
"... Bla ... Bla ... yang kamu pikirkan?"
"Kamu kira aku akan melepaskanmu begitu saja?"
"Aku bahkan tidak akan membiarkan malaikat maut mengambilmu dariku!"
Dari yang awalnya hanya terdengar samar-samar, hingga Alexa bisa mendengar dengan jelas suara orang yang berbicara di dekatnya.
Mark William.
Itu adalah suara Mark yang terdengar serak dan bergetar, seolah-olah dia sedang menahan amarahnya yang tidak bisa terlampiaskan.
Walaupun Alexa menyadari keberadaan Mark di dekatnya, sambil Mark yang menggenggam tangan Alexa, namun justru keberadaan Mark itu yang membuat Alexa semakin merasa enggan untuk membuka matanya.
Rasa sakit di tubuhnya, mengingatkan Alexa akan kejadian terakhir, kalau dia telah mengalami kecelakaan lalu lintas.
Dan kemungkinan besar, sekarang ini Alexa sedang berada di rumah sakit.
Alexa bisa merasakan kalau Mark meremas tangannya, lalu, walaupun kelopak matanya sedang tertutup, namun Alexa masih bisa menyadari kalau ada bayangan yang tampak mendekat ke wajahnya.
"Alexa ...! Aku mencintaimu! ... Kapan kamu akan membuka matamu lagi? ... Lihatlah aku! ... Aku sangat merindukanmu," kata Mark.
Mark kemudian mencium bibir Alexa saat itu, namun Alexa tetap mempertahankan kepura-puraannya, seolah-olah dia tidak sadar akan apa yang terjadi di situ.
Seolah-olah masih merasa tidak puas, Alexa bisa merasakan kalau Mark memasukkan tangannya ke bagian belakang kepala Alexa, dan membuat kepala Alexa sedikit terangkat.
Mark tetap mencium bibir Alexa, dan seolah-olah tidak mau berhenti, hingga Alexa merasa agak kesulitan untuk bernafas.
"Alexa ...! My love ...! Sudah terlalu lama kamu tidur. Kamu tidak akan meninggalkanku, kan?" kata Mark yang berbisik di telinga Alexa, sambil menempelkan pipinya di pipi Alexa.
"Kalau kamu bangun, aku akan mewujudkan semua keinginanmu. Aku akan menemanimu selamanya. Kamu tidak akan aku izinkan pergi ke mana-mana lagi," lanjut Mark.
Mark memang gila, pikir Alexa.
"Sir ...! Anda di panggil ke kantor!" Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tampaknya sedang bicara kepada Mark.
"Sebentar!" sahut Mark.
Alexa kemudian merasa, kalau kepalanya dengan perlahan-lahan diletakkan Mark, kembali tersandar ke atas tempat tidur.
"Aku ke kantor sebentar, my love! Cepatlah bangun! Jadi kamu bisa pergi bersamaku seperti biasa," kata Mark seolah-olah sedang berpamitan dengan Alexa.
Lagi, Mark rasanya kembali mencium bibir Alexa sebentar, lalu berkata, "Nanti aku ke sini lagi! Tunggu aku, ya?! Aku tidak akan lama."
Ruangan itu kemudian hening, setelah suara langkah kaki yang terdengar menjauh dan akhirnya menghilang dari sana.
Menurut Alexa, kelihatannya dia memang tidak akan bisa lepas dari Mark, kalau begini saja keadaannya.
Alexa harus memikirkan rencana lain, agar dia benar-benar bisa menjauh dari Mark William.
Usahanya untuk melarikan diri begitu saja, hanyalah menjadi usaha yang sia-sia, dan bahkan hanya membuatnya hampir mati.
Alexa tersentak. Itu dia!
Alexa harus memikirkan caranya agar dia bisa berpura-pura mati, dan Mark tidak akan mencarinya lagi.
Tapi bagaimana caranya?
"Mistress William ...! Sister Alexa! ... Bagaimana keadaanmu hari ini? Ini aku Sienna. Aku datang menjengukmu lagi. Semoga saja kamu tidak bosan dengan kedatanganku."
Tiba-tiba suara dari Sienna yang cukup dikenali oleh Alexa, terdengar di dalam ruangan itu.
Alexa membuka matanya sedikit, untuk mengintip, dan memastikan bahwa memang Sienna yang datang, juga untuk memastikan kalau hanya ada Sienna saja yang bersamanya di situ.
"Sis!" ujar Sienna bersemangat.
"Ssshhh ...!" Alexa mendesus, untuk menyuruh Sienna agar tidak membuat keributan.
"Sister! Kamu sudah sadar?" tanya Sienna. Raut terkejut, terlihat jelas di wajahnya.
"Apa kamu hanya sendiri?" tanya Alexa berbisik-bisik.
"Iya. Bodyguard Mister William hanya berjaga-jaga di depan pintu," sahut Sienna.
