
Semakin lama bekerja bersama keluarga Ruppert, Alexa yang sudah merasa nyaman, tidak terpikirkan lagi untuk mencoba mencari pekerjaan lain.
Sir dan Madam Ruppert memperlakukan Alexa seperti anggota keluarganya, begitu juga Louis yang bertingkah seperti kakak bagi Alexa, kesemuanya dianggap Alexa sebagai hal yang spesial.
Menurut Alexa, di tempat lain atau bekerja dengan orang lain, belum tentu Alexa bisa mendapatkan perlakuan sebaik itu.
Walaupun karena tingkat kriminalitas di kota itu yang sangat tinggi, hingga membuat kesibukan pekerjaan Sir Ruppert menjadi-jadi.
Begitu juga Madam Ruppert yang tidak kalah sibuk dengan kegiatannya, hingga Alexa mendapat efek lelahnya saat harus mengantar Sir dan Madam Ruppert ke sana kemari, namun Alexa tidak mengeluh.
Keberadaan Louis yang juga senantiasa melindungi Alexa dari percobaan kejahatan di saat mereka sedang berada di luar rumah, membuat Alexa semakin yakin kalau pekerjaannya sekarang ini, jauh lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan yang orang lain dapatkan.
Tidak terasa, sudah berbulan-bulan, bahkan sudah hampir setahun, Alexa ikut pindah bersama keluarga Ruppert ke kota Hills.
Jika menghitung dari pertama kali Alexa bekerja di keluarga Ruppert, sudah dua tahun Alexa menjadi supir pribadi mereka.
***
18 Juni 1992.
Sejak pagi-pagi sekali di hari Kamis itu, Alexa sudah sibuk mengantarkan Sir Ruppert ke kantor, kemudian kembali lagi ke rumah untuk menjemput Madam Ruppert yang akan pergi ke tempat berbeda.
Saat mengantar Madam Ruppert bepergian ke salah satu restoran di tengah kota, lalu kembali ke kantor Sir Ruppert, Alexa terpikir akan Sir Ruppert yang diantarnya pagi tadi.
Seakan-akan ada sesuatu yang berbeda pada Sir Ruppert dalam penglihatan Alexa, namun Alexa belum berani bertanya langsung kepadanya.
"Apa kamu melihat gelagat Sir Ruppert tadi?"
Sambil menunggu Sir Ruppert di kantornya yang rencananya akan keluar dari kantor itu untuk menuju ke tempat lain, Alexa yang penasaran, bertanya kepada Louis yang duduk di jok penumpang di sampingnya.
"Kenapa?" Louis balik bertanya.
"Apa kamu merasa kalau ada yang aneh dari gerak-gerik Sir Ruppert?" tanya Alexa. "Seolah-olah ada sesuatu yang membuatnya merasa sangat khawatir."
"Tidak. Aku rasa Sir Ruppert masih bertingkah seperti biasa saja," jawab Louis. "Kenapa kamu bisa berpikir kalau ada yang aneh dari gerak-gerik Sir Ruppert?"
"Umm ... Tidak. Mungkin memang perasaanku saja. Sir Ruppert memang belakangan ini tampak semakin sibuk mengurus kasus-kasus besar di kota ini," sahut Alexa, menepis pikiran buruk dari kepalanya.
Walaupun Alexa berkata demikian, namun tetap ada rasa mengganjal di hatinya.
Biasanya, walaupun Sir Ruppert sedang mengurus kasus besar, pria paruh baya itu tetap terlihat tenang, tapi tidak kali ini.
Sir Ruppert pagi tadi, tampak sangat gelisah, ketika Alexa beberapa kali melihatnya dari kaca spion.
Lembaran berkas-berkas yang dipangku Sir Ruppert, sempat beberapa kali terlihat dibuka dan ditutup oleh Sir Ruppert, sambil memijat-mijat keningnya.
Ketika Alexa menoleh ke jendela di sampingnya, terlihat Sir Ruppert sedang berjalan menuruni tangga di depan gedung kantornya.
Alexa buru-buru keluar dari mobil, dan membukakan pintu mobil untuk Sir Ruppert.
"Kita akan pergi ke mana, Sir?" tanya Alexa, saat Sir Ruppert sudah masuk ke dalam mobil, dan begitu juga dirinya yang sudah duduk di belakang kemudi.
"Antarkan saya ke kantor kejaksaan di distrik Utara!" ujar Sir Ruppert.
"Baik, Sir!" sahut Alexa.
