
15 Juni 1990.
Merasa kalau dirinya sudah cukup umur, Alexa tidak mau berlama-lama lagi untuk tinggal di rumah ayahnya, bersama dengan keluarga yang tidak menghargai akan keberadaannya.
Tanpa sepengetahuan ayah dan keluarganya, Alexa pergi dari rumah ayahnya itu, tanpa ada sedikitpun rasa ragu, walaupun dia masih belum tahu, apa yang akan dia lakukan nanti untuk bertahan hidup.
Masih sangat pagi, bahkan semua anggota keluarga ayahnya masih terlelap tidur, ketika Alexa melangkah keluar diam-diam dari rumah itu.
Alexa nekat pergi dari rumah, hanya dengan membawa sebuah tas ransel yang biasanya dipakainya untuk bersekolah, berisikan beberapa lembar pakaian, dan sedikit uang yang di ambilnya tanpa izin dari dompet ibu tirinya.
Dalam perjalanannya yang tidak tentu arah, Alexa teringat akan Roy, salah satu teman sekolahnya yang pindah dari kota itu, dan menetap di kota lain.
Kalau tidak salah, Roy pernah memberikan selembar catatan berisikan alamat kepada Alexa.
Dengan alasan, kalau-kalau Alexa sedang berada di kota tempat tinggal Roy yang baru, Alexa diajak Roy untuk berkunjung ke rumahnya.
Setelah membongkar bagian penyimpanan kecil dari tasnya, Alexa menemukan selembar catatan yang diberikan Roy, berbulan-bulan yang lalu.
Meskipun lembaran kertas itu sangat kusut, tapi tulisan yang ada di situ masih bisa terlihat dengan jelas.
Bukan hanya alamat saja yang masih bisa terbaca, bahkan nomor telepon rumah Roy juga ada tertulis di sana.
Alexa mendatangi terminal tempat transportasi umum, yang bisa dia tumpangi untuk menuju ke kota di mana alamat itu tertera.
Harga tiket bus ternyata cukup mahal, hingga hampir menghabiskan uang bawaan Alexa, dan uangnya yang hanya tersisa sedikit, hanya cukup untuk di pakai Alexa, membeli makanan saat di perjalanan.
Setibanya di kota tempat Roy tinggal, tiba-tiba Alexa merasa sedikit ragu untuk mendatangi alamat rumah Roy.
Karena kedatangannya yang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, mungkin akan membuatnya tidak bisa bertemu dengan temannya itu.
Bisa saja, kalau Roy mungkin berkuliah, dan tidak tinggal di alamat rumah itu lagi, ataupun bisa saja kalau Roy dan keluarganya pindah lagi ke kota lain.
Jika saja Alexa bisa menemukan walau hanya sebuah koin, maka Alexa bisa memakainya untuk menghubungi Roy lewat telepon umum.
Setelah beberapa saat Alexa duduk terdiam di terminal, Alexa akhirnya memilih untuk tetap pergi ke alamat itu, karena merasa sudah terlanjur basah dengan mendatangi kota itu.
Dengan berjalan kaki, Alexa mencari alamat yang tertulis di catatan yang sekarang dipegangnya dengan erat.
Akhirnya setelah berjalan cukup lama, sebelum malam semakin larut, Alexa bisa menemukan rumah yang sesuai dengan alamat di catatan.
Tanpa mau berlama-lama tenggelam dalam keraguan, Alexa memencet bel rumah yang menempel di dinding di dekat pintu depan.
"Tunggu sebentar!"
Terdengar suara yang setengah berteriak dari dalam rumah, ketika Alexa memencet bel untuk kedua kalinya.
Ketika pintu depan dari rumah itu terbuka, seorang pria paruh baya tampak berdiri di pintu, lalu menatap Alexa dengan raut wajah heran.
"Halo!" sapa Alexa.
"Iya. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya orang itu ramah.
"Maaf mengganggu waktunya. Tapi, apa benar di sini tempat tinggal Roy Hoover?" tanya Alexa. "Nama saya Alexa, temannya dari kota Hills."
"Ooh ...!" Pria itu kemudian tampak tersenyum. "Silahkan masuk!"
"Terima kasih!" ujar Alexa dengan perasaan senang, lalu menerima ajakan pria paruh baya itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Silahkan duduk di situ!" kata orang itu lagi, sambil menunjuk ke arah sofa di ruang tamu. "Sebentar, saya panggilkan Roy! Dia ada di kamarnya di lantai atas."
