
"Baam!"
"Krraaaaak!"
"Aaarrrghh!"
Suara renyah yang dihasilkan dari baja body SUV yang hancur, seperti bunyi keripik yang dikunyah dalam jangka panjang, ditambah lagi dengan suara teriakan-teriakan histeris, menggema di dalam telinga Alexa.
SUV yang dikendarai oleh Alexa, rasanya sudah tidak bergerak lagi.
Alexa masih bisa mengingat kalau mereka terlibat kecelakaan, namun Alexa tidak bisa memastikan keadaan mereka semua yang berada di dalam SUV itu.
Alexa membuka matanya perlahan-lahan.
Selain Louis yang tampak bermandikan darah di sampingnya, Alexa tidak bisa melihat Sir dan Madam Ruppert yang seharusnya ada di bagian belakangnya.
Kaca spion yang menggantung di bagian atas dashboard mobil, entah di mana sekarang benda itu berada.
Kemudian, setahu Alexa, dia saat ini sedang memanggil nama Louis, Sir dan Madam Ruppert, namun suaranya tampaknya tidak keluar dari mulutnya.
Begitu juga sekujur tubuh Alexa yang rasanya tidak ada satupun yang bisa dia gerakkan.
Pandangan Alexa yang tampak samar-samar dan berputar-putar, seolah-olah sedang menaiki Carousel, hingga Alexa rasanya ingin muntah.
Telinganya juga mendengung, seolah-olah terdapat nyamuk berukuran besar yang terbang tanpa henti, di dekat kedua belah telinga Alexa itu.
Rasa pusing yang berlebihan, membuat Alexa tidak sanggup membuka matanya lebih lama, hingga akhirnya dia kembali memejamkan matanya, dan tidak ingat apa-apa lagi.
——————
"Aaarrrghh!"
Alexa berteriak histeris saat itu juga, ketika dia kembali membuka matanya.
"Hufft! Hufft! Hufft!"
Menyusul kemudian, nafas Alexa yang memburu.
Apa yang terjadi? Alexa kebingungan, saat melihat ke sana kemari, dan sekujur tubuhnya yang tidak bisa dia gerakkan.
Setelah beberapa saat, Alexa mengumpulkan kesadarannya, Alexa menyadari kalau saat ini dia sedang berada di atas tempat tidur.
Masih teringat dengan jelas, bayangan kejadian kecelakaan mobil yang dikendarainya, sambil membawa Sir dan Madam Ruppert, juga Louis, kembali ke rumah keluarga Ruppert.
Rasanya itu bukanlah hanya sebuah mimpi, karena bagi Alexa bayangan ingatan itu masih terlalu nyata, jika itu hanya sekedar mimpi buruk.
Alexa memegang kepalanya dengan sebelah tangannya, karena tangan yang satunya tampak terpasang gips hingga menutupi hampir ke bagian telapak tangannya.
"Anda sudah sadar," kata seseorang, yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat ranjang tempat Alexa berbaring.
"Kenapa aku tidak bisa bergerak?" tanya Alexa bingung.
"Anda sudah lebih dari dua bulan tidak sadarkan diri, mungkin otot-otot Anda lemah karena tidak di gerakkan dalam waktu yang lama," jawab orang itu.
Menurut dugaan Alexa, berarti dia saat ini sedang berada di rumah sakit.
Kalau begitu, kecelakaan yang ada di dalam ingatan Alexa itu, memang benar-benar terjadi, dan bukan hanya mimpi buruknya saja.
Astaga!
Alexa tersentak mengingat perkataan orang tadi, kalau Alexa tidak sadarkan diri sudah lebih dari dua bulan lamanya.
Bagaimana keadaan Sir dan Madam Ruppert, begitu juga Louis, yang ikut terlibat di dalam kecelakaan itu?
"Apa yang terjadi? Di mana aku sekarang? Di mana Sir, Madam dan Louis? Apa yang terjadi dengan mereka?" Alexa melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang mengacaukan pikirannya.
"Tenang! Anda tenang dulu!" kata orang itu, tidak menjawab semua pertanyaan Alexa. "Tunggu sebentar, saya panggilkan dokter!"
Mau tidak mau, Alexa harus bersabar untuk mendapatkan jawaban yang dia cari, dan hanya bisa berharap kalau Sir, Madam, dan Louis baik-baik saja.
"Huufffttt ...!"
Alexa menghembuskan nafasnya kasar dan panjang, untuk mengurangi rasa frustrasi karena rasanya percuma saja walaupun dia mengamuk.
