
15 Januari 2000.
09:24.
Arthur membuka pintu mobilnya di bagian penumpang, ketika dia melihat Josh sudah berdiri di dekat situ.
"Ini kopimu!"
Josh yang memegang dua gelas kopi dan satu kantong plastik berukuran sedang di tangannya, menyodorkan segelas kopi kepada Arthur yang duduk menunggu di dalam mobil.
"Kamu memang brengsek!" celetuk Josh, setelah Arthur menyambut gelas kopi pemberiannya.
Kantong plastik yang bergelantungan di tangannya, kemudian diletakkan Josh di atas dashboard.
Arthur berpura-pura seolah-olah tidak mendengar ocehan kekesalan dari mulut Josh, lalu membuka kantong plastik yang berisi donat yang tertata rapi di dalam kotak khusus untuk kue.
Arthur memang cukup merasa lapar, hingga sebuah donat dengan cepat habis digiling gigi-giginya, dan segera menelannya dengan mendorongnya dengan sedikit cairan kopi.
Potongan kedua dari donat bertaburkan gula halus, kembali dimakan Arthur setelah membentur-benturkannya sedikit, agar mengurangi banyaknya bubuk gula yang menempel di situ.
Arthur tidak terlalu suka makanan maupun minuman manis, namun saking laparnya, kali ini dia tidak terlalu memikirkan rasa manis yang mengganggu mulutnya.
"Chief mengomeli ku habis-habisan. Katamu kamu akan ke kantor. Lalu, pergi ke mana kamu kemarin?"
"Kamu lihat sendiri kalau aku ada di sini. Aku melanjutkan misi kita. Memangnya akan kemana lagi aku pergi?!" Arthur menjawab pertanyaan Josh dengan santainya.
Arthur memang sudah tahu, kalau Chief pasti akan marah dengan hasil penyelidikan mereka kemarin.
Oleh karena itu, kemarin, Arthur segera mengubah arah tujuannya, sebelum dia mencapai kantor polisi, dan memilih untuk melanjutkan pengintaian yang hanya dilakukan oleh rekan satu timnya yang lain.
Kelihatannya, Josh memang tidak terpikirkan sama sekali kalau Arthur akan berubah pikiran, dan membatalkan rencana untuk menemui Chief di kantor.
"Lalu, apa laporan yang kalian catat?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya memberikan catatan kasar kepada Chief. Tapi, sudah aku jelaskan, kalau itu memang hasil penyelidikan kita—" jawab Josh, lalu menyesap sedikit kopinya.
"... Maksudku, hasil penyelidikanmu" sambung Josh lagi.
"Pffftt ...! Aku tidak tahu kalau nyalimu sekecil itu," ujar Arthur dengan nada mengejek.
Josh menatap Arthur dengan sorot mata tajam, seolah-olah dia akan menerjang Arthur saat itu juga, namun Arthur hanya tersenyum lebar melihatnya.
"Bagaimana hasilnya—pengintaian yang dilakukan Arthur dan rekan satu timnya yang lain—setelah sejak kemarin kamu di tempat ini?"
"Masih seperti biasa. Mereka—penyelundup narkotika—memang seperti belut yang sulit dilacak gerakannya....
... Sama sekali tidak terlihat tanda-tanda, kalau mereka akan melakukan transaksi atau pergeseran. Semua tampak biasa-biasa saja," jawab Arthur.
Bengkel mobil khusus untuk truk kontainer yang menjadi lokasi yang dicurigai, sama sekali tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan.
Meskipun, laporan dari informan tampak meyakinkan, kalau di tempat itu, adalah tempat yang dipakai untuk penyelundupan narkotika lintas kota.
Pengintaian untuk pembuktian dan penangkapan laporan, yang dijalani Arthur dan Josh bersama rekan satu timnya yang lain kali ini, adalah proses terlama dan terpanjang dalam sejarah karir Arthur.
Sudah berbulan-bulan, mereka melakukan pengawasan, namun belum ada sedikitpun titik terang, selain dari kesaksian dari informan.
Beberapa kali, rekan satu tim Arthur berganti-gantian, memasuki tempat itu dengan berpura-pura menggunakan alasan yang berbeda-beda, namun masih belum ada satupun yang membuahkan hasil yang cukup berarti.
