It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 10



Ketika Arthur membuka matanya dan melihat kemana saja arah yang bisa dijangkau oleh penglihatannya, Arthur menyadari kalau dia sedang berada di rumah sakit.


"Kamu sudah sadar...."


Arthur menggerakkan kepalanya sedikit, dan menoleh ke arah datangnya suara, dan melihat Josh yang sedang duduk di kursi roda, berada di dekat ranjangnya.


"Thanks God! Kamu baik-baik saja!" ucap Arthur.


"Pffftt ...! Aku tidak tahu kalau kamu orangnya religius. Tapi, bukan aku yang harus kamu syukuri, melainkan dirimu sendiri yang berhasil melewati masa kritis," ujar Josh.


Arthur sama sekali tidak memiliki petunjuk, akan apa yang digambarkan raut wajah Josh saat ini.


Entah Josh sedang bersedih, atau merasa lega, atau masih khawatir, Arthur tidak bisa menebaknya.


"Jam berapa sekarang?" tanya Arthur, memecah tatapan Josh yang tampak seperti sedang melamun.


Josh kemudian melihat ponsel yang dia letakkan di atas pangkuannya, lalu berkata,


"19:55."


"Kalau begitu, cukup lama aku pingsan," ujar Arthur. "Seingatku tadi, belum sampai jam sebelas siang kita di bengkel," lanjutnya.


"Arthur ...! Sudah lebih dari tiga hari yang berlalu, sejak kejadian itu," kata Josh pelan.


"Benarkah?" tanya Arthur heran. "Sudah tanggal berapa sekarang?"


"Dua puluh ... Sekarang sudah tanggal dua puluh....


... Kamu hampir meregang nyawa, dan aku tidak membantu sama sekali. Maafkan aku," jawab Josh perlahan, dan tampak penuh penyesalan.


"Hey! Apa sekarang kamu akan menangis? Aku belum mati, dan tidak akan semudah itu bisa mati. Masih banyak hal yang belum aku selesaikan di dunia ini," ujar Arthur sambil bercanda.


"Lalu, apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri?" tanya Arthur, mengalihkan pembicaraan antara hidup dan mati, yang dianggapnya bukanlah pembahasan yang menyenangkan.


"Target utama berhasil meloloskan diri. Hanya beberapa komplotannya saja yang berhasil ditangkap....


... Penembak runduk yang menyerangku, dan mungkin menjadi pelaku penembakanmu, mati di tempat," jawab Josh.


"Hmm ... Kalau begitu, misi kita gagal," kata Arthur dengan perasaan sedikit kecewa.


"Tidak sepenuhnya begitu. Karena, target utama tetap tertangkap, hanya saja dia di tangkap anggota dari distrik lain," sahut Josh menimpali.


"Ya sudah kalau begitu. Yang penting targetnya tertangkap," kata Arthur. "Lalu, bagaimana dengan lukamu? Apa kamu merasa baik-baik saja?"


"Waktu itu, aku hanya sempat kekurangan darah. Tapi, pelurunya tidak mengenai organ vital. Jadi, aku rasa aku pasti akan baik-baik saja....


... Aku bahkan sudah bisa berjalan seperti biasa. Tapi, suster cantik yang merawatku, tidak mengizinkan aku berkeliaran tanpa kursi roda," jawab Josh sambil tersenyum.


"Aku mungkin besok lusa sudah bisa kembali bekerja. Tidak denganmu. Menurut kata dokter tadi, paling tidak kamu harus beristirahat penuh selama kurang lebih satu minggu....


... Lalu, kamu masih harus menjalani terapi, sebelum kamu diizinkan untuk kembali bekerja," lanjut Josh.


Keduanya kemudian sama-sama terdiam, untuk beberapa waktu lamanya, seolah-olah kebingungan untuk membahas tentang apa.


"Apa kamu melihat di mana ponselku?" tanya Arthur memecah kesunyian.


"Mungkin ada di dalam laci di dekatmu itu."


Josh kemudian berdiri, dan memeriksa laci di lemari yang ada di dekat ranjang perawatan Arthur.


"Apa yang Lucy tahu, tentangmu dan Alexa?"


Sambil memeriksa laci-laci dari lemari, Josh tiba-tiba mengajukan pertanyaan, yang tampaknya sedari tadi mengganggu pikirannya.


"... Memangnya kenapa?"


