It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 38



18 Maret 2000.


Baik Sir Miller, Steven terlihat tegang setelah Arthur mengatakan dugaannya, tentang kecelakaan Alexa.


"Apa kamu berpikir begitu?" tanya Sir Miller.


"Saya tidak tahu. Saya hanya asal menebak saja, karena baik apa yang Steven dan Chief katakan, tidak sesuai dengan yang dikatakan oleh Alexa," sahut Arthur.


"Dengan begitu, kemungkinannya jadi banyak. Mungkin kecelakaan Alexa memang hanya direkayasa....


...Atau mungkin, Alexa memang tidak ingat kejadian sebenarnya, namun ada yang membuatnya yakin kalau dia mencoba bunuh diri....


... Atau mungkin, Alexa memang hanya mau menyembunyikan kejadian yang sebenarnya dari saya," lanjut Arthur.


Dua orang pelayan restoran, kemudian terlihat menyajikan makanan dan minuman pesanan mereka ke atas meja, hingga membuat percakapan mereka terhenti.


Setelah dua orang pelayan restoran itu pergi dari situ, Sir Miller lalu berkata,


"Kecelakaan Alexa di proses di distrik ini. Saya tidak mau mencampuri urusan Atasanmu. Tapi, mungkin kamu bisa membantu mencari informasinya, demi Alexa."


"Saya sudah memikirkan hal itu. Tadi, saya bahkan sempat bertanya kepada Josh, namun Josh tidak tahu apa-apa, sama seperti saya....


... Rencananya, saya akan bertanya kepada Lucy, petugas yang berjaga di ruang berkas. Tapi, saya menundanya, karena Lucy sedang banyak pekerjaan," sahut Arthur.


"Dimakan makanannya! Kita bisa bicara sambil makan," ujar Sir Miller.


Arthur menuruti perkataan Sir Miller, begitu juga Steven yang mulai menikmati makan malamnya bersama-sama Sir Miller.


"Bagaimana gelagat Alexa saat mengatakan kalau dia mencoba bunuh diri?" tanya Steven.


Arthur kemudian mengangkat pandangannya melihat ke arah Steven, lalu mengingat-ingat saat itu.


"Umm ... Aku rasa dia yakin dengan apa yang dia katakan," sahut Arthur.


"Kalau begitu, apa aku bisa menduga kalau Alexa sekarang masih aman, karena dia dianggap tidak mengingat kejadian sebenarnya?" tanya Steven hati-hati.


"Huuffft ...!" Sir Miller mendengus pelan.


"Iya. Kemungkinan besar seperti itu. Namun, hanya kalau kita bisa mendapatkan berkas kecelakaannya, barulah kita bisa mengembangkan dugaan kita," kata Sir Miller.


Arthur hilang kesabarannya, lalu berhenti makan dan menghubungi Lucy lewat ponselnya.


"Halo, Arthur!" sapa Lucy dari seberang.


"Lucy! Maafkan aku. Aku tahu kamu sibuk, tapi aku ingin minta bantuanmu. Apa kamu masih di kantor?" tanya Arthur.


"Iya, aku masih di parkiran. Rencananya, mau keluar sebentar mencari makan malam," sahut Lucy. "Ada apa? Katakan saja tidak apa-apa!"


"Apa kamu bisa kembali ke ruang kerjamu? Tolong carikan berkas kecelakaan Alexa di bulan—" Arthur berhenti bicara, lalu menatap Sir Miller.


"Bulan September," ujar Sir Miller, seakan-akan bisa membaca pikiran Arthur.


"... Berkas kecelakaan di bulan September 1999," lanjut Arthur berbicara di ponselnya.


"Apa benar-benar mendesak?" tanya Lucy.


"Iya. Kalau kamu menemukannya, tolong segera hubungi aku," sahut Arthur.


"Okay! Aku kembali ke dalam," kata Lucy.


"Lucy! ... Terima kasih!" ujar Arthur.


"Sama-sama," sahut Lucy, lalu sambungan telepon itu kemudian terputus.


Arthur menyimpan ponselnya, kembali ke dalam saku jaketnya. "Kita hanya bisa menunggu."


Kurang lebih lima belas menit kemudian, ponsel Arthur berbunyi, dan Arthur segera menerima panggilan itu.


"Kriiing! ... Kriiing!"


"Halo, Lucy!" sapa Arthur. "Apa kamu menemukan sesuatu?"


"Apa kamu tidak mau melihatnya sendiri?" Lucy balik bertanya, seolah-olah ada sesuatu yang ditemukannya, yang tidak bisa dia jelaskan di ponsel.


Lagi-lagi, Arthur menatap Sir Miller.


"Ada apa?" tanya Sir Miller.


