It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 26



31 Desember 1992.


17:55.


Alexa sudah berpakaian rapi, begitu juga semua anggota keluarga Miller yang tampaknya sudah siap untuk ke pesta.


Madam Miller tampak tersenyum lebar, dan bahkan hampir tertawa saat melihat penampilan Alexa dari ujung rambut hingga ke kakinya.


Berbeda reaksinya dari Madam Miller, raut wajah Sir Miller menampakkan rasa herannya saat dia melihat Alexa.


Dengan mata sedikit menyipit, alis tebal Sir Miller tampak merapat satu sama lain, hingga membuat lipatan yang dalam di keningnya.


Namun, baik Sir maupun Madam Miller sama-sama tidak berkomentar apa-apa, dan hanya Sir Miller saja yang berkali-kali tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, dan mendengus pelan.


"Sister! You look great! Sister memakai pakaian yang mirip denganku."


Lain lagi dengan George, anak dari Sir dan Madam Miller itu, tidak segan untuk berkomentar, dengan raut wajah senang, dan nada suara yang bersemangat, sambil memegang salah satu tangan Alexa.


"Thank you, George! You look great, too!" Alexa balas memuji George, anak kecil yang lincah itu.


"Sir! Biar saya saja yang mengemudi! Cukup Sir beritahu alamatnya saja," lanjut Alexa, sambil mengulurkan tangannya, untuk meminta kunci mobil dari Sir Miller.


"Kamu akan terlihat seperti supir pribadi," ujar Sir Miller tampak kurang setuju dengan permintaan Alexa.


"Tidak apa-apa, Sir! Itu bukan masalah besar, tidak perlu anda pikirkan," sahut Alexa bersikeras.


Sir Miller tampaknya tidak mau berdebat dengan Alexa, hingga akhirnya dia memberikan kunci mobilnya kepada Alexa, sebelum mereka semua keluar dari rumah.


Dengan Alexa yang mengemudi, mereka semua pergi ke sebuah aula gedung hotel yang berada di tengah kota, yang menjadi tempat pesta perayaan pergantian tahun berlangsung.


***


18:37.


Pesta gabungan para petugas polisi dari beberapa distrik itu, dilangsungkan di lantai sembilan di dalam sebuah hotel.


Setibanya mereka di sana, para tamu terlihat sudah banyak yang hadir.


Selain postur tubuh yang mencolok dari rata-rata dari para tamu itu, karena semua dari mereka memakai pakaian formal non seragam, kelihatannya tidak akan ada yang sadar kalau mereka adalah petugas polisi dan keluarganya.


Alexa sempat kebingungan untuk membaur, karena sebagian besar tidak ada yang dikenalinya.


Untuk beberapa waktu lamanya, Alexa sempat merasa menyesal untuk ikut ke pesta itu, karena hampir ke arah mana saja dia melihat di tempat seluas itu, Alexa merasa tidak ada yang bisa cocok menjadi lawan bicaranya.


Hingga akhirnya, Alexa malah membantu mengawasi anak-anak dari para keluarga polisi yang bermain bersama George.


Sampai tepukan di bahunya membuat Alexa berbalik, dan melihat Igor dan Steven yang berdiri di belakangnya.


"Hai, Alexa!" sapa Steven.


"Hai, Alexa! Lama tidak bertemu!" sapa Igor.


"Hai!" Alexa membalas sapaan mereka berdua sambil tersenyum.


Baik Igor dan Steven, tampak memperhatikan Alexa dari ujung rambut sampai ke kaki.


"Pffftt ...! Benar dugaanku!" ujar Steven.


Alexa mengangkat kedua alisnya, karena tidak mengerti arah pembicaraan Steven.


"Aku sudah menduga, kalau kamu sampai ikut bersama Sir Miller ke pesta ini, kamu pasti akan berpenampilan seperti laki-laki," lanjut Steven, menjelaskan.


"Ooh ... Memangnya kenapa? Apa aku terlihat aneh?" tanya Alexa.


"Tidak. Tentu saja tidak. Kamu terlihat tampan," sahut Steven. "Kamu bahkan lebih tampan dari Igor." Lanjutnya sambil tersenyum lebar, dan tampak hampir tertawa.


"Apa kamu mau kita bicara di luar?" tanya Igor, sambil menatap Alexa lekat-lekat.


Dugaan Alexa, Igor tampaknya ingin membicarakan sesuatu yang cukup penting.


Alexa kemudian melihat ke arah anak-anak yang bermain sebentar, dan rasanya tidak masalah kalau Alexa meninggalkan George dan anak-anak lain bermain di situ, karena masih ada orang dewasa lain yang terlihat mengawasi anak-anak itu.


Alexa kembali melihat ke arah Igor dan Steven, lalu menganggukkan kepalanya. "Iya."


Igor berjalan lebih dulu mengarah ke balkon, dan Steven bersama Alexa menyusulnya dari belakang.


