It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 7



14 Januari 2000.


14:17.


Arthur langsung bergegas pergi ke tempat kejadian perkara pembunuhan, yang berkasnya diterimanya pagi tadi, setelah dia selesai menghabiskan jam istirahat yang diberikan Chief, dengan menemui Alexa di rumah sakit.


"Kriiing! ... Kriiing!"


Ponsel Arthur berbunyi, sesaat setelah memarkirkan mobilnya di pelataran parkir sebuah rumah mewah di daerah pemukiman elit.


"Ya, halo!" sapa Arthur.


"Halo! Arthur! Di mana kamu sekarang?"


"Aku baru saja tiba di TKP. Apa kamu sudah di dalam?"


"Iya. Kalau begitu aku akan menyusulmu di pintu depan."


Arthur lantas memutus sambungan telepon itu, dan memasukkan ponselnya kembali ke saku jaketnya.


Setelah keluar dari mobilnya, Arthur melayangkan pandangannya ke sekeliling di tempat itu.


Beberapa petugas polisi yang berjaga di pintu gerbang pagar tadi, dan bertemu dengannya ketika Arthur akan masuk ke halaman rumah itu, bukan berasal dari distrik Arthur.


Begitu juga dua orang polisi yang tampak berjaga di depan pintu rumah mewah, yang menjadi tempat kejadian perkara.


Arthur berjalan mengarah langsung ke pintu depan rumah, di mana terlihat Josh tampak berdiri di sana, menunggu kedatangannya.


"Untung saja mereka belum membersihkan tempat ini!" ujar Josh dengan nada kecewa.


Arthur mengerti kekesalan yang di tampakkan Josh di wajahnya.


Meskipun ada kejadian yang mengakibatkan kehilangan nyawa dari seseorang, tapi kalau terjadi di lingkungan orang kaya, garis polisi pun tidak akan terpasang di sana.


Sering kali sang pemilik rumah akan segera merapikan rumahnya kembali seperti semula, hingga menghilangkan banyak jejak yang mungkin bisa menjadi petunjuk.


Entah apa yang mereka pikirkan.


Demi menjaga image, mereka tidak memperdulikan bagaimana dengan cara kerja penyidik, agar supaya bisa bekerja secara maksimal.


Tapi, mungkin karena kali ini korbannya adalah adik dari sang pemilik rumah, hingga si pemilik rumah, masih mau menahan keadaan tempat itu seperti saat dugaan pembunuhan itu terjadi.


Arthur memperhatikan satu persatu bagian dari ruang kerja, yang menjadi lokasi kematian anggota keluarga di rumah itu.


Gambar menggunakan kapur yang membentuk tubuh manusia yang adalah korbannya di lantai, masih terlihat sangat jelas, walaupun jenazahnya sudah tidak berada di situ lagi.


Bekas darah, di lantai dan beberapa bagian di ruangan itu memang terlihat cukup aneh.


Menurut Arthur, bekas darah itu bukanlah ceceran darah dari luka luar, melainkan adalah muntahan darah dari mulut korban.


Sambil memegang berkas kasus di tangannya, Arthur membandingkan rekaman gambar berupa foto yang di ambil petugas penyidik sebelumnya, dengan keadaan asli di tempat itu.


Arthur mengambil bolpoin dari kantong Josh, dan mendorong beberapa pecahan kaca di dekat jendela.


"Ini!" Josh menyodorkan sepasang sarung tangan karet untuk di pakai Arthur, agar bebas memeriksa tempat itu.


"Hmmm ...!" Arthur bergumam sambil memakai sarung tangannya.


"Ada apa?" tanya Josh penasaran.


"Kamu lihat ini?" Arthur menunjuk ke bagian jendela yang kacanya pecah berhamburan, dan hanya tersisa sebagian kecil saja yang masih menempel di kusen.


"Ini bukan dipecahkan paksa dari bagian luar, melainkan dari dalam. Meskipun pecahannya tampak seolah-olah di rusak dari bagian luar ruangan ini," ujar Arthur mulai menganalisa keadaan.


"Ini bukan kasus pembunuhan, melainkan hanya bunuh diri," lanjut Arthur, lalu berbalik dan berjalan berniat pergi dari ruangan itu.


"Arthur apa kamu yakin?" tanya Josh.


"Iya."


"Tapi, hasil autopsi menunjukkan kalau korban mengalami kekerasan fisik!"


"..." Arthur tidak mau menanggapi perkataan Josh, dan tetap terdiam sambil berjalan pelan, hingga hampir melewati pintu ruangan itu.


"Arthur!"


Josh kemudian tampak terburu-buru menghampiri Arthur.


