
21 Januari 2000.
09:08.
Arthur baru saja selesai dilakukan pemeriksaan oleh dokter dan beberapa perawat, ketika seseorang tampak berjalan masuk menggantikan kepergian dokter dan para perawat tadi.
"Halo, Arty!"
Arthur rasanya tidak percaya, akan apa yang dia dengar, karena rasanya hanya seperti sedang bermimpi, ketika suara berat yang senantiasa dirindukan olehnya, menggema di ruang perawatannya.
Alexa datang menjenguk Arthur.
Senyum Alexa terlalu sederhana, hingga Arthur tidak bisa melihat gigi gingsulnya di balik bibir Alexa yang kecil dan tipis.
"Alexa ...?" tanya Arthur memastikan, kalau Alexa memang sedang berada di dekatnya.
"Apa kepalamu terbentur, dan kehilangan ingatanmu?" tanya Alexa, sambil mengulurkan tangannya dan sekilas menyentuh dahi Arthur.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin memastikan, kalau memang kamu yang datang," jawab Arthur.
"Bagaimana kamu datang ke sini? Apa izin pengawalanmu masih berlaku?" tanya Arthur buru-buru.
Alexa kemudian terlihat menarik kursi, dan mendekatkannya ke ranjang Arthur, lalu duduk di situ.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku mau mengingatkan, kalau kamu berhutang jawaban kepadaku," ujar Alexa.
"Apa maksudmu?"
"Hmm ... Kenapa, teman wanitamu sampai datang menjemputku?" tanya Alexa.
"Maaf, bukannya aku tidak memperdulikan dengan keadaanmu. Aku hanya merasa heran, kenapa dari semua orang yang ada, aku bisa diajak untuk menjengukmu," lanjut Alexa sebelum Arthur menjawab pertanyaannya.
"..." Arthur bingung harus berkata apa, hingga membuatnya hanya terdiam untuk beberapa saat.
"Diamnya kamu, aku anggap kalau mungkin kamu pernah bercerita kepadanya, tentang kamu yang menjengukku di rumah sakit," kata Alexa. "Kira-kira begitu?"
Arthur mengangguk pelan. "Iya, maafkan aku dan temanku, kalau kami membuatmu merasa terganggu."
Tanpa Arthur perlu meminta izin seperti sebelumnya, kali ini, Alexa justru lebih dulu memegang tangan Arthur, dan menggenggamnya dengan erat.
"Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, aku tidak merasa terganggu sama sekali, benar-benar hanya merasa terkejut....
...Justru aku merasa cukup senang, karena masih ada orang yang menganggap aku ada. Dan kalau aku bisa berterus-terang, aku jadi lebih senang, karena masih bisa melihatmu lagi....
... Mengingat waktu aku datang kemarin, kamu masih belum sadarkan diri, dan itu membuatku merasa cemas," sahut Alexa.
Genggaman tangan Alexa terasa dingin di telapak tangan Arthur, namun Arthur semakin ingin untuk menggenggamnya lebih erat, dan seolah-olah tidak mau untuk melepaskannya lagi.
"Kamu mencemaskanku?" tanya Arthur, dengan hati berbunga-bunga.
Alexa tidak menjawab pertanyaan Arthur, melainkan melontarkan pertanyaan lain. "Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Senang," jawab Arthur spontan, tanpa berpikir panjang.
"Pffftt ...! Apa yang kamu bicarakan?!" ujar Alexa sambil tertawa kecil. "Yang aku tanyakan, apa kamu sudah merasa lebih baik? Atau ada yang masih terasa sangat sakit?"
"Umm ... Aku sudah jauh lebih baik. Pereda nyeri yang diberikan di rumah sakit ini sangat kuat efeknya....
... Bukan cuma menghilangkan rasa sakit di lukaku, hingga kesadaranku pun bisa hilang karena reaksi obat-obatan itu," jawab Arthur, sambil bercanda untuk mengurangi rasa malunya.
"Pffftt ...!" Kembali Alexa tertawa kecil, lalu berkata, "Kamu sedang terluka, tapi masih bisa melontarkan lelucon."
Arthur memperhatikan Alexa yang tampak menahan senyuman yang lebar, yang mengembang di wajahnya, sambil menatap Arthur.
"Aku menyukaimu," ujar Arthur, tanpa sedikitpun merasa ragu.
Alexa tampak melihat ke arah tangannya, yang masih bergenggaman dengan tangan Arthur untuk sesaat, lalu dia kembali menatap mata Arthur.
... Aku bisa datang lagi hari ini, karena aku meminta bantuan dari dokter pendampingku, agar bisa menjengukmu lagi," lanjut Alexa.
