
18 Maret 2000.
Arthur menyeka cermin yang buram karena uap air panas.
Kamar mandi khusus untuk Chief, dipakai Arthur untuk membersihkan dirinya, saat Chief sedang tidak berada di ruangannya.
Sejak kemarin pagi, Arthur tidak kembali ke apartemennya, dan pagi ini, untuk menghilangkan rasa kantuknya, Arthur memilih untuk mandi di kantor saja.
Tanpa memperdulikan raut wajah masam dari Chief yang melihat Arthur yang hanya memakai celana panjang dan belum memakai kemejanya, berjalan di dalam ruang kerja Atasannya itu.
"Kamu benar-benar menjatuhkan harga diriku," celetuk Chief, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Arthur hanya melirik Chief sebentar, lalu kembali sibuk memasang kancing kemejanya, sambil berdiri di depan jendela.
Aroma kopi panas, tercium harum di dalam ruang kerja Chief.
"Ada kopi untukku?" tanya Arthur, yang melihat ada dua gelas kopi di atas meja kerja Atasannya.
"Dasar berandal!" ujar Chief memaki Arthur. "Itu! Ambil sendiri!"
Walaupun Chief mengomel, namun Arthur tahu, kalau salah satu kopi di atas meja itu, sudah pasti dibelikan Chief untuknya, dan Arthur hanya pura-pura bertanya saja.
Sembari mengambil salah satu gelas kopi, di atas meja, Arthur lalu berkata, "Chief! Aku ingin izin keluar sebentar. Ada yang mau aku temui."
"Bagaimana tugasmu?" Chief tidak serta-merta memberikan izin, melainkan mempertanyakan pekerjaan Arthur.
Arthur yang duduk di sofa, sambil menyesap sedikit kopinya, mengangkat pandangannya dan melihat ke arah Chief.
"Aku hanya tidur satu jam. Apa Chief mau aku mati kelelahan? Aku nanti tidak bisa bekerja untukmu lagi, Chief," sahut Arthur.
"Katamu kamu lelah? Lalu, kenapa bukannya istirahat, malah akan pergi berkeliaran?" Chief tampaknya tidak mau kalah.
"Tsk!" Arthur berdecak kesal. "Aku tidak akan lama. Paling lama dua jam. Okay, Chief?!"
Lagi, Chief terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil mendengus kasar, namun menurut Arthur, Chief kemungkinan besar akan memberikannya izin.
Dan kelihatannya memang begitu, karena Chief tampak memandang ke arah jam di dinding, sementara Arthur juga ikut melihatnya.
07:45.
"Paling lambat jam sepuluh, kamu harus sudah kembali! Paham!" kata Chief memberi izin, sambil berpesan.
"Okay! Terima kasih, Chief!" Arthur berucap, lalu buru-buru berjalan keluar dari ruang kerja Atasannya itu.
Arthur masih menyempatkan diri untuk berbalik sebentar, lalu mengacungkan jempol ke arah Chief, sambil menyeringai puas.
"Little rascal!"
Samar-samar, Arthur masih bisa mendengar kalau Chief sedang memakinya, namun Arthur tidak perduli, justru semakin mempercepat langkahnya.
Sepintas, Arthur yang melewati ruang kerjanya, bisa melihat dari balik dinding kaca, kalau Josh tampak masih tertidur pulas di sofa.
Sembari memacu kecepatan mobilnya di jalanan, di dalam hati Arthur tertawa puas, karena rencananya untuk bertemu Alexa hari ini, bisa berhasil.
Setibanya di rumah sakit jiwa, dari kejauhan, Arthur bisa melihat ada dua orang yang rasanya cukup dikenalinya, tampak sedang bersama Alexa di bangku taman yang jadi tempat duduk biasanya bagi Alexa.
"Steven?! Chief Miller?!" ujar Arthur yang merasa heran melihat keberadaan Steven dan Sir Miller di situ, ketika Arthur sudah di dekat mereka.
"Arthur ...?"
Baik Sir Miller maupun Steven, tampak tidak kalah terkejutnya dengan kedatangan Arthur di situ.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Sir Miller.
"Hai, Alexa!" sapa Arthur kepada Alexa, sebelum dia menjawab pertanyaan Sir Miller.
"Hai, Arty!" Alexa balas menyapa sambil tersenyum.
"Saya datang untuk mengunjungi Alexa," kata Arthur, lalu melihat wajah Steven dan Sir Miller bergantian.
Kedua orang itu, tampak kebingungan saat melihat Arthur, dan raut wajah mereka semakin menampakkan keterkejutannya, saat mereka melihat ke arah Alexa.
"Apa ada yang salah?" tanya Arthur heran.
Steven tidak menjawab pertanyaan Arthur, melainkan merangkul pundak Arthur dan membawanya berjalan menjauh dari situ, sambil berkata,
"Chief! Saya pergi dengan Arthur sebentar."