"Apa kamu tidak terpikir untuk menangani kasus baru?" tanya Arthur yang mulai merasa bosan.
"Umm ... Kalau kita berhasil di kasus ini, kita pasti akan mendapatkan penghargaan dari pusat....
... Berkas yang aku berikan kepadamu minggu lalu, kamu kelihatannya juga tidak tertarik—" Josh menghentikan kalimatnya tiba-tiba.
"Kriiing! ... Kriiing!"
Josh tampaknya masih ingin berkata sesuatu, namun suara ponsel Arthur yang menyela perkataannya, membuatnya hanya bisa terdiam, dan membiarkan Arthur menerima panggilan telepon itu.
"Target utama baru saja terlihat berjalan di dalam lokasi!" sahut orang dari seberang telepon.
"Apa kamu yakin?" tanya Arthur, masih berbicara di ponselnya.
"Iya." sahut orang itu lagi.
"Okay! Kalau begitu, pastikan pergerakannya!" kata Arthur lagi, lalu memutus panggilan telepon dari rekannya itu.
"Kelihatannya, memang tidak sia-sia kita menunggu di tempat ini. Target utama sudah terlihat," ujar Arthur, menjelaskan kepada Josh, apa yang menjadi pembicaraannya di ponsel tadi.
"Bagus!" sahut Josh bersemangat.
***
13:00.
Salah satu restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi pengintaian, menjadi tempat bagi Arthur dan Josh untuk menikmati makan siang.
Dari dinding kaca restoran, Arthur dan Josh melihat adanya dua mobil sedan mewah yang datang bergantian ke restoran di seberang jalan, tempat Josh dan Arthur berada saat ini.
Ketika mobil pertama datang, Josh memang ikut memandangi dua orang yang keluar dari mobil itu, sama seperti Arthur, namun dia tidak berkata apa-apa.
Hingga kedatangan mobil kedua, yang berselisih waktu kurang lebih sepuluh menit dari kedatangan mobil yang pertama, dan orang di dalam mobil itu beranjak turun dan masuk ke dalam restoran, tiba-tiba Josh berceletuk,
"William's."
Arthur memperhatikan baik-baik jenis mobil, hingga orang yang keluar dari kendaraan roda empat itu, yang disebut Josh sebagai anggota keluarga William.
"Aku jadi ingat sesuatu...." ujar Josh.
Arthur yang baru saja menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya, lalu menatap Josh, sambil menunggu apa yang akan dia katakan selanjutnya.
"... Sejak aku menegurmu saat itu, apa kamu masih menemui istri dari Mark William?" Josh melanjutkan perkataannya, dengan mengajukan pertanyaan kepada Arthur.
Tanpa menjawab dengan kata-kata, Arthur hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Josh.
"Kenapa kamu masih menemuinya?" tanya Josh yang tampak terganggu, dengan tindakan yang dilakukan Arthur.
"Aku penasaran," jawab Arthur singkat.
"Itu saja?"
"Iya."
"Lalu, kamu kira aku akan percaya dengan jawabanmu itu?" Josh menampakan raut wajah tidak senang.
"Meskipun kamu orang yang penuh rasa ingin tahu, tapi aku tidak percaya kalau kamu hanya penasaran untuk orang biasa seperti dia," lanjut Josh.
"Dia bukan orang biasa!" Tanpa sadar ataupun disengaja, secara spontan saja, Arthur sedikit menaikkan nada suaranya.
"Umm ... Berarti benar dugaanku," kata Josh.
"Apa kamu tertarik dengan wanita itu?" tanya Josh menyelidik.
"..."
"Kalau kamu memang tertarik kepadanya, aku tidak akan melarangmu. Karena aku tahu kalau urusan hati, tidak ada yang bisa memaksa....
... Tapi, aku hanya mau mengingatkan ulang, kalau akan jadi berbahaya bagimu, kalau kamu mengembangkan perasaanmu untuknya," ujar Josh.
"Aku masih belum bisa memastikan, apa yang aku rasakan kepadanya," sahut Arthur. "Mungkin hanya sekedar tertarik biasa saja," lanjutnya.
Bukannya Arthur tidak tahu apa yang diambil Alexa darinya, namun rasanya, masih belum waktunya bagi Arthur untuk berterus-terang kepada Josh.
"Segera makan makananmu, kita harus kembali ke tempat pengintaian," kata Josh.