
12 Maret 2000.
Di malam itu, sebelum Arthur pulang dan meninggalkan Alexa di rumah sakit, Arthur berjanji kepada Alexa, kalau dia akan mengunjungi Alexa setiap hari.
Arthur membuat janji itu untuk membuktikan kepada Alexa, kalau dia akan baik-baik saja, dan Alexa tidak perlu terlalu mengkhawatirkan keadaannya lagi.
Dibantu oleh Sienna dan rekannya, Arthur bisa menepati janjinya untuk menemui Alexa, walaupun bukan di jam berkunjung.
Dengan begitu, setiap kali Arthur ada sedikit waktu lengang di sela-sela kesibukannya dalam bekerja, Arthur masih bisa bertemu Alexa di setiap harinya.
Kelihatannya, dengan kedatangan Arthur yang rutin mengunjunginya, kondisi kesehatan Alexa tampak semakin membaik, di hari demi hari belakangan ini.
Namun walaupun demikian, walaupun Arthur setiap hari menemuinya, Alexa tetap tidak banyak bicara.
Bahkan menurut Arthur, belakangan ini, Alexa justru semakin tertutup, tidak ada satupun yang mau dibicarakannya tentang dirinya.
Pertemuan mereka selalu berakhir dengan Arthur yang menceritakan tentang pekerjaannya saja.
Setiap kali Arthur mencoba memancing Alexa untuk membicarakan tentang dirinya, Alexa akan mengalihkan pembicaraan dengan bertanya tentang bagaimana pekerjaan Arthur di hari itu.
Karena rasa penasarannya yang belum terjawab, Arthur akhirnya membuat janji temu dengan Sienna, untuk mencoba mencari tahu, apa saja yang Sienna ketahui tentang Alexa.
Hari ini, Arthur akan bertemu Sienna di sebuah kafe di tengah kota, setelah Sienna menyelesaikan jadwal jaga siangnya.
18:30.
Sembari menunggu kedatangan Sienna, Arthur yang baru juga tiba di kafe itu, menyalakan sebatang rokoknya, sambil memperhatikan ke arah pintu masuk.
Tidak berapa lama Arthur menunggu, baru dua kali hisapan rokoknya dengan asapnya yang dihembuskan ke udara, seseorang yang memakai masker medis dan kaus lengan panjang bertopi, terlihat berjalan melewati pintu.
Menurut Arthur, sepertinya itu adalah Sienna, jadi, Arthur mengangkat sebelah tangannya, agar Sienna bisa melihat di mana dia duduk.
"Hai, Sir! Anda sudah lama menunggu?" tanya Sienna, sambil membuka masker dari wajahnya, lalu mengambil tempat duduk di depan meja, berhadapan dengan Arthur.
"Hai!" sapa Arthur. "Saya juga baru saja tiba di sini. Sienna mau minum apa?"
Arthur kembali mengangkat sebelah tangannya, untuk memanggil pelayan kafe, agar menghampiri mereka.
"Saya mau capuccino dengan banyak krim!" ujar Sienna.
"Americano satu!" kata Arthur.
Pelayan yang berdiri di dekat meja Arthur dan Sienna terlihat mencatat pesanan mereka berdua, lalu segera beranjak pergi dari situ.
"Maaf, Sir. Anda pasti heran mengapa penampilan saya seperti ini. Terus terang, saya khawatir kalau-kalau pertemuan kita ada yang mengawasi....
... Apalagi, Sir belakangan ini sering datang ke rumah sakit, di jam-jam yang tidak biasa. Jadi, menurut saya, kita sebaiknya lebih berhati-hati untuk bertemu," kata Sienna.
"Iya. Saya mengerti itu. Namun karena saya pikir kalau ini pertama kalinya kita bertemu hanya berdua saja, rasanya tidak nyaman kalau saya mengajak Sienna bertemu di tempat yang tersembunyi," sahut Arthur.
Untuk beberapa saat, baik Arthur maupun Sienna, sama-sama hanya terdiam.
"Sienna pasti lelah bekerja, dan ingin segera beristirahat. Jadi saya langsung saja," kata Arthur membuka percakapan.
"Apa yang Sienna tahu, tentang kecemasan Alexa yang berlebihan?" tanya Arthur tanpa mau banyak berbasa-basi lagi.
"Sebenarnya saya tidak bisa memberitahu orang luar, tentang kondisi Mistress William," kata Sienna. "Tapi, saya rasa anda bukan orang biasa baginya."
"Maksudnya?" tanya Arthur.
"Bagaimana cara menjelaskannya, ya?!" kata Sienna.
"Semenjak anda bertemu dengan Mistress William, dan berbincang-bincang dengannya saat perayaan tahun baru, ketika Mistress William baru saja diantar kembali dari rumah sakit umum—"
Perkataan Sienna dihentikan oleh Arthur.
"Sebentar! ... Umm ... Jadi maksudmu, Alexa saat itu bukannya baru pertama kali jadi pasien di rumah sakit jiwa?" tanya Arthur yang menyela Sienna.
