It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 43



3 Agustus 1998.


Alexa yang mengira kalau pihak Willing Grup tidak akan menggangunya lagi, maka beberapa bulan yang lalu, Alexa menerima tawaran berdamai yang diajukan oleh Willing Grup.


Namun keputusan Alexa itu, sekarang ini benar-benar disesalinya, karena ketenangan yang dirasakan oleh Alexa, ternyata tidaklah berlangsung lama.


Bahkan keputusan Alexa untuk berdamai dan mencabut tuntutan hukum kepada Mark William, justru hanya membuat Alexa terjebak dalam kesulitan, dan situasinya menjadi semakin memburuk.


Pihak Willing Grup menciptakan efek berantai dari keputusan Alexa itu, demi memuaskan keinginan mereka.


Sejak pertengahan bulan Mei yang lalu, pihak Willing Grup kembali merongrong Alexa, dengan niatan dari Mark William yang bersikeras agar Alexa mau menikah dengannya.


Perjanjian tertulis yang seharusnya menjadi perjanjian berdamai, justru dijadikan barang bukti akan tindak pemerasan oleh Alexa kepada pihak William's.


Yang menjadi keinginan pihak Willing Grup, adalah Alexa menyetujui untuk menikah dengan Mark William.


Dengan begitu, barulah tuntutan hukum yang mereka buat atas 'tindak pemerasan' Alexa, akan dibatalkan oleh Willing Grup.


Alexa menolak mentah-mentah tawaran baru itu, dan justru melakukan tuntutan balik kepada pihak Willing Grup, atas tindak penipuan dan pemerasan yang mereka lakukan kepada Alexa.


Namun, Willing Grup memang bukan tandingan orang seperti Alexa.


Walaupun Alexa mendapat dukungan dari Sir Miller, dan Damian yang menjadi saksi untuk membantu Alexa dalam tuntutannya, tidak serta-merta membuat keadaan menjadi menguntungkan bagi Alexa.


Bahkan dua hari yang lalu Damian tiba-tiba ditemukan di jalanan dalam kondisi kritis dan hampir mati, setelah selesai mengantarkan barang pesanan, dan berniat kembali ke gudang, di wilayah bagian Barat kota Hills.


Dengan hasil penyelidikan, bahwa Damian telah dipukuli oleh beberapa orang yang tidak dikenal, dan pelakunya belum tentu bisa tertangkap, karena tidak adanya satupun saksi saat kejadian penganiayaan itu berlangsung.


Walaupun demikian, Alexa sudah bisa menduga kalau pemukulan kepada Damian, tentu saja dilakukan oleh suruhan dari Willing Grup, yang tidak mau Damian menjadi saksi untuk membela Alexa.


Alexa sudah tidak lagi bekerja sejak tanggal 1 Juli, dan beristirahat dengan tinggal menetap bersama keluarga Miller, yang berada di bagian Utara kota.


Namun setelah mendengar apa yang terjadi pada Damian, tanpa mau menunda-nunda, Alexa segera pergi ke bagian Barat kota, dengan diantar oleh Sir Miller dan Igor.


Karena Alexa tahu kalau Sir Miller dan Igor masih harus bekerja, sedangkan Alexa ingin menemani Damian, maka Alexa meminta mereka untuk meninggalkannya di situ.


Sir Miller tampak sangat keberatan untuk meninggalkan Alexa, dan menyuruh Igor untuk bertahan bersama Alexa, namun Alexa bersikeras kalau dia akan baik-baik saja.


Alexa berjanji kalau dia akan sering-sering menghubungi Sir Miller, untuk memberitahukan kabarnya.


Alexa juga membuat alasan tambahan, bahwa Sienna, adik Damian yang berkuliah jurusan kesehatan di salah satu universitas di bagian Barat kota itu, juga akan menemani Alexa dan Damian, saat dia sedang tidak ada jadwal kuliah.


Jadi dengan demikian, Sienna juga akan membantu memantau keadaan Alexa dan Damian secara bersamaan, dan akan mengabari Sir Miller kalau ada sesuatu yang terjadi.


***


12:03.


Alexa baru saja keluar dari ruang perawatan Damian, yang hingga saat ini teman laki-laki Alexa itu masih belum sadarkan diri, di rumah sakit umum di bagian Barat kota.


Alexa yang sudah membuat janji untuk bertemu dengan Mark William di kafetaria rumah sakit, berjalan pelan mengarah langsung ke ruangan di mana janji temu itu akan dilakukan.


Dari kejauhan, Alexa bisa melihat kalau Mark William hanya seorang diri, tampak duduk menunggunya di dalam kafetaria itu, sesuai dengan permintaan Alexa kepadanya.


"Alexa ...!" sapa Mark, sambil berdiri ketika melihat Alexa berjalan menghampirinya.


