
28 Februari 2000.
Semenjak kunjungannya di akhir bulan lalu, hingga saat ini, Arthur tidak pernah lagi menemui Alexa di rumah sakit jiwa.
Arthur merasa tidak siap untuk menghadapi skenario yang mungkin akan dibuat Alexa, hanya untuk mendorong Arthur menjauh.
Bahu Arthur sekarang ini sudah bisa digunakan seperti biasa, dan di tanggal 1 Maret nanti, status Arthur kembali menjadi aktif bekerja.
Sudah dua hari ini, Arthur mengambil kesempatannya yang belum aktif bekerja, untuk membersihkan dan merapikan seisi apartemennya.
Dan sekarang, Arthur berniat untuk membersihkan ruang kerjanya yang lebih mirip seperti ruang perpustakaan pribadi.
Beberapa buku yang menjadi bacaannya, untuk menghabiskan waktunya di apartemennya selama hampir sebulan kemarin, tampak masih berantakan.
Karena terkadang saat Arthur sedang membaca lalu tertidur, dan ketika dia terbangun, dia merasa enggan untuk menatanya kembali.
Namun kelihatannya pekerjaannya merapikan ruangan itu, akan menghabiskan banyak waktu, sebab Arthur terkadang malah tenggelam dalam bacaan dari buku-buku yang masih terbuka.
Sesekali saat dia tersadar kalau dia malah terlalu asyik membaca, barulah dia akan buru-buru menutup buku di tangannya, lalu menyusunnya di atas rak di dalam lemari buku.
Arthur kemudian berpindah ke sebuah lemari yang khusus menjadi tempatnya, untuk menyimpan koleksi buku langka miliknya.
Sama seperti tadi, sambil merapikan susunan buku, sesekali Arthur masih tenggelam dalam bacaannya.
"Kapan selesainya kalau begini?!" Arthur bicara sendiri, lalu buru-buru melanjutkan pekerjaannya.
Satu persatu buku diberi cairan khusus yang bisa untuk mempertahankan kondisi buku-buku itu, agar bisa bertahan lebih lama dan tidak gampang rusak dimakan usia, dan juga terhindar dari hama jamur yang bisa mempercepat proses kerusakannya.
Sebagian buku-buku langka Arthur itu, meskipun hanya dia dapatkan di toko loak, dan beberapa garage sale, namun kondisinya masih sangat baik.
'UNE SAISON EN ENFER' ('A SEASON IN HELL' )
Sebuah buku yang berisikan puisi berbahasa Perancis, dengan sampulnya yang sederhana, yang ditulis oleh Penyair berkebangsaan Perancis, Jean Nicholas Arthur Rimbaud dengan sesama penyair Paul Verlaine, diperhatikan Arthur baik-baik.
Buku itu dia dapatkan saat dia baru masuk kuliah, dan tanpa sengaja melihat benda itu hanya diletakkan begitu saja, bercampur dengan buku-buku tua lain di atas tikar yang digelar di pasar loak.
Setiap Arthur selesai membaca buku itu, maka buku itu akan mendapatkan perlakuan khusus dari Arthur, hingga kondisinya sekarang ini masih sama seperti pertama kali Arthur menemukannya.
Bahkan menurut penglihatan Arthur, kondisi buku itu menjadi jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Arthur memang menaruh perhatian lebih pada buku itu, karena buku itu sangat sulit untuk ditemukan di pasaran.
Arthur memang sudah memiliki buku yang sama, namun hanya edisi terjemahannya saja, yang sudah disalin menjadi berbahasa Inggris.
Jadi, saat dia menemukan buku yang menjadi terbitan edisi pertama yang ditanda tangani oleh penulisnya Arthur Rimbaud dan Paul Verlaine, rasanya Arthur seperti telah menemukan harta karun.
Arthur tersenyum sendiri, ketika mengingat perbincangannya dengan orang tuanya saat Arthur membeli buku A Season In Hell itu, dan menunjukkannya kepada orang tuanya.
Arthur yang bertanya kalau apa mungkin namanya diambil dari penyair itu, mendapat bantahan keras dari ayah dan ibunya.
Menurut mereka, nama Arthur itu terinspirasi dari Sir Arthur Ignatius Conan Doyle, penulis cerita fiksi ternama, tentang detektif Sherlock Holmes.
Dengan harapan, agar nantinya Arthur akan menjadi orang yang pintar seperti Arthur Conan Doyle, dan menjadi Detektif yang hebat seperti Sherlock Holmes.
Sedangkan jalan hidup dari penyair Arthur Rimbaud, dianggap kedua orang tua Arthur, adalah sesuatu yang tidak patut untuk jadi panutan, apalagi untuk ditiru.
