
16 Januari 1997.
"Alexa! ... Copy!"
"Alexa! ... Copy!"
Suara Damian, berkali-kali menggema dari perangkat radio di dalam mobil Alexa.
Alexa lantas menyambar mikrofon berbentuk kotak kecil itu, yang tersambung di perangkat utama dengan kabel panjang yang keriting, lalu menekan tombol push-to-talk.
"Iya ... Copy!" sahut Alexa.
"Di mana kamu sekarang? ... Copy!"
"Aku sudah di jalan xx. Sebentar lagi sampai gudang ... Copy!"
"Okay! ... Kalau begitu aku panaskan makananmu ... Hati-hati di jalan!"
00:32.
Alexa melihat jam di arloji di tangannya, dan akhirnya memaklumi kenapa Damian sampai menghubunginya.
Masih terbawa perasaan kesalnya, saat mengantarkan barang di tempat hiburan malam tadi, yang menghabiskan cukup banyak waktu Alexa.
'Orang-orang kaya yang brengsek!' Alexa memaki di dalam hati.
Tidak berapa lama, Alexa bisa melihat bangunan gudang yang memiliki alat penerang dengan pencahayaan yang ekstra, seperti di bandar udara.
Se-pengalaman Alexa, di bagian kota manapun, semua pintu gudang memang hampir tidak pernah tertutup, dan selalu di biarkan terbuka lebar, untuk menjadi jalan masuk para kurir sambil membawa mobilnya.
Alexa segera memarkirkan mobilnya di dalam gudang, bersama dua mobil lain yang sudah terparkir di sana, sementara Damian tampak menghampirinya.
"Spaghetti-mu masih di dalam microwave. Kenapa terlambat? Tidak biasa kamu menyetir pelan," ujar Damian.
"Penerima barangnya hampir tidak tahu caranya memegang bolpoin," sahut Alexa.
"Ugh ...? Maksudmu?" tanya Damian kebingungan.
"Pelanggan mabuk. Sampai pegal aku berdiri, hanya untuk menunggunya menanda tangani catatan," kata Alexa, sambil melompat keluar dari mobil.
"Aku antar ini ke kantor dulu!" lanjut Alexa, sambil memperlihatkan lembaran kertas orderan di tangannya.
Damian tampak menunggu di dekat tempat para kurir bersantai, sementara Alexa memasuki ruangan berdinding kaca transparan.
"Ini!" kata Alexa, sambil menyerahkan sehelai kertas itu kepada pegawai yang ada di dalam situ, lalu menerima sehelai kertas yang lain untuk dia tanda tangani.
"Kenapa catatan ini penuh dengan coretan?" tanya pegawai administrasi itu, tampak mengerutkan alisnya.
"Penerimanya mabuk berat. Sudah untung dia masih bisa mencoret kertas itu, karena untuk tetap sadar saja, dia hampir tidak bisa," sahut Alexa.
Pegawai administrasi itu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, namun tidak berkomentar lagi.
"Sudah?" tanya Alexa, sambil mendorong kertas berisi data laporan penyelesaian pengantaran, di atas meja.
"Iya. Terima kasih!"
Setelah mendengar ucapan pegawai administrasi itu, Alexa bergegas keluar dari ruangan itu, dan menghampiri Damian.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Damian.
"Catatan orderan penuh dengan coretan yang tidak jelas, gara-gara orang kaya mabuk itu....
... Tadi, Mark William pun mencoba untuk bertindak kasar di tempat pengantaran. Hampir saja aku patahkan tangannya," kata Alexa kesal.
"Mark William katamu?" tanya Damian heran.
"Iya. Dia bersama-sama dengan si penerima barang di dalam tempat hiburan malam. Tingkahnya benar-benar brengsek. Sombong hanya karena uang yang dimiliki keluarganya," jawab Alexa.
Alexa kemudian menyalakan sebatang rokok, untuk menenangkan dirinya yang masih merasa sangat kesal.
"Kamu tidak jadi makan?" tanya Damian.
"Sebentar lagi. Aku habiskan ini dulu," jawab Alexa, lalu menikmati nikotin yang tersaring di paru-parunya.
Damian juga ikut menyalakan sebatang rokok miliknya, lalu bertanya,
"Mark William ... Willing Grup?"
"Iya. Mark yang itu," sahut Alexa.
"Barang apa yang kamu bawa ke sana tadi?" tanya Damian, yang tampak penasaran.
"Aku tidak bisa menduga-duga. Yang jelas, benda itu lolos dari detektor logam."
"Apa ukuran barangnya kecil? Tapi, cukup berat?"
Alexa menatap Damian lekat-lekat. "Iya. Kenapa kamu banyak bertanya?"
... Barang kiriman mereka, selalu saja berbentuk dan berukuran yang sama, dengan beratnya yang juga kurang lebih sama. Besar benda itu, kurang lebih 25 kali 25 centimeter," jawab Damian menjelaskan.
