It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 17



29 Januari 2000.


14:23.


"Nanti, aku mau kamu antarkan aku ke tempat tinggal korban," ujar Arthur, sambil berjalan ke arah mobil Josh yang terparkir. "Tapi untuk sekarang, antarkan aku mencari sesuatu untuk makan siangku lebih dulu!"


Josh mengikuti langkah Arthur dengan berjalan menyusul di belakangnya, hingga memasuki mobilnya, di mana Arthur sudah duduk menunggunya.


"Apa mungkin kamu memiliki pemikiran yang sama denganku?" Josh bertanya, sambil menyalakan mesin mobilnya.


Arthur hanya terdiam untuk beberapa saat, lalu menyalakan sebatang rokok.


"Aku masih belum bisa memikirkan apa-apa," jawab Arthur. "Masih terlalu banyak dugaan, kalau hanya melihat TKP saja."


Tanpa banyak bicara lagi, Josh mengemudikan mobilnya menjauh dari pinggiran kota, untuk mencari restoran terdekat yang bisa menjadi tempat mereka beristirahat makan siang, yang sudah terlambat.


***


15:46.


Sebuah rumah sederhana yang tidak terlalu jauh dari lokasi penemuan tubuh korban, Arthur masih berdiri di halaman, sambil memperhatikan baik-baik di seluruh bagian yang bisa terjangkau oleh penglihatannya.


"Ayo masuk!" ajak Josh. "Keluarga yang merawat korban, menunggu di dalam."


Rokok Arthur yang masih tersisa separuhnya, dilempar Arthur ke arah jalanan, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


Di dalam sana, terlihat empat orang yang terdiri dari satu laki-laki dewasa, satu wanita dewasa, satu orang anak yang berusia sekitar sembilan tahunan, dan satu anak balita.


"Dia ... Bla ... Bla ... Seperti biasanya ... Bla...."


"Tidak ada ... Bla ... Apa ...? Bla ... Bla...."


Arthur hanya mendengarkan sekilas-sekilas, percakapan antara Josh dan beberapa anggota penghuni tempat itu, sambil tetap berdiri dan berjalan pelan, memeriksa ruangan yang menjadi kamar korban semasa hidupnya.


Sudah puas melihat-lihat di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter itu, Arthur memeriksa bagian lain dari rumah yang tidak memiliki banyak ruangan bersekat.


"Josh!" seru Arthur memanggil Josh, yang masih berada di ruangan bagian paling depan rumah itu.


"Ada apa?" tanya Josh yang tampak buru-buru menghampiri Arthur, yang berdiri di bagian dapur rumah.


"Orang yang berperan sebagai ayah di rumah ini," ujar Arthur.


"Orang yang berperan sebagai ayah di rumah ini ...?" tanya Josh, mengulang perkataan Arthur, tampak ingin memastikan apa yang Arthur bicarakan.


"Sebaiknya kamu segera menahan orang itu!" ujar Arthur memberi saran.


"Tapi ... Semalam dia sudah di periksa. Dia memiliki alibi," jawab Josh ragu. "Aku juga tidak memiliki surat perintah penangkapan."


"Surat perintah penangkapan, katamu? Kamu pasti bercanda!" ujar Arthur, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Arthur kemudian berjalan mengarah ke luar di mana mobil Josh terparkir, dan menghubungi mobil dinas yang terparkir di TKP menggunakan radio.


Arthur memanggil salah satu mobil di sana untuk menyusul Arthur dan Josh di rumah korban.


Setelah itu, Arthur kembali ke dalam rumah, lalu berkata kepada penghuni rumah yang tampak masih terduduk di sana,


"Anda ikut dengan kami ke kantor sebentar!"


Dua orang dewasa laki-laki dan perempuan di situ tampak saling bertatap-tatapan untuk beberapa saat, lalu menatap Arthur dengan raut wajah penuh tanda tanya.


"Saya sudah diperiksa tadi malam. Kenapa aku harus ke sana lagi?" tanya laki-laki itu.


"Masih ada yang ingin kami tanyakan." Josh tiba-tiba menimpali. "Anda tidak perlu khawatir. Mohon kerjasamanya!"


Walaupun terlihat ragu-ragu, ternyata laki-laki itu mau saja menuruti perkataan Arthur dan Josh.


Di luar, salah satu mobil dinas tampak sudah menunggu di pinggir jalan, dan dua orang petugas polisi berseragam, menjemput laki-laki yang diduga Arthur sebagai pelaku pembunuhan, setelah diberi tanda oleh Arthur.


Ketika laki-laki itu sudah masuk ke dalam mobil dinas, Arthur bergegas masuk ke dalam mobil Josh, sambil disusul oleh Josh yang berjalan di belakangnya.


