
31 Januari 2000.
17:20.
Seorang pelayan di dalam Coffee Shop, menyajikan dua cangkir kopi dan beberapa buah croissant di dalam satu piring, ke atas meja di mana Arthur dan Lucy duduk.
"Untung saja kamu sudah selesai membaca berkas Mark William saat Chief datang tadi," celetuk Lucy, lalu menyesap sedikit cairan kopinya.
Lucy juga tampak menikmati setiap lapisan dari adonan beragi tanpa isi, yang terpotong oleh gigitan barisan gigi-giginya.
"Bagaimana rasanya, saat dari semua anggota yang ada, namun Chief 'menempelkan hidungnya' padamu?" lanjut Lucy, dengan nada mengejek.
"Rasanya diperlakukan seperti seorang kriminal, yang senantiasa diawasi setiap gerak-gerikmu," jawab Arthur. "Bagaimana menurutmu? Apa menyenangkan?"
Arthur adalah Detektif polisi termuda di departemen kepolisian distrik barat kota, tempatnya bekerja.
Ditambah dengan track record yang terbaik di antara sesama rekan seprofesinya, Arthur memang menjadi pusat perhatian dari seluruh anggota yang bekerja sekantor bersamanya.
Sampai-sampai, Chief bahkan menampakkan dengan jelas, kalau dia menaruh perhatian lebih kepada Arthur.
Tapi bagi Arthur, perlakuan khusus Chief kepadanya yang terkadang berlebihan, justru menjengkelkan, karena rasanya seolah-olah sedang ditekan, agar Arthur tidak akan pernah melakukan kesalahan.
"Pffftt ...! Tapi, kamu juga sering mengambil keuntungan dari Chief, kan?!" sahut Lucy mengejek Arthur.
Arthur tidak bisa memungkiri, kalau dia memang terkadang mendapatkan keuntungan dari perhatian Chief padanya, hingga Arthur tidak bisa membantah perkataan Lucy.
"Contohnya waktu kamu di rumah sakit. Aku bisa mendapatkan surat izin pengawalan bagi Alexa, dengan menggunakan namamu sebagai alasan pada Chief," lanjut Lucy.
"Apa kamu sering menemuinya? ... Alexa," lanjut Lucy lagi, buru-buru.
Arthur yang baru saja meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas meja, kemudian mengangkat pandangannya dan menatap Lucy.
"Alexa ... Wanita itu tidak mau aku mendekatinya, kalau aku masih memiliki perasaan lebih dari teman untuknya," sahut Arthur.
"Umm ... Aku rasanya bisa mengerti kenapa dia begitu.... Oh, iya! Aku sudah bilang kalau dia tidak mencintai Mark William, kan?" ujar Lucy.
"Iya. Alexa juga sudah memberitahuku kalau dia masih tidak mencintai laki-laki itu—" Arthur menghentikan perkataannya, karena merasa seolah-olah dia sudah salah bicara.
"... Alexa tidak mengatakan langsung padaku, kalau dia tidak mencintai Mark William. Tapi aku hanya menarik kesimpulan sendiri....
... Karena Alexa kemarin bercerita, kalau dia pernah jatuh cinta kepada seseorang di masa lalunya, dan sampai saat ini dia tidak pernah merasakan hal yang sama kepada laki-laki lain," lanjut Arthur menjelaskan.
"Aku merasa sangat iba dengan Alexa. Siapa yang tidak akan depresi jika mengalami hal seperti yang dia lalui?! ...
...Diperkosa, hamil, lalu dipaksa menikah tanpa rasa cinta, dengan laki-laki brengsek yang memperkosanya, yang tentu saja dibenci olehnya....
...Setelah melahirkan, anaknya diambil dan dipisahkan darinya. Sementara laki-laki yang berstatus sebagai suaminya, masih berperilaku sama brengseknya seperti waktu dia belum menikah....
... Rasanya wajar saja, kalau Alexa sampai berkali-kali mencoba untuk menghabisi nyawanya sendiri," kata Lucy.
Arthur mengerutkan alisnya dalam-dalam.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Arthur heran.
"Kamu tidak tahu?" Lucy balik bertanya, dengan memasang tampang tidak kalah heran. "Alexa tidak mengatakannya padamu?"
Arthur menggelengkan kepalanya.
"Tidak, dia belum menceritakannya. Aku juga tidak mau memaksa untuk bertanya kepadanya....
... Karena aku khawatir, jika aku terlalu menekannya hanya untuk mencari tahu segala sesuatu tentangnya, lalu hanya akan membuatnya membenciku," jawab Arthur.
... Makanya aku bisa mengetahuinya, saat mendengarkan pembicaraan di dalam keluarga suamiku, waktu aku mendatangi acara Family Gathering beberapa hari yang lalu," jawab Lucy.