Setelah mendengar perkataan Igor yang akan membahas tentang kecelakaannya waktu itu, seketika itu juga Alexa merasa tidak nyaman.


Perasaan sedih, bercampur rasa takut saat mengingat kejadian buruk itu, sanggup membuat lutut Alexa terasa lemas.


Alexa mengeluarkan bungkusan rokok dari saku jasnya lalu menyalakannya sebatang, berniat untuk menenangkan dirinya dengan kandungan nikotin dalam benda adiktif itu.


"Kamu merokok sekarang?" tanya Steven tampak heran.


Alexa hanya mengangguk pelan.


"Bisa aku minta sebatang?" tanya Steven.


Alexa kemudian menyodorkan bungkusan rokok, yang belum sempat di simpannya kembali ke dalam saku jasnya, kepada Steven.


"Apa sudah ada perkembangan?" tanya Alexa sambil menatap Igor.


"Dua supir truk kontainer itu sudah tertangkap. Namun menurut pengakuan mereka, saat itu mereka sedang mabuk....


... Dan karena merasa panik, mereka berdua berusaha menutup-nutupi kecelakaan yang mereka timbulkan, dengan membawa mobil yang kamu kendarai dan membuangnya ke jurang," jawab Igor.


"Sir Miller tidak serta merta mempercayai begitu saja pengakuan mereka. Jadi, Sir Miller masih berupaya untuk mendapatkan pengakuan tambahan," lanjut Igor.


"Kenapa Sir Miller tidak mengatakan apa-apa kepadaku?" tanya Alexa.


"Seharusnya aku juga tidak membicarakan hal ini padamu, karena Sir Miller mewanti-wanti agar kami tidak memberitahumu, supaya tidak menjadi beban pikiranmu....


...Namun bagiku, kamu harus tahu, agar kamu tidak lagi mencurigai anggota polisi secara serampangan, apalagi kalau kamu sampai mencurigai Sir Miller....


...Asal kamu tahu saja, Sir Miller masih berusaha untuk mengungkap semua kebenaran dari kecelakaan itu....


...Bahkan demi mengungkapkan semua kebenaran secara gamblang, Sir Miller menahan informasi tentang penangkapan kedua supir truk itu, agar tidak disebarluaskan di media....


...Dengan begitu, kedua supir itu masih bisa di interogasi dalam waktu lama, tanpa menarik perhatian khalayak ramai....


... Karena Sir Miller mau mereka mengakui, kalau memang ada sesuatu yang lebih dari sekedar pengakuan 'mabuk' itu saja," kata Igor menjelaskan.


"Jadi maksudmu membicarakan ini, agar aku bisa lebih percaya kepada Sir Miller?" tanya Alexa.


"Iya," jawab Igor.


"Juga agar kamu tahu, kalau Sir Miller tampaknya tidak akan menyerah begitu saja atas kasus kecelakaan itu. Dia benar-benar berniat membantumu....


... Jadi, apapun hasilnya nanti, sebaiknya kamu jangan menyalahkan Sir Miller," lanjut Igor.


"Umm ... Sebenarnya, walaupun kamu tidak berusaha meyakinkan aku tentang niat baik Sir Miller, saya sekarang ini sudah cukup merasa percaya kepadanya....


... Tapi, aku tetap berterima kasih, karena kalian sudah mau memberitahuku informasi tentang perkembangan kasus itu," ujar Alexa.


"Tidak masalah. Kamu tidak perlu terlalu memikirkan hal itu," sahut Igor, sambil menepuk-nepuk bahu Alexa.


"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Steven.


"Bagus," jawab Alexa. "Gajinya juga sesuai."


"Apa kamu tidak mau mencari pekerjaan lain selain menjadi supir?" tanya Steven.


"Untuk sementara ini, rasanya pekerjaan itu sudah cukup saja. Karena, aku tidak sedang mengejar target apa-apa. Asalkan aku bisa bekerja, dan hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari," jawab Alexa.


"Kamu memang beda! Masih sangat muda, lalu mau bekerja keras," ujar Steven kemudian merangkul pundak Alexa dan mengguncangnya.


"Jarang-jarang aku bisa bertemu wanita sepertimu. Apa kamu mau jadi istriku?" lanjut Steven enteng.


Igor tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, sedangkan Alexa hanya tertawa kecil.


"Membiayai diri sendiri saja sudah kesulitan, sok-sokan mau beristri," ujar Igor.


"Jangan pernah kamu mau jadi istrinya, nanti kamu akan terus bekerja keras," lanjut Igor, mewanti-wanti Alexa.


"Hey! Jangan meremehkanku! Sementara ini aku belum ada istri, wajar saja kalau aku masih boros. Tapi, gajiku akan diatur oleh istriku nanti, tentu tidak ada lagi yang terbuang sia-sia," sahut Steven.


"Benar kan, Alexa?" tanya Steven seolah-olah sedang mencari pembenaran.


"Pffftt ...! Mungkin saja," jawab Alexa asal-asalan, sambil tertawa tertahan.