It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 22



31 Januari 2000.


15:00.


"Terima kasih banyak atas bantuanmu waktu itu, hingga Alexa bisa mengunjungiku di rumah sakit," kata Arthur.


"Maafkan aku yang belum sempat menyatakan rasa terima kasihku dengan benar padamu," lanjut Arthur buru-buru, sebelum Lucy menanggapi ucapan terima kasihnya tadi.


"Sama-sama. Aku senang kalau kamu bisa merasa terbantu olehku," sahut Lucy.


"Apa kamu mau makan, atau minum bersamaku di luar nanti setelah jam kerjamu usai?" tanya Arthur.


"Aku mau. Tapi bukan untuk meminta balasan darimu atas bantuanku. Kita hanya akan makan atau minum-minum, sebagaimana persahabatan kita biasanya saja," jawab Lucy. "Setuju?"


"Okay!" sahut Arthur. "Jam berapa kamu bisa pergi bersamaku?"


"Pffftt ...! Kamu seperti baru mengenalku saja," ujar Lucy sambil tertawa tertahan.


"Aku bisa pergi dari kantor sekarang juga, kalau aku mau. Chief tidak akan tahan untuk mengomeli ku....


... Tapi, aku masih ingin memeriksa beberapa berkas yang dikacaukan anak baru. Kamu bisa menunggu?" lanjut Lucy.


"Tentu saja," jawab Arthur.


"Umm ... Dugaanku, ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan, selain hanya berniat untuk mentraktirku," ujar Lucy.


"Hehehe ... Iya," sahut Arthur sambil tertawa kecil.


"Kalau begitu, kamu mau menunggu di sini? Atau aku harus menghubungimu nanti, saat aku selesai dengan pekerjaanku?" tanya Lucy.


"Aku akan menunggu di sini saja. Ada beberapa berkas kasus lama yang ingin aku pelajari ulang," jawab Arthur.


"... Daripada kamu hanya membaca kasus lama, apa kamu mau melihat kasus yang sedang ditangani tim lain? ...


... Ada satu laporan baru yang menarik perhatianku. Sedangkan tim yang menanganinya, tampaknya kurang kompeten mengerjakannya. Mungkin kamu bisa menemukan sedikit petunjuk," kata Lucy.


"Boleh! Tunjukkan saja padaku! Aku akan mencoba melihatnya," ujar Arthur.


"Tunggu sebentar!"


Lucy lalu menggeser laptop dari hadapan Arthur, agar layar laptop menghadap ke arahnya, lalu mulai mengetik-ngetikkan sesuatu di tombol huruf dan angka dari laptop itu.


"Ini! Coba kamu lihat!"


Lucy kembali menggeser laptop, dan mengubah posisi layar laptop itu menghadap ke arah Arthur, agar Arthur bisa melihat tampilan di dalam layarnya.


Tidak berapa lama, Arthur sudah tenggelam dalam bacaannya yang bisa dia lihat di dalam tampilan layar laptop.


Kasus pemerkosaan hingga pembunuhan yang terjadi pada seorang wanita, yang bekerja sebagai wanita pendamping di dalam klub malam, adalah isi laporan aduan yang sedang dibaca oleh Arthur.


Arthur tidak pernah menerima kasus pemerkosaan, karena itu memang bukan bidangnya, melainkan tugas dari Detektif polisi yang lain.


Sejak awal Arthur menjadi Detektif polisi, dia khusus bertugas menangani kasus pembunuhan, perampokan, dan penipuan—dan atau—menggunakan kekerasan.


Dan di lima tahun belakangan, setelah Arthur lolos tes kualifikasi tambahan, kemudian ikut terjun dalam penanganan kasus narkotika.


Sehingga Arthur tidak terlalu mengerti cara kerja dalam menangani kasus pemerkosaan seperti itu, dan hanya terkonsentrasi pada kejadian pembunuhan korbannya saja.


Menurut Arthur, kasus pembunuhan korban wanita yang ada di dalam laporan kasus itu terlalu sederhana.


Bukti-bukti yang sudah didapatkan oleh penyidik, sudah lebih dari cukup untuk mengarahkan penyidik kepada sang pelaku.


Sepintas, dengan menggunakan sedikit pengetahuannya tentang ilmu penanganan kasus pemerkosaan, Arthur bisa membandingkan dan menduga, kalau antara pelaku pemerkosaan dan pembunuhan itu, tampaknya dilakukan oleh orang yang berbeda.


"Kenapa kasus seperti ini bisa menarik perhatianmu?" tanya Arthur.


"Aku menduga kalau kamu sudah menemukan sesuatu di situ." Lucy tidak menjawab pertanyaan Arthur, melainkan menyatakan sesuatu yang lain yang bahkan terasa agak aneh bagi Arthur.


"Benar begitu?" tanya Lucy memastikan.


"Iya. Menurutku, kemungkinan besar pelaku pembunuhan, adalah orang yang berbeda dari pelaku pemerkosaan," jawab Arthur.


"Hahaha ... Aku sudah menduganya, kalau kamu bisa menilai kasus itu hanya dengan melihat berkasnya saja, tanpa perlu mendatangi TKP....


