It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 41



29 Desember 1997.


Walaupun Alexa menolak untuk diperiksa kesehatannya, namun Damian tetap bersikeras, agar Alexa mau melakukannya.


Karena tidak mau terjadi keributan dan menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di rumah sakit, Alexa akhirnya menyerah dan mengikuti permintaan Damian.


Alexa tidak terkejut saat melihat hasil pemeriksaannya, karena sesuai dengan dugaannya, bahwa dia memang sedang hamil, dengan usia kandungan yang masih sangat muda.


Namun tidak begitu dengan Damian.


Teman laki-laki Alexa itu terlihat sangat gelisah, dengan berjalan mondar-mandir sambil menggaruk-garuk kepalanya, saat mereka menunggu obat-obatan yang diresepkan dokter, untuk mengurangi rasa mual dan pusing yang Alexa alami.


***


"Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu tidak mau memberitahu Mark William?" tanya Damian.


Damian sudah menyalakan mesin mobilnya, namun seolah-olah dia masih tidak mau pergi dari rumah sakit itu.


"Tidak," jawab Alexa.


Mark William ... Entah apa yang ingin Alexa lakukan kepada laki-laki itu.


Tidak berapa lama setelah Alexa membuat laporan aduan, Mark memang sempat ditangkap oleh pihak kepolisian, namun dia kembali dilepaskan dengan jaminan.


Sehingga Mark masih bisa bebas berkeliaran, meski masih mendapat batasan agar dia tidak bisa bepergian keluar kota.


Dengan uang William's, proses persidangan Mark tertunda-tunda, hingga saat ini masih belum ada persidangan walaupun hanya sekali.


Alexa yakin kalau tertundanya persidangan itu karena uang, karena beberapa orang dari Willing Grup juga sempat datang menemui Alexa, untuk meminta agar Alexa mencabut laporan dengan menawarkan sejumlah uang ganti rugi.


Benar-benar orang kaya brengsek, yang tahu dengan baik cara menggunakan uang mereka.


Selain utusan dari Willing Grup, Mark William juga masih tidak berhenti mencari kesempatan untuk bertemu dengan Alexa.


Berkali-kali, Mark William ketahuan melakukan pesanan pengantaran barang, dengan menggunakan nama teman-temannya.


Namun Sir Miller memang mewanti-wanti semua pegawai administrasi di setiap gudang, agar mengawasi pesanan yang masuk, jika pesanan itu khusus meminta Alexa yang mengerjakannya.


Surat peringatan menjaga jarak yang didapatkan oleh Alexa dari kepolisian, juga cukup membantu, agar membuat Mark tidak bisa memaksa untuk bertemu dengan Alexa.


"Jadi, apa kamu akan mengaborsinya?" tanya Damian.


"Tidak," jawab Alexa.


"Alexa ...! Kamu akan bertanggung jawab sendiri atas janin itu?" tanya Damian frustrasi.


Alexa hanya terdiam sambil menatap ke luar jendela.


Tanpa sengaja, Alexa menangkap bayangan sosok yang cukup dikenalinya, sedang duduk berjongkok di lantai beranda di depan rumah sakit.


Wanita itu sedang menangis, sambil ditemani oleh seorang anak kecil berusia sekitar sembilan atau sepuluh tahunan, yang juga sedang menangis bersama-sama wanita itu.


Mata Alexa terbelalak.


Wanita yang sedang menangis itu adalah ibu tiri Alexa, yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dilihatnya, dan anak kecil yang bersama wanita itu, adalah adik Alexa.


Tanpa Alexa sadari lagi, dia sudah membuka pintu mobil, lalu berjalan ke arah ibu tiri dan adiknya itu.


"Alexa!" Teriakan Damian yang berseru memanggil namanya, juga tampaknya ikut menarik perhatian dari ibu tiri Alexa.


Ibu tiri Alexa mengangkat pandangannya hingga beradu penglihatan dengan Alexa.


Untuk beberapa saat, ibu tiri Alexa itu hanya terdiam menatap Alexa, dan begitu juga Alexa yang rasanya tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


"Alexa! Kamu mau ke mana?" tanya Damian, yang menyusul di mana Alexa berdiri terdiam.


"Alexa ...?" Ibu tirinya terlihat berdiri, dan berjalan dengan cepat menghampiri Alexa.


"Ayahmu! ... Alexa! ... Ayahmu ...!" Ibu tiri Alexa berbicara terbata-bata, dan tidak jelas apa yang sedang dibicarakan olehnya, karena dia bicara sambil menangis.


"Tenangkan dirimu, Madam!" ujar Alexa tegas. "Ada apa?"


"Ayahmu ... Ayahmu sakit keras," jawab ibu tiri Alexa itu, sambil tetap menangis.


Alexa memandangi ibu tirinya dari ujung rambut, sampai ke ujung kakinya, begitu juga adik laki-laki Alexa yang ikut berdiri di dekat ibunya.


