
16 Januari 1997.
Alexa masih berada di area kantor, setelah selesai berbicara dengan Sir Miller di telepon tadi.
"Aku mau melihat lembaran orderannya," ujar Alexa kepada pegawai administrasi.
Sembari duduk di kursi, Alexa membaca lembaran kertas berisi catatan pesanan pengantaran yang diberikan pegawai administrasi, barusan.
"Pengecekan latar belakang pelanggan yang akan diantar sudah dilakukan, dan masuk dalam kategori Green-Flag," celetuk pegawai administrasi itu
Mark William, adalah nama orang yang akan diantar oleh Alexa, akan pergi ke daerah xxx, di bagian Timur kota, bersama seseorang yang bernama xxx xxxx.
Seseorang yang satunya lagi selain dari Mark William itu, tampaknya adalah bodyguard dari Mark William.
Pesanan itu terlihat konyol bagi Alexa, karena orang kaya seperti Mark William, tentunya tidak butuh diantar oleh kurir seperti Alexa, apalagi dengan kendaraan biasa yang tidak mewah.
Entah apa niat dari laki-laki itu, hingga memesan pelayanan pengantaran semacam ini.
Namun, biaya pengantarannya bernilai lebih dari tiga kali lipat, jika dibandingkan dengan pengantaran barang berharga kelas 1, dengan jarak tempuh yang sama.
"Tolong panggilkan Damian!" ujar Alexa.
"Okay!" sahut pegawai administrasi, lalu tampak berbicara di mikrofon. "Damian! ... Ke ruang kantor sekarang!"
Tidak berapa lama, Damian tampak sudah memasuki area kantor itu, dengan memasang wajah kebingungan.
"Ada apa?" tanya Damian.
"Kamu mau ambil orderan ini?" tanya Alexa, sambil menyodorkan lembaran catatan pesanan kepada Damian.
Damian tampak berkonsentrasi melihat lembaran itu, lalu berkata,
"Mengantar orang? Ini pengantaran yang tidak biasa. Lalu, orderan ini juga hanya untuk satu LV."
"Tidak. Menurut prosedur dari Sir Miller, satu LV hanya bisa membawa satu orang," ujar Alexa. "Kalau kamu mau, kita berdua yang mengambil orderan ini."
"Umm ... Okay!" sahut Damian.
"Jadi, kalian berdua yang mengambil orderan ini?" tanya pegawai administrasi.
"Iya," jawab Alexa.
"Okay! Kamu belum sempat sarapan, kan?" tanya pegawai administrasi itu, yang dijawab Alexa dengan menganggukkan kepalanya. "Sarapan saja dulu! Aku akan memanggil kalian, kalau aku sudah selesai mengurus orderan ini."
Alexa kemudian berjalan keluar dari ruangan yang berdinding kaca itu, bersama Damian dan lantas pergi duduk di area lain di dalam gudang, untuk menikmati sarapannya.
"Bagaimana prosedurnya?" tanya Damian.
"Pemeriksaan fisik saja, untuk memastikan kalau orang-orang itu tidak membawa senjata tajam. Lalu pesan dari Sir Miller, senjata api kita jangan disimpan di dalam dashboard....
... Mungkin akan lebih baik kalau kita menyimpannya di pinggang, atau di kantong pintu, di sisimu," jawab Alexa menjelaskan.
Alexa tidak mau terlalu memusingkan kepalanya dengan apa niat dari Mark William, dan hanya sibuk dengan makan paginya, karena Alexa tidak terlalu khawatir untuk berhadapan dengan laki-laki seperti itu.
***
07:45.
Alexa dan Damian berdiri menunggu di depan gedung sebuah hotel, setelah memberitahu kepada petugas keamanan hotel, tentang tujuan mereka di situ.
Mungkin kurang lebih lima belas menit mereka menunggu, barulah terlihat dua orang laki-laki, keluar melewati pintu hotel.
Yang satu berbadan tinggi tegap, sedangkan laki-laki yang satunya lagi, hanya setinggi Alexa.
Alexa dan Damian, sama-sama sudah siap untuk melakukan pengantaran, dengan senjata api yang disimpan di pinggang, dan tertutup oleh kemeja yang dipakai mereka sebagai pelapis.
Setelah Alexa dan Damian menunjukan kartu ID pegawai, tinggal dua orang penumpang itu saja yang harus mereka pastikan siap untuk diantar.
Dengan detektor logam, baik Alexa maupun Damian, memeriksa penumpang yang ikut di mobil mereka masing-masing.
