It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 33



27 Mei 1997.


08:55.


Alexa dan Benny, sempat beradu mulut dengan petugas keamanan yang berjaga di kediaman William's.


Senjata api yang dibawa Alexa dan Benny akan disita dengan alasan keamanan, sedangkan Alexa dan Benny juga bersikeras untuk tidak menyerahkan senjata api mereka, dengan alasan yang sama.


Setelah saling tawar menawar, akhirnya Alexa dan Benny menyerahkan senjata api mereka, namun untuk sementara saja.


Ketika mereka keluar dari kediaman William's, maka senjata api mereka akan segera dikembalikan, tanpa melalui prosedur apa-apa lagi.


Sebenarnya, menyerahkan senjata kepada petugas keamanan yang berjaga di gerbang kediaman William's itu, sudah melanggar prosedur dari Sir Miller.


Karena, saat akan mengambil senjata api itu kembali, klien yang sudah ikut di dalam mobil, tentu akan melihat senjata api yang para kurir miliki.


Sedangkan, klien tidak seharusnya mengetahui kalau para kurir membawa senjata api, apalagi kalau sampai klien tahu, di mana para kurir menyimpan benda itu.


"Huuffft ...!" Berkali-kali Alexa mendengus kesal, sambil membawa mobilnya masuk hingga terparkir di depan pintu rumah keluarga William.


"Ah! Terserah saja!" Alexa bicara sendiri.


Tidak berapa lama Alexa dan Benny menunggu, Mark William dan bodyguard-nya tampak berjalan ke luar, menuruni tangga di depan rumahnya.


Alexa dan Benny kemudian, memeriksa sekujur tubuh Mark William dan bodyguard-nya, menggunakan detektor logam, sebelum kedua penumpang mereka itu masuk ke dalam mobil.


Seperti biasa, Mark pasti ikut di mobil yang dikendarai oleh Alexa, dan duduk di jok penumpang di bagian depan, bersebelahan dengan Alexa.


Ketika mereka kembali melewati gerbang pagar, Alexa bergegas turun dari mobilnya, lalu berniat untuk mengambil senjata apinya kembali.


Begitu juga Benny yang ikut turun dari mobilnya, dan mendatangi pos penjaga keamanan.


Perjanjian awal, kalau mereka tidak akan dipersulit untuk mengambil kembali senjata apinya, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.


Setelah petugas keamanan keluarga William melihat Mark William ada di dalam mobil, mereka lalu tidak mau mengembalikan senjata api milik Alexa.


Tak ayal, perdebatan antara Alexa dan Benny melawan petugas keamanan William's pun, kembali terjadi.


Alexa benar-benar kesal dibuatnya, hingga memukul meja dengan keras.


"Braaak!"


"Kalian jangan bercanda! Di perjalanan, kami membutuhkan itu untuk membela diri, kalau-kalau ada yang hendak mencelakai kami! Termasuk bos-mu itu! ...


... Kalau kalian tidak mengembalikannya, bagaimana kami bisa memastikan keamanan bos-mu itu di perjalanan!" Alexa berbicara dengan nada datar, namun tegas.


"Tapi, dengan senjata itu, kalian bisa mencelakai Atasan kami!" ujar salah petugas keamanan di situ.


"Okay! Begini saja! Kalian ikut denganku dan jemput bos-mu dari mobilku! Aku tidak akan mengantarkan bos-mu itu! Jadi, kalian bisa kembalikan senjata kami!" ujar Alexa, lalu segera berbalik dan berjalan keluar dari pos jaga.


Alexa kemudian membuka pintu penumpang di mana Mark William duduk.


"Anda keluar sekarang, Sir! Saya membatalkan perjanjian kontraknya. Anda bisa menghubungi kantor saya saja nanti," ujar Alexa, yang berusaha keras menahan dirinya agar bisa tetap terlihat tenang.


"Ada apa?" tanya Mark William, tanpa mau keluar dari dalam mobil Alexa.


"Maaf, Sir! Mereka membawa senjata api. Kami masih menyitanya, dan tidak akan dikembalikan kepada mereka, selama anda masih bersama mereka," kata salah petugas keamanan yang berdiri di dekat Alexa.


"Saya tidak akan mengantar anda, selama senjata api milik saya tidak dikembalikan. Karena senjata itu diperlukan, untuk menjamin keamanan saya, dan apa saja yang menjadi antaran saya di perjalanan," ujar Alexa.


