengabariku tentang keadaanmu. Aku akan selalu menunggumu."


Kedengarannya, saat ini Roy sedang memberi persetujuannya akan rencana Alexa untuk pindah tempat tinggal, dengan bicara panjang lebar.


Namun, gelagat Roy yang berbicara sambil tetap memeluk Alexa dengan erat, menampakkan kalau dia seolah-olah masih merasa enggan untuk melepaskan Alexa begitu saja.