
10 November 1997.
08:43.
Asap rokok yang keluar bersamaan dari mulut beberapa orang yang ada di situ, mengepul tebal di ruang makan.
Alexa, Damian, Benny, dan beberapa rekan sesama kurir yang lain, baru saja selesai makan pagi, dan menyambungnya dengan menikmati kopi panas.
Jarang-jarang Alexa bisa melihat para kurir yang berjumlah kurang lebih sepuluh orang, bisa terkumpul di dalam satu gudang seperti sekarang ini.
Karena biasanya, paling banyak hanya lima orang saja yang bisa berada di satu gudang secara bersamaan, dari puluhan, bahkan mencapai ratusan orang kurir yang bekerja di bisnis pengantaran milik Sir Miller itu.
Alexa sudah tiba di gudang di wilayah Barat kota itu, setelah berkendara dari wilayah Selatan kota, sejak jam sepuluh malam tadi.
Sedangkan Benny dan Damian, tiba di situ hampir secara bersamaan, di sekitar jam sebelasan malam.
Sementara kurir yang lain, sudah berada di situ sejak kemarin sore, dan kesemuanya dari mereka, hingga saat ini belum ada satupun yang mendapatkan pesanan pengantaran baru.
"Sejak tanggal satu sampai hari ini, pesanan pengantaran kelihatannya berkurang banyak," celetuk salah satu kurir di situ.
"Kalau begini terus, persentase pendapatan kita kelihatannya akan sangat rendah," lanjutnya lagi.
Alexa tidak heran, kalau ada kurir yang mengeluh tentang pendapatan, karena kurir yang lain rata-rata kebutuhannya memang berbeda, jika dibandingkan dengan Alexa dan Damian.
Alexa dan Damian yang masih belum berkeluarga, terkadang tidak terlalu memusingkan urusan pendapatan.
Apalagi Alexa yang pendapatannya hanya untuk dirinya sendiri, sementara Damian hanya di waktu-waktu tertentu saja, harus mengirimkan uang untuk membantu adiknya yang masih berkuliah.
Berbeda jauh ceritanya dengan rekan mereka sesama kurir yang lain, yang harus membiayai kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya.
Bahkan, ada juga dari mereka yang harus membiayai hidup orang tuanya, sekaligus membiayai hidup mertuanya, yang bergantung kepada anak dan menantunya.
"Memang rasanya tumben sekali, di tanggal-tanggal seperti sekarang ini, orderan bisa sangat sedikit." Salah satu kurir yang lain, ikut menimpali perkataan rekannya tadi.
"Alexa! Kalau ada kontrak dari Mark William langgananmu itu, bawalah aku untuk ikut denganmu. Aku belum pernah mendapat kesempatan untuk ikut denganmu."
Tiba-tiba salah satu dari kurir di situ berbicara, meminta agar Alexa mengajaknya.
Pembicaraan tentang Alexa yang sering mendapatkan pesanan khusus dari Mark William, memang menjadi topik panas di antara sesama kurir.
Selain karena nilai persentase pendapatannya, pekerjaan pengantaran Alexa yang dipesan Mark William, juga dianggap sebagai pekerjaan pengantaran yang tidak terlalu melelahkan.
Ditambah lagi, beberapa orang kurir yang pernah ikut di dalam pesanan Mark William itu, mengumbar-umbar tentang Mark yang royal, hingga para kurir bisa mencicipi makanan yang berharga mahal di restoran mewah.
Namun semua hal itu, justru hanya membuat Alexa merasa tidak nyaman.
"Alexa! Mau ikut denganku sebentar?" ajak Damian, sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Kami akan pergi berbelanja di minimarket. Apa ada yang mau menitipkan sesuatu?" lanjut Damian.
"Tidak ada."
Ada dari antara para kurir yang menjawab pertanyaan Damian, dan ada yang menggelengkan kepalanya, dan ada juga yang hanya terdiam.
Alexa yang sudah ikut berdiri, kemudian beranjak pergi bersama Damian, lalu masuk ke dalam mobil yang biasa dipakai oleh Damian.
***
"Maaf, Alexa. Kamu pasti merasa kalau rekan kerja kita, seperti sedang memanfaatkanmu," celetuk Damian, saat mobil yang dia kendarai mulai melaju di jalanan.
"Tidak masalah. Sebenarnya, aku juga cukup merasa senang, kalau bisa membantu mereka yang butuh tambahan pendapatan," sahut Alexa datar.
"Bagaimana hubunganmu dengan Mark?" tanya Damian. "Kelihatannya sudah ada kemajuan, jika dibandingkan saat pertama kali kamu menerima pesanannya."
