It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 17



18 Juni 1992.


13:15.


Kelihatannya, prasangka buruk Alexa akan terbukti sekarang ini.


Tidak berapa lama setelah mobil yang dikemudikan oleh Alexa melaju di jalanan, Alexa bisa melihat dari kaca spion, kalau ada satu mobil sedan Volvo hitam yang mirip dengan mobil Sir Ruppert yang sedang dikendarainya itu, seolah-olah sedang mengikuti mereka.


Untuk membuktikan kecurigaannya, Alexa mengubah arah jalannya dari jalur jalan yang semestinya mereka lewati, untuk kembali ke kediaman keluarga Ruppert.


"Alexa! Kenapa kita melewati jalan ini?" tanya Louis heran.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat sesuatu," jawab Alexa, sambil sesekali melirik ke arah spion.


"Maaf, Madam. Kelihatannya kita akan terlambat sampai di rumah. Ada yang ingin saya lihat di jalanan ini," ujar Alexa beralasan, agar Madam Ruppert tidak terlalu khawatir.


Alexa memang tidak bisa langsung terang-terangan memberitahu alasan sebenarnya hingga dia memilih jalan memutar, karena Alexa juga belum bisa memastikan firasatnya.


Setelah berbelok di beberapa jalan berbeda dari jalur mereka yang sebenarnya, mobil di belakang mereka tetap mengikuti ke mana arah mobil yang dikendarai Alexa pergi.


"Aku rasa kita sedang di ikuti!" Akhirnya Alexa memberitahu Louis, setelah dia merasa yakin kalau memang ada yang sedang mengekori mereka di jalanan.


"Apa katamu?" tanya Louis.


"Kita di ikuti!" Alexa mengulang perkataannya.


"Apa kamu yakin?" Louis bertanya sambil menoleh ke belakang.


"Kita sedang di ikuti?" tanya Madam Ruppert.


"Maaf, Madam. Sepertinya memang begitu keadaannya. Aku akan mencoba untuk memastikannya sekali lagi," jawab Alexa.


Alexa kemudian berbelok lagi di salah satu jalur jalan, yang membuat mereka berputar-putar di lingkungan yang sama di tengah kota itu.


"Kelihatannya memang benar katamu. Mobil di belakang kita sedang mengekori jalannya mobil ini," ujar Louis dengan nada suara meninggi.


"Lalu bagaimana? Apa kamu ada ide?" lanjut Louis, sambil tetap melihat ke bagian belakang mobil.


Alexa terdiam sambil berpikir keras.


Jalan ke rumah keluarga Ruppert, ada sebagian daerahnya yang jalurnya termasuk sepi dari pemukiman penduduk, begitu juga kendaraan bermotor yang tidak banyak berlalu lalang di jalanan daerah itu.


Di jalur itu akan menjadi tempat yang berbahaya, jika orang yang mengikuti mereka hendak mencelakai mereka.


Tapi Alexa juga tidak mungkin hanya berputar-putar di jalan dan tidak kembali ke rumah, karena itu sama berbahayanya bagi mereka.


Kalau tidak salah, jalur sepi itu menurut Alexa tidak terlalu panjang, hanya berkisar 2 Mil lebih sedikit saja.


Alexa kemudian memutar kemudi, kembali ke jalur mereka yang sebenarnya, dan dengan kecepatan normal, Alexa mengemudikan mobilnya seolah-olah tidak tahu apa-apa.


Ketika mendekati jalur yang sepi, Alexa bersiap-siap untuk menancap pedal gas agar bisa melaju dengan kecepatan tinggi, untuk menghindar dari mobil yang mengekori mereka.


"Madam! ... Berpegangan!" ujar Alexa, memberi aba-aba.


Tanpa menunggu tanggapan dari Madam Ruppert ataupun Louis, Alexa mengganti gigi persneling, dan menginjak pedal gas sampai rata dengan lantai.


Perubahan kecepatan dari mobil yang dikendarai oleh Alexa yang tiba-tiba, kemungkinan membuat mobil yang mengikuti mereka terkejut dan tidak waspada, hingga Alexa bisa membuat mobil penguntit itu tertinggal jauh di belakang.


"Bertahan sebentar lagi!" ujar Alexa, sambil tetap memacu akselerasi mobil itu sampai mencapai kemampuan maksimalnya.


Alexa berhasil menghindar dari mobil penguntit, hingga mereka memasuki halaman rumah keluarga Ruppert.


