
14 Januari 2000.
08:29.
Setelah sepanjang minggu Arthur yang hampir tidak ada istirahat yang cukup, di kantor selain beberapa tugas yang belum selesai dikerjakan Arthur dan Josh begitu juga dengan rekan satu timnya, pagi ini, Arthur kembali diperhadapkan dengan tugas baru.
Ruang kerja Chief, di kantor polisi.
"Apa tidak bisa diserahkan kepada tim yang lain? Kasus yang lain di tim kami masih belum selesai."
"Arthur! Kamu pernah menyelesaikan tugas seperti ini hanya bersama Josh, dengan waktu yang cukup singkat. Ini sama mudahnya dengan tugasmu waktu itu....
... Aku tidak mau membuang waktuku untuk mendapat hasil dari tim yang lain, yang kurang berpengalaman."
Sambil menghisap rokok pipa, Chief yang adalah Atasan Arthur tetap bersikeras agar Arthur mengambil tugas itu.
Arthur menatap berkas tugas di tangannya, dan membaca beberapa paragraf yang tertulis di sana.
Sebenarnya, kasus pembunuhan dengan gaya yang unik, yang mungkin bagi orang lain adalah hal yang penuh teka-teki seperti itu, namun Arthur sudah berkali-kali berhasil menyelesaikan kasus serupa, hanya dalam hitungan jam.
Karena Arthur yang selalu sukses mengerjakan beberapa kasus yang demikian adanya, Arthur bahkan sempat disebut-sebut sebagai 'Sherlock Holmes' di tempatnya bekerja itu.
Kasus yang dianggap Arthur sebagai kasus yang mudah, akan tetapi karena Arthur hari ini ingin bertemu dengan Alexa, membuat Arthur merasa enggan untuk menangani kasus di tangannya itu.
"Kamu bisa menunda kasus yang sedang kalian yang lain. Bahkan, aku memberikanmu izin tiga jam untuk beristirahat, sebelum mengerjakannya," ujar Chief, tetap tidak mau mengubah pikirannya.
Arthur mengerutkan alisnya sambil menatap Chief lekat-lekat.
Sepenting apa kasus pembunuhan itu bagi Chief? Hingga bermurah hati, untuk membiarkan Arthur beristirahat sejenak, pikir Arthur.
"Jangan menatapku seperti itu! Kamu bisa membuat lubang di wajahku dengan tatapanmu yang tajam," ujar Chief, lalu menghisap asap dari tembakau yang terbakar di pipanya.
Arthur menggulung sedikit map berisi lembaran kertas berkas, lalu menepuk-nepuk salah satu ujungnya, ke atas pahanya.
"Aku ambil jam istirahatku sekarang!" kata Arthur, sebelum akhirnya Arthur berlalu pergi dari ruangan Chief, dengan tetap membawa berkas di tangannya, tanpa berkata apa-apa lagi.
Ketika Arthur berjalan melewati ruang kerjanya, dan tidak masuk ke dalam ruangan itu, di saat itu juga, Josh yang tampaknya melihat Arthur, kemudian setengah berlari mengejar Arthur.
"Arthur! Tunggu sebentar!" seru Josh menahan langkah Arthur, hingga membuat Arthur berhenti berjalan, dan berbalik melihatnya.
"Ada apa hingga Chief memanggilmu ke ruangannya pagi-pagi seperti ini? Apa dia mendesak agar kasus kita cepat diselesaikan?" tanya Josh tampak panik.
"Tidak. Dia justru memintaku untuk mengerjakan tugas lain...." Arthur memperlihatkan berkas yang masih dipegangnya.
"... Entah apa penyebabnya, hingga Chief memintaku menyelesaikan kasus ini lebih dulu. Bahkan memberiku izin untuk beristirahat selama tiga jam," lanjut Arthur.
Josh tampak ikut penasaran, hingga mengambil berkas kasus dari tangan Arthur, dan melihatnya sebentar.
Sembari membaca berkas yang sekarang dipegangnya, Josh tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Wajar saja kalau Chief ingin kasus ini cepat selesai. Apa kamu tidak lihat? Kasus ini dari kantor distrik yang lain, dan didorong ke kantor ini," ujar Josh.
Josh menunjuk di lembaran kertas yang paling terakhir, dan hampir menjadi penutup isi catatan, agar Arthur melihat ke situ.
Arthur tadi memang tidak memperhatikan dengan baik, catatan tambahan di lembaran berkas itu.