Menurut Arthur, Alexa berpura-pura tidak mendengar perkataannya tadi.
"Alexa ...! Aku menyukaimu. Aku tertarik kepadamu sejak pertama kali kita bertemu....
...Aku tahu kalau pengakuanku ini terdengar mendadak. Tapi, aku tidak mau menyesal, kalau aku tidak sempat memberitahukannya padamu....
... Apalagi, saat aku terluka waktu itu dan sempat mengira, kalau aku tidak akan bisa melihatmu lagi," kata Arthur, mengulang sejelas yang dia bisa, tentang apa yang dia rasakan kepada Alexa.
Terlihat jelas di wajahnya, kalau Alexa tampak terganggu, dan mencoba menghindari pembahasan tentang perasaan, lalu berusaha mengalihkan arah pembicaraan.
"Aku tadi singgah membeli sedikit buah. Apa kamu mau mencobanya?" tawar Alexa sambil berdiri, dan tampak berniat melepaskan tangan Arthur, untuk berjalan menjauh dari ranjang tempat Arthur berbaring.
Namun Arthur tidak membiarkannya, dan tetap menahan tangan Alexa agar tetap berada dalam genggamannya.
"Alexa ...!" ujar Arthur pelan.
Sambil tetap berdiri terpaku, Alexa yang tampak menghentikan niatnya untuk berjalan menjauh, lalu menatap Arthur lekat-lekat.
"Aku tidak berniat memaksamu untuk menerima, atau harus berperasaan sama sepertiku. Aku hanya ingin agar kamu mengetahui apa yang aku pikirkan tentangmu....
... Dan aku berharap agar kamu tetap memberiku kesempatan, walau hanya sekedar bertemu denganmu," kata Arthur.
Dengan matanya yang sedikit menyipit, Alexa kemudian tampak menyeringai.
"Kelihatannya, kamu memang harus meminta dokter mengurangi dosis obatmu. Kesadaranmu terlalu banyak yang menghilang," kata Alexa yang terdengar sinis, seolah-olah sedang mengejek Arthur.
"Hufft ...!" Arthur mendengus pelan.
"Alexa! Apa kamu membenciku?" tanya Arthur.
"Sedikit," jawab Alexa. "Untuk apa kamu bicara omong kosong?"
Sorot dingin dan tajam mata Alexa, menampakkan kekesalannya kepada Arthur, seolah-olah dia merasa kalau Arthur sedang mempermainkannya saat ini.
Arthur menyadari kalau dia pasti terlihat konyol, saat mengutarakan perasaannya, sedangkan dia sudah tahu kalau Alexa sudah bersuami.
Sepertinya, Arthur memang sudah melakukan kesalahan, dengan mengatakan ketertarikannya, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Alexa saat mendengarnya.
"Maafkan aku ... Kamu bisa melupakan apa yang aku katakan tadi," ujar Arthur pelan, lalu melepaskan genggamannya dari tangan Alexa.
Tanpa berkata apa-apa, Alexa tampak berjalan keluar dari dalam ruang perawatan Arthur.
Seketika itu juga, hati Arthur terasa hancur berkeping-keping, penyesalan merambat di sekujur tubuhnya.
Seharusnya Arthur bisa menahan diri, dan menunda agar tidak mengatakan hal itu kepada Alexa.
Kalau begini keadaannya, jangankan berharap agar Alexa bisa jatuh hati kepadanya, untuk sekedar bertemu dengannya pun, belum tentu Alexa mau menerima kedatangan Arthur.
"F*cking stupid!" Arthur memaki dirinya sendiri yang telah bertingkah bodoh, sambil meletakkan lengan kanannya ke atas jidatnya.
Setelah beberapa waktu Arthur tertinggal sendiri di dalam ruang perawatannya itu, kelihatannya, dugaan Arthur tentang Alexa, tidak semuanya benar.
Karena, tiba-tiba Alexa terlihat kembali ke dalam kamar, dan duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Arthur, sambil memegang sebuah piring berisikan potongan buah.
"Alexa! Aku—" Arthur tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Alexa menyuapkan sepotong apel ke mulut Arthur.
"Di dalam ruangan ini, tidak ada pisau. Jadi, aku tadi meminta salah satu pegawai rumah sakit ini, untuk membantu mengupas buahnya, sekaligus memotong-motongnya," ujar Alexa.
Alexa bertingkah seolah-olah tidak ada yang terjadi, sebelum dia keluar dari ruang perawatan Arthur tadi.
"Besok, belum tentu aku bisa keluar dan menjengukmu lagi. Jadi, jangan kamu menunggu kedatanganku!
... Cepatlah sembuh! Aku akan menunggumu datang menemuiku," kata Alexa.