
31 Desember 2000.
Berbulan-bulan sudah berlalu.
Walaupun Arthur masih menemui Alexa di sela-sela kesibukannya, namun Arthur tidak mendapatkan apa-apa dari mulut Alexa.
Alexa tampak mengunci rapat-rapat mulutnya, jika Arthur mencoba mengajaknya berbicara tentang dirinya.
Dengan demikian, Arthur tidak bisa menggali informasi lebih dalam dari Alexa, walaupun Arthur masih sangat penasaran.
Masih sama saja seperti beberapa bulan yang lalu, Alexa hanya akan bertanya keadaan Arthur saat mereka berdua bertemu.
Jika Alexa orang yang normal, tentu saja gelagatnya itu akan terlihat aneh.
Tapi, karena Arthur tahu kalau Alexa terganggu mentalnya, jadi mau tidak mau, Arthur harus mentolerir hal itu.
Bahkan, Arthur semakin mencintainya, karena Alexa yang memperlihatkan rasa sayangnya kepada Arthur, dengan selalu memperhatikan dan mengkhawatirkan keadaan Arthur.
Arthur masih memegang keyakinan, kalau Alexa pasti akan sembuh di suatu waktu nanti, dan jika saat itu tiba, Arthur akan membantu Alexa agar bisa bercerai dari Mark William.
Karena keyakinan Arthur itu, Josh bahkan menganggap kalau Arthur juga sudah gila, karena cintanya kepada Alexa, dianggap Josh sebagai hal yang sama sekali tidak bisa dimengerti olehnya.
Namun walaupun demikian, Josh juga tidak memaksa untuk melarang Arthur berpegang pada keyakinannya, malahan, terkadang Josh justru membantu Arthur, agar Arthur mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Alexa.
Segala sesuatunya tampak berjalan seperti biasa, hingga tiba-tiba Arthur mendapat kabar dari Sienna, kalau Alexa mencoba bunuh diri dengan melukai urat nadi di pergelangan tangannya.
"Mistress William baru saja dikunjungi oleh Mark William. Namun kelihatannya, Mistress William masih belum siap untuk bertemu dengan suaminya itu....
... Kami tidak menyangka, kalau dia akan mencoba memotong urat nadinya menggunakan pecahan cermin di kamar mandi."
Begitu kata Sienna ketika Arthur berbincang-bincang dengannya di sambungan telepon, kemarin sore.
Sienna melarang Arthur untuk pergi ke rumah sakit jiwa, karena Mark masih berada di sana, itu sebabnya, hingga Arthur hanya bisa mencaritahu keadaan Alexa lewat pembicaraan di ponsel.
Menurut penuturan Sienna, Mark yang mengunjungi Alexa, sempat mengajak Alexa untuk berbincang-bincang sebentar dengannya.
Beberapa waktu kemudian, Alexa minta izin kepada Mark untuk pergi kamar mandi, dan tidak keluar lagi dari dalam sana untuk waktu yang cukup lama.
Ketika Mark menyusul Alexa ke kamar mandi, dia menemukan Alexa sudah bersimbah darah di dalam bathtub, dengan luka cukup dalam di pergelangan tangannya.
Tentu saja hal itu membuat kepanikan di rumah sakit jiwa, namun Alexa masih sempat di selamatkan.
Sebelum mengakhiri percakapan mereka di ponsel, Sienna juga masih berpesan kepada Arthur, agar dia jangan berkunjung ke rumah sakit untuk sementara waktu.
Arthur akan dihubungi oleh Sienna, kalau saatnya sudah tepat bagi Arthur untuk menemui Alexa.
Mau tidak mau, walaupun Arthur mengkhawatirkan keadaan Alexa, tapi Arthur harus menahan diri untuk tidak menemuinya, dan tetap menunggu kabar dari Sienna sampai hari ini.
***
22:47.
Mendekati waktu pergantian tahun, di saat orang lain sedang bersenang-senang berkumpul dengan orang terdekatnya, Arthur malah duduk sendirian di dalam mobilnya.
Sejak pagi tadi, laporan aduan akan tindak kejahatan yang cukup banyak yang masuk, maka Josh dan Arthur ditugaskan secara terpisah, untuk menangani kasus berbeda-beda.
Itu sebabnya, sekarang ini Arthur yang baru saja selesai menangani laporan aduan baru, hanya bekerja bersama anggota polisi yang lain, tanpa ditemani oleh Josh.
Arthur yang berniat untuk kembali ke kantor, dan menyerahkan berkas laporannya, kemudian menyalakan mesin mobilnya, dan berlalu pergi dari TKP.