Setelah Arthur menyimpan buku itu, pandangan Arthur terhenti di brankas lama yang ada di pojok paling bawah lemari buku, yang tidak pernah di sentuhnya lagi selama ini.
Menurut Arthur, mungkin sudah lebih dari lima tahun benda itu tidak pernah dibukanya lagi.
Brankas besi berukuran kecil yang berisi benda yang berharga bagi Arthur, namun kemungkinan besar hanyalah seonggok sampah bagi orang lain.
Ketika dia berdiri sambil memegang beberapa benda yang diambil dari dalam situ, bunyi berdenting dari benda logam kecil yang terjatuh ke lantai, menarik perhatian Arthur.
Sebuah pemantik berbahan logam, Zippo yang di bagian bawahnya terukir nama 'DAMIAN', tampak tergeletak di lantai.
Arthur benar-benar lupa dengan adanya benda itu di dalam brankasnya.
Arthur memperhatikan benda itu cukup lama, dan mengingat-ingat bagaimana benda itu bisa berada di sana.
Itu adalah pemantik yang dipinjamnya saat malam pesta pergantian tahun, di distrik Utara kota Hills, dan terlupakan oleh Arthur untuk dikembalikan kepada pemiliknya lagi.
Arthur akhirnya tersadar akan sesuatu yang membuatnya benar-benar tersentak, dan merasa sangat bodoh.
"Hah?!" ujar Arthur spontan.
Arthur memang pernah bertemu dengan Alexa di masa lalu, hanya saja Arthur saat itu sama sekali tidak menyadari kalau 'Alex', orang yang meminjamkannya pemantik, adalah seorang wanita.
Arthur terduduk lemas di kursi kerja yang ada di dalam perpustakaannya itu, sambil tetap memperhatikan pemantik Zippo di tangannya.
Lalu siapa 'Damian' yang namanya terukir di pemantik itu?
Ah! Sudahlah!
Arthur tidak mau terlalu memusingkan kepalanya dengan nama Damian yang tidak dikenalinya, melainkan sibuk mengingat pertemuannya waktu itu dengan Alexa.
Menurut Arthur, dirinya yang menemukan kembali pemantik dan ingatan yang ada bersama benda itu, mungkin adalah sebuah pertanda baginya, agar dia kembali menemui Alexa.
Arthur melihat arloji di tangannya, namun kelihatannya waktu berkunjung di rumah sakit sudah hampir habis.
Kalau begitu, sebaiknya Arthur menunda saja dulu keinginannya untuk mengunjungi Alexa, dan ... Mata Arthur terbelalak.
"Hey! Besok adalah hari ulang tahunnya! Benar-benar kebetulan yang luar biasa!" Arthur bicara sendiri dengan penuh semangat.
Memang rasanya sulit untuk dipercaya, karena tanggal 29 Februari adalah tanggal yang tidak selalu ada di setiap tahunnya, namun untuk tahun ini, di kalender menunjukkan kalau bulan itu memiliki tanggal 29.
Okay! Kalau begitu, memang benar bahwa alam dan takdir memang ingin Arthur tetap berjuang untuk cintanya kepada Alexa.... Setidaknya, itu yang Arthur pikirkan sekarang ini.
Besok, Arthur akan mengunjungi Alexa, dengan membawa pemantik itu, dan mungkin sebuah hadiah ulang tahun yang bagus untuk Alexa.
Arthur kemudian berpikir keras, akan hadiah apa yang mungkin akan disukai oleh Alexa.
Seingat Arthur, Alexa pernah menceritakan tentang hobi membacanya saat dia masih kecil, kepada Arthur.
Kalau begitu, sebuah buku mungkin bisa jadi hadiah yang bagus untuk Alexa. Tapi buku apa?
Arthur berdiri di depan lemari bukunya.
Apa Arthur harus membeli buku yang baru?
Arthur tersenyum lebar, karena merasa kalau ada salah satu koleksinya yang mungkin akan menarik perhatian Alexa.
'A SEASON IN HELL'
Buku karya Arthur Rimbaud yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris itu, rasanya adalah buku yang cocok untuk Alexa.
Tanpa mengenyampingkan semua kemungkinan dari kondisi mental Alexa, rasa penasaran Arthur membuatnya ingin melihat reaksi Alexa, saat membacanya nanti.
Arthur ingin tahu, bagaimana Alexa akan merespon puisi dari Arthur Rimbaud, yang di deskripsikan oleh beberapa kritikus, sebagai tulisan puisi yang terpengaruh dari kondisi mental, dan berdasarkan pengalaman dari si penyair.
Selain itu, jika Alexa menyukai buku itu, maka sesuai dengan nama penyairnya, kemungkinan besar nama Arthur akan selalu diingat oleh Alexa.