
10 Agustus 1991.
12:24.
Seakan-akan sedang melakukan perjalanan mencari harta karun, entah sudah ke berapa jumlahnya toko pakaian yang menjual busana laki-laki beserta perlengkapannya yang dimasuki Alexa dan Louis, namun belum ada satupun yang menyediakan pakaian yang bisa dipakai oleh Louis.
Aroma kain baru, bercampur dengan pengharum ruangan di semua toko yang dimasuki mereka secara bergantian, seakan menjadi bebauan yang beracun yang membuat kepala Alexa terasa sakit.
Dengan tinggi badan 198 cm, tidak mudah bagi Louis untuk mendapatkan pakaian yang bisa muat di badannya.
Alexa sudah merasa cukup lelah untuk lanjut berjalan, ditambah lagi dengan rasa lapar yang membuat perutnya bergemuruh, dan mulai mengganggu konsentrasinya.
"Bagaimana kamu mendapatkan pakaianmu selama ini?" tanya Alexa, sambil duduk tersandar di kursi, karena kelelahan berjalan masuk keluar toko.
"Biasanya aku memesannya di penjahit," sahut Louis terdengar ragu.
"Brengsek! ... Pantas saja! ... Aku mengira kamu biasa membeli di toko-toko seperti ini....
... Kalau aku tahu begitu ceritanya, aku tidak akan mau menemanimu berbelanja. Aku sangat lelah dibuatmu!" ujar Alexa, kesal.
"Kamu menunggu saja di sini sebentar. Biar aku yang bertanya kepada pegawai toko," ujar Louis pelan.
Untung saja, di toko itu memiliki beberapa pasang pakaian berukuran besar yang sesuai untuk Louis.
"Alexa! Tolong bantu aku memilih!" pinta Louis, sambil berdiri di depan Alexa yang masih terduduk.
Walaupun merasa lelah, namun saat Alexa melihat wajah Louis yang memelas, akhirnya Alexa mau saja membantunya. "Pakai saja! Nanti aku yang menilainya."
Setelah mencoba beberapa warna setelan jas, dengan dibantu Alexa, Louis memilih sepasang setelan jas berwarna biru malam, dengan kemeja polos berwarna putih.
Alexa juga membantu Louis memilihkan dasi yang cocok untuk pakaiannya itu, sebelum Alexa memilih setelan jas untuk dirinya sendiri.
Tanpa berlama-lama, Alexa dengan tinggi badan 176 cm, tidak terlalu kesulitan untuk mencari pakaian yang pas di badannya.
Bukan hanya satu setelan jas berwarna hitam saja yang dibeli Alexa, Alexa juga membeli sepasang sepatu kulit, ikat pinggang, dan dasi yang sesuai untuk membuatnya terlihat rapi.
Alexa tidak perlu membeli kemeja untuk dalaman jas, karena Alexa memiliki beberapa kemeja polos yang masih dalam kondisi yang sangat baik, karena jarang dipakainya.
Uang pemberian Madam Ruppert, pas-pasan untuk dipakai membayar semua belanjaan mereka di toko itu, bahkan masih ada sedikit sisa uang kembalian, jadi Alexa tidak perlu merogoh uang pribadinya.
Setelah Louis mengambil semua kantong barang belanjaan, Alexa menyodorkan kunci mobil kepada Louis.
"Kamu yang mengemudi! Aku ingin istirahat sebentar!" ujar Alexa.
Mungkin karena menyadari kalau dia telah membuat Alexa kelelahan, Louis tidak protes walaupun harus membawa semua kantong belanjaan, lalu diperintah Alexa untuk mengemudi.
***
14:18.
Waktu yang tersisa tinggal sedikit, jika mereka tidak mau datang terlambat di pesta.
Sambil berdiri di dekat mobil bersama Louis, Alexa menunggu Sir dan Madam Ruppert yang mungkin masih bersiap-siap.
Alexa yang memakai setelan jas, lengkap dengan semua aksesoris tambahannya, dan rambut pendeknya yang tersisir rapi, dengan diberikan sedikit krim penata rambut milik Louis, membuat penampilan Alexa tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia adalah seorang wanita.
"Alexa memakai setelan jas?"
Sir Ruppert memandangi Alexa dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, dengan tatapan heran.
Dengan begitu, Alexa tidak sempat bertemu dengan Sir dan Madam Ruppert, dan bercakap-cakap sebagaimana biasanya mereka lakukan, sambil menikmati makanannya.
