It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 41



1 Januari 2001.


00:15.


Kelihatannya, Lucy sudah memberitahu kepada Josh, kalau Arthur sedang menuju ke rumah sakit jiwa.


Karena, ketika Arthur tiba di sana, Josh tampak menunggu di luar bangunan rumah sakit, bersama beberapa petugas polisi rekan kerja mereka.


Jangankan masuk ke dalam rumah sakit, Arthur baru saja keluar dari mobilnya yang sudah terparkir, beberapa anggota polisi yang bersama Josh segera menangkap Arthur.


Arthur ditahan di parkiran itu, dan dilarang Josh mati-matian, agar tidak masuk ke dalam rumah sakit.


"Kamu tidak bisa ikut dalam kasus ini! Kamu tidak berpikiran jernih!" kata Josh tegas.


"Aku tidak akan mencampuri urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Aku hanya ingin melihatnya!" ujar Arthur tidak mau kalah.


"Kamu bisa melihatnya, setelah semua selesai diperiksa. Jangan mempersulit pekerjaanku!" sahut Josh.


"Aaarrrghh! Kamu—"


"Arthur! ... Aku mengerti perasaanmu. Tapi, sesuai perintah Atasan, kamu hanya bisa melihatnya, setelah pemeriksaan selesai dilakukan!" Josh segera menyela perkataan Arthur.


"Josh! Please ...!" Pinta Arthur memelas.


"Maafkan aku kawan ... Aku tidak mau kamu menyesalinya nanti." kata Josh, sambil berjalan pergi, meninggalkan Arthur yang tetap dipegang oleh rekan polisi yang lain.


"Brengsek! F*cking as*hole!" Arthur yang kesal, berteriak memaki Josh.


"Hufftt ...! Tahan emosimu ... Meskipun kamu mencoba memancing kemarahanku, kamu tetap tidak boleh masuk ...! Aku akan mengabarimu nanti!"


Josh hanya berbalik sebentar, lalu lanjut berjalan meninggalkan Arthur yang masih mengamuk.


"Detektif Smith! Mister Mark William dan Willing Grup sedang berada di dalam. Kalau anda masih membuat keributan, maka Detektif Baker akan berada dalam masalah," kata salah satu dari rekan Arthur, yang menahan Arthur di situ.


Namun, Arthur tidak perduli dan tetap berusaha melepaskan diri pegangan mereka.


Lama kelamaan, Arthur akhirnya kelelahan, hingga tidak bisa melawan untuk mencoba melepaskan diri dari beberapa rekan polisi yang memegangnya.


Arthur kemudian bertanya-tanya kepada rekan-rekan polisi yang bersamanya di situ, tentang apa saja yang mereka sudah ketahui.


Menurut penuturan rekan-rekan Arthur itu, Alexa menghilang sejak tanggal 30 Desember, di sekitar jam 6 petang.


Setelah dilakukan pencarian, oleh orang-orang suruhan dari Willing Grup, dan tim dari divisi orang hilang, di hutan di belakang rumah sakit, mereka menemukan potongan kecil pakaian di sekitar jam 4 sore, di tanggal 31 Desember itu.


Potongan pakaian yang biasa dipakai pasien rumah sakit jiwa itu, ditemukan dengan lokasi yang tersebar di beberapa titik.


Namun, lokasi penemuannya masih berada di satu arah, dan mengarah ke wilayah teritorial sekumpulan serigala abu-abu yang ada di tengah hutan itu.


Dan paling banyak dari potongan-potongan pakaian, justru ditemukan di dekat sarang serigala abu-abu itu.


Karena aturan dari pemerintah negara, sarang serigala abu-abu tidak boleh di usik, hingga tidak ada yang bisa memeriksa jauh lebih ke dalam sarang binatang itu.


Dengan begitu, hanya sampel dari darah yang tertinggal di potongan pakaian yang bisa dijadikan bukti, dan diantar ke instalasi forensik untuk di visum.


Kata rekan Arthur itu, sebelum Arthur datang ke rumah sakit, hasil visum dari potongan pakaian berdarah, telah dipastikan kalau itu memang sampel darah dari Alexa.


Walaupun Arthur sudah mendengarkan penjelasan dari rekan-rekannya, namun Arthur rasanya tidak bisa percaya begitu saja.


Arthur justru mencurigai, kalau-kalau semua adalah ulah Mark, yang mencoba membunuh Alexa.


Dengan rasa curiganya itu, Arthur kembali bersikeras untuk masuk ke dalam rumah sakit jiwa, dan berniat melakukan investigasi sendiri.


Namun keras kepala Arthur, hanya membuatnya dibawa kembali ke apartemennya secara paksa oleh rekan-rekannya itu.


