
Setelah mendengar kalau kendaraan mereka ditemukan di jurang di daerah xxx, Alexa seakan-akan tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh petugas polisi itu.
Daerah xxx masuk di wilayah bagian Utara kota Hills dan berjarak kurang lebih 150 Mil dari daerah xx, tempat kejadian kecelakaan yang dialami oleh Alexa.
Kalau begitu, mobil yang dikendarai oleh Alexa sengaja dibawa dan di buang di sana untuk menghilangkan jejak.
Alexa mengerti dengan baik, kalau karena pekerjaan dari Sir Ruppert, kemungkinan besar akan ada yang memang berniat mencelakai Sir Ruppert, untuk menakut-nakutinya.
Tapi rasanya kalau sampai berniat untuk membunuh Sir Ruppert, bagi Alexa hal itu masih terlalu ekstrim, apalagi saat Alexa ikut mengalami kejadian itu.
Alexa pernah berhadapan dengan kriminal di jalanan, bahkan pernah sampai terluka, tapi kejadian ini masih jauh lebih menakutkan, hingga membuat sekujur tubuh Alexa terasa gemetaran.
"Lalu, bagaimana keadaan Sir, Madam, dan Louis?" tanya Alexa pelan dengan suara bergetar.
"Louis Dale, rekanmu yang bekerja sebagai bodyguard, baik-baik saja. Dia mengalami cedera berat, namun kondisinya jauh lebih baik, hingga dia sudah dipulangkan dari rumah sakit, sejak sebulan yang lalu....
... Sedangkan Sir Hans Ruppert dan Madam Meir Ruppert, ditemukan sudah meninggal dunia di lokasi kejadian," jawab salah satu dari petugas polisi itu.
Seketika itu juga, Alexa merasa pandangannya jadi berkunang-kunang, sebelum akhirnya dia tidak ingat apa-apa lagi, setelah dia memejamkan matanya.
***
"... Kesehatannya sudah jauh lebih baik."
"Dia hanya masih sangat terguncang."
"Laporkan terus perkembangannya!"
"Baik, Chief!"
Alexa bisa mendengar percakapan beberapa orang yang rasanya sedang berada di dalam ruangan yang sama dengannya.
Namun, Alexa masih merasa kesulitan untuk membuka kelopak matanya.
Kemudian, Alexa bisa merasakan kalau ada tangan-tangan yang meraba-raba pergelangan tangannya.
Perlahan Alexa mencoba membuka matanya, untuk melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu.
Seorang wanita berpakaian perawat, tampak memeriksa selang infus yang terpasang di tangan Alexa.
Sedangkan di bangku yang terletak di bagian sudut dekat jendela ruangan itu, terlihat dua orang petugas polisi yang berbicara dengannya terakhir kali, terduduk di sana sambil memandangi Alexa.
"Suster! Tolong angkat tempat tidur ini, agar aku tidak terlentang! Aku ingin agar posisiku bisa sedikit terduduk," kata Alexa.
"Anda tidak perlu memaksakan diri untuk bangun. Anda masih perlu banyak istirahat," ujar wanita yang berpakaian perawat.
"Huuffft ...!" Alexa mendengus pelan.
Setelah perawat itu pergi, Alexa lalu terpikir untuk meminta bantuan kepada petugas polisi yang ada di situ saja.
"Apa salah satu dari anda bisa membantuku, untuk membuat ranjang ini agak sedikit terangkat? Aku merasa pusing saat terlentang," ujar Alexa.
"..." Kedua petugas polisi itu hanya terdiam, dan tampak bertatap-tatapan, seolah-olah merasa ragu untuk menuruti permintaan Alexa.
"Tolonglah! Aku akan muntah kalau harus terlentang lebih lama lagi," ujar Alexa mengulang permintaannya.
Akhirnya, salah satu dari mereka, berdiri dan menghampiri ranjang perawatan Alexa, lalu memutar tuas hingga ranjang di bagian punggung Alexa, jadi terangkat.
"Apa sudah cukup?" tanya petugas polisi itu.
Alexa yang merasa sudah hampir terduduk, lalu mengangguk pelan. "Iya. Terima kasih!"
"Apa anda sudah merasa jauh lebih baik?" tanya petugas polisi itu lagi, sambil tetap berdiri di dekat ranjang Alexa.
Walaupun tidak mengeluarkan suara tangisannya, Alexa meneteskan air matanya, saat kembali teringat perkataan petugas polisi itu, kalau Sir dan Madam Ruppert yang sudah meninggal dunia.
"Maafkan saya. Saya tidak berniat untuk membuat anda kembali merasa sedih," kata petugas polisi itu, dengan nada suara pelan.