Baik Ibu tirinya, maupun adik laki-laki Alexa itu, kondisinya saat ini terlihat sangat buruk.


Bahkan wajah adik laki-laki Alexa, terlihat bekas ingus yang mengering dan menjadi kerak di kulit pipinya.


Seburuk apa keadaan mereka sekarang ini? Hingga mereka terlihat seperti gelandangan, pikir Alexa.


"Siapa mereka?" tanya Damian, berbisik-bisik di telinga Alexa.


"Dia istri ke-dua dari ayahku," jawab Alexa.


Alexa lalu menunjuk dengan pandangan matanya, ke arah anak kecil di situ. "Dia itu adikku."


Alexa sebenarnya membenci ibu tirinya itu, karena sifat kejamnya dan kerap menyiksa Alexa, selama Alexa tinggal serumah bersamanya.


Namun, mungkin karena hormon yang dihasilkan oleh kehamilannya, tiba-tiba Alexa bisa merasa sangat iba kepada ibu tirinya itu.


Hati Alexa mendadak terasa sangat sedih dan tidak tega, saat berlama-lama melihat ibu tiri dan adiknya itu.


Alexa bahkan ingin segera bisa membantu ibu tiri dan adiknya itu. "Berhentilah menangis, dan bicara dengan baik, agar aku bisa mengerti. Apa yang terjadi?"


Ibu tiri Alexa tampak berusaha menenangkan dirinya sendiri, lalu berkata,


"Ayahmu dirawat di rumah sakit ini. Dia mengalami komplikasi. Kami sudah kehabisan uang untuk biaya pengobatannya, selama beberapa tahun belakangan ini."


Ibu tiri Alexa lalu kembali menangis terisak-isak.


"Baru saja rumah kita disita pihak bank, karena pinjaman yang dipakai untuk biaya perawatan ayahmu, tidak bisa terbayar," lanjut ibu tiri Alexa, sambil tetap menangis.


Alexa hampir saja mengeluarkan kartu perbankan miliknya, dan hendak menarik uang kontan, untuk diberikan kepada ibu tirinya itu.


Namun Damian yang tampaknya mengerti apa yang ingin dilakukan Alexa, segera menghentikan niat Alexa itu.


"Apa kamu tidak mau menjenguk ayahmu dulu?" tanya Damian.


Alexa terdiam untuk beberapa saat.


"Di mana ruang perawatan ayahku?" tanya Alexa kepada ibu tirinya.


"Ayo, ikut denganku!" ajak ibu tiri Alexa.


***


Di atas ranjang perawatan, laki-laki yang adalah ayah dari Alexa, terlihat sedang terbaring dan tampaknya sedang tidak sadarkan diri, dengan terpasang banyak peralatan medis di tubuhnya, untuk menunjang kehidupannya.


Alexa berjalan mendekat, dan memandangi ayahnya itu dari ujung rambut hingga ke kakinya.


Dalam kondisinya yang tampak tidak berdaya seperti sekarang ini, tidak terbayangkan bagi Alexa, bagaimana ayahnya itu dulu pernah menjadi orang yang bisa bersikap kejam kepadanya.


Rasa kasihan saat melihatnya, sanggup menghapus kebencian Alexa kepada ayahnya itu.


Entah mengapa, Alexa rasanya saat ini ingin menangis, namun Alexa berusaha keras untuk menahan air matanya.


Alexa lalu buru-buru berbalik, dan berjalan keluar dari ruangan itu.


"Ikut denganku! Aku tidak memiliki uang banyak. Tapi aku harap bisa membantu, walau hanya sedikit," kata Alexa kepada ibu tirinya, yang tadi menunggu di luar ruang perawatan ayah Alexa.


***


Di tempat penarikan uang, Alexa mengambil beberapa ribu dolar dari tabungannya, lalu memberikannya kepada ibu tirinya itu.


"Terima kasih, Alexa!" ucap Ibu tiri Alexa sambil meneteskan air matanya. "Apa nanti kamu bisa datang menjenguknya lagi?"


"Aku tidak akan berjanji. Tapi kalau aku bisa datang, maka aku akan datang," jawab Alexa.


"Kami pergi dulu. Ada yang harus kami lakukan!" kata Alexa berpamitan, dengan beralasan kepada ibu tirinya.


Sebelum Alexa pergi bersama Damian, Alexa memberikan selembaran uang 50 dolar kepada adik laki-lakinya. "Belilah makanan yang enak!"


Alexa masih menyempatkan untuk mengusap-usap kepala adik laki-lakinya itu sebentar, lalu masuk ke dalam mobil.


"Terima kasih banyak, Alexa!" Ibu tiri Alexa masih berterima kasih, sebelum Damian memacu mobilnya, dan akhirnya pergi dari rumah sakit itu bersama Alexa.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Damian.


"Iya," jawab Alexa. "Aku akan baik-baik saja."