Dugaan Alexa, Madam Ruppert berarti tidak memberitahu Sir Ruppert, kalau Alexa berniat membeli setelan jas daripada gaun wanita.
Mungkin itu sebabnya, hingga Sir Ruppert tampak kebingungan saat melihat Alexa berpenampilan seperti itu.
"Maaf, Sir. Saya sudah memberitahu Madam tadi, kalau saya lebih nyaman memakai pakaian seperti ini, dibandingkan harus memakai gaun," ujar Alexa.
"Tidak perlu meminta maaf. Alexa terlihat bagus. Bahkan menurut saya, Alexa terlihat jauh lebih tampan saat ini, dibandingkan saat saya masih muda dulu," sahut Sir Ruppert.
"Saya selama ini tidak pernah terpikirkan, kalau sebenarnya Alexa terlihat bagus jika sekalian memakai setelan jas, daripada hanya memakai kemeja dan sepatu sport....
...Besok tidak ada kegiatan di luar rumah, Alexa bisa pergi membeli tambahan pakaian seperti ini, untuk di pakai sehari-hari saat bekerja....
... Alexa tidak perlu khawatir dengan uang belanja, saya yang akan memberikannya. Okay?!" lanjut Sir Ruppert.
"Maaf, Sir! Tapi, saya tidak mau merepotkan anda. Saya bisa menggunakan uang saya pribadi, Sir!" sahut Alexa.
"What do you thinking of?!" Madam Ruppert tiba-tiba menimpali. "Suamiku yang ingin kamu berseragam, jadi tentu saja kami yang harus membayarkan belanjaanmu."
"Baik, Madam. Terima kasih sebelumnya," kata Alexa.
***
Antrian panjang kendaraan bermotor beroda empat, mengular di jalan raya di depan kediaman keluarga William, ketika mobil yang membawa Sir dan Madam Ruppert yang dikendarai oleh Alexa, tiba di sana.
Pemeriksaan tamu undangan dilakukan dengan cukup ketat, secara satu persatu, hingga membuat Alexa harus menunggu cukup lama, hingga mobilnya mencapai gerbang pagar, dan menjadi giliran mereka yang diperiksa.
Alexa tidak heran dengan pesta yang sering diadakan oleh orang kaya, namun kali ini, dianggap Alexa cukup ekstrim hanya untuk acara pesta ulang tahun.
Mulai dari jumlah tamu yang datang, dan kelas sosial mereka, lalu pemeriksaan yang dilakukan hingga ke bagian demi bagian kendaraan yang dipakai.
Sir dan Madam Ruppert di turunkan Alexa di depan pintu rumah yang tampak sangat megah layaknya istana dalam cerita dongeng tentang kerajaan.
Sedangkan Alexa dan Louis, masih harus memarkirkan mobilnya, lalu melakukan pengisian data untuk senjata api milik Alexa, yang disita petugas keamanan Willing Grup, saat pemeriksaan berlangsung tadi, sebelum mereka berdua diizinkan memasuki rumah keluarga William itu.
Ada yang istimewa menurut Alexa, yaitu, para supir, bodyguard, babysitter, ataupun pekerja lain yang datang bersama majikannya, bisa memasuki rumah itu lewat pintu depan selayaknya tamu undangan pada umumnya.
Mereka tidak disuruh melewati pintu khusus, ataupun mendapat perlakuan berbeda dari para tamu utama.
Keluarga William tampak seakan-akan menghargai setiap orang yang hadir, tanpa memandang perbedaan status sosial.
Benar-benar tidak biasa, jika dibandingkan dengan pesta orang kaya kebanyakan.
Alexa hanya bisa terkagum-kagum saat berjalan masuk ke dalam rumah itu.
Seingat Alexa, lapangan basket di sekolahnya dulu, masih kalah luas jika dibandingkan dengan ruangan tempat menerima tamu undangan yang datang di rumah itu.
Beberapa hiasan lampu gantung raksasa yang mewah, menjadi pemandangan pertama yang menyambut orang-orang yang masuk ke sana.
Tangga gading di tengah-tengah ruangan, tidak kalah megah dengan semua interior pendukung yang mewah di dalam tempat itu.
"Kamu sering mengantar Sir dan Madam, kan?!Apa rumah orang kaya memang seperti ini?" tanya Louis dengan suara berbisik-bisik.
Louis tampak tidak kalah heran dari Alexa, saat melihat kemegahan dan kemewahan rumah keluarga William itu.
"Tidak. Ini pertama kalinya, aku bisa melihat yang sampai semegah ini," jawab Alexa jujur.