
29 Desember 1997.
"Huuffft! ... Huuffft! ... Huuffft!"
Alexa mengatur nafasnya, sambil memijat-mijat keningnya sendiri.
Selain cairan bening berlendir, tidak ada yang bisa dia keluarkan dari dalam lambungnya, namun rasa mualnya tidak mau berhenti memompa perutnya begitu saja, sampai Alexa benar-benar kelelahan.
Seakan-akan tidak cukup mimpi buruk yang harus Alexa alami setiap kali matanya terpejam, Alexa masih harus menguras isi perutnya di setiap kali dia terbangun di pagi harinya.
Sudah hampir satu minggu ini Alexa mengalami pusing dan mual yang berlebihan.
Sambil berjongkok di depan kloset yang terbuka, Alexa terbayang-bayang akan kejadian yang berlangsung beberapa bulan yang lalu, yang membuatnya bermimpi buruk saat tertidur.
———***———
Di pagi hari, di tanggal 19 November 1997.
Rasa sakit di sekujur tubuhnya, rahangnya yang pegal, dan yang terburuk adalah rasa sakit di organ intimnya.
Sepanjang sisa malam hingga ke pagi itu, sampai berkali-kali Alexa bolak-balik jatuh pingsan dan tersadar.
Damian yang pertama kali menemukan Alexa yang setengah telanjang, dan masih terikat di tempat tidur, begitu juga bagian mulut Alexa yang masih tersumpal kain, benar-benar terlihat panik.
Tanpa perlu Alexa menjelaskan apa yang terjadi di malam sebelumnya, Damian tampaknya sudah mengerti.
"Maafkan aku, Alexa!"
"Aku seharusnya tidak minum."
"Maafkan aku, Alexa!"
Sambil berulang kali mengucapkan permohonan maafnya, Damian menutupi bagian tubuh Alexa yang terbuka menggunakan sehelai selimut.
Damian lalu mengeluarkan gumpalan kain dari mulut Alexa, sebelum dia kemudian membuka ikatan di kaki dan di tangan Alexa.
Damian seolah-olah tidak bisa berhenti mengutarakan rasa penyesalannya, yang tidak bisa membantu melindungi Alexa, karena dia yang meminum minuman beralkohol, hingga dia jatuh pingsan karena mabuk.
Alexa hanya terdiam saat itu dan tidak menanggapi perkataan Damian, karena Alexa merasa kalau dia tidak bisa menyalahkan Damian dan Benny.
Setelah Alexa merasa kalau tubuhnya sudah sedikit lebih baik, Alexa yang ditemani oleh Damian, kemudian mendatangi kantor polisi di distrik Barat itu, dan membuat laporan aduan atas tindak pemerkosaan yang dilakukan Mark William kepada Alexa.
Sekembalinya dari kantor polisi, Mark William bersama empat orang pengawal pribadinya, terlihat berada di depan jalan masuk ke halaman gudang.
Mark William tampaknya memang menunggu kedatangan Alexa di situ.
"..."
"Alexa ...! Maafkan aku! Aku dikuasai alkohol, dan benar-benar khilaf, hingga bisa menyakitimu."
"..."
"Tolonglah Alexa! Aku benar-benar menyesal perbuatanku. Aku mencintaimu!"
"..."
"Alexa ...! Aku benar-benar mencintaimu. Menikahlah denganku. Aku ingin bertanggung jawab akan perbuatan burukku."
Yang pada awalnya Alexa tidak menghiraukannya, namun lama-kelamaan suara Mark yang berulang-ulang, hanya membuat kesabaran Alexa menghilang.
Alexa akhirnya menanggapi semua perkataan Mark saat itu, dengan mendaratkan bogem mentah di wajah Mark, hingga darah segar mengalir dari sudut bibir laki-laki itu.
———***———
08:48.
"Alexa! Ke kantor sebentar!"
Panggilan dari pengeras suara, masih bisa terdengar walaupun Alexa sedang berada di kamar mandi.
"Knock! ... Knock!"
"Alexa! Apa kamu baik-baik saja?"
Terdengar suara Damian yang mengetuk pintu, dan memanggil nama Alexa di balik pintu kamar mandi yang tertutup.
"Aku baik-baik saja. Tunggu sebentar!" sahut Alexa, sambil berusaha berdiri, dan menggapai gagang pintu kamar mandi.
"Masih mual?" tanya Damian sambil memeluk Alexa.
"Tidak terlalu. Hanya masih sedikit pusing saja," jawab Alexa, lalu mendorong Damian agar melepaskan pelukannya.
Sehingga mereka berdua bisa berada di gudang yang sama, dan oleh karena itu, Damian jadi tahu kalau Alexa selalu merasa pusing dan mual di setiap pagi.
"Tidak usah menerima pesanan dulu hari ini. Kita pergi periksakan kesehatanmu saja dulu," kata Damian.