Sedangkan, saat ini dia hanya sendirian di dalam ruangan itu, dan ditambah lagi dia saat ini tidak bisa menggerakkan badannya, selain tangan dan kepalanya.
***
"Apa ada sesuatu dari kejadian kecelakaan yang anda alami yang masih anda ingat?"
Dua orang laki-laki berbadan tinggi tegap, memakai pakaian kasual dengan jaket kulit, kini berada di dalam ruangan bersama Alexa, menggantikan petugas medis yang baru saja keluar setelah memeriksa Alexa.
Kedua laki-laki itu, memperkenalkan diri mereka bahwa mereka adalah petugas polisi yang menangani kasus kecelakaan yang dialami oleh Alexa.
"Bagaimana keadaan Sir dan Madam Ruppert? Berikut juga Louis yang bersama-sama denganku saat kecelakaan itu terjadi?"
Alexa tidak menjawab pertanyaan laki-laki yang bertanya kepadanya tadi, melainkan mengajukan pertanyaan yang mengganggu pikirannya.
"Tolong kerjasamanya! Sebaiknya anda menjawab pertanyaan kami lebih dulu!" ujar petugas polisi itu.
"Kami akan menjelaskan semuanya nanti, setelah anda mau memberitahu tentang apa saja yang anda ketahui, tentang kecelakaan yang terjadi pada Anda," lanjut petugas polisi itu tampak memaksa.
Alexa menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Truk kontainer. Kami sedang di jalan pulang ke rumah keluarga Ruppert. Tiba-tiba ada dua truk kontainer yang menjepit dari bagian depan dan belakang mobil yang saya kemudikan," kata Alexa.
"Tolong anda jelaskan kronologinya!" ujar laki-laki itu.
"Sebelum kami terlibat dalam kecelakaan, siang itu kami sudah dibuntuti oleh salah satu mobil yang mencurigakan. Namun kami berhasil menghindarinya....
...Lalu saya menjemput Sir Ruppert di kantor kejaksaan distrik Utara, semuanya tampak masih tampak baik-baik saja, dan tidak ada yang mencurigakan di jalanan....
...Hingga kami hampir memasuki bagian kota yang sepi di daerah xx distrik Barat kota. Saat itu saya melihat di kaca spion, kalau ada dua truk kontainer yang menyusul di belakang....
...Saya tidak menaruh curiga apa-apa. Jadi, saat salah satu dari truk kontainer itu memberi tanda agar saya memberinya kesempatan untuk mendahului, saya membuka jalan untuknya....
...Namun setelah itu, saat saya meminta kesempatan untuk kembali mendahuluinya, truk kontainer itu tidak mau memberiku jalan....
...Bahkan, tampaknya dengan sengaja menutup-nutupi sela jalanan, agar saya tidak bisa lewat untuk mendahuluinya....
... Dan selanjutnya yang aku ingat terakhir, kedua truk kontainer itu tampak sengaja membuat mobil yang saya kendarai terjepit di antara mereka," kata Alexa.
"Apa ada hal yang lain yang anda ingat?" tanya laki-laki itu. "Mungkin plat nomor kendaraan, atau ciri-ciri khusus dari truk kontainer yang anda bilang menjepit mobil yang anda kendarai."
"Saya rasa tidak ciri-ciri khusus atau sesuatu yang mencolok dari dua truk kontainer itu, dan saya juga tidak ingat kalau saya melihat plat nomor kendaraan," jawab Alexa.
Alexa tersentak.
"Iya! Tidak salah lagi! Dua truk kontainer itu tidak memasang plat nomor kendaraan—" Alexa berhenti bicara sambil memikirkan baik-baik, apa yang dia lihat waktu itu.
Alexa menepuk jidatnya sendiri, saat menyadari kesalahan besar yang dia lewatkan saat itu.
"Seharusnya, aku sudah tahu kalau dua truk itu mencurigakan. Aku sangat bodoh," ujar Alexa penuh penyesalan.
"Tapi, apa kalian tidak bisa melihat sendiri dua truk kontainer itu? Tentu truk-truk itu berada di sana bersama mobil kami, kan?!" lanjut Alexa.
Kedua laki-laki yang mengaku sebagai petugas polisi, tampak bertatap-tatapan, lalu salah satu dari mereka menatap Alexa dan berkata,
"SUV yang anda kendarai, ditemukan di jurang di daerah xxx. Tidak ada kendaraan lain lagi yang memiliki tanda-tanda mengalami kecelakaan bersama anda di sana."
Mata Alexa terbelalak, karena rasa tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.