"Umm ... Kami hanya berteman," sahut Alexa. "Aku tidak mungkin terus menerus memusuhinya. Apalagi, aku hampir tidak pernah menolak orderannya."
Hubungan Alexa dan Mark, belakangan ini memang semakin membaik, walaupun Alexa menganggap Mark hanya sebatas teman saja.
Saat itu, Mark memang banyak membantu Alexa, agar tidak terlalu merasa sedih, dengan menyibukkan Alexa dengan berbagai kegiatan di luar hotel yang cukup menyenangkan.
Alexa bahkan sempat diajak Mark untuk menikmati pemandangan di sepanjang aliran sungai, dengan menaiki kapal pesiar yang khusus dipakai wisatawan untuk bersantai.
"Apa dia tidak pernah menyatakan rasa tertariknya padamu?" tanya Damian tiba-tiba.
"Ugh ...?" Alexa tersentak.
Alexa memang tidak pernah menceritakan kepada siapapun, tentang pengakuan Mark yang menginginkan Alexa untuk menjadi kekasihnya.
"Aaah ...! Dia pasti sudah pernah mengakui perasaan sukanya padamu, kan?!" ujar Damian, seolah-olah bisa membaca pikiran Alexa.
"Iya. Tapi, aku tidak mau berhubungan lebih dari teman," sahut Alexa jujur.
"Kenapa? Apa kamu masih menganggap kalau dia bukan laki-laki yang baik?" tanya Damian.
"Aku tidak tahu. Yang jelas, aku saat ini sedang tidak ingin terlibat dalam hubungan romantis, dengan siapapun juga," jawab Alexa.
Damian tampak manggut-manggut, seolah-olah mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Alexa.
"Kamu sibuk bertanya tentangku. Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu sudah menemukan seseorang yang akan kamu kencani?" lanjut Alexa.
"Pffftt ...! Bagaimana kalau aku berkencan denganmu saja? Walaupun kita tidak bertemu muka, kita masih bisa berhubungan lewat radio," ujar Damian sambil tertawa tertahan.
"Tidak ada yang wanita yang tahan, untuk berkencan dengan laki-laki yang hampir tidak bisa ditemui sesuka hatinya....
... Jadi, aku akan mengumpulkan uang yang banyak agar aku bisa pensiun, barulah aku mungkin bisa menemukan pasangan kencan," lanjut Damian.
"Kamu pasti bercanda!" sahut Alexa, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
10:58.
Ketika Alexa dan Damian sudah kembali dari berbelanja kebutuhan untuk membersihkan diri di minimarket, di dalam gudang terlihat empat orang kurir, termasuk mereka berdua yang masih tertinggal di sana.
Para kurir yang lain, tampaknya sudah mendapatkan pesanan baru, hingga kesemuanya dari mereka sudah menghilang dari situ, berikut juga kendaraan yang biasa mereka pakai.
Alexa sedang menyimpan belanjaannya di dalam mobilnya, ketika terdengar dari pengeras suara, nama salah satu rekan kurirnya dipanggil masuk ke dalam area kantor.
Kalau begitu, tertinggal Alexa, Damian dan Benny saja yang belum mendapatkan pesanan baru.
Belum sampai lima belas menit, semenjak satu orang rekan sesama kurir itu berlalu pergi dari gudang, kemudian terdengar nama Alexa yang dipanggil lewat pengeras suara.
***
"Aku tidak bisa menerima kontrak ini. LV yang tersisa hanya tiga unit saja," ujar Alexa.
Seolah-olah ada yang memberi laporan kepada Mark William, hingga laki-laki itu tahu di mana lokasi Alexa berada.
Karena, Mark pasti melakukan pesanan, di saat Alexa berada di gudang yang masuk dalam wilayahnya.
Seperti sekarang ini, saat Alexa berada di gudang wilayah Barat kota, maka Mark juga akan melakukan pesanan yang masuk di wilayah Barat kota.
Begitu juga saat Alexa sedang berada di gudang di daerah lain, maka Mark akan melakukan pesanan di wilayah gudang tempat Alexa berada.
Namun, Alexa tidak terlalu mau memusingkan hal itu, karena Alexa lebih terfokus pada ajuan kontrak dari Mark kali ini yang bisa ditolak olehnya, dengan alasan prosedur keamanan.
Pengantaran akan dilakukan untuk empat orang penumpang, sedangkan kurir yang tersisa hanya tiga orang, termasuk Alexa.
"Apa tidak bisa kalau satu LV membawa dua orang sekaligus?" Damian tiba-tiba menimpali pembicaraan Alexa dan pegawai administrasi, di area kantor itu.
"Rasanya tidak akan jadi masalah keamanan, kalau ada tiga LV yang berjalan beriringan," lanjut Damian.