"Tidak perlu. Aku masih bisa bekerja," sahut Alexa.
"Alexa ...! Tolong, dengarkan aku! Aku tidak bisa berhenti mencemaskanmu," ujar Damian dengan suara memelas.
Alexa berjalan pelan melewati Damian, dan berniat mendatangi area kantor di dalam gudang itu, namun Damian menghentikan langkah Alexa dengan memeluknya dari belakang.
"Aku tahu kalau aku tidak berhak mengatakan ini, karena aku tahu kesalahanku. Tapi, tolonglah ... Aku sudah tidak tahan lagi melihatmu yang masih bersikeras seperti ini," ujar Damian.
"Damian! Kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa. Untuk tetap terus bekerja, itu adalah pilihanku," kata Alexa.
Setelah kejadian pemerkosaan dilakukan oleh Mark William kepada Alexa, Sir Miller sudah menyuruh Alexa untuk berhenti bekerja, dan cukup beristirahat di rumah Sir Miller saja.
Namun, Alexa memberikan alasan kalau dia mungkin bisa gila, kalau dia hanya berdiam diri, dengan tidak melakukan apa-apa, dan hanya tenggelam dalam pikirannya setiap hari.
Sir Miller akhirnya menyerah, dan membiarkan Alexa tetap bekerja untuk mengalihkan perhatiannya, agar Alexa tidak terus menerus memikirkan kejadian buruk yang dialaminya.
Akan tetapi, saat Alexa bekerja, Damian yang tampaknya masih tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, jadi semakin bersikap protektif kepada Alexa.
Bahkan menurut dugaan Alexa, Damian tampaknya sengaja hanya menerima pesanan yang mengarah ke wilayah kota, di mana Alexa melakukan pengantaran, agar bisa bertemu dan bersama Alexa di dalam satu gudang.
Saat Alexa di perjalanan pun, apalagi saat Alexa mengarah ke bagian Barat kota, Damian akan sering menghubungi Alexa lewat radio, seolah-olah Damian sedang mengawasi gerak-gerik Alexa.
Alexa memaklumi sikap protektif yang ditunjukkan oleh Damian, namun hal itu juga membuat Alexa merasa cukup terganggu.
"Kamu membenciku?" tanya Damian.
"Huuffft ...!" Alexa mendengus kasar. "Tentu saja tidak."
"Apa kamu masih menganggap aku temanmu?" tanya Damian lagi.
"Iya! Ada apa denganmu ini?" ujar Alexa, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, sebagai temanmu, aku meminta agar kamu tidak bekerja hari ini, dan cukup menghabiskan waktumu seharian bersama denganku," kata Damian.
"Damian!" ujar Alexa sambil berusaha melepaskan pelukan Damian dari badannya.
"Ayolah, Alexa!" kata Damian, yang semakin mempererat pelukannya, tampak tidak mau menyerah begitu saja.
"Apa kamu mau aku memukulmu?" tanya Alexa.
"Pukul saja! Kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik," sahut Damian tidak mau kalah.
"Huuffft ...!" Alexa mendengus kasar. "Okay! Aku tidak bekerja hari ini. Tapi lepaskan aku, karena aku harus memberitahu orang kantor."
Ketika Alexa menyerah, dan setuju untuk mengikuti permintaan Damian, barulah Damian melepaskan pelukannya dari Alexa.
"Kalau pesanan itu di kelas 1, maka kamu harus mengganti kerugianku," ujar Alexa bercanda.
"Siap, bos!" sahut Damian, sambil tersenyum lebar.
Ketika melewati salah satu pintu dari ruangan kamar, yang menjadi saksi kebejatan Mark William, lutut Alexa terasa lemas dan gemetar.
Dan kelihatannya, Damian memperhatikan gelagat Alexa, hingga dia segera menghalangi pandangan Alexa dari pintu kamar itu, dengan merangkul pundak Alexa dan berjalan di sampingnya.
***
"Aku tidak akan menerima pesanan apapun hari ini," kata Alexa kepada pegawai administrasi.
"Aku juga. Hari ini kami berdua off," sambung Damian.
"Okay! Tidak masalah," sahut pegawai administrasi di dalam ruang kantor itu.
***
09:31.
"Kita akan ke mana?" tanya Alexa, setelah mobil yang dikendarai oleh Damian, mulai melaju di jalanan.
"Kita pergi periksa ke dokter sebentar, baru kita jalan-jalan," jawab Damian.
"Damian! Tadi aku sudah bilang tidak perlu memeriksa apa-apa. Aku sudah tahu kenapa aku merasa tidak nyaman setiap pagi," kata Alexa.
"Alexa ... Apa kamu ...?" Damian tampak kebingungan, dan seolah-olah sedang menebak-nebak sesuatu.
"Iya ... Aku terlambat datang bulan," jawab Alexa, lalu melihat ke jendela di sampingnya.