"Tidak apa-apa. Tapi, apa kalian tahu bagaimana pemakaman Sir dan Madam Ruppert?" tanya Alexa, yang sudah bisa mengatur emosinya.
"Pemakaman mereka dilakukan oleh anaknya, Hanzel Ruppert....
...Dia sempat mengunjungi anda di sini, tapi karena anda masih tidak sadarkan diri, jadi dia hanya menitipkan pesan....
...Kalau saat anda tersadar nanti, anda lanjutkan saja hidup anda, dan jangan tenggelam dalam rasa bersalah....
... Karena katanya, semuanya yang terjadi sudah menjadi kehendak Tuhan, dan dia tidak mau menyalahkan anda," kata petugas polisi itu.
Alexa kembali meneteskan air matanya, dan kali ini rasa sedihnya tidak tertahankan, hingga membuat Alexa menangis terisak-isak.
Petugas polisi itu kemudian menghampiri Alexa dan memegang tangannya, seolah-olah hendak membantu menenangkan Alexa di situ.
"Maafkan saya," ucap petugas polisi itu.
Alexa sebenarnya ingin mengatakan kalau petugas polisi itu tidak melakukan kesalahan, dan tidak perlu meminta maaf.
Namun isakan tangisannya yang menjadi-jadi, membuat Alexa tidak sanggup untuk berkata apa-apa.
Hanzel Ruppert, anak laki-laki satu-satunya dari Sir dan Madam Ruppert.
Alexa hanya sempat bertemu dengannya beberapa kali, namun menurut Alexa, sifat dan sikap pemuda itu, sama baiknya dengan kedua orang tuanya.
Dan itu terbukti saat ini, ketika Alexa ceroboh menilai situasi, hingga menyebabkan kedua orang tuanya meninggal dunia, namun Hanzel tidak menyalahkan Alexa.
Tapi....
"Apa Hanzel tidak melakukan tuntutan hukum, atas kecelakaan yang mengakibatkan kematian kedua orang tuanya?" tanya Alexa heran.
"Dia membuat laporan aduan, namun dia bersikeras agar kami tidak membebani anda. Katanya dia yakin kalau anda tidak melakukan kesalahan apa-apa....
...Walaupun demikian, kami tetap harus melakukan pemeriksaan kepada semua orang yang terlibat di dalam kecelakaan itu....
... Tidak mungkin kami bisa menyelesaikan kasus ini, hanya dengan berdasarkan asumsinya saja," jawab petugas polisi itu.
"Itu sebabnya, kami sangat berharap agar anda bisa lebih tenang, dan membantu kami dengan memberikan petunjuk, tentang apa saja yang anda ingat saat itu," lanjut petugas polisi itu.
Alexa kemudian terdiam untuk beberapa saat.
"Aku akan memberikan keterangan, semampuku bisa mengingat segala sesuatu yang mungkin berhubungan dengan kecelakaan itu," ujar Alexa.
"Kalian bisa mulai bertanya sekarang," lanjut Alexa mantap.
***
Untuk beberapa waktu lamanya, Alexa menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh petugas polisi kepadanya, tanpa ragu.
Alexa menceritakan dengan detail apa saja yang dia ketahui, bahkan apa saja yang membuatnya merasa tidak beres sejak pagi di hari itu, saat dia mengantar Sir Ruppert ke kantor.
Tanpa memperdulikan bagaimana tanggapan para petugas polisi itu, Alexa juga menyampaikan kekhawatiran Madam Ruppert karena kasus yang ditangani oleh Sir Ruppert.
Semua perbincangan mereka saat ini, baik pertanyaan dari petugas polisi, dan jawaban yang diberikan oleh Alexa, tampak dicatat oleh petugas polisi yang satunya lagi, yang tadinya hanya duduk di bangku di dekat jendela ruang perawatan Alexa itu.
***
"Terima kasih atas kerjasamanya!" ucap petugas polisi, itu tampak ingin mengakhiri percakapan mereka.
"Tolong pakai hati nurani kalian!" ujar Alexa tegas.
Alexa memang berniat menyinggung para petugas polisi itu, agar tidak menutup-nutupi pelaku yang membunuh Sir dan Madam Ruppert, bahkan membuat Alexa dan Louis juga nyaris kehilangan nyawanya.
Karena alexa tahu, kalau ada kecurigaan dari Madam Ruppert kepada oknum petinggi di dalam departemen kepolisian, sebelum kecelakaan itu terjadi.
"Jangan biarkan pelakunya bebas berkeliaran. Bayangkan kalau kejadian seperti ini, terjadi pada anggota keluarga kalian sendiri," lanjut Alexa menekankan maksudnya.