Arthur kemudian teringat kalau suami Lucy berasal dari keluarga berada, lalu, keluarga dari suami Lucy itu juga memiliki hubungan dekat dengan keluarga William.
"Maaf, Lucy! Aku sebenarnya mau mendengarkan, seandainya kamu memang mau berbicara tentang bagaimana keadaanmu dengan suamimu saat ini....
... Tapi jujur saja, aku masih lebih ingin mendengarkan semua yang kamu ketahui tentang Alexa lebih dulu," ujar Arthur.
"Apa kamu mau menceritakannya?" lanjut Arthur buru-buru.
"Santai saja, Arthur! Tidak ada sesuatu yang baru tentang aku dan suamiku saat ini. Keadaan kami masih sama saja seperti biasanya," sahut Lucy.
Lucy bersandar di kursi, lalu memegang dagunya dengan salah satu tangannya, tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Umm ... Aku harus memulainya dari mana?" lanjut Lucy.
"Terserah kamu. Ceritakan saja apa yang kamu tahu," jawab Arthur penasaran.
"Menurut yang aku dengar dari percakapan dari beberapa orang keluarga suamiku, Alexa memang sudah terlihat tertekan, semenjak menikah dengan Mark William....
... Dengar-dengar dari mereka yang mendapatkan informasi dari beberapa orang di dalam Willing Grup, Alexa mau saja menikah dengan laki-laki itu, bukan hanya karena alasan bahwa dia sedang hamil—"
Lucy tiba-tiba berhenti bicara, lalu menatap Arthur lekat-lekat.
"... Kamu tahu kalau Mark William adalah satu-satunya anak laki-laki di garis utama keluarga William, kan?" tanya Lucy.
"Iya," jawab Arthur.
"Itu menjadikannya sebagai pewaris utama Willing Grup," kata Lucy.
"Iya, aku tahu!" sahut Arthur tidak sabaran.
"Menurut informasi yang aku dengar dari mulut keluarga suamiku itu, kurang lebih dua bulan setelah Alexa diperkosa, ayah kandung Alexa jatuh sakit, dan membutuhkan banyak biaya untuk perawatan di rumah sakit....
...Alexa kemudian mencabut laporan aduan pemerkosaan yang dilakukan oleh Mark William kepadanya....
... Dengan perjanjian yang dibuat Alexa dan Willing Grup, kalau Willing Grup akan menanggung semua biaya perawatan ayahnya Alexa, selama masih dirawat di rumah sakit," kata Lucy.
Lucy berhenti bercerita, lalu tampak menyesap sedikit kopinya, seolah-olah sekedar membasahkan tenggorokannya, atau untuk menenangkan diri, agar bisa lanjut bercerita lagi.
"Seharusnya hanya sampai di situ saja, karena yang aku tangkap dari pembicaraan orang-orang di Family Gathering waktu itu, Alexa tidak mau menikah dengan Mark William, walaupun dia juga tidak mau untuk mengaborsi kandungannya....
...Namun ternyata, tanpa Alexa sadari, Willing Grup masih mengawasinya hingga beberapa bulan selanjutnya....
...Hingga saat kandungan Alexa memasuki usia tujuh atau delapan bulan, diketahui kalau anak dalam kandungannya adalah seorang anak laki-laki....
...Entah itu harus disebut keberuntungan, atau malah kesialan bagi Alexa dan anaknya....
...Dari beberapa wanita yang pernah dihamili Mark William, hanya Alexa yang membawa calon pewaris utama penerus dari William's dan Willing Grup. Karena wanita yang lain, melahirkan atau membawa anak perempuan dalam kandungan mereka....
...Dengan begitu keadaannya, Willing Grup tidak mau melepaskan Alexa begitu saja, karena anak di dalam kandungan Alexa itu....
...Alexa dipaksa untuk menikah dengan Mark William. Dan kalau Alexa menolak untuk menikah, maka Willing Grup akan membuat Alexa dipenjara, dengan tuduhan 'Blackmail'....
... Perjanjian untuk pencabutan laporan aduan pemerkosaan, yang dibayar Willing Grup dengan biaya rumah sakit ayah Alexa, akan dijadikan Willing Grup sebagai barang bukti, bahwa Alexa telah melakukan pemerasan."
Lucy tampaknya merasa sangat terganggu saat menceritakan tentang Alexa itu, hingga akhirnya dia berhenti tiba-tiba, dan tampak berat untuk lanjut memberitahu Arthur, hal yang lain yang belum dia sampaikan.
"Selanjutnya apa?" tanya Arthur dengan suara gemetar, menahan rasa tidak nyamannya setelah mendengar cerita Lucy tadi, sekaligus tidak sabar untuk mengetahui kejadian yang dilalui Alexa, hingga bisa berada di rumah sakit jiwa.