It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 15



10 Agustus 1991.


Pesta yang dianggap konyol bagi Alexa, semakin konyol saja menurutnya, saat melihat kue ulang tahun yang ukurannya lebih besar dan hampir setinggi manusia, lalu Mark William, orang dewasa yang berulang tahun melakukan ritual memotong kue ulang tahun, seperti yang biasanya dilakukan di pesta ulang tahun anak kecil.


Namun sekonyol apapun acara pesta itu, sajian makanan dan minuman yang disiapkan keluarga William untuk dinikmati para tamu, tidaklah mengecewakan.


Banyak jenis makanan dan minuman yang belum pernah dirasakan Alexa sebelumnya, hingga cukup membuatnya penasaran untuk mencobanya satu persatu.


Bersebelah-sebelahan dengan Louis, Alexa mengambil porsi kecil makanan tertata di beberapa meja besar dan panjang.


"Apa kamu bisa kenyang hanya dengan makanan sedikit itu?" tanya Louis.


"Aku mau mencicipi semua yang terlihat asing di mataku," sahut Alexa datar.


"Pffftt ...! Pantas saja!" kata Louis, lalu tampak ikut-ikutan seperti Alexa, Louis juga mengambil berbagai macam makanan dalam porsi kecil.


Setelah mencoba beberapa jenis makanan, Alexa mengambil makanan yang lain lagi, hingga hampir memenuhi piring makannya.


Tampak orang-orang semakin banyak yang menghampiri meja, dan Alexa merasa tidak nyaman saat situasi di situ hampir setengah berdesakan.


Dengan demikian adanya, Alexa kemudian berjalan menjauh dari meja prasmanan, lalu terus berjalan sampai ke bagian teras samping rumah, dan berniat mencoba makanan pilihannya di sana.


Di teras itu, terlihat dua orang laki-laki yang berada di sana dan tampak sedang bercakap-cakap, namun Alexa tidak terlalu memperdulikan mereka, karena luasnya bagian rumah itu dan hanya mereka bertiga di sana.


Alexa duduk di salah satu bangku kosong, dengan jaraknya yang tidak terlalu jauh dari kedua orang laki-laki yang dilihatnya.


"... Tidak."


"Kenapa kamu bodoh sekali?"


"Kamu saja! Kenapa kamu memaksaku?"


"Arthur! Kapan lagi kamu bisa bertemu wanita cantik dan kaya seperti itu yang dengan mudahnya tertarik padamu?"


"Tidak. Aku tidak tertarik."


Alexa sebenarnya tidak berniat untuk menguping pembicaraan kedua orang laki-laki yang ada di teras itu, namun karena mereka berbicara dengan cukup nyaring, Alexa bisa mendengar hampir semua yang mereka bicarakan.


Menurut Alexa, kedua laki-laki itu tampaknya sedang berdebat tentang wanita, tapi salah satu dari mereka tidak tertarik dengan wanita yang dibicarakan rekannya.


"One night stand!"


"Josh! Aku bilang tidak!"


"Ah, terserah kamu kalau begitu! Dasar bodoh!"


Salah satu dari laki-laki itu, kemudian tampak berjalan menjauh, kembali masuk ke bagian dalam rumah, meninggalkan rekannya di sana sendirian.


Sedangkan rekannya yang tertinggal di teras itu, terlihat dengan santainya duduk bersandar, lalu menyalakan sebatang rokok, dan menghisapnya dalam-dalam.


Alexa memakan makanannya, tanpa mau memperhatikan gerak-gerik laki-laki itu lagi, dan memilih untuk memandangi taman yang dipenuhi dengan tanaman bunga dan beberapa hiasan luar ruangan.


"Apa menurutmu aku memang bodoh kalau menolak rayuan wanita kaya?"


Tiba-tiba laki-laki yang tertinggal di sana berbicara dengan suara cukup nyaring, seolah-olah sedang bertanya kepada seseorang.


Refleks, Alexa menoleh ke samping, ke arah di mana laki-laki itu duduk.


Laki-laki itu mengangkat kedua alisnya, sambil menatap Alexa, seolah-olah sedang menunggu tanggapan dari Alexa.


Alexa melihat ke sana kemari, dan di sana memang tidak ada orang lain lagi selain dirinya dan laki-laki itu.


Alexa menunjuk dengan tangannya ke arah dirinya sendiri, sambil mengangkat kedua alisnya dan menatap laki-laki itu, mengisyaratkan kalau Alexa ingin memastikan, apa laki-laki itu sedang bicara pada Alexa.


Laki-laki itu lalu tampak menganggukkan kepalanya, sambil tetap menatap Alexa.


