It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 9



16 Januari 2000.


07:32.


"Tap! Tap! Tap!"


"Hufft! ... Hufft! ... Hufft!"


Sambil tetap mengatur nafasnya, Arthur berlari di jalur khusus di tengah taman kota.


Arthur sudah memulai olahraganya sejak jam 06:00.


Catatan jarak tempuh dan waktu yang dihabiskan Arthur untuk berlari, yang tampil di ponselnya, sudah cukup panjang dan banyak.


Namun walaupun demikian, keringat hampir tidak mau keluar dari pori-pori kulitnya yang terbungkus jaket olahraga.


Bagian kaki yang hanya memakai celana pendek, dan sepatu olahraga dipadankan dengan kaus kaki sebetis, justru terasa dingin.


Mungkin karena suhu saat itu masih sangat rendah, hampir tidak ada orang yang bisa terlihat di tempat itu.


Bahkan, di jalan raya yang masih bisa di jangkau penglihatan Arthur, hanya sesekali terlihat kendaraan bermotor melintas di sana.


Sudah hampir dua minggu, Arthur tidak menginjakkan kakinya di sana untuk sekedar berolahraga, dan Arthur merasa tubuhnya kurang nyaman karena selama ini terlalu banyak duduk.


Itu sebabnya, Arthur memilih untuk berolahraga walau hanya berlari sebentar, sebelum dia bersiap-siap ke kantor.


"Kriiing! ... Kriiing! ... Kriiing!"


Suara ponselnya yang berbunyi, membuat langkah Arthur menjadi pelan, hingga akhirnya berhenti bergerak.


"Ya, halo!"


"Arthur! Apa kamu masih tidur?" tanya Josh dari seberang.


"Pertanyaan macam apa itu?" sahut Arthur asal. "Bagaimana orang yang sedang tidur, bisa menerima panggilan telepon?"


"Aku di depan apartemen mu! Sudah berkali-kali aku memencet bel, tapi kamu tidak keluar untuk membuka pintu," ujar Josh ketus.


"Apa yang kamu harapkan? Tentu saja aku tidak bisa membuka pintu. Aku sekarang tidak sedang berada di sana," kata Arthur.


"Lalu di mana kamu sekarang?" tanya Josh.


"Kamu seperti istri yang cerewet," ujar Arthur. "Tenang saja, aku tidak sedang berselingkuh. Aku hanya berlari di taman."


"Hufftt! ... Kamu benar-benar membuatku kesal." sahut Josh dari seberang. "Cepat kamu kembali! Aku menunggu!"


"Ada apa?"


"Pulang saja dulu! Atau aku harus menjemputmu di sana?"


"Aah! Brengsek!" sahut Arthur kesal, lalu memutus sambungan telepon dari Josh.


***


07:48.


Dari penampilannya yang bisa dinilai Arthur, Josh tampaknya sudah siap untuk bekerja, dan kali ini Josh terlihat memakai persiapan ekstra.


"Ada apa?"


Arthur membuka pintu apartemennya, dengan kunci yang dipegangnya.


"Kali ini mungkin tidak akan salah lagi. Paling lambat jam sepuluh nanti, kemungkinan besar akan ada transaksi," jawab Josh.


"Lalu kenapa kamu perlu datang ke sini? Bukankah lebih baik, kalau kamu langsung pergi ke tempat itu?"


Arthur tidak menunggu tanggapan dari Josh lagi, dan segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hingga Arthur selesai mandi, Josh tampak masih dengan sabar menunggu Arthur di tempat itu.


"Vest—rompi anti peluru—mu mana?" tanya Josh tiba-tiba, ketika Arthur yang hanya memakai kemeja dan sabuk senjata api di bagian dada kanannya, lalu melapisinya dengan jaket kulit.


Arthur tidak segera menjawab pertanyaan Josh, karena masih sibuk mempersiapkan Desert Eagle miliknya, dengan menambahkan peluru hingga penuh, dan cadangan peluru yang di masukkan ke dalam sabuk di dadanya.


"Vest milikku ada di kantor. Nanti saja singgah di sana sebentar untuk mengambilnya," jawab Arthur.


"Ayo kita pergi!" ajak Arthur sambil berjalan kearah luar dari ruangan apartemennya, dan segera mengunci pintunya kembali, setelah Josh ikut keluar dari dalam sana.


"Kita pakai mobilku, atau pakai mobilmu?" tanya Arthur yang menghentikan langkahnya, setelah menghampiri mobil pribadinya yang terparkir di depan gedung apartemen.