"Kriiing! ... Kriiing!"
Ponsel Arthur yang ada di dalam saku jaketnya tiba-tiba berbunyi.
Arthur yang berharap kalau itu adalah panggilan telepon dari Sienna, buru-buru mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya.
Bukan Sienna yang menghubungi Arthur, melainkan nomor kontak Lucy yang tertera di sana.
"Halo, Lucy!" sapa Arthur.
"..." Lucy tidak segera membalas sapaan Arthur, dan hanya terdiam di seberang telepon.
Arthur yang sedang mengemudi, menyempatkan untuk melihat layar ponselnya sebentar, hanya untuk memastikan kalau sambungan telepon itu tidak terputus.
"Halo! ... Lucy?" ujar Arthur, setelah yakin kalau panggilan telepon itu masih berlangsung.
"Umm ... Arthur ...!" Akhirnya Lucy mengeluarkan suaranya, namun bagi Arthur, Lucy terdengar ragu.
"Ada apa?" tanya Arthur heran.
"Kamu di mana sekarang?" tanya Lucy dari seberang.
"Aku sedang di jalan kembali ke kantor. Kasusku sudah selesai. Kenapa? Apa kamu mau merayakan pergantian tahun baru denganku?" tanya Arthur.
"Aku akan menunggumu di kantor kalau begitu," kata Lucy lalu sambungan telepon itu terputus.
Menurut Arthur, Lucy tidak sedang bersemangat untuk merayakan pergantian tahun baru, melainkan terdengar seolah-olah ada yang penting yang ingin dibicarakan oleh Lucy.
Namun, Arthur tidak mau banyak menduga-duga, dan lebih suka memastikan sesuatu, kalau sudah bertemu dengan Lucy saja, nanti.
Arthur yang berkendara dari pinggiran kota, membutuhkan waktu kurang lebih satu jam di perjalanan.
***
23:54.
Setibanya Arthur di kantor polisi tempatnya bekerja, Lucy terlihat berdiri di pintu depan gedung kantor.
Melihat tingkah Lucy itu, membuat Arthur terburu-buru memarkirkan mobilnya, lalu segera berjalan menghampiri Lucy.
"Ada apa?" tanya Arthur bingung. "Tingkahmu ini sangat aneh!"
"Apa kamu belum mendengar informasi apa-apa?" tanya Lucy.
"Informasi apa? Apa yang kamu bicarakan?" tanya Arthur, yang benar-benar tidak mengerti maksud dari perkataan Lucy.
"Alexa diduga meninggal dunia, karena serangan binatang buas," jawab Lucy.
"Apa katamu? Jangan kamu bicara sembarangan!" bantah Arthur panik, dan hendak kembali ke mobilnya, untuk pergi ke rumah sakit jiwa saat itu juga.
"Tenangkan dirimu dulu!" Lucy menarik lengan Arthur, dan menahannya agar Arthur tidak pergi dari situ.
"Alexa sudah menghilang sejak malam kemarin. Anggota dari divisi orang hilang, akhirnya menemukan tanda-tanda keberadaannya....
...Tapi, hanya potongan demi potongan pakaian yang mereka temukan. Sekarang, Josh yang sedang menangani kasus Alexa itu. Kamu jangan pergi ke sana! ....
... Josh akan memarahiku, kalau kamu sampai mengacau di sana. Dia sudah mewanti-wanti agar aku tidak memberitahumu. Tapi, aku rasa kamu harus tahu," kata Lucy menjelaskan.
"Lucy! Lepaskan aku! Aku harus ke rumah sakit sekarang. Josh berarti menanganinya di rumah sakit jiwa, kan?" ujar Arthur, lalu menyentak tangan Lucy, hingga pegangannya terlepas dari lengan Arthur.
"Arthur! Jangan membuat Josh dalam kesulitan!"
"Arthur! Kamu dengar aku?"
"Jangan membuat keributan di sana! Tempat itu dipenuhi anggota Willing Grup!"
Arthur tidak memperdulikan teriakan demi teriakan Lucy, yang masih berusaha menahannya agar tidak pergi ke rumah sakit jiwa.
Pikiran Arthur benar-benar kacau, namun dia tidak serta-merta mempercayai apa yang di dengarnya dari Lucy, sebelum dia membuktikan dengan mata kepalanya sendiri.
Arthur benar-benar berharap kalau semua dugaan itu tidak benar adanya, dan Alexa masih hidup.
Dengan kecepatan tinggi, Arthur memacu mobilnya mengarah langsung ke rumah sakit jiwa.