"Tapi Sister, kalau dokter datang memeriksamu, kamu tidak akan bisa menyembunyikan kalau kamu sudah tersadar," ujar Sienna.
Alexa terdiam untuk beberapa saat. "Lalu, bagaimana agar aku tidak perlu kembali ke rumah Mark itu lagi?"
Alexa sebenarnya tidak sedang bertanya kepada Sienna, dan hanya mengungkapkan apa yang sedang dipikirkan olehnya.
"Aku lebih memilih mati, daripada aku harus menghabiskan waktu hidupku walau hanya semenit, bersama Mark di rumah itu," ujar Alexa.
Sienna tampak menautkan alisnya, seolah-olah dia sedang berpikir keras, mencari cara untuk membantu Alexa.
"Aah ...! Tidak!" ujar Sienna tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Alexa.
"Aku memikirkan sesuatu. Tapi aku tidak tahu, apakah itu adalah yang ide yang bagus," jawab Sienna.
"Apa itu? Katakan saja!" kata Alexa memaksa, karena rasa penasarannya.
"Sister bisa berpura-pura kehilangan ingatan," sahut Sienna. "Tapi, aku rasa itu tidak akan berhasil, karena Mark tetap akan membawa Sister bersamanya."
Benar kata Sienna, kalau Alexa hanya berpura-pura kehilangan ingatan, maka tidak akan jadi masalah bagi Mark untuk membawa Alexa.
Justru dengan begitu, untuk pemulihan ingatan Alexa, akan jadi alasan yang bagus bagi Mark, agar bisa tetap bersama Alexa.
"Sister! Bagaimana dengan tempat tinggal? Apa tidak masalah bagi Sister, jika tinggal di mana saja nanti?" tanya Sienna.
"Aku tidak perduli. Asalkan aku tidak tinggal bersama Mark, dan akan lebih baik jika dia tidak bisa menemuiku sama sekali, di tempat tinggalku itu," sahut Alexa.
Lagi-lagi, Alexa dan Sienna berpikir keras untuk mencari jalan keluar terbaik, agar Alexa bisa mendapatkan keinginannya.
"Aku berpura-pura gila!"
"Sister berpura-pura gila!"
Alexa dan Sienna tampaknya memikirkan hal yang sama, hingga mereka mengutarakan apa yang ada dipikirannya secara bersama-sama.
Bukan tanpa alasan Alexa terpikir tentang berpura-pura gila.
Sienna yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit jiwa, bisa membantu Alexa untuk menjalani perannya sebagai orang yang sakit jiwa.
Dan jika Alexa berhasil menipu orang-orang, maka dia pasti akan dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa satu-satunya, yang ada di bagian kota itu, di mana menjadi tempat Sienna bekerja.
Dengan begitu, dengan bantuan Sienna, Alexa bisa mendapat kesempatan untuk menjauh dari Mark, sambil menyusun rencana selanjutnya, agar benar-benar bisa terlepas dari William's dan Willing Grup.
Tapi....
"Kalau aku diperiksa oleh psikiater, apa kira-kira aku tetap bisa menyembunyikan keadaanku yang sebenarnya?" tanya Alexa.
Sienna dan Alexa kembali terdiam untuk beberapa saat.
"Aku rasa, salah satu dokter di rumah sakit jiwa tempatku bekerja, bisa aku mintakan bantuannya untuk melancarkan rencana Sister....
... Tapi, aku harus meyakinkan Mister William agar dokter itu yang mendiagnosa dan menjadi dokter pendamping Sister nantinya," kata Sienna yang masih tampak sedikit ragu.
***
Selama Sienna berada di situ bersama Alexa, Sienna lalu mengajarkan segala sesuatu tentang perilaku orang yang sakit jiwa kepada Alexa.
Sienna memberitahu Alexa akan apa yang harus dia lakukan, saat bertemu dengan orang-orang yang menjenguknya, agar tampak meyakinkan bahwa Alexa memang mengalami gangguan jiwa.
Bahkan, Sienna mengajarkan Alexa bagaimana caranya bertingkah laku, khusus saat berhadapan dengan Mark William.
Jika Alexa menjalankan perannya dengan baik, maka Mark akan percaya saat mendapatkan larangan untuk mengunjungi Alexa, ketika Alexa sudah dibawa ke rumah sakit jiwa.
Setelah Alexa dan Sienna berbincang-bincang cukup lama, kelihatannya rencana berpura-pura gila itu memang yang terbaik.
Baik Alexa maupun Sienna menganggap rencana itu, adalah rencana yang paling rendah resiko, yang bisa membahayakan siapapun yang membantu Alexa.
Karena Alexa bukan melarikan diri, melainkan hanya akan dianggap seolah-olah sedang dirawat sakitnya saja, jadi Mark tidak perlu mengincar Alexa seperti hewan buruannya.