
18 Maret 2000.
"Laporan kecelakaan lalu lintas, memang tidak terlalu di utamakan dalam pendataan....
...Apalagi, jika tidak ada tuntutan dari kedua belah pihak yang terlibat dalam kecelakaan itu....
... Itu sebabnya, tidak akan ada yang memperhatikan, walaupun datanya tanggung-tanggung seperti itu," ujar Lucy.
"Iya. Saya tahu hal itu. Tapi, justru itu yang membuat saya heran," sahut Sir Miller.
"Apa pihak William's tidak mau melanjutkan proses penyelidikan kecelakaan Alexa? Kalau benar begitu, kenapa mereka tidak melanjutkannya? ...
... Apa mereka tidak mau tahu kenapa sampai kecelakaan itu bisa terjadi? Alexa dianggap apa oleh mereka kalau begitu?" lanjut Sir Miller yang tampak sangat kesal.
Menurut data dari laporan kecelakaan, Alexa memang mengalami kecelakaan di jalan raya, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sir Miller.
Dan bukanlah seperti yang dibilang Alexa, kalau dia berniat bunuh diri di rumahnya.
Namun, saat Alexa menceritakan hal itu kepada Arthur, Alexa tampak yakin akan apa yang telah dia lakukan
"Arthur! Kenapa kamu diam saja? Apa ada sesuatu yang terpikir olehmu?" tanya Sir Miller, membuyarkan lamunan Arthur.
"Maaf, Sir. Tapi, anda bilang kalau Alexa diduga kehilangan ingatannya setelah kecelakaan itu. Begitu, kan?" tanya Arthur memastikan.
"Iya. Itu dugaan oleh dokter yang merawatnya, di rumah sakit umum setelah dia tersadar," jawab Sir Miller. "Kenapa?"
"Umm ... Saya hanya bertanya-tanya, kenapa Alexa berkata kalau dia mencoba bunuh diri," kata Arthur.
"Tidak. Saya sudah bilang kalau itu pasti tidak benar. Tidak mungkin dia tiba-tiba terpikir untuk bunuh diri, saat dia sedang di perjalanan untuk menemui saya!" sahut Sir Miller tegas.
"Apa mungkin Alexa sedang memberimu petunjuk, agar kamu memeriksa tentang kecelakaannya?" tanya Lucy menimpali.
"Atau ada yang sengaja mempengaruhi pikiran—ingatan—nya," Steven juga ikut menimpali.
Menurut Arthur, semua dugaan yang diutarakan oleh Lucy maupun Steven memang patut dipertimbangkan, dan tampaknya, Sir Miller juga berpikir begitu.
"Apa mungkin Alexa mengetahui sesuatu yang penting, hingga membuatnya ingin bertemu dengan anda Chief, lalu kecelakaan itu terjadi....
... Namun, karena Alexa tidak ingat lagi tentang hal yang penting itu, Alexa diberikan informasi palsu yang membuatnya menduga, kalau dirinya memang hanya ingin bunuh diri," ujar Arthur, mengeluarkan apa yang ada dipikirannya.
"Arthur ...!" ujar Sir Miller, yang tampaknya mengerti dengan baik maksud Arthur, hingga wajahnya tampak pucat pasi.
"Iya, Chief! Saya hanya sekedar membuat dugaan. Kita berharap saja, kalau kejadian yang sebenarnya tidak seburuk dugaanku," sahut Arthur.
"Astaga! ... Arthur! ... Apa maksudmu, Alexa akan berada akan berada dalam bahaya, kalau sampai ingatannya kembali?" ujar Steven, yang hampir menaikan nada suaranya.
"Tenang, Steven! Itu masih dugaan saja. Aku juga belum bisa memastikannya," ujar Arthur.
"Satu-satunya yang bisa memberikan informasi yang sebenarnya, hanya Alexa," lanjut Arthur lagi.
Sir Miller tampak merapatkan kedua alisnya, hingga keningnya terlipat-lipat, mulutnya yang mengerucut, bergerak ke sana kemari.
Bagi Arthur yang melihatnya, Sir Miller tampaknya sedang berpikir keras, dalam diamnya.
"Tapi, kalau memang benar begitu, kapan 'mereka' bisa memberitahu Alexa kalau dia hanya mencoba bunuh diri? ...
... Sedangkan menurut pihak rumah sakit, saat Alexa tersadar, kondisinya sudah seperti sekarang ini," celetuk Sir Miller.
"Apa mungkin pihak rumah sakit umum yang merawat alexa, juga ikut menyembunyikan sesuatu?" lanjut Sir Miller.
Perkataan Sir Miller, membuat mereka semua kembali memikirkan segala kemungkinan, yang bisa cocok dengan situasi saat itu.
"Apa kira-kira kamu bisa menggali informasi dari Alexa?" tanya Sir Miller, sambil menatap Arthur lekat-lekat.
"Saya tidak tahu, Chief. Karena, setelah dia pulih dari sakitnya beberapa hari yang lalu, Alexa jadi—"
Perkataan Arthur terhenti, karena Sir Miller menyelanya,
"Tunggu sebentar! Alexa sakit apa?"
"Kecemasan berlebihan, hingga membuatnya fisiknya drop, dan tidak sadarkan diri untuk beberapa hari," jawab Arthur.
"Kenapa sakitnya terdengar seperti tiba-tiba saja?" tanya Sir Miller penasaran.
Arthur terdiam untuk beberapa saat, rasanya agak sedikit memalukan kalau dia harus menceritakan, apa yang terjadi sebelum Alexa jatuh sakit.
