
14 Januari 2000.
09:25.
"Apa aku harus menyambung cerita tentangku waktu itu?" tanya Alexa.
"Mungkin lebih baik seperti itu. Setiap cerita pasti bersambung sesuai alurnya, bukan?!" sahut Arthur.
———***———
Juli 1989.
Di masa liburan sekolah, di musim panas.
Ayah kandung dari Alexa, mendadak menemui Alexa di tempat tinggalnya, di kediaman kerabat jauh yang merawat Alexa selama ini.
"Kamu sudah hampir dewasa. Kalau kamu tidak ikut tinggal bersama ayah, maka kamu akan semakin berjarak dengan ibu dan adik-adikmu."
Ayah Alexa tampak tidak ada sedikitpun keraguan, saat berbicara dengan Alexa.
Menurut Alexa, ayahnya benar-benar egois, dan sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan Alexa saat ini.
Walaupun selama ini, Alexa juga tidak merasakan kebahagiaan saat tinggal bersama keluarga yang merawatnya, namun Alexa sudah terbiasa dengan berjalannya waktu.
Dan terbukti, dengan keadaannya yang tetap mampu bertahan dengan segala sesuatunya, hingga di detik ini, dan Alexa merasa kalau dia masih baik-baik saja.
Justru keinginan ayahnya itu yang terasa jauh lebih tidak menyenangkan, dan sangatlah mengganggu bagi Alexa.
Bagaimana mungkin, Alexa bisa dengan senang hati menerima ajakannya?
Orang yang mendadak merasa kalau dia adalah seorang ayah bagi Alexa, sedangkan selama belasan tahun Alexa diabaikannya, lalu, dari semua makhluk yang ada di muka bumi ini, tiba-tiba dia datang dan memaksa Alexa untuk ikut menjadi bagian dalam keluarga barunya.
Ya, keluarga baru, karena ayahnya menikah lagi dengan wanita yang bukanlah ibu kandung Alexa, lalu memiliki keturunan dua orang anak laki-laki, dengan wanita itu.
Baik ibu hingga adik-adik barunya itu, yang bahkan belum pernah dilihat oleh Alexa bagaimana rupa mereka, kurang lebih sama asingnya dengan orang yang mengaku sebagai ayahnya.
Namun, ayahnya tampak tidak tahu diri dan tetap memaksa, agar Alexa mengakui bahwa mereka adalah satu keluarga.
Tentu saja Alexa tidak akan mau untuk menjadi bagian dari keluarga itu, dan berusaha untuk menolak mentah-mentah permintaan ayahnya, yang dianggap Alexa adalah permintaan yang paling tidak masuk akal yang pernah didengarnya.
Ditambah lagi, permintaan yang memaksa itu datang dari mulut seorang manusia yang tidak pernah menganggap adanya keberadaan Alexa, di hampir seumur hidup Alexa yang berkeliaran di dunia ini, dan hanya bisa melihat wajah laki-laki berusia empat puluh tahunan itu, di foto album keluarga.
"Tidak bisakah, kalau ayah menjalani hidup baru ayah, tanpa perlu melibatkan ku di situ?"
"Alexa! Kamu sudah berani kurang ajar! Aku ini ayahmu!"
"Untuk apa ayah marah kepadaku? Aku tidak mengatakan sesuatu yang salah. Coba ayah pikirkan ulang ...!"
Alexa tidak bicara dengan nada tinggi, dan hanya sekedar menjelaskan apa yang dia pikirkan kepada ayahnya. Tapi....
"Plaak!"
Tamparan keras dari telapak tangan kanan ayahnya, tiba-tiba mendarat tepat di pipi kiri Alexa.
"Kalau kamu masih berani membantah, aku akan menjual mu ke rumah bordil!"
Sakit hati yang dirasakan oleh Alexa, semakin menjadi-jadi, namun karena usianya yang masih di bawah umur, Alexa tahu dengan baik, kalau dia sekarang ini tidak bisa berbuat banyak.
Satu-satunya jalan, hanyalah menuruti apa saja yang menjadi kemauan dari orang tua itu, hingga Alexa sudah cukup umur, dan bisa memilih jalan hidupnya sendiri.
Demikianlah, sehingga akhirnya Alexa mengikuti ayahnya untuk pindah ke kota yang baru di mana menjadi tempat tinggal ayahnya selama ini.
