
16 Januari 1997.
"Kamu kelihatannya bisa berbicara santai dengan rekanmu," celetuk Mark, sesaat setelah mobil Alexa kembali melaju di jalanan.
Mark William memang tampak berusaha keras, untuk mengakrabkan diri dengan Alexa, walaupun Alexa tetap bersikap acuh tak acuh.
"Kamu bahkan bisa tertawa lepas," lanjut Mark.
Meskipun Alexa tidak melihat ke arah Mark, melirik sedikit pun tidak, tetapi Alexa bisa merasakan, kalau Mark saat ini sedang menatapnya.
"Anda tidak masalah kalau saya merokok, Sir?"
Alexa tetap tidak menanggapi bahan pembahasan Mark William, namun dengan tetap menjaga sopan santun, sebelum Alexa merokok, Alexa masih meminta izin lebih dulu.
"Silahkan! Saya juga mau merokok," jawab Mark.
Setelah Alexa mematikan pendingin udara di dalam mobil, lalu menurunkan kaca jendela di sisinya, Alexa kemudian menyalakan sebatang rokok.
Mark William juga tampak menurunkan kaca jendela di sisinya, dan menyalakan sebatang rokok untuk dirinya sendiri.
"Maafkan saya, atas sikap kasarku malam tadi," ujar Mark. "Saya sedang mabuk dan tidak bisa mengontrol diriku sendiri, hingga bertingkah seperti orang gila dan bodoh."
Alexa terdiam untuk beberapa saat, setelah mendengar permintaan maaf dari Mark, yang terdengar sungguh-sungguh menyesali perbuatannya.
"Baik, Sir. Saya maafkan anda, jadi anda tidak perlu memikirkan hal itu lagi," jawab Alexa.
"Umm ... Alexa tidak perlu bicara terlalu formal. Karena Alexa bukan bawahanku. Usia kita juga mungkin tidak terpaut terlalu jauh," kata Mark.
"Maaf, Sir. Tapi, saya tidak terbiasa untuk berbicara bebas dengan klien," sahut Alexa datar.
"Apa Alexa merasa terganggu dengan keberadaanku?" tanya Mark pelan.
"Tidak, Sir," jawab Alexa.
"Saya merasa kagum dengan Alexa, makanya saya hampir tidak bisa berhenti bicara, karena saya ingin Alexa mau berbincang-bincang dengan saya....
...Saya ingin mengenal Alexa dengan lebih baik, karena rasa penasaran saya....
... Saya tidak pernah melihat seorang wanita muda yang mau bekerja keras seperti Alexa. Apalagi, sampai melakukan pekerjaan yang beresiko tinggi seperti ini."
Mark William, masih saja tampak berusaha keras untuk bersikap bersahabat kepada Alexa, namun Alexa tidak terlalu mau memperdulikannya.
Hingga jam makan siang tiba.
Kalau sesuai prosedur mengantar barang, Alexa dan Damian seharusnya tidak boleh singgah di sembarang tempat.
Namun, karena kali ini yang dibawa mereka adalah manusia, mau tidak mau, Alexa harus bertanya ke kantor untuk melakukan konfirmasi.
Setelah Alexa menghubungi kantor lewat radio, dan mendapatkan persetujuan, akhirnya Alexa dan Damian, menyinggahkan penumpang mereka di sebuah restoran yang dipilih oleh Mark William.
"Alexa! Kamu dan rekan kerjamu bisa ikut makan dengan saya," ajak Mark.
"Tidak apa-apa, Sir. Tidak perlu repot-repot memikirkan kami," kata Alexa.
"Ayolah, Alexa! Apa kamu masih membenciku? Walaupun saya meminta maaf?" ujar Mark.
"Bukan begitu, Sir. Tapi, di restoran mewah seperti ini, pasti harga makanannya mahal. Kami tidak sanggup membayarnya," sahut Alexa beralasan.
"Saya yang akan membayarnya. Anggap saja sebagai permintaan maaf akan sikap kasarku malam tadi....
... Dan jika Alexa mau ikut makan bersama saya, berarti Alexa memang bersungguh-sungguh memaafkan saya," kata Mark tampak memaksa.
Alexa dan Damian akhirnya ikut makan, dengan duduk satu meja bersama Mark dan bodyguard-nya.
Entah perasaan Alexa saja atau memang benar adanya, kalau bodyguard Mark tampak tidak nyaman, saat makan bersama Mark William di satu meja.
Sementara Mark William, tampak santai dan seolah-olah dia tidak terganggu, untuk makan bersama-sama dengan orang yang tidak 'sekelas' dengannya.
Namun, Alexa tidak mau terlalu memikirkannya, dan hanya sibuk memakan makanan yang disajikan oleh pelayan restoran, setelah dipesan oleh Mark William.
***
13:46.
Kurang lebih satu sampai dua jam lagi, mereka akan tiba di tujuan.
Alexa berniat untuk tidak singgah di mana-mana lagi, dan mengarah langsung ke alamat yang tertera di lembaran pesanan.