"Katakan saja. Apa yang membuat Alexa cemas?" tanya Sir Miller, seolah-olah bisa membaca pikiran Arthur.
"Hey! Apa yang kamu lakukan pada Alexa?" tanya Steven buru-buru, dan memasang raut wajah tidak senang.
"Arthur!" Sir Miller ikut menyentak Arthur.
"Kamu baru saja berjanji kalau kamu tidak akan menyakitinya. Apa hal itu bisa aku percaya?" lanjut Sir Miller.
"Maafkan saya, Chief. Tapi kalian semua hanya salah paham," ujar Arthur.
"Kalau begitu jelaskan! Saya bisa menunggu!" ujar Sir Miller tegas.
Arthur memandangi Sir Miller, Steven, juga Lucy, yang kesemuanya tampak sedang menatapnya lekat-lekat, seolah-olah tidak membiarkan Arthur lepas begitu saja, tanpa ada penjelasan dari Arthur.
Bagi Arthur, tatapan tajam dari Sir Miller, Steven dan Lucy, seakan-akan bisa membuat lubang di wajah Arthur.
"Huuffft ...!" Arthur menghembuskan nafasnya kasar.
"Alexa sudah menyuruh saya untuk menjauhinya, karena dia khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk pada saya....
... Tapi saya memaksa, agar saya masih bisa bersamanya, karena dia sudah mengakui kalau dia juga menyukai saya," kata Arthur.
Seketika itu juga, raut wajah ketiga orang di depan Arthur itu, tampak berubah drastis.
"Jadi maksudmu, dia sakit karena mengkhawatirkanmu?" tanya Steven, seolah-olah tidak percaya dengan perkataan Arthur. "Bagaimana kamu bisa yakin tentang itu?"
"Saat dia tidak sadarkan diri, dia mengigau dengan memanggil-manggil namaku," jawab Arthur mantap.
Berbeda dengan Lucy yang tampak tersenyum lebar, Sir Miller dan Steven tampaknya tidak menyukai apa yang baru saja mereka dengar.
Steven bahkan terlihat menggaruk-garuk kepalanya, seolah-olah dia tidak terima dengan pernyataan Arthur itu.
Steven lalu menyalakan sebatang rokok miliknya, lalu menggeser posisi duduknya, hingga menyamping, agar tidak berhadap-hadapan dengan Arthur.
"Brengsek! Apa hebatnya kamu?" ujar Steven memaki Arthur.
"Ada apa denganmu? Apa kamu mau memancing pertengkaran denganku?" ujar Arthur yang kesal dan tidak terima, saat mendengar makian dari mulut Steven yang diarahkan padanya.
"Huuffft ...!" Sir Miller mendengus kasar, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalian ini...." kata Sir Miller seolah-olah sedang mengeluh.
"Maafkan saya, Chief! Tapi, dia yang memulainya. Apa masalahnya?" kata Arthur merujuk ke Steven.
"Walaupun mungkin saya yang menjadi penyebab hingga Alexa jatuh sakit, tapi saya juga yang membuat Alexa kembali membaik," lanjut Arthur buru-buru.
Steven masih terlihat kesal, walaupun dia tidak berkata apa-apa, dan hanya sibuk menghisap rokoknya, tanpa mau melihat ke arah Arthur lagi.
"Apa kamu memang tidak mengerti?" tanya Sir Miller pada Arthur.
"Chief!" ujar Steven seolah-olah hendak menahan Sir Miller, agar tidak mengatakan apa yang Sir Miller tahu.
"Steven juga menyukai Alexa, namun Alexa tidak pernah melihatnya dengan cara seperti itu," lanjut Sir Miller.
"Chief ...!" ujar Steven lagi, dengan suara memelas.
"Pffftt ...! Hahaha!" Lucy tampak tidak bisa menahan tawanya, dan menarik perhatian semua orang, hingga semua dari mereka yang berada di situ, melihat ke arah Lucy.
"Ehhem! ... Ehhem!" Lucy terbatuk-batuk, seolah-olah hendak menenangkan dirinya agar berhenti tertawa. "Maafkan saya, Chief!"
"Huuffft ...!" Lagi-lagi, Sir Miller mendengus kasar, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sudahlah! ... Kalian jangan bertingkah seperti anak kecil!"
"Arthur! Kamu tahu kan, kalau Alexa bukan wanita yang bebas? Kamu pasti sudah tahu resikonya. Jadi, saya tidak perlu mengguruimu," ujar Sir Miller.
"Sekarang kita bahas yang benar-benar penting saja. Apa kira-kira kamu bisa menggali informasi dari Alexa?" tanya Sir Miller, mengulang pertanyaan yang tadi tidak sempat dijawab oleh Arthur.
"Untuk sementara ini, Alexa makin tertutup. Dia sama sekali tidak mau membicarakan tentang dirinya, belakangan ini....
... Bahkan, setiap kali saya bertemu dengannya, dia hanya sibuk bertanya apa saja yang saya lakukan di hari itu," jawab Arthur.
"Arthur! Di antara kita, Alexa hanya mau bicara denganmu. Jadi, kamu cobalah menggali informasi darinya....
... Karena kita masih tidak tahu, apakah dia hanya menyembunyikannya darimu, atau seperti dugaan kita, kalau dia memang hilang ingatan, dan diberi informasi palsu," kata Sir Miller.
"Arthur! Saya benar-benar meminta bantuanmu, agar saya bisa menebus kesalahan saya kepada Alexa," lanjut Sir Miller.
"Tidak masalah, Chief. Saya akan berusaha sebisanya, demi Alexa," sahut Arthur.