
6 Maret 2000.
17:45.
Kurang lebih setengah jam sudah berlalu sejak Arthur menemui Alexa di dalam ruangan itu, dan membuat Alexa bersandar padanya.
Namun Alexa masih terlihat sama saja, masih belum ada tanda-tanda kalau dia akan segera sadarkan diri, meskipun Arthur hampir tidak berhenti mengajaknya bicara, sambil tetap memeluknya dengan erat.
Suara Alexa yang mengigau memanggil nama Arthur, juga masih terdengar sesekali dari mulutnya.
"Knock! ... Knock! ... Knock!"
Pintu ruangan itu kemudian terbuka, tak lama setelah terdengar suara ketukan di sana.
Sienna tampak berjalan masuk, lalu kembali menutup pintu ruangan itu dengan rapat.
Walaupun Arthur berselonjor di atas tempat tidur sambil memeluk Alexa seperti itu, namun Sienna tampak tidak terlalu memusingkan akan apa yang Arthur lakukan itu.
Sienna yang terlihat biasa saja, kemudian berjalan menghampiri tempat tidur Alexa, lalu berkata,
"Mister Smith, jadwal jaga saya sudah berakhir. Jadi, saya akan segera pulang sekarang ini. Apa Mistress William masih belum tersadar?"
"Belum," sahut Arthur.
"Anda berusahalah untuk menyadarkannya perlahan-lahan. Jangan sampai keadaannya seperti ini terus. Karena situasinya akan jadi berbahaya baginya, juga bagi anda nantinya," kata Sienna.
Seketika itu juga, Arthur merasa kalau Sienna mungkin mengetahui sesuatu, yang menjadi alasan hingga Alexa bisa merasa cemas berlebihan.
Namun Arthur tidak segera menanyakannya, karena Sienna kemudian lanjut berkata,
"Saya pergi dulu! Kalau akan ada pemeriksaan dari dokter, rekan kerja saya akan memberitahu anda....
...Terserah anda saja nanti, apakah anda akan bersembunyi sambil menunggu pemeriksaan berakhir agar anda bisa bersamanya lagi, atau anda ingin pulang....
... Anda cukup memberitahunya, dan rekan saya akan membantu anda sesuai dengan apa yang anda inginkan, tanpa perlu khawatir ketahuan oleh petugas rumah sakit yang lain."
"Baik, terima kasih!" sahut Arthur.
"Tapi Sienna ... Apa ada yang kamu tahu tentang Alexa, yang membuatnya jatuh sakit seperti ini? Apa sebenarnya yang terlalu ditakuti olehnya?" lanjut Arthur.
"... Apa anda benar-benar tidak tahu apa-apa?" tanya Sienna heran.
"Tidak."
"Umm ... Seharusnya, anda bertanya padanya saja ... Umm ... Okay! ... Umm ... Tapi ... Bagaimana, ya?!" Sienna tampak ragu dan bingung, seolah-olah dia merasa tidak pas untuk membicarakan sesuatu yang dia tahu, kepada Arthur.
"..." Sienna akhirnya hanya terdiam bersama Arthur untuk beberapa saat kemudian.
"Maafkan saya. Saya mau membantu anda, tapi saya merasa tidak pantas untuk membicarakan tentang Mistress William, tanpa izin darinya," kata Sienna.
"Saya juga minta maaf, kalau saya mungkin tampak memaksa. Tapi menurut saya, kalau Alexa tetap menyembunyikannya dari saya, maka saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya....
... Jika Sienna mau membantu saya dengan memberitahukan semua yang Sienna tahu, mungkin saya bisa mencari solusi, agar kejadian seperti ini tidak terulang," sahut Arthur.
Sienna tampak menatap Arthur lekat-lekat.
"Umm ... Begini saja. Seandainya, Mistress William tersadar saat anda masih bersamanya, dan dia tetap tidak mau membicarakannya....
... maka anda bisa menghubungi saya di nomor yang saya pakai untuk menelpon anda tadi. Kita bisa membuat janji untuk bertemu di luar," kata Sienna.
"... Baiklah kalau begitu," sahut Arthur yang sedikit merasa kecewa, karena tidak bisa segera mengetahui, hal yang ingin dia ketahui.
"Saya pergi dulu, Mister Smith!" kata Sienna, lalu bergegas keluar dari ruangan itu.
***
18:45.
"Knock! ... Knock! ... Knock!"
Pintu ruangan itu kembali terbuka, setelah suara ketukan di pintu, terhenti.
"Mister Smith! Sebentar lagi, akan ada dokter jaga yang akan memeriksa Mistress William. Jadi, anda harus ke luar sekarang!"
Arthur kemudian memperbaiki posisi Alexa, agar bisa berbaring seperti awal tadi, dan Arthur kemudian beranjak turun dari tempat tidur.