Tanpa membuang waktu dengan berlama-lama di situ, Alexa segera memacu kecepatan mobil yang dikendarainya mengarah langsung ke tempat yang menjadi tujuan dari Sir Ruppert.
***
"Alexa bisa meninggalkan saya di sini. Nanti sore barulah Alexa datang menjemput saya kembali. Kata istriku tadi, dia akan selesai melakukan pertemuan setelah jam makan siang usai," kata Sir Ruppert.
Walaupun baru saja melakukan perjalanan cukup jauh, namun Alexa tidak membantah perintah Sir Ruppert.
"Baik, Sir! Kalau begitu, kami pergi dulu!" sahut Alexa.
"Alexa aku sudah lapar. Kita singgah makan siang saja dulu. Kan Madam baru akan pulang setelah lewat jam makan siang?!" ujar Louis.
Alexa melihat arloji di tangannya.
11:57.
"Kita masih butuh waktu kurang lebih hampir satu jam, baru tiba di barat kota. Aku rasa kita akan terlambat menjemput madam, kalau kita harus singgah di jalan," sahut Alexa.
"Kita langsung ke restoran tempat madam berada saja. Kita bisa makan siang di situ, atau sekalian pulang makan di rumah," lanjut Alexa, tanpa mengurangi kecepatan mobilnya.
***
12:45.
"Apa kita makan di sini?" tanya Louis, setibanya di restoran tempat mereka harus menjemput Madam Ruppert.
Restoran mewah, tampaknya akan sangat mahal harga-harga makanan di sana.
"Kita makan di sebelah sana saja!" ujar Alexa, sambil menunjuk sebuah restoran sederhana yang tidak jauh dari tempat Alexa memarkirkan mobilnya.
"Kalau kita makan di situ, kita juga masih bisa melihat kalau Madam sudah siap untuk pulang," lanjut Alexa.
Louis tampaknya memang sudah kelaparan, karena sesaat setelah makanan mereka disajikan, Louis tampak memakannya dengan lahap.
Lain lagi dengan Alexa.
Walaupun perutnya terasa cukup lapar, namun Alexa tidak menurunkan kewaspadaannya.
Alexa memakan makanannya, sambil tetap mengawasi dengan melihat ke arah restoran di seberang jalan, di mana Madam Ruppert berada.
Entah mengapa, Alexa memang merasa seolah-olah ada yang tidak beres, hingga membuatnya tidak bisa makan dengan tenang.
Makanan Alexa belum habis dimakan, namun Madam Ruppert tampak sudah berdiri di pintu restoran yang ada di seberang jalan itu.
Alexa buru-buru berdiri dan berjalan keluar dari restoran tempatnya dan Louis makan.
"Tolong bayarkan tagihanku! Nanti aku ganti uangmu!" ujar Alexa kepada Louis, sambil berjalan dengan cepat, mengarah ke seberang jalan.
"Madam!" sapa Alexa, lalu membukakan pintu mobil untuk Madam Ruppert.
"Maaf, Madam. Tapi, kita harus menunggu sebentar. Louis kelihatannya belum selesai makan," ujar Alexa.
"Iya, tidak apa-apa," sahut Madam Ruppert. "Alexa sudah makan?"
"Sudah, Madam. Saya makan bersama-sama dengan Louis barusan," jawab Alexa.
Sementara Madam duduk di dalam mobil, Alexa tetap berdiri di luar di samping mobil, menunggu Louis datang.
Entah mengapa, semakin lama Alexa berdiri di situ, semakin dirinya merasa kalau ada yang sedang memperhatikan mereka di situ.
Alexa melihat ke sana kemari, namun tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Dengan rasa tidak sabar, Alexa menunggu Louis keluar dari restoran di seberang jalan.
Sebenarnya hanya dalam hitungan menit saja Alexa menunggu, namun rasa tidak nyamannya, membuatnya seakan-akan telah menunggu Louis terlalu lama.
Hingga Louis terlihat keluar dari restoran di seberang jalan, Alexa masih merasa tidak tenang.
"Louis! Percepat langkahmu!" seru Alexa setengah berteriak.
Setengah berlari, Louis menghampiri ke mobil di mana Alexa dan Madam Ruppert menunggu.
"Cepatlah masuk! Kita pergi dari sini sekarang!" ujar Alexa, lantas segera masuk ke dalam mobil, bersamaan dengan Louis, dan bergegas memacu kecepatan mobilnya, berlalu pergi dari tempat itu.