"Lucy bisa menyalin datanya. Apa anda mau melihatnya bersama-sama?" tanya Arthur kepada Sir Miller.


"Kamu sedang bersama orang lain?" tanya Lucy di seberang.


"Apa dia bisa membawanya ke sini?" tanya Sir Miller, hampir bersamaan dengan pertanyaan Lucy tadi. "Saya membawa laptop di dalam mobil."


"Umm ... Kamu bilang kamu mau makan malam, kan? Apa kamu membawa salinannya ke restoran xxx di jalan xxx? Aku bersama Chief Miller," ujar Arthur kepada Lucy di ponsel.


"Chief distrik Utara?" tanya Lucy.


"Iya," jawab Arthur singkat.


"Umm ... Okay! Aku akan ke sana," sahut Lucy. "Apa nama restorannya tadi?"


"Xxx, di jalan xxx," jawab Arthur.


"Okay! Tunggu saja di sana!" sahut Lucy, lalu sambungan telepon itu kemudian terputus.


***


Kelihatannya, bukan cuma Arthur yang sudah tidak sabar menunggu Lucy datang, Sir Miller dan Steven juga terlihat tidak jauh berbeda dari Arthur.


"Kapan anda kembali ke distrik Utara, Chief?" tanya Arthur.


"Rencananya malam ini. Tapi, saya bisa menundanya," jawab Sir Miller. "Bagaimana denganmu? Tidak masalah Josh bekerja sendiri?"


"Josh pasti mengerti," sahut Arthur.


"Hai!" sapa Lucy, yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat meja mereka.


"Hai!" Arthur balik menyapa Lucy. "Chief! Ini Lucy!"


Lucy dan Sir Miller, begitu Steven bergantian berjabat tangan sambil memperkenalkan diri masing-masing.


"Silahkan duduk!" kata Sir Miller kepada Lucy. "Steven! Tolong ambilkan laptop saya dari dalam mobil!"


Steven kemudian beranjak pergi dari situ, dan Sir Miller lanjut berkata, "Lucy! Silahkan memesan makan malam yang kamu inginkan. Saya traktir, sebagai ucapan terima kasih atas bantuanmu."


"Terima kasih, Sir! Tapi, saya senang kalau bisa membantu anda," sahut Lucy.


Lucy kemudian mengeluarkan sebuah flashdisk dari dalam tasnya, dan meletakkannya ke atas meja. "Ini!"


Setelah itu, sambil menunggu Steven mengambil laptop Sir Miller, Lucy lalu memesan makan malam untuknya.


"Ini, Chief!" kata Steven, sambil menyerahkan laptop ke atas meja di hadapan Sir Miller.


Sir Miller segera menyalakan laptopnya, dan menyambungkan flashdisk yang diberikan oleh Lucy.


Arthur sebenarnya ingin ikut melihatnya, namun Arthur menahan diri, karena merasa tidak sopan kalau dia harus memiringkan kepalanya, hanya untuk mengintip tampilan layar laptop Sir Miller.


"Kamu bisa geser kursimu, agar kamu bisa melihatnya bersama-sama saya," ujar Sir Miller yang tampaknya mengerti apa yang diinginkan oleh Arthur.


Arthur kemudian berdiri, dan menggeser posisi kursinya hingga dia bisa ikut melihat layar laptop Sir Miller.


"..."


Sir Miller, Arthur, dan Steven, hanya terdiam melihat isi dari data yang tersimpan di dalam flashdisk.


Mereka bertiga tenggelam dalam pikirannya masing-masing, untuk beberapa waktu lamanya.


"Apa-apaan ini?" ujar Sir Miller, tampak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Arthur melihat ke arah Lucy, yang tampak tidak terlalu terkejut melihat reaksi Sir Miller dan mereka yang melihat isi data itu.


"Itu sebabnya, saya tadi bilang agar kamu melihatnya sendiri," kata Lucy menjelaskan, walaupun Arthur tidak berkata apa-apa.


Data yang ada di dalam flashdisk itu tidak banyak membantu, karena hanya terdapat laporan tentang terjadinya kecelakaan lalu lintas, namun tidak ada data yang menjelaskan proses selanjutnya.


Seolah-olah, kecelakaan itu tidak ada proses pemeriksaan dari anggota polisi di distrik Barat kota Hills.


Benar-benar hanya berisi tentang waktu kejadian kecelakaan itu, siapa yang terlibat di dalamnya, dan di mana lokasi kejadiannya, tanpa ada tambahan keterangan lain.


"Entah Chief yang menghapus datanya, atau ada anggota kita yang lain, baik dari divisi lalu lintas, atau divisi yang lain lagi, yang bisa mengakses laporan itu di 'meja depan' yang memanipulasi data....


... Atau memang benar, kalau datanya hanya seperti itu saja," ujar Lucy.