"Apa hubunganmu dengan Alexa? Sejak kapan kamu jadi dekat dengannya? Kenapa dia terlihat berubah setelah kamu datang?"
"Hey! Pelan-pelan. Aku bisa menjelaskannya," sahut Arthur.
"Aku jadi sering mengunjunginya sejak awal tahun baru kemarin," lanjut Arthur.
"Itu tidak menjelaskan apa-apa," sahut Steven.
"Lalu apa maumu?" tanya Arthur.
"Umm...." Steven bergumam. "Apa kamu berkencan dengan Alexa?"
"Ugh ...? Tidak. Aku memang menyukainya, tapi kami tidak berkencan," jawab Arthur sedikit menutup-nutupi.
Steven kemudian tampak memandangi Alexa dari kejauhan, lalu kembali menatap Arthur.
"Kami bersamanya sejak sarapan tadi, tapi dia tidak terlihat senang. Chief Miller dan aku mati-matian mencoba mengajaknya berbicara....
... Tapi jangankan berbicara, tersenyum pun tidak. Bahkan, dia tidak mau menyapa kami. Lalu kenapa dia mau menyapamu? Sambil tersenyum?" ujar Steven menekankan keheranannya.
"Aku tidak tahu. Tapi, dia selalu membalas sapaanku, setiap kali aku datang ke sini. Aku bahkan sering berbincang-bincang dengannya," jawab Arthur dengan rasa bangga.
Arthur sudah mendengar dari Sienna, tentang bagaimana perilaku Alexa saat bertemu dengan orang lain.
Namun saat melihat buktinya secara langsung seperti sekarang ini, rasanya jadi semakin menyenangkan bagi Arthur.
Ya ... Alexa berarti memang menganggap kalau Arthur adalah orang yang spesial baginya, pikir Arthur, sambil tersenyum di dalam hati.
"Ayo, kita kembali ke sana!" ajak Arthur.
Sembari berjalan pelan bersama Steven, Arthur lalu bertanya, "Kapan kalian datang?"
"Chief Miller akan ada pertemuan jam setengah sepuluh nanti. Tapi, kami sudah tiba di distrik Barat ini, sejak malam tadi," jawab Steven.
"Apa—"
"Di mana—"
Karena Steven dan Arthur yang berbicara bersamaan, akhirnya mereka sama-sama tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Kamu bicara saja lebih dulu," ujar Arthur, setelah mereka berdua sama-sama sempat terdiam untuk beberapa saat.
"Apa mungkin Alexa menyukaimu?" tanya Steven.
Menurut Arthur, pertanyaan Steven itu membuktikan bahwa hal itu memang mengganggu pikiran Steven.
"Aku tidak tahu," jawab Arthur masih menutup-nutupi.
Setelah mereka berdiri di dekat bangku tempat Sir Miller dan Alexa duduk, Arthur lalu berkata, "Apa kabar, Chief? Lama kita tidak bertemu."
"Saya baik-baik saja. Kamu sekarang terlihat semakin hebat. Bagaimana pekerjaanmu? Tidak mau pindah ke distrik Utara?" ujar Sir Miller.
"Pffftt ...! Ayolah, Chief! Distrik Utara maupun Barat, sama melelahkannya," sahut Arthur, sambil tertawa tertahan.
"Umm ... Kamu kelihatannya seperti sudah saling mengenal lama dengan Alexa," kata Sir Miller.
"Saya bertemu dengannya di tempat ini, di awal tahun, dan sejak saat itu, saya mengunjunginya kalau tugas saya tidak terlalu padat," sahut Arthur.
Sir Miller tampak manggut-manggut, seolah-olah mengerti maksud Arthur, lalu tampak menatap Alexa yang sedang memandang lurus ke depannya, dengan tatapan kosong.
"Walaupun Alexa tidak berkata apa-apa, namun saya tahu, kalau meski hanya sedikit, dia pasti menyalahkan saya, karena saya yang tidak bisa melakukan apa-apa untuknya," kata Sir Miller tiba-tiba.
"Ayolah, Chief! Anda tahu dengan benar, kalau Alexa bukanlah orang yang seperti itu. Dia pasti mengerti akan situasi anda," bantah Steven.
"Kenapa anda bisa berkata begitu, Chief?" tanya Arthur.
Sir Miller menatap Arthur.
"Saya telah berjanji kepadanya, kalau saya akan melindunginya. Namun saya tidak bisa menepatinya....
...Bahkan saya tidak bisa berbuat banyak, saat kejadian demi kejadian buruk, berlaku kepadanya....
... Kalau saya berganti posisi dengannya, tentu saya juga akan membenci orang yang hanya bisa berjanji kosong," jawab Sir Miller yang terlihat sedih.