Pria paruh baya itu kemudian berbalik, dan berjalan menaiki tangga, sesaat setelah Alexa duduk di sofa.
"Alexa!" seru Roy sambil tersenyum lebar, dan nafasnya yang tersengal, dengan cepat menghampiri Alexa.
Alexa yang berdiri setelah melihat Roy, mendapat pelukan hangat dari temannya itu.
"Aku merindukanmu!" ujar Roy yang mempererat pelukannya di badan Alexa.
"Pffftt ...! Aku juga merindukanmu. Tapi, kamu membuatku kesulitan bernafas," kata Alexa.
"Hahaha! Maafkan aku," ujar Roy lalu mengendurkan pelukannya. "Aku terlalu senang melihatmu. Ayo, kita ke kamarku saja!"
Roy melepaskan pelukannya dari Alexa, lalu memegang tangan Alexa, dan membawanya pergi menaiki tangga bersamanya.
"Aku tidak menyangka, kalau kamu mau mengunjungiku," celetuk Roy, sambil membuka pintu kamarnya.
"Duduk!"
Roy mempersilahkan Alexa untuk duduk di atas tempat tidurnya, sementara dia menarik kursi dan mendekatkannya ke arah Alexa, hingga mereka berdua duduk berhadap-hadapan.
"Maaf, karena aku datang tanpa memberitahumu lebih dulu," kata Alexa.
"Tidak masalah. Ini jadi kejutan yang menyenangkan. Cukup lama aku berharap, agar bisa bertemu denganmu lagi," sahut Roy.
"Aku bahkan sempat berencana untuk pergi ke kota Hills, agar bisa menemuimu. Tapi, ternyata kamu yang lebih dulu datang mengunjungiku," lanjut Roy, dengan matanya yang tampak berbinar-binar.
"Apa kamu sesenang itu dengan kedatanganku?" tanya Alexa. "Apa kamu sama sekali tidak merasa terganggu?"
"Ckckck ... Kamu sama sekali belum berubah. Sekali-sekali, coba percayalah dengan ucapanku," kata Roy. "Eh! Kamu mungkin belum makan malam. Mau makan malam bersamaku?"
"Apa tidak jadi masalah, kalau aku makan gratis di sini?" Alexa balik bertanya.
"Grrr ... Kamu selalu saja bisa membuatku merasa gemas." Roy membesarkan matanya, dan tampak merapatkan gigi-giginya.
"Lepaskan tasmu di situ saja! Kita turun makan di bawah," ujar Roy. "Atau kamu mau aku ambilkan, lalu makan di kamar ini saja? Karena kamu pasti lelah."
"Tidak perlu." Alexa kemudian meletakkan tasnya di dekat lemari, yang ditunjuk Roy tadi. "Kita turun sama-sama saja."
Alexa kemudian kembali menuruni tangga bersama Roy, ketika mereka keluar dari kamar tidur itu.
"Aku sebenarnya tidak terlalu lapar. Aku lebih merasa gerah, dan ingin segera mandi," celetuk Alexa.
"Makan saja dulu! Sekalian menemaniku, karena orangtuaku tadi sudah makan lebih dulu," sahut Roy. "Nanti selesai makan, baru kamu mandi."
"Kenapa kamu tidak makan bersama orangtuamu?" tanya Alexa, sambil membantu Roy mempersiapkan peralatan makan ke atas meja.
"Hehehe ... Kalau begitu, kamu berarti tidak memperhatikan meja belajarku tadi," jawab Roy sambil tertawa kecil.
"Aku sedang membuat artikel untuk dikirim besok pagi, ke surat kabar kota," lanjut Roy.
"Kalau begitu, berarti benar kalau aku hanya mengganggumu saja," ujar Alexa.
"Aaahh! Kamu ini!" kata Roy, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ketika kamu datang tadi, aku baru selesai menulisnya, tinggal mengirimkannya saja nanti."
"Roy! Sebenarnya aku datang ke sini, bukan hanya untuk mengunjungimu....
... Aku berencana untuk mencari pekerjaan di kota ini, dan aku belum tahu akan menginap di mana untuk sementara, sampai aku bisa menghasilkan uang," kata Alexa jujur.
"Aku sudah bisa menduganya," sahut Roy sambil tersenyum. "Kamu tidak perlu khawatir. Kamu bisa menginap di sini, selama yang kamu mau."