"Yang aku antar tadi, perkiraan ukurannya juga mirip dengan yang kamu bilang," sahut Alexa. "Tapi ... memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa," jawab Damian. "Aku ambilkan spaghetti-mu dulu!"
Damian kemudian berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan menuju dapur mini, tempat semua pegawai membuat makanan instan dan minuman.
"Mau kopi?" tanya Damian setengah berteriak.
"Boleh. Tanpa gula," sahut Alexa.
***
00:58.
Setelah menghabiskan makan malamnya, Alexa masih duduk bersantai dengan Damian, sambil menikmati kopi yang dibuatkan oleh Damian tadi.
Damian tampak beberapa kali menguap.
"Kalau sudah mengantuk, kenapa tidak pergi tidur saja?" tanya Alexa.
"Ah! Santai saja! Setelah ini, kita bisa tidur sampai pagi," sahut Damian enteng. "Oh, iya! Tunggu sebentar!"
Damian kemudian berdiri dari tempat duduknya lalu pergi ke dapur mini, dan tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam kulkas.
"Ini!" Damian menyodorkan sebotol bir kepada Alexa. "Mumpung tidak ada pesanan, kita bisa tidur nyenyak kalau minum ini."
"Pffftt ...! Kamu tahu kalau aku tidak suka alkohol," ujar Alexa, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sekali-sekali mencobanya tidak akan merugikan siapa-siapa. Apalagi, ini diminum hanya agar badan terasa lebih rileks," kata Damian tampak memaksa.
***
06:48.
Yang dikatakan oleh Damian semalam, kelihatannya memang ada benarnya.
Setelah menghabiskan satu botol bir, lalu Alexa pergi tidur, saat dia bangun di pagi ini, badannya terasa jauh lebih baik.
Seakan-akan semua lelahnya yang membuat badan terasa pegal, menghilang, dan terganti dengan rasa segar.
Namun Alexa tahu, kalau minuman beralkohol tidak boleh dijadikan sebagai kebiasaan untuk menghilangkan lelah.
Sudah cukup dengan rokok yang kini sudah membuatnya kecanduan, dan tidak bisa berhenti mencari kandungan nikotin di dalamnya.
Alexa sudah selesai mandi dan berganti pakaian, dan lantas memanaskan mesin mobil, sebelum nanti dia ikut makan pagi bersama Damian dan satu rekan kurir yang lain.
"Alexa! Ke kantor sebentar!" Suara pegawai administrasi, menggema di pengeras suara.
Mendengar panggilan itu, Alexa menunda makan paginya, dan berjalan ke area kantor, lalu masuk di sana.
"Ada pesanan masuk sejak jam lima tadi yang khusus memintamu yang mengantar, namun pesanannya tidak biasa. Jadi, aku menghubungi Sir Miller....
... Kata Sir Miller, dia ingin bicara denganmu dulu, dan aku harus menunda pesanan itu," ujar pegawai administrasi, lalu tampak menghubungi seseorang di telepon.
"Halo! Selamat pagi, Sir!" Pegawai administrasi itu kemudian menyodorkan gagang telepon kepada Alexa.
"Halo! Selamat pagi, Sir!" sapa Alexa.
"Ya, selamat pagi!" Terdengar suara Sir Miller, membalas sapaan Alexa dari seberang telepon.
"Alexa sudah tahu, kalau ada pesanan yang khusus meminta Alexa yang mengantar?" tanya Sir Miller.
"Iya, Sir!" jawab Alexa. "Lalu, apa masalahnya?"
"Pengantaran bukan berupa barang, melainkan mengantar orang. Lebih tepatnya dua orang," sahut Sir Miller.
Alexa terdiam untuk beberapa saat.
Pantas saja bagian administrasi hingga menghubungi Sir Miller, karena pesanan pengantaran seperti itu, belum pernah ada sebelumnya.
"Kalau Alexa tidak mau, katakan saja pada bagian administrasi," lanjut Sir Miller.
"Bukannya saya tidak mau, Sir. Tapi bagaimana prosedurnya itu?" tanya Alexa.
"Seperti membawa barang. Orang yang ikut harus melalui pemeriksaan, dan dipastikan tidak membawa senjata tajam....
... Lalu, karena dua orang dalam sekali pengantaran, tidak boleh di dalam satu kendaraan yang sama. Satu LV hanya bisa membawa satu orang," jawab Sir Miller.
"Baik, Sir. Saya pertimbangkan dulu. Terima kasih, sir!" sahut Alexa.
"Alexa! Kalau kamu menerima pesanan itu, ingat untuk berhati-hati! Senjata apimu jangan di simpan di dashboard....
... Melainkan, letakkan di mana yang bisa dengan mudah dijangkau, namun tetap tersembunyi dari penglihatan pelanggan," kata Sir Miller sebelum sambungan telepon itu berakhir.