"Seperti biasa, Chief pasti ingin namanya terangkat di kantor pusat," lanjut Josh.
"Aku pergi dulu! Semakin lama aku di sini, semakin berkurang jam istirahatku. Dan aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatanku," kata Arthur, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Josh yang hanya terdiam di sana.
***
09:10.
Dengan menggunakan mobil pribadinya, Arthur mendatangi rumah sakit tempat Alexa dirawat—ditahan, menurut Arthur—lalu bergegas masuk, agar bisa cepat bertemu dengan Alexa.
Seperti pertemuan sebelumnya, Arthur dan Alexa duduk di bangku taman, dan memulai percakapan mereka di tempat itu, sambil Alexa menghisap rokok yang dibawa oleh Arthur.
Kepulan asap yang keluar dari mulut Alexa berhembus ke udara, yang masih bersuhu cukup dingin.
"Apa kamu masih mau mendengar cerita tentangku?" tanya Alexa.
"Tentu saja. Itu tujuan kedatanganku menemuimu," jawab Arthur sedikit berbohong.
Ya, Arthur memang berbohong kalau hanya ingin mendengarkan cerita Alexa, karena alasan terbesarnya hingga menemui Alexa, yaitu, dia ingin menghabiskan waktu bersama wanita itu.
Dan dengan mendengarkan cerita Alexa, juga menjadi tambahan bagi Arthur, agar bisa lebih mengenal wanita itu.
"Umm...." Alexa lalu bergumam.
"Setiap kali ketika aku diperiksa oleh dokter, aku selalu membuat rekaman tentang apa yang ada di ingatanku, sebelum aku dibawa ke tempat ini," ujar Alexa.
Menurut Arthur, perkataan Alexa terdengar seolah-olah Alexa saat ini sedang mendorong Arthur untuk menjauh.
Alexa tampaknya ingin Arthur mendengarkan ceritanya dari rekaman saja, dan mungkin Alexa enggan untuk berbincang-bincang dengan Arthur.
"Aku lebih suka mendengarkan kamu bercerita langsung kepadaku, agar aku bisa melihat ekspresimu. Jadi aku bisa lebih mengerti bagaimana perasaanmu," timpal Arthur buru-buru tanpa ragu, dan tanpa berpikir panjang lebih dulu.
"Pffftt! ... Kamu jangan membuatku tertawa. Untuk apa kamu perlu tahu bagaimana perasaanku?" tanya Alexa dengan nada sinis.
Tampaknya, Arthur memang sudah salah bicara.
Perkataan Arthur tadi, tentu saja menampakan dengan jelas, kalau Arthur memiliki perasaan lebih kepada wanita di depannya itu.
Dan Arthur jadi terlihat seperti seorang 'Weirdo'.
Arthur merasa sangat malu, tapi karena sudah terlanjur basah, Arthur tidak mau kalau Alexa tidak ingin bertemu dengannya lagi.
"Kamu sudah berjanji, kalau kamu akan bercerita kepadaku, asalkan aku menepati janjiku untuk menemuimu lagi," kata Arthur memaksa.
Alexa tampak terdiam untuk beberapa saat, dan kelihatannya dia sedang memikirkan sesuatu.
"Aku hanya ingin mendengarkan cerita yang berbeda, dari cerita teman-temanku yang lain, untuk menghilangkan kejenuhan di sela-sela waktuku bekerja," lanjut Arthur.
Arthur berusaha meyakinkan Alexa, agar tetap bisa terus bersama wanita itu, tetap bisa melihatnya, di setiap kesempatan bagi Arthur yang datang ke rumah sakit itu, meskipun hanya sekedar berbincang-bincang saja.
"Apa kamu tidak berpikir kalau ceritaku itu hanyalah hal yang membosankan? Cerita tentangku hanyalah hal yang remeh, dan tidak ada yang menarik," kata Alexa datar.
"Umm ... Mungkin aku justru tertarik untuk mendengarkan sesuatu yang ringan. Karena pekerjaan yang aku jalani, terlalu berat dan membebani pikiranku....
... Dengan pembahasan yang mungkin kamu anggap remeh, justru bisa membantuku untuk melupakan sejenak, semua beban pikiranku tentang pekerjaan," sahut Arthur tidak mau kalah.
"Umm ... Begitu, ya?!" ujar Alexa. "Kalau begitu, terserah kamu saja."