"Bagaimana—?" Pertanyaan Josh tidak selesai diutarakannya.


"Kamu tahu selanjutnya harus melakukan apa. Tidak butuh bantuanku lagi," ujar Arthur menyela josh. "Sekarang, antarkan aku menemui Alexa!"


"Bukannya sekarang sudah bukan waktu untuk berkunjung?" tanya Josh, sambil mengemudikan mobilnya, menyusul di belakang mobil dinas yang sudah pergi lebih dulu dari tempat itu.


"Aku tahu," ujar Arthur. "Aku harus meminta izin dari dokter pendampingnya. Terima kasih untukmu!"


"Maafkan aku," ujar Josh.


"Tidak masalah. Aku rasa, aku bisa mengatasinya," sahut Arthur.


"Ada apa lagi?" tanya Arthur, setelah memperhatikan gerak-gerik Josh itu.


"Terima kasih sudah membantuku," jawab Josh.


"Sama-sama."


"Bisa aku tahu bagaimana kamu bisa segera menduga, kalau ayah angkatnya yang menjadi pelaku?"


"Apa kamu mau aku membuatkan pertanyaan yang cocok untuk memeriksa orang itu, sekalian?"


"Arthur ...!"


"Apa? Aku sedang menawarkanmu bantuan," ujar Arthur. "Kamu tidak mau?"


Tanpa bicara apa-apa lagi, Josh hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dan memacu kecepatan mobilnya, mengarah langsung ke rumah sakit.


***


18:10.


"Maaf pak! Tapi, sekarang waktu berkunjung sudah habis." Penjaga keamanan di bagian depan rumah sakit, berusaha menghentikan langkah Arthur.


"Tuan Smith!"


Tiba-tiba, seseorang berseru memanggil Arthur, hingga membuat Arthur menoleh ke arah datangnya suara.


Seorang wanita berpakaian perawat tampak berjalan mendekat, menghampiri Arthur yang masih berdiri terdiam di depan pintu masuk.


"Hai!" sapa Arthur. "Saya ingin bertemu dengan Alexa William sebentar!"


Perawat itu kemudian melihat ke arah penjaga keamanan sebentar, lalu kembali melihat Arthur. "Ayo ikut denganku!"


Tanpa menunggu lama-lama, Arthur ikut berjalan dengan perawat itu menyusuri koridor rumah sakit.


"Kenapa baru datang di jam sekarang?" tanya perawat itu.


"Saya baru pulang dari TKP!"


"Bukannya anda masih harus istirahat? Anda sedang cedera, kan? Kenapa anda sudah kembali bekerja?"


"Tidak begitu," jawab Arthur. "Saya hanya membantu rekan saya saja."


Perawat itu tiba-tiba berhenti berjalan, lalu menoleh ke arah Arthur.


"Anda menunggu di ruang istirahat perawat saja. Saya akan mengantarkan Nyonya William ke sana."


"Okay! Terima kasih!"


"Sama-sama," ujar perawat wanita itu. "Anda tahu tempatnya, kan?"


Arthur mengangguk pelan.


Perawat wanita itu kemudian berjalan menjauh dari Arthur yang juga berjalanan dengan arah berlawanan.


Ketika Arthur tiba di ruang istirahat perawat, di dalam sana ada dua orang perawat yang sedang bercengkrama.


"Tuan Smith!" Kedua perawat tampak terkejut melihat kedatangan Arthur.


"Maaf mengganggu!" ucap Arthur. "Salah satu rekan anda memintaku untuk datang ke sini."


"Ooh ... Silahkan duduk!" kata salah satu dari mereka, sambil menunjukkan bangku kosong yang ada di dalam situ.


"Terima kasih!" ucap Arthur.


Kurang lebih sepuluh menit kemudian, Alexa tampak berjalan memasuki ruangan itu, bersama perawat wanita yang membantu Arthur hingga bisa masuk ke dalam rumah sakit tadi.


"Maaf, Tuan Smith. Tapi, anda tidak bisa di sini terlalu lama, hanya bisa sampai jam makan malam," kata perawat wanita itu.


"Terima kasih bantuannya!" ucap Arthur.


Perawat-perawat yang ada di dalam ruangan itu kemudian berjalan keluar, tampak memberikan kesempatan bagi Arthur dan Alexa untuk mengobrol berdua saja.


"Kenapa datang menemuiku di jam segini?" tanya Alexa yang tampak mengerutkan alisnya.


"Aku tadi membantu Josh," jawab Arthur. "Ada kasus pembunuhan seorang anak kecil, di daerah pinggiran kota."


Raut wajah Alexa berubah drastis, tampak seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu, dan membuatnya sedih.