Alexa mengangkat sebelah tangan dan membuka telapak tangannya itu, memberi isyarat untuk mempersilahkan Mark agar keluar dari mobilnya.


"Apa selama ini kamu membawa senjata api?" tanya Mark William sambil menatap Alexa.


Sambil tetap duduk di jok penumpang itu, Mark William tampak terdiam untuk beberapa saat.


"Kembalikan senjata api milik mereka!" Mark William kemudian memberi perintah.


Alexa mengira kalau Mark William memang akan membatalkan kontrak, hingga menyuruh petugas keamanan mengembalikan senjata api milik Alexa dan Benny.


Namun, setelah senjata api mereka dikembalikan, Mark William justru menarik pintu di sisinya hingga menutup, sambil tetap bertahan di dalam mobil Alexa itu.


"Sir!" seru petugas keamanan yang memberikan senjata api kepada Alexa dan Benny.


"Shut up!" Mark William membentak petugas keamanan itu.


"Alexa! Kenapa kamu masih berdiri di luar? Semakin banyak waktu yang terbuang!" ujar Mark.


Sejenak, Alexa bertatap-tatapan dengan petugas keamanan, sebelum akhirnya dia bergegas masuk ke dalam mobilnya.


Alexa bisa melihat di kaca spion di sisinya, kalau Benny juga sudah masuk ke dalam mobilnya.


Tanpa berlama-lama lagi, Alexa segera memacu mobilnya pergi dari depan gerbang kediaman keluarga William.


"Kenapa anda masih mau melanjutkan kontrak? Apa anda tidak merasa khawatir, karena saya dan rekan saya membawa senjata api?" tanya Alexa.


"Umm ... Saya bukan orang yang bodoh. Saya mengerti, kalau kalian harus membawa senjata api untuk melindungi diri....


... Kalau kamu memang mau mencelakaiku, pasti sejak awal aku ikut denganmu, kamu sudah meledakkan kepalaku, karena bosan mendengar ocehanku!" jawab Mark yang tiba-tiba berbicara santai.


"Benar kataku, kan? Kamu bosan mendengar ocehanku," lanjut Mark, sambil menatap Alexa.


Alexa menoleh sebentar ke arah Mark, lalu kembali menatap lurus ke jalanan di depannya.


"Tidak perlu memakai pendingin udara. Aku mau merokok," kata Mark kemudian mematikan pendingin udara di dalam mobil, dan menurunkan kaca jendela di sampingnya.


Alexa tidak berkomentar apa-apa, dan hanya ikut menurunkan kaca jendela di sampingnya hingga terbuka, sementara Mark, sudah tampak santai menghembuskan asap rokok dari mulutnya.


***


Hingga perjalanan mereka yang mengarah ke luar dari kota Hills, sudah berlanjut kurang lebih hampir dua jam, Mark tidak berkata apa-apa lagi.


Laki-laki itu benar-benar tenang di perjalanan itu, sampai jam makan siang tiba.


"Kita singgah makan di restoran xxx. Kalau tidak salah, kurang lebih 1 Mil ke depan, kamu akan melihatnya di sebelah kanan jalan," kata Mark, memecah kesunyian di dalam mobil itu.


Dan benar saja, tidak sampai 1 Mil, Alexa bisa melihat papan tanda restoran yang bertuliskan nama restoran yang dikatakan Mark tadi.


Alexa menghubungi Benny lewat radio, dan memberitahu kepadanya, kalau mereka akan singgah di restoran.


***


"Ikut makan denganku! Mau kan?" ajak Mark William kepada Alexa.


Di restoran itu, di setiap meja hanya tersedia sepasang kursi, jadinya, Mark William hanya berdua Alexa saja di satu meja makan.


Alexa tidak protes dan hanya mengikuti ajakan Mark, yang bahkan menggeserkan kursi untuk mempersilahkan Alexa duduk.


Sedangkan Benny, duduk satu meja dengan orang yang bekerja sebagai bodyguard bagi Mark.


"Aku tahu kalau perjalanan yang menjadi tempat tujuanku, akan membutuhkan waktu tempuh yang cukup lama. Aku berharap kamu bisa makan dengan baik, jadi aku tidak merasa khawatir....


... Kalau kamu merasa lelah, kamu juga bisa memberitahu aku, dan kita bisa singgah beristirahat. Karena aku tidak sedang terburu-buru," ujar Mark.


Alexa hanya mendengarkan Mark William bicara tanpa mau menanggapinya.