... Kamu tidak perlu mentraktirku sepenuhnya, kita bisa membagi dua tagihan kita nanti. Karena kamu sudah membuatku memenangkan taruhan," ujar Lucy yang tampak menyeringai puas.


"Ugh ...?" Arthur kebingungan. "Apa maksudmu?"


... Aku membuat taruhan dengan Josh, kalau kamu bisa memberikan perkiraan yang tepat, hanya dengan melihat berkas awal kasusnya saja," jawab Lucy.


Arthur menggeleng-gelengkan kepalanya. "Taruhan bodoh macam apa itu?"


"Hahaha ...! Josh yang bodoh! Dia sudah mengenalmu lebih lama dariku. Seharusnya dia lebih tahu bagaimana caramu menggunakan otakmu. Tapi, dia masih mau saja bertaruh denganku," ujar Lucy sambil tertawa.


Lucy lalu tampak mengambil ponsel dari dalam tasnya, dan seolah-olah sedang menghubungi seseorang di situ.


Sedangkan, Arthur hanya terdiam sambil memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Lucy.


"Halo!" Sapaan seseorang dari seberang telepon yang bisa di dengar Arthur lewat pengeras suara dari ponsel milik Lucy, terdengar seperti suara Josh.


"Josh! Aku menunggu pembayaranmu untuk taruhan yang aku menangkan," sahut Lucy.


"Apa maksudmu?" tanya Josh dari seberang.


"Kamu jangan coba-coba untuk berpura-pura bodoh!" ujar Lucy tegas. "Arthur bisa menduga dengan benar kasus yang menjadi taruhan kita."


"Hey! Okay, okay! Tapi, bagaimana dia bisa menduganya?" tanya Josh lagi.


"Kamu tanyakan saja sendiri! Arthur sedang bersamaku di ruang kerjaku," jawab Lucy.


Lucy lalu mendekatkan ponselnya ke arah Arthur.


"Halo, Josh!" sapa Arthur.


"Arthur? Apa yang kamu lakukan di situ?" Nada suara Josh, terdengar seperti orang yang sedang terkejut dan keheranan.


"Ah, dasar brengsek! Gara-gara kamu, aku kehilangan seratus lima puluh dolar!" lanjut Josh buru-buru, dengan nada ketus.


"Hey! Kenapa kamu marah padaku? Itu salahmu sendiri! Untuk apa kalian membuat taruhan sebodoh itu?" kata Arthur tidak mau kalah.


"Lucy! Hey, Lucy! Kamu bisa mendengarku? You piece of ****!" Josh tidak menanggapi perkataan Arthur melainkan memaki Lucy, lalu sambungan telepon itu langsung terputus.


"Seratus lima puluh dolar?" Arthur menatap Lucy, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hahaha!"


Walaupun sambungan teleponnya diputuskan Josh secara tiba-tiba, namun Lucy tampaknya masih bisa tertawa dengan rasa puas.


"Apa saja yang kalian lakukan selama aku tidak datang ke sini?" tanya Arthur.


Lucy tidak segera menjawab pertanyaan Arthur, melainkan mengangkat pandangannya, dan tampak memperhatikan bagian belakang Arthur, seolah-olah dia sedang melihat sesuatu di sana.


"Bukankah kamu seharusnya masih libur?"


Sebelum Arthur berbalik untuk ikut melihat apa yang dipandangi Lucy, seseorang terdengar bertanya dari bagian belakang Arthur.


Mendengarkan suara familiar di belakangnya itu, Arthur lantas berbalik untuk melihat Chief yang sekarang sedang berdiri di dekat pintu ruangan penyimpanan berkas, tempat Arthur berada sekarang ini.


"Halo, Chief!" sapa Arthur.


"Apa kamu mau aku mengaktifkan—mengganti status sakit Arthur menjadi siap untuk bekerja—statusmu sekarang?" tanya Chief.


"Hahaha! ... Anda jangan bercanda, Chief! Sekarang ini aku masih belum bisa berguna untukmu," ujar Arthur sambil tertawa.


Chief lalu menarik kursi kosong di dekat Arthur, lalu ikut di situ, dan tampak asyik dengan rokok pipa di mulutnya, seperti biasa Arthur melihatnya.


"Kenapa anda ke sini, Chief?" tanya Lucy.


"Aku mendengar desas-desus kalau ada salah satu anak buahku yang nakal, tiba-tiba datang berkunjung ke ruang berkas," jawab Chief, sambil menatap Arthur.


"Pffftt ...! Gosip macam apa itu, Chief?" tanya Arthur, sambil tertawa tertahan.


Chief tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Seharusnya, kamu memanfaatkan waktumu untuk beristirahat. Kenapa malah datang ke kantor?" tanya Chief, Atasan Arthur itu.


"Aku bosan. Berhubung Josh sedang sibuk, aku mau mengajak Lucy minum-minum denganku," jawab Arthur.


"Arthur! Jangan membuat masalah! Aku membutuhkanmu agar bisa secepatnya kembali bekerja," ujar Chief dengan nada tegas.


"Tenang saja, Chief! Aku tidak akan membiarkan Arthur berkendara dalam kondisi mabuk!" ujar Lucy menimpali.


Sambil mengangkat lengan kanannya sedikit, Arthur membuka telapak tangannya, memberikan isyarat kalau Lucy yang akan bertanggung jawab.