Alexa dan Louis masih sempat melihat mobil yang mengikuti mereka tadi berhenti sebentar di depan gerbang pagar rumah keluarga Ruppert, sebelum akhirnya mobil itu menancap gas, dan berlalu pergi dari sana.


"Apa-apaan itu tadi?" ujar Louis.


Alexa tidak menanggapi perkataan Louis itu, melainkan sibuk memikirkan, bagaimana nanti saat akan menjemput Sir Ruppert.


Alexa kemudian melihat ke arah Madam Ruppert yang tampak kesulitan, dan nyaris tidak bisa berdiri saat keluar dari dalam mobil.


Alexa dan Louis kemudian buru-buru membantu Madam Ruppert, hingga masuk ke dalam rumah.


"Apa mungkin sebaiknya kita melapor ke polisi?" tanya Alexa.


"Umm ... Tapi, kita tidak punya bukti apa-apa," sahut Louis ragu.


"Lalu kita harus bagaimana? Kita masih harus menjemput Sir Ruppert, dan tidak mungkin kita meninggalkan Madam Ruppert sendirian di rumah," ujar Alexa.


Louis terdiam.


"Kita laporkan saja ke polisi. Menurutku, kesaksian kita sudah lebih dari cukup untuk membuat aduan," lanjut Alexa.


"Tidak! Jangan membuat laporan di kantor polisi!"


Madam Ruppert yang tadinya tampak terkulai lemah di kursi, tiba-tiba menimpali, dan melarang Alexa yang berniat membuat aduan ke polisi.


"Maaf. Tapi, kenapa Madam?" tanya Alexa heran.


"Suamiku sedang menangani kasus yang berhubungan dengan orang-orang yang berpengaruh di kota ini....


...Diduga, ada beberapa petinggi di kepolisian juga terkait di dalam kasus itu. Jadi tidak ada satupun dari petugas polisi yang bisa kita percayai sekarang ini....


...Sebenarnya saya sudah melarang Sir untuk menangani kasus itu, dan saya memintanya untuk mengopernya kepada orang lain, namun suamiku itu tetap bersikeras....


... Kalau begini keadaannya, saya rasa suamiku akan berpikir dua kali untuk terus menangani kasus itu," jawab Madam Ruppert, menjelaskan alasannya melarang Alexa melapor ke polisi.


"Kalau kalian khawatir jika saya tinggal sendiri di rumah, maka sebaiknya saya akan ikut dengan kalian untuk menjemput suamiku," lanjut Madam Ruppert.


Kini, Alexa dan Louis yang terdiam, dan tidak segera menanggapi perkataan Madam Ruppert.


Alexa melihat arloji di pergelangan tangannya.


14:27.


"Terserah Madam saja kalau begitu. Saya ke luar dulu sebentar, sebelum kita pergi menjemput Sir Ruppert," kata Alexa, lalu berjalan keluar dari rumah.


Louis mengikuti langkah Alexa yang berjalan hingga ke halaman, bahkan hingga keluar dari gerbang pagar rumah keluarga Ruppert itu.


Alexa dan Louis melihat ke sana kemari, memastikan kalau tidak ada lagi kendaraan yang mencurigakan di dekat rumah itu.


"Benar saja perkataanmu pagi tadi," celetuk Louis.


"Apa maksudmu?" tanya Alexa.


"Kamu bilang kalau Sir Ruppert tampak aneh, seolah-olah dia sedang mengkhawatirkan sesuatu....


... Menurutku, siapa saja yang terlibat permasalahan dengan orang berpengaruh, tentu akan merasa gelisah," jawab Louis.


Alexa terdiam, sambil tetap melihat ke sana kemari di jalanan yang terjangkau oleh penglihatannya.


"Kamu hebat!" celetuk Louis lagi.


Alexa menoleh ke arah Louis, lalu menatapnya lekat-lekat.


"Kamu hebat!" ulang Louis.


"Aku salut dengan kemampuan dan keawasanmu menganalisa keadaan di sekitarmu, hingga kamu bisa dengan cepat menyadari kalau kita sedang dibuntuti....


... Kamu juga supir yang hebat, hingga bisa meloloskan kita dari penguntit. Tidak mengherankan, kalau Sir dan Madam tampaknya sangat menyayangimu," lanjut Louis memberikan Alexa pujian.


"Tidak perlu memuji. Itu tadi hanya keberuntungan semata," sahut Alexa datar.


Alexa memang tidak mau besar kepala dengan pujian, apalagi, Alexa masih merasa kalau kejadian tadi bukanlah akhir dari firasat buruknya, karena rasa was-was Alexa masih belum juga menghilang.