"..."


"Arthur!"


"Apa kamu yakin tidak ada yang lain?"


Hingga akhirnya Arthur melewati pintu ruang kerja itu, Josh masih memanggil-manggil namanya dan bertanya berkali-kali dengan pertanyaan yang sama.


"Josh ...! Kamu tidak mungkin mau keluarganya mendengar kalau kematian saudaranya, karena sesuatu hal yang membuatnya depresi, bukan?"


Josh tampak tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya, setelah mendengar pernyataan Arthur.


Mulut Josh tampak hampir terbuka, dengan matanya yang melebar dan alis tebalnya yang terangkat.


Tapi, Arthur memang lebih suka bicara blak-blakan, meskipun Josh mungkin akan merasa sedikit tersinggung karena perkataan Arthur.


Arthur tahu dengan baik, bagaimana berurusan dengan anggota keluarga orang kaya, yang tentu saja tidak akan mau kalau ada anggota keluarga sedarah, yang disebut sebagai orang sakit jiwa.


Mereka lebih suka, kalau kematian aneh yang terjadi di dalam keluarga mereka, karena dibunuh orang lain.


Karena dengan begitu, nama keluarga mereka akan semakin terangkat, dengan gosip dan isu yang menyebar dan berkembang, bahwa kesuksesan keluarga merekalah, hingga membuat orang menjadi iri, dan melakukan pembunuhan anggota keluarga mereka.


Sedangkan, kalau anggota keluarga dari orang kaya, sakit jiwa atau mati karena bunuh diri, justru akan jadi sebaliknya.


Nama keluarga orang kaya itu, akan jadi bahan cemoohan, isu dan gosip merendahkan, yang membuat keluarga itu kehilangan harga diri.


Aneh ... Memang aneh.


Tapi, setahu Arthur memang begitu adanya.


Untuk kasus kali ini cukup menarik perhatian Arthur, bahkan Arthur menghargai tindakan keluarga korban.


Karena meskipun mereka tidak mau memasang garis polisi di rumahnya, namun semua bekas kejadian, masih mereka pertahankan sebagaimana adanya.


Arthur menduga kalau keluarga kaya ini, seolah-olah lebih mementingkan korban, daripada nama baik mereka.


"Kamu bantu aku membuat laporan, kalau kematian korban murni kecelakaan sendiri....


... Hmm ... Mungkin kamu bisa menuliskan, kalau korban meninggal karena mabuk atau sakit yang korban sembunyikan dari keluarganya," lanjut Arthur.


"Tapi—"


"Terserah kamu, kalau kamu mau mencatat kemungkinan kondisi mental korban," ujar Arthur menyela perkataan Josh.


"... Apa kamu yakin?" sambung Josh.


"Kalau korban memang dibunuh, apa kamu pikir dengan TKP yang rapi seperti ini, penyidik yang lain tidak akan menemukan petunjuknya?


... Penyidik sebelum kita, pasti sudah tahu apa yang terjadi. Namun mereka ragu untuk membuat laporan," jawab Arthur.


Josh tampak kecewa, namun akhirnya ikut berjalan keluar dari ruangan itu, bahkan sampai ke luar dari rumah itu bersama Arthur.


"Menurutmu, apa laporan yang harus aku tulis?" tanya Josh ketika dia sudah berdiri bersama Arthur, di samping mobil Arthur yang terparkir di halaman.


"Bukannya aku sudah bilang tadi, kalau kau bisa menuliskan bahwa korban dalam kondisi kesehatan yang tidak stabil?!"


Sama seperti Josh, Arthur juga tidak tahu apa laporan yang tepat bagi kasus itu, agar tidak menyinggung siapa-siapa.


"Chief kelihatannya tidak akan senang dengan hasil penyelidikan ini." Josh berceletuk, sambil menggaruk kepalanya dengan salah satu tangannya.


"Mau bagaimana lagi? Apa kita akan menciptakan 'hantu', hanya demi menyenangkan Chief dan keluarga korban ...?


... Aku baru ingat! Kamu bisa konsultasi dengan Chief, untuk membuat laporan penyelidikan ini!" sahut Arthur datar.


"Kamu sedang mengejekku?"


Josh tampak sangat terganggu dengan perkataan Arthur, namun Arthur tidak terlalu memperdulikannya.


Arthur bahkan hanya tersenyum dan hampir tertawa, sebelum dia akhirnya memasuki mobilnya.


"Aku akan menunggumu di kantor!"


Arthur kemudian memacu mobilnya pergi dari tempat itu menuju ke kantor polisi, dan meninggalkan Josh yang masih berdiri terdiam dengan raut wajah kesal.