Josh kemudian terlihat berjalan menjauh dari mobil Arthur, dan mengarah ke mobilnya yang terparkir tidak terlalu jauh dari mobil Arthur.


Arthur sempat terpikir untuk mengambil satu lagi senjata api miliknya yang ada di dalam, dashboard mobilnya, namun dia mengurungkan niatnya, dan akhirnya segera ikut menyusul Josh.


***


09:47.


...


"Click! Bam! ... Click! Bam!"


Suara tembakan yang bersahutan, adalah akibat dari kekacauan yang terjadi di depan bengkel yang diawasi Arthur, Josh dan beberapa rekan satu tim yang lain.


Dua magazen sudah habis terpakai oleh Arthur, dan sekarang hanya tersisa satu magazen terakhir yang masih ada di sabuk dada Arthur.


"Josh! Bertahanlah! Bantuan sudah di jalan!"


Arthur berusaha menenangkan rekan kerja yang juga menjadi sahabatnya itu, sambil berusaha melawan dari penyelundup narkotika yang menjadi penyerang mereka.


Darah mengucur deras dari bagian belakang badan Josh yang sudah berselonjor, sambil bersandar di salah satu peti kemas tua.


Josh tertembak peluru kaliber 50 MBG di bagian perutnya, menembus rompi anti peluru yang dia pakai, dan menembus keluar hingga ke bagian belakangnya.


Josh terlihat lemas dengan wajah pucat pasi, karena banyak kehilangan darah.


Arthur tidak sempat mengambil senapan berkaliber besar, sehingga dia juga kewalahan menghadapi penembak runduk yang dipersiapkan oleh para penyelundup narkotika.


Arthur hanya bisa menjatuhkan lawan yang berada dalam jarak dekat, yang berusaha menyerang Arthur dan Josh, di antara tumpukan peti kemas di tempat itu.


"Baaam!"


Sekali lagi terdengar suara tembakan senapan runduk yang tidak dipasangkan suppressor, dari bagian atap bengkel.


Bahu kiri Arthur terasa sangat nyeri, hingga membuatnya tidak mampu untuk memegang senjatanya lagi, dan akhirnya Desert Eagle miliknya terjatuh ke tanah.


"F*ck!" Arthur memaki, saat menyadari kalau dia terkena peluru dari senapan runduk lawan, yang menghantam telak di bagian bahunya.


Arthur kemudian melihat ke arah Josh yang tampaknya sudah tidak sadarkan diri.


"Brengsek! Di mana mereka—tim bantuan—sekarang? Kenapa mereka seperti siput?"


Arthur berbicara sendiri dengan rasa kesal, bercampur cemas karena kondisi Josh yang tampak mengkhawatirkan.


Arthur tidak terlalu memperdulikan rasa sakit di bahunya, dan berusaha menjauh dari tempat itu untuk mencari bantuan, agar bisa segera menyelamatkan Josh.


Tapi, itu bukanlah hal yang mudah.


Untuk bergerak lima meter saja dari tempat awalnya, Arthur sudah beberapa kali hampir terkena tembakan.


Meskipun kondisi Josh dan dirinya sekarang ini tidaklah baik, namun Arthur masih bisa bersyukur, karena penembak runduk yang menyerang Arthur dan Josh, kelihatannya bukanlah seorang profesional, sehingga kepala Josh dan Arthur tidak diledakkannya.


"Bam! Bam! Bam!"


Di bagian lain dari area bengkel itu, masih terdengar suara tembakan bersahut-sahutan, dan bunyi kenalpot dari beberapa mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Tampaknya, beberapa anggota dari para penyelundup narkotika, ada yang berhasil melarikan diri.


"Baam! ... Ting! ... Baam! ... Ting!"


Suara ujung tajam peluru yang mengarah kepada Arthur namun tidak mengenainya, membentur peti kemas logam hingga menghasilkan bunyi berdenting.


"Baam!"


"F*ck! Son of a b*tch!" Kembali Arthur mengeluarkan kata-kata makian dari mulutnya.


Memang sial!


Arthur terkena tembakan lagi di bagian pinggangnya, dan kelihatannya luka hasil dari tembakan itu cukup buruk, hingga membuat Arthur tidak bisa berdiri apalagi berlari.


Untung saja, sebelum Arthur jatuh pingsan, Arthur sempat melihat kedatangan beberapa anggota kepolisian, yang memakai kelengkapan anti t*r*ris yang menjadi bala bantuan, tampak menghampirinya.


"Josh! Josh partnerku, kritis di sebelah sana!"


Arthur masih berusaha menunjukkan arah di mana Josh berada, sebelum Arthur akhirnya tidak sadarkan diri.