Arthur bahkan diborgol agar tidak bisa berkutik, dan mau tidak mau, hanya bisa pasrah saat dipaksa masuk ke dalam mobil dinas polisi, dan diantar pulang.


***


08:40.


Arthur kembali mendatangi rumah sakit jiwa, dengan diantarkan oleh salah satu rekan kerjanya.


Namun Arthur kali ini tidak mau membuat keributan, dan hanya berniat menunggu waktu yang tepat, hingga dia menemukan celah untuk menyelinap masuk.


"Arthur!"


Josh tampak berjalan tergesa-gesa, mengarah di mana Arthur berdiri.


"Kenapa kamu tidak beristirahat saja dulu?" tanya Josh, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tampak tidak percaya saat melihat Arthur berada di tempat itu.


"Aku sudah istirahat tadi. Apa ada yang penting yang kamu temukan?" ujar Arthur yang berusaha keras agar tetap terlihat tenang, agar Josh tidak mengusirnya pulang.


"Kelihatannya tidak ada yang mencurigakan. Semua sesuai dengan dugaan awal," jawab Josh datar.


"Apa kamu yakin?" Arthur rasanya masih tidak percaya dengan perkataan Josh kepadanya.


"..." Josh kelihatannya ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tampak berusaha menahan mulutnya agar tidak berbicara.


"Ada apa? Apa aku sudah bisa menemuinya?" desak Arthur.


"Kita pergi dari sini. Aku khawatir kalau ada yang mendengarkan pembicaraan kita, atau melihat apa yang akan aku berikan kepadamu," jawab Josh yang terlihat ragu.


"Aku tidak mau kemana-mana," sahut Arthur tegas.


"Kamu memang keras kepala!" Josh mendengus. "Hufftt ...! Kalau begitu, kita bicara di dalam mobil saja."


Tanpa menunggu persetujuan dari Arthur, Josh segera membuka pintu mobil Arthur dan duduk di dalamnya.


Begitu juga Arthur yang lantas ikut masuk ke dalam mobil, dan duduk di jok supir.


"Ini!" Josh menyodorkan secarik kertas yang terlipat rapi, yang baru saja dia keluarkan dari saku jaketnya.


Arthur tidak segera menerima selembar kertas itu, melainkan menatap Josh lekat-lekat.


"Alexa menuliskan ini untukmu!" kata Josh.


"Aku menemukan ini di antara barang-barang miliknya yang ada di dalam kamarnya. Kelihatannya dia sudah menulisnya sejak lama," lanjut Josh.


Arthur kemudian membaca tulisan yang tertera di dalam selembar kertas itu.


Dear Arty.


Kedatanganmu hari ini, menjadi hadiah ulang tahun terbaik bagiku.


Ketika kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku, aku juga ingin berkata hal yang sama.


Aku mencintaimu Arty.


Tapi, aku rasa aku tidak bisa memperjuangkan keinginanku, seperti yang kamu minta.


Aku sudah kelelahan dan kehabisan tenaga.


Aku hanya memaksakan diri, dan aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.


Jika sudah tiba saatnya aku harus berhenti, janganlah kamu terlalu bersedih.


It's Not Your Fault, My Love.


Arthur meletakkan helaian kertas itu begitu saja ke atas pangkuannya, dan memandangi tulisan tangan Alexa yang ternyata sangat indah.


Kalau memang benar begitu, surat itu berarti ditulis Alexa pada tanggal 29 Februari yang lalu.


Tapi Alexa hanya sekedar menulisnya, dan seolah-olah tidak berniat untuk memberikannya kepada Arthur, sehingga Alexa hanya menyimpannya untuk waktu yang lama.


"Kamu tahu kalau seharusnya surat itu dimasukkan ke dalam barang bukti, kan?! Tapi, aku mengambil resiko untuk memberikannya kepadamu saja," ujar Josh.


"Apa kamu yakin, kalau kamu tidak melewatkan sedikitpun petunjuk?" tanya Arthur.


"Arthur! Aku mungkin tidak sepintar kamu. Tapi, aku juga berpengalaman," sahut Josh.


"Lagipula utusan dari perlindungan satwa liar juga mengatakan, kalau darah dari luka Alexa itulah, yang kemungkinan memicu kelompok serigala abu-abu hingga menyerangnya," lanjut Josh.


"Bagaimana dia bisa pergi ke hutan?" tanya Arthur.


"Dia sedang tidak sadarkan diri. Jadi, semua orang menjadi lengah, dan tidak mengawasinya dengan baik," jawab Josh.


"Apa aku bisa melakukan investigasi ulang?" tanya Arthur. "Bukan untuk laporan, tapi hanya untuk memuaskan rasa ingin tahuku."


"Kamu tahu kalau aku belum ada istirahat sejak kemarin, kan?!" ujar Josh. "Ditambah lagi, Willing Grup masih ada di dalam."