Tertundanya perjalanan mereka, karena singgah makan siang mereka tadi, membuat jadwal perjalanan Alexa jadi kacau.
Selain itu, Alexa juga perlu mengantar pakaiannya ke tempat laundry, karena Alexa hampir kehabisan pakaian bersih.
Walaupun Mark masih tidak lelah mengoceh di sebelahnya, Alexa benar-benar tidak mau menghiraukannya lagi, dan tetap berkonsentrasi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
***
15:17.
Mereka akhirnya tiba di tujuan, di sebuah hotel yang ada di wilayah Barat kota.
"Terimakasih! Senang berkendara bersama Alexa!" ucap Mark William, sambil tersenyum lebar.
Mark William tampak seolah-olah tidak menyesal, walaupun selama di perjalanan, Alexa lebih banyak tidak menghiraukannya, dan memperlakukannya seperti benda mati.
"Sama-sama, Sir!" sahut Alexa, kemudian bergegas pergi dari sana.
***
"Damian! ... Copy!" panggil Alexa lewat radio.
"Alexa! ... Ada apa? ... Copy!" sahut Damian.
"Kamu bisa lebih dulu ke gudang. Aku masih harus ke bengkel ... Copy!" ujar Alexa.
"Aku ikut! LV-ku juga perlu perawatan," sahut Damian.
Alexa bisa melihat dari kaca spion kalau mobil yang dikendarai oleh Damian, tetap mengikutinya dari belakang, saat Alexa berbelok ke arah lain yang keluar dari jalur jalan yang mengarah ke gudang.
***
Setelah kurang lebih sepuluh menit di dalam bengkel, Alexa yang duduk menunggu mobilnya dilakukan pemeriksaan dan perawatan, teringat akan sesuatu.
Alexa menepuk jidatnya. "Aku lupa melapor ke kantor!"
"Tenang saja! Aku sudah melapor, kalau kita akan singgah di bengkel dulu," kata Damian.
"Ooh ... Aku benar-benar lupa. Pikiranku kacau, karena waktu perjalanan yang tidak sesuai jadwal," ujar Alexa, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Damian tampak menyalakan sebatang rokok, lalu menyodorkannya kepada Alexa. "Bagaimana menurutmu?"
Alexa menerima rokok yang menyala dari Damian, namun merasa bingung dengan pertanyaan yang Damian ajukan.
"Apa maksudmu?" Alexa balik bertanya.
"Mark William. Dia kelihatannya berusaha menarik perhatianmu," kata Damian menjelaskan. "Jadi, bagaimana menurutmu tentangnya?"
"Tetap sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya ... Orang kaya yang manja," jawab Alexa datar.
"Menurutku, dia sengaja memesanmu untuk mengantarnya, agar dia bisa menghabiskan waktu denganmu," ujar Damian. "Aku rasa dia tertarik kepadamu."
"Terserah apa yang menjadi tujuannya. Yang pasti aku tidak tertarik, untuk terlibat sesuatu dengannya. Aku hanya tertarik dengan nilai orderannya saja," sahut Alexa.
"Pffftt ...! Kalau kamu cuma mau uangnya, kamu bisa menanggapi rasa tertariknya, maka dia mengucurkan uangnya dan memandikanmu dengan uang itu," ujar Damian sambil tertawa tertahan.
"Hey! Kamu kira aku wanita materialistis? Maksudku tadi, aku lebih suka bekerja dan mendapatkan uang lebih....
... Dan bukan dengan menjual perasaan, apalagi tubuhku. Mengerti?" sahut Alexa, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Damian tampak menyalakan sebatang rokok lagi, untuk dirinya sendiri.
"Jangan marah! Aku hanya bercanda. Aku tahu kalau kamu bukan wanita seperti itu. Karena kalau begitu, tidak mungkin kamu memilih pekerjaan ini," kata Damian.
"Tapi, aku bersungguh-sungguh saat mengatakan kalau Mark William tertarik kepadamu. Dan kelihatannya, dia akan melakukan apa saja, agar kamu mau menerimanya," lanjut Damian.
"Ah! Sudahlah! Aku tidak mau membahas tentang orang itu," ujar Alexa. "Setelah ini, kalau ada orderan baru, apa kamu mau mengambilnya?"
"Tidak. Aku mau istirahat dulu. Aku ingin bersantai malam ini, mungkin pergi nonton bioskop," jawab Damian. "Kamu mau ikut denganku?"
Alexa terdiam dan tidak segera menjawabnya, sambil memikirkan ajakan Damian.
"Ayolah! Persentasemu sudah tinggi sekarang ini, kan? Sekali-sekali, kamu perlu menikmati hasil kerja kerasmu," ujar Damian.
"Okay! Aku ikut!" sahut Alexa.
Damian tampak tersenyum lebar, lalu menepuk-nepuk bahu Alexa. "Kita bisa berbelanja sekalian. Aku mau makan malam yang enak."