"Apa anda akan pulang? Atau anda masih mau bersama Mistress William?" tanya perawat wanita itu.
"Saya masih mau bersamanya. Apa yang harus saya lakukan?" ujar Arthur.
"Anda ikut dengan saya kalau begitu," sahut perawat wanita itu, lalu berbalik dan membuka pintu.
Perawat wanita itu tidak langsung berjalan ke luar, melainkan tampak berhenti sebentar di pintu, lalu melihat ke sana kemari.
Tak lama kemudian, barulah dia berjalan dengan tergesa-gesa, sambil disusul oleh Arthur di belakangnya.
Bersama perawat wanita itu, Arthur masuk ke sebuah ruang kosong yang hanya tersedia satu buah kursi di dalam sana.
"Anda menunggu di sini! Kalau pemeriksaan Mistress William sudah selesai, saya akan menjemput anda kembali," kata perawat wanita itu memberi arahan.
"Okay! Terima kasih!" ucap Arthur.
"Sama-sama. Tolong jangan membuat suara apa-apa, agar tidak menarik perhatian. Umm ... Kalau anda memiliki ponsel, sebaiknya anda matikan nada deringnya."
Setelah memberitahu arahan tambahan, perawat wanita itu, lalu beranjak keluar dari dari ruangan itu, meninggalkan Arthur sendirian di sana.
***
19:39.
Perawat wanita itu terlihat kembali memasuki ruangan di mana Arthur duduk menunggu, lalu mengajak Arthur pergi dari situ, dan kembali ke ruangan di mana Alexa berada.
Sama seperti saat mereka pergi ke salah satu ruangan untuk Arthur bersembunyi, saat berjalan kembali ke ruangan Alexa, perawat wanita itu tampak berjalan tergesa-gesa, sambil melihat ke sana kemari.
Seolah-olah, dia memang sedang mengawasi, agar keberadaan Arthur di sana, tidak di ketahui oleh orang lain.
"Apa anda berencana untuk menjaga Mistress William cukup lama?" tanya perawat itu.
"Umm ... Iya. Rencananya, aku akan bersamanya hingga dia tersadar," jawab Arthur.
"Okay!" sahut perawat wanita itu.
Setelah perawat wanita itu pergi meninggalkan Arthur bersama Alexa, Arthur kemudian naik ke atas tempat tidur, lalu memposisikan dirinya dan Alexa, agar Alexa bisa duduk bersandar di dada Arthur.
Ujung-ujung jari tangan Alexa terasa dingin, bahkan sampai ke telapak tangannya, hampir tidak terasa hangatnya seperti tangan manusia pada umumnya, ketika Arthur memegangnya.
Arthur benar-benar merasa frustrasi, melihat kondisi Alexa yang seakan-akan tidak ada tanda-tanda akan membaik.
Dengan begitu, Arthur mulai menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu memaksakan keinginannya pada Alexa waktu itu.
Selama Arthur bisa menghabiskan waktu bersamanya, Alexa selalu terlihat tegar, tidak mau menampakan kesedihannya, walaupun mungkin dia sebenarnya sangat kelelahan menjalani hidupnya.
Bahkan menurut Arthur, Alexa tampaknya masih berusaha keras ingin melindungi orang-orang yang dianggap penting baginya.
Seolah-olah dia adalah orang yang sangat kuat dan sanggup menghadapi apa saja, asalkan orang-orang yang dia perdulikan akan baik-baik saja.
Alexa menutup-nutupi kelemahannya, namun kondisinya sekarang ini, membuktikan betapa rapuhnya wanita itu.
Dan justru, kepribadian Alexa itulah yang semakin menarik perhatian Arthur.
Arthur merasa dirinya mungkin akan menjadi gila, karena rasa cintanya kepada Alexa yang tidak berkurang, melainkan semakin kuat dirasakannya, namun dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Alexa! Apa yang harus aku lakukan?" Arthur memeluk Alexa dengan erat, seolah-olah Arthur tidak akan melepaskannya lagi.
"Knock! ... Knock! ... Knock!"
Ketika pintu terbuka, perawat wanita yang tadi membantu Arthur, tampak berjalan masuk sambil membawa nampan berisi makanan dan sebotol air mineral.
"Sir! Saya membawakan makan malam. Sederhana, sesuai jatah makan petugas rumah sakit saja. Tapi, saya harap anda bisa menikmatinya," kata perawat itu.
"Terima kasih banyak! Saya hanya merepotkan anda saja," ujar Arthur.
Perawat wanita itu meletakkan nampan di atas meja di dekat tempat tidur Alexa. "Sama-sama, Sir. Bukan masalah besar. Silahkan dinikmati! ... Saya pergi dulu."