Alexa tidak membalas sapaan Mark, melainkan langsung duduk di salah satu kursi kosong di situ.


Mungkin karena melihat Alexa yang tampak kesulitan untuk duduk karena perutnya yang sudah membesar, Mark William terlihat berusaha membantu Alexa agar bisa duduk dengan nyaman.


"Tolong hentikan semua ini!" ujar Alexa. "Aku akan menuruti keinginanmu."


"Apa maksudmu?" tanya Mark.


"Jangan berpura-pura bodoh! Aku yakin kalau kalianlah yang menyakiti Damian," ujar Alexa, sambil menatap Mark lekat-lekat.


Alexa benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, menangis terisak-isak, hingga nafasnya juga terasa sesak dan sekujur tubuhnya terasa lemas.


"Alexa ...!" Mark mendekat dan memeluk Alexa dengan erat. "Maafkan aku ... Tolong jangan menangis ...!"


Alexa tidak bisa melawan ataupun berusaha melepaskan pelukan Mark darinya, karena tenaganya yang seakan-akan menghilang saat itu.


"Damian ... Kenapa kamu melakukan hal itu kepada Damian?" kata Alexa dengan suara bergetar.


"Alexa ...! Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu. Tapi, aku berjanji agar Damian bisa mendapatkan perawatan yang terbaik," sahut Mark, yang terasa semakin mempererat pelukannya pada Alexa.


***


Mark memang tidak bicara kosong, dan segera menepati janjinya saat itu juga.


Setelah Alexa sudah sedikit lebih tenang, Mark membawa Alexa pergi menemui pihak yang bertanggung jawab di rumah sakit.


Mark bicara langsung kepada direktur rumah sakit itu, dan tanpa perlu menunggu berlama-lama, saat itu juga Damian dipindahkan ke ruang perawatan VVIP.


Mark bahkan meminta agar direktur rumah sakit memantau langsung keadaan Damian, dan harus melaporkan perkembangannya kepada Mark.


***


Ditemani oleh Mark, Alexa menemui Damian di ruang perawatan barunya.


Alexa yang berdiri di dekat tempat tidur Damian, kembali menangis walaupun dia tidak mengeluarkan suaranya.


"Alexa ...! Kamu tidak perlu terlalu mencemaskannya. Damian pasti akan dirawat dengan baik," ujar Mark.


Mark kemudian memeluk Alexa dari belakang, dan mengusap-usap perut Alexa yang buncit.


"Aku benar-benar mencintaimu ... Aku berjanji akan melakukan apa saja yang kamu mau. Untukmu dan anak kita," kata Mark, lalu mengecup salah satu pipi Alexa.


Entah mengapa, Alexa tidak bisa marah akan tindakan Mark William saat itu.


Justru saat Mark mengelus perutnya dengan lembut seperti itu, Alexa malah merasa nyaman, dan bayi yang ada di dalam perutnya terasa semakin kuat bergerak.


"Hey! Dia menendangku!" ujar Mark, yang terdengar seperti sedang kegirangan.


Seolah-olah tidak memperdulikan kalau-kalau Alexa mungkin akan memarahinya, Mark lalu berpindah ke depan Alexa dan berlutut di situ, kemudian menempelkan telinganya ke perut Alexa.


Alexa yang masih berdiri terdiam, hanya melihat gerak-gerik Mark, tanpa berkomentar apa-apa.


Mark kemudian mendongakan kepalanya, dan sambil tersenyum melihat Alexa, Mark lalu berkata,


"Katanya, dia ingin segera melihat wajahmu!"


Alexa tidak merespon perkataan Mark itu, dan hanya tetap terdiam, sambil tetap bertatap-tatapan dengan Mark.


Mark kemudian berdiri berhadap-hadapan dengan Alexa, lalu mengecup kening Alexa dengan lembut.


"Aku sangat berharap, agar suatu saat nanti kamu akan mencintaiku, seperti aku mencintaimu ... Alexa ...!" ujar Mark.


"Kamu pasti belum makan siang, kan? Kita pergi makan sebentar, nanti aku mengantarmu kembali ke sini, kalau kamu masih ingin menemani Damian," lanjut Mark.


***


Setelah makan siang di luar bersama Mark, Alexa di antar kembali oleh Mark ke rumah sakit itu, dan Mark tidak meninggalkan Alexa sendirian menjaga Damian.


Mark tetap bertahan untuk menemani Alexa di situ, walaupun Sienna sudah datang untuk ikut menjaga Damian.


Bahkan ketika hari sudah mulai malam, karena Alexa yang tidak mau pergi ke luar lagi, Mark hanya keluar sebentar untuk membelikan makan malam bagi mereka bertiga, lalu kembali menemani Alexa sampai pagi di keesokan harinya.