Cerita di film-film tentang kejam dan brengseknya ibu tiri, yakinlah kalau hal itu bukan hanya ada di film.
Alexa merasakan sendiri, bagaimana perlakuan buruk yang dilakukan ibu tirinya kepadanya, sejak hari kedua menginjakkan kaki di rumah ayahnya itu.
Awalnya, sama seperti di film yang menguras air mata.
Ketika ayahnya ada di rumah, Alexa akan akan diperlakukan oleh ibu tirinya seperti seorang putri.
Sebaliknya, jika ayahnya sedang bepergian, maka di waktu-waktu itulah, Alexa akan merasakan sakitnya penyiksaan dari ibu tirinya.
Wanita yang menjadi Ibu tiri dari Alexa, adalah seekor ular berbisa berkepala dua.
Di depan ayah Alexa, ibu tiri Alexa akan berubah menjadi seorang aktris pemeran utama yang terbaik, dengan berpura-pura seolah-olah wanita itu adalah korban, dan Alexa lah yang tidak tahu di untung.
Selama belasan tahun, tinggal bersama kerabat jauhnya, Alexa menjalani hidupnya seperti seorang buruh kasar yang tidak layak diberi gaji, dan di perlakukan seperti parasit di tempat itu. Apa semua itu sudah terasa buruk?
Coba bandingkan dengan ini :
Setelah berjalan kurang lebih satu bulan Alexa ikut tinggal di dalam rumah ayahnya, ada atau tiadanya laki-laki itu, Alexa senantiasa berada di dalam situasi 'hidup segan, mati tak mau'.
Di dalam rumah itu, Alexa menjadi asisten rumah tangga yang di bayar dengan makian dari ibu tiri maupun ayahnya, jadi baby sitter bagi adik-adik barunya, jadi bahan gosip ibu tirinya, ditambah lagi menjadi samsak tinju bagi kepalan tangan dan tendangan kaki ayahnya.
Hmmm ... Tapi ...
Hanya di saat-saat Alexa menjaga adik-adik barunya lah, Alexa bisa ikut merasakan makanan menyentuh lambungnya, hingga kenyang.
Jadi, mungkin Alexa harus menyingkirkan baby sitter dari daftar, karena hal itu tidak selamanya menjadi sesuatu yang buruk.
Selain itu, walaupun Alexa yang sibuk dengan hari-harinya, Alexa tetap ditekan sang ayah, agar tetap mendapat nilai tinggi untuk akademisnya di sekolah, meskipun ayahnya melarangnya ke mana-mana, walaupun hanya sekedar pergi belajar dalam grup.
Drama opera sabun yang di alami oleh alexa itu, terus berlangsung, hingga liburan musim panas selanjutnya.
———***———
"Bisa aku minta satu batang rokok lagi?" tanya Alexa, yang tiba-tiba berhenti bercerita.
Tanpa menjawab pertanyaan Alexa, Arthur segera menyalakan sebatang rokok, dan memberikannya kepada wanita itu.
"Maafkan aku...." ucap Arthur, dengan rasa penuh penyesalan.
"Untuk apa? Kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa kepadaku," sahut Alexa.
"Aku memaksamu untuk bercerita tentang hal yang pasti berat bagimu," ujar Arthur.
Alexa tampak tersenyum, lalu berkata,
"Semua itu sudah terjadi di masa lalu, tidak ada yang bisa mengubahnya. Itu sebabnya, aku tidak terlalu memusingkannya lagi, dan bisa menceritakannya kepada dokter, juga kepadamu."
Nada suara Alexa terdengar tenang, seolah-olah dia memang tidak menjadikan ingatan masa lalu itu, sebagai beban yang perlu dia tangisi.
"Apa aku bisa memegang tanganmu?" tanya Arthur ragu, namun berusaha untuk memberanikan diri.
Alexa mengulurkan sebelah tangannya ke arah Arthur, dan Arthur segera menyambut tangan Alexa, lalu menggenggamnya dengan erat.
"Apa kamu menyukai ku?" tanya Alexa tiba-tiba.
Mata Arthur terbelalak, dan seolah-olah mulutnya tergembok dengan rapat, Arthur kehilangan kemampuannya untuk bicara.
"Selain sekedar penasaran, sebaiknya kamu jangan menaruh perasaan sedikitpun kepadaku, agar kamu tidak menderita," lanjut Alexa.