"Lucy meyakinkan Chief, agar mengeluarkan surat izin pengawalan bagi Alexa untuk menemuimu."


"Iya. Tadi siang, dia datang ke sini."


Mendengar perkataan Josh, Arthur tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, hingga tanpa sadar, Arthur tersenyum sambil menggigit bibirnya sendiri.


Namun beberapa saat kemudian, Arthur menyesali kekonyolannya yang merasa senang hanya karena dijenguk Alexa, sedangkan saat itu Arthur sedang tidak sadarkan diri.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku."


Josh menyodorkan ponsel Arthur yang baru saja dia temukan di dalam laci ke tiga, kemudian kembali duduk di kursi rodanya.


"Pertanyaanmu yang mana?"


"Lucy. Apa dia mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui?"


"Aku menyukainya ... Aku menyukai Alexa. Silahkan saja kalau kamu mau mengomeli ku," jawab Arthur.


"Hufft!"


Josh tampak mendengus pelan, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, tampak kalau dia seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Arthur.


"Apa rencanamu?" tanya Josh.


"Apa maksudmu?" Arthur balik bertanya.


"Kamu sudah tahu kalau dia sudah menikah. Lalu, apa yang kamu pikirkan?"


Pertanyaan Josh, bukanlah pertanyaan yang mudah untuk dijawab Arthur saat itu juga, karena Arthur sendiri masih tidak memiliki satupun petunjuk, akan apa yang dia lakukan selanjutnya.


Ditambah lagi, jangankan memikirkan rencana untuk melepaskan Alexa dari ikatan pernikahannya, bagaimana perasaan Alexa untuk Arthur saja, Arthur masih tidak tahu apa-apa.


"Aku tidak punya rencana apa-apa. Mungkin saja, seiring berjalannya waktu, aku hanya akan melupakannya begitu saja," jawab Arthur datar.


"Humph! ... Kamu berharap aku akan percaya dengan kata-katamu itu?" ujar Josh dengan nada sinis.


"Kita berdua bukan baru saja menjadi teman. Aku tahu dengan pasti, kalau akan ada yang kamu rencanakan," lanjut Josh lagi.


"Selain kita berdua, bagaimana rekan yang lain? Apa banyak yang terluka?" tanya Arthur, mengalihkan pembicaraan mereka.


"Anak baru yang ceroboh—rekan satu tim Arthur yang kurang berpengalaman, dengan usianya yang juga masih sangat muda—itu saja yang cedera cukup parah. Tapi, masih baik-baik saja....


... Sedangkan anggota yang lain, hanya mengalami cedera ringan," jawab Josh.


"Aku rasa dia—anggota polisi baru yang di bicarakan Josh tadi—akan trauma berat. Mungkin dia tidak akan mau mengikuti kru kita lagi di lapangan," kata Arthur.


"Kelihatannya begitu," sahut Josh. "Oh iya! Kalau sampai dia tahu kamu sudah sadar, maka dia pasti akan berusaha agar bisa datang kesini."


"Aku sampai tidak tega melihatnya menangis sesenggukan, sambil meminta maaf—" Josh masih ingin berkata sesuatu, namun Arthur menyela perkataannya.


"Kenapa kamu tidak menjelaskan kepadanya? Itu bukan hanya kesalahan dia saja. Kita tidak ada satupun yang menduga, kalau konfrontasi akan terjadi....


... Kalau dia sampai salah bicara, bisa-bisa dia di skors," kata Arthur.


"... Aku sudah katakan kepadanya, bukannya tidak. Tapi, dia saja yang bersikeras merasa kalau itu kesalahannya....


... Dugaanku mungkin karena dia panik saat mengetahui kalau kamu kritis. Kalau sampai dia tahu bahwa kamu baik-baik saja, mungkin dia tidak akan histeris lagi," lanjut Josh menjelaskan.


"Bagaimana dengan laporan kepada Chief?" tanya Arthur.


"Sudah selesai. Tim kita tidak ada yang disalahkan. Semua kejadiannya sudah aku jelaskan waktu pemeriksaan....


... Tapi seperti biasa, kamu pasti akan diperiksa juga, dan dimintai keterangan," jawab Josh.


"Hmm ... Jadi tidak ada anggota yang diskors?" tanya Arthur lagi memastikan.


"Tidak ada yang di skors, dan tidak ada yang mendapat penghargaan," jawab Josh.