"Iya. Mistress William memang sudah jadi pasien di rumah sakit jiwa, selama kurang lebih satu bulan....
...Dia hanya dibawa ke rumah sakit umum, untuk melakukan perawatan dan pemeriksaan ulang, atas luka-luka bekas kecelakaan yang ada di tubuhnya....
... Setelah kurang lebih tiga hari dia menginap di rumah sakit umum," jawab Sienna.
Arthur lalu mengingat-ingat saat pertemuan pertama kalinya dengan Alexa, dan akhirnya menyadari kalau memang masuk akal yang dibilang oleh Sienna.
Karena Arthur baru ingat, kalau Alexa waktu itu memang diantar ke rumah sakit jiwa, dengan memakai ambulance yang berlambang rumah sakit umum.
"Saya rasanya tidak bisa percaya dengan mataku sendiri, ketika melihat Mistress William bisa tersenyum, saat anda bersamanya....
...Karena sebelum-sebelumnya, tidak ada satupun dari kami yang pernah melihatnya tersenyum....
...Apalagi sampai mau berbincang-bincang dengan orang yang dia temui, selama dia berada di rumah sakit jiwa....
... Hal itu menjadi pemandangan yang luar biasa langka dan mengejutkan bagi saya, dan begitu juga dengan semua petugas di rumah sakit."
Sienna tampak mencoba menyambung pembahasannya yang sebelumnya.
"Mistress William hanya akan bicara pada saya, saat dia ingin dibelikan rokok atau apapun yang ingin dia beli di luar rumah sakit....
...Namun saat Mistress William bersama anda, dia bisa tersenyum lebar, bahkan mau saja berbincang-bincang dengan anda....
...Ditambah lagi, ketika Mistress William sedang sakit, nama anda yang disebutnya. Seolah-olah dia sangat merindukan kedatangan anda....
... Kalau begitu keadaannya, bagaimana mungkin saya tidak akan merasa bahwa anda adalah orang yang spesial baginya?!" lanjut Sienna menjelaskan.
Arthur memang tidak berkata apa-apa, kepada Sienna untuk menanggapi perkataannya.
Namun sebenarnya, di dalam hati, Arthur sedang melompat kegirangan, karena Arthur jadi semakin yakin kalau cintanya kepada Alexa tidaklah bertepuk sebelah tangan.
"Maaf, Sir! Saya bukannya mau bergosip dengan rekan kerja saya tentang anda. Tapi, saya mendengar dari salah satu rekan kerja saya....
... kalau anda pernah bertanya, kenapa Mark William, suaminya, tidak pernah mengunjungi Mistress William di rumah sakit, kan?" lanjut Sienna.
"Iya. Karena selama saya sering bertemu dengan Alexa, bahkan terkadang saya menghabiskan waktu dengannya hingga jam berkunjung usai....
... Namun, saya tidak pernah melihat satupun dari William's yang datang mengunjunginya. Itu sebabnya hingga saya bertanya. Karena bagi saya, hal itu cukup mengherankan," jawab Arthur.
"Anda tahu? Walaupun Mistress William kelihatannya seperti orang yang tidak mengalami gangguan jiwa, saat dia bersama anda....
...Namun yang sebenarnya, dia mengalami depresi berat, gangguan bipolar dan *PTSD...
... Mark William dilarang dokter pendamping untuk mengunjunginya, karena suami Mistress William itu, diduga sebagai pemicu utama gangguan mental Mistress William," kata Sienna.
(*PTSD : Gangguan stres pascatrauma)
Pelayan yang menyajikan minuman pesanan Arthur dan Sienna, membuat Sienna berhenti bicara untuk beberapa saat, hingga pelayan itu akhirnya pergi dari situ.
"Jadi, kecemasan berlebihannya itu memang karena gangguan mentalnya?" tanya Arthur.
"Iya, seharusnya begitu. Tapi seperti saya bilang tadi, bahwa anda adalah orang yang spesial baginya....
... Jadi menurut saya, kekhawatirannya kepada anda, mungkin bukan hanya karena gangguan mentalnya saja," jawab Sienna.
Sienna kemudian terlihat menyesap sedikit cairan capuccino, dari cangkir miliknya.
"Lalu menurutmu, apa kira-kira?" tanya Arthur.
"Kriiing! ... Kriiing! ... Kriiing!" Suara ponsel Arthur yang tiba-tiba berbunyi, menyela percakapan antara Arthur dan Sienna.
Arthur menekan tombol untuk menolak panggilan masuk dari Josh itu, karena dia masih ingin berbicara dengan Sienna.
Namun, sebelum Arthur ataupun Sienna sempat berbicara apa-apa lagi, ponsel Arthur itu kembali berbunyi.
"Kriiing! ... Kriiing! ... Kriiing!"
"Maafkan saya," ucap Arthur.
"Tidak apa-apa. Anda sebaiknya menerimanya. Mungkin itu adalah hal yang penting. Saya bisa menunggu," sahut Sienna mempersilahkan.