"Apa menurutmu aku memang bodoh kalau menolak rayuan wanita kaya?" Laki-laki itu kemudian mengulang pertanyaannya lagi.


Alexa yang mulutnya penuh terisi makanan, tidak berkata apa-apa, dan hanya menggelengkan kepalanya.


"Huuffft ...!" Laki-laki itu menghembuskan dengan kasar, asap rokok dari mulutnya.


"Terima kasih! Aku menghargai tanggapanmu...


... Wajahmu yang tampan, pasti banyak wanita yang merayumu, tapi kamu malah duduk sendirian di luar. Aku anggap kalau kamu sama sepertiku, tidak tertarik dengan sembarang wanita," kata laki-laki itu.


Alexa hanya mengangguk pelan, dan seketika itu juga laki-laki itu berjalan mengarah ke bagian dalam rumah, meninggalkan Alexa yang tetap duduk di teras itu.


Seperginya laki-laki itu, Alexa kemudian tersenyum lebar, dan hampir tertawa sendiri, memikirkan apa yang baru saja didengarnya.


Dari kata-kata yang diucapkan laki-laki tadi, berarti laki-laki itu sama sekali tidak menyadari kalau Alexa adalah seorang wanita.


"Di sini kamu rupanya!"


Suara Louis tiba-tiba menggema di dekat Alexa, hingga Alexa mengangkat pandangannya dan melihat ke arah datangnya suara.


Louis kemudian duduk di samping Alexa.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Louis.


Alexa menelan makanan yang sudah halus digiling gigi-giginya di dalam mulutnya.


"Ada seseorang tadi di sini, lalu menyebut bahwa aku memiliki wajah yang tampan," jawab Alexa, setelah mulutnya sudah kosong.


"Apa dia sedang merayumu?" tanya Louis.


"Aku rasa tidak. Dia seorang laki-laki, dan karena aku yang duduk sendirian di sini, membuatnya beranggapan kalau aku sama sepertinya yang tidak tertarik dengan sembarang wanita," jawab Alexa.


"Apa aku memang terlihat tampan?" tanya Alexa bercanda.


"Iya. Kamu memang terlihat tampan. Namun mungkin karena kamu tampak masih sangat muda, hingga para wanita tidak berani merayumu," jawab Louis tampak serius.


"Hey! Aku hanya bercanda!" ujar Alexa.


"Aku tidak berbohong!" sahut Louis tidak mau kalah. "Kamu memang terlihat tampan! Lalu aku harus bilang apa?"


Alexa tidak mau berdebat lebih lama dengan Louis. "Apa kamu sudah kenyang?"


"Iya. Kenapa?" tanya Louis.


"Apa kamu bisa membantu mengambilkan minum untukku?" ujar Alexa.


"Bisa. Tunggu sebentar!" Louis kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Eh! Apa kamu melihat Sir dan Madam?" tanya Alexa menahan langkah Louis.


"Barusan aku bertemu dengan mereka," jawab Louis. "Kenapa?"


"Apa mereka belum berniat untuk pulang?" tanya Alexa.


"Belum ... Aku baru ingat, kalau mereka tadi berpesan, kalau kita pulang jam setengah sepuluh nanti," jawab Louis, sekalian menyampaikan pesanan Sir dan Madam Ruppert.


Alexa melihat arloji di pergelangan tangannya.


20:38.


Ketika Alexa mengangkat pandangannya, Louis tampak sudah berjalan mengarah ke bagian dalam, dan hampir bersamaan, ada orang lain yang melewati pintu mengarah ke teras.


Kelihatannya, laki-laki yang pertama kali pergi meninggalkan rekannya itu yang kembali ke teras, sambil membawa seorang wanita bersamanya.


Sedangkan, rekannya yang sempat bicara kepada Alexa tadi, tidak terlihat lagi.


Laki-laki bersama pasangan wanitanya, tampak bermesraan di teras, dan itu cukup membuat Alexa merasa tidak nyaman.


Alexa buru-buru menghabiskan makanannya, dan berniat untuk segera pergi dari teras, setelah Louis kembali ke situ nanti.


Tepat setelah suapan terakhir makanan Alexa, Louis juga tampak terlihat berjalan di teras, sambil membawa minuman untuk Alexa.


"Aku sudah selesai makan. Ayo kita pergi dari sini!" ajak Alexa sambil berdiri, setelah meminum sedikit minuman yang dibawakan oleh Louis.


"Kita masih harus mengambil senjataku dari petugas keamanan, lalu mengambil mobil dari parkiran," lanjut Alexa.