Senjata api yang ditemukan di badan bodyguard Mark William, disita Damian dan menyimpannya di bagasi.
Tidak terjadi perdebatan yang alot, karena Mark William menyetujui akan penyitaan senjata api yang dibawa bodyguard-nya itu.
"Sir! Anda duduk di belakang!" kata Alexa, saat Mark William membuka pintu depan, dan tampak berniat duduk di jok penumpang di samping Alexa.
"Tidak. Aku bosan duduk di belakang," sahut Mark tampak memaksa, dan tidak mau menuruti kata Alexa.
Dengan rasa masa bodoh, Alexa membiarkan Mark duduk di jok penumpang di sampingnya itu, sementara Alexa bersiap-siap untuk pergi mengantarkannya pergi dari situ.
"Alexa! Kamu seorang wanita, kan?" tanya Mark.
Alexa tidak menanggapi pertanyaan Mark William, melainkan tetap berkonsentrasi untuk mengemudi, dengan menatap lurus ke jalanan di depannya.
"Hey! Kenapa kamu tidak menghiraukanku?" tanya Mark lagi. "Apa sesulit itu, untuk berbincang-bincang denganku?"
"Maaf, Sir! Kami biasanya hanya mengantar barang. Dan barang-barang yang kami antarkan, biasanya tidak mengajak kami bicara."
Alexa menjawab dengan asal-asalan, tanpa mau memperdulikan kalau-kalau Mark William mungkin akan marah karena jawabannya itu.
"Hahaha ...! Kamu ternyata lucu juga," ujar Mark sambil tertawa.
"Apa kamu tidak mau tahu, kenapa sampai aku memesan perusahaan kalian untuk mengantarkanku?" lanjut Mark William.
Alexa tetap terdiam.
"Kalau memakai kendaraan pribadi, harus menyiapkan bodyguard yang banyak untuk mengawalku....
... Aku tidak bisa bebas bergerak, apalagi terlalu santai. Karena bisa saja ada yang berniat mencelakakan aku," kata Mark.
Alexa mendengus pelan.
Walaupun, Alexa tidak menghiraukan laki-laki itu, namun kelihatannya, laki-laki itu tidak mau menyerah, dan tetap berbicara mengatakan semua yang ingin dia katakan kepada Alexa.
"Sedangkan, jika aku memakai layanan kalian, tentu tidak akan ada yang menduga, kalau seorang Mark William, bisa menumpang di mobil seperti ini....
... Apalagi sampai duduk di depan seperti sekarang ini. Jadi aku bisa bersantai, menikmati pemandangan di perjalanan dengan rasa tenang," lanjut Mark lagi.
Semakin banyak yang dikatakan oleh Mark William, semakin membuat Alexa merasa yakin akan kesombongan laki-laki itu, walaupun ada juga rasa sedikit mengerti, akan alasan dari Mark William yang memesan layanan kurir.
Namun tetap saja, Alexa memang tidak berminat untuk terlibat dengan orang kaya, yang dianggap Alexa sebagai seorang anak manja, jadi kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulut Mark William, semakin tidak dihiraukan oleh Alexa.
Menurut Alexa, Mark William yang hampir tidak bisa berhenti bicara tentang dirinya sendiri, mirip dengan pedagang obat yang sedang mempromosikan dagangannya.
***
"Damian! ... Copy!" ujar Alexa memanggil dari sambungan radio.
"Iya, Alexa! ... Ada apa? ... Copy!" sahut Damian.
"Aku harus singgah mengisi bahan bakar ... Copy!" kata Alexa.
"Okay! Aku tetap menyusul! ... Copy!" sahut Damian.
Mobil yang dikendarai oleh Alexa, berada di bagian depan, dan mobil Damian tidak terlalu jauh menyusul di belakangnya.
Namun, dengan kecepatan berkendara yang cukup tinggi, Alexa harus memberi peringatan kepada Damian, agar tidak terkejut kalau Alexa tiba-tiba mengubah arah jalannya.
Setelah melihat papan tanda tempat pengisian bahan bakar yang menjadi partner bisnis pengantaran barang Sir Miller, Alexa mengurangi kecepatan mobilnya.
Alexa kemudian memutar kemudi dan berbelok, masuk ke dalam area pengisian bahan bakar itu.
Sembari menunggu bahan bakar mobilnya terisi penuh, Alexa bercakap-cakap sebentar dengan Damian, sambil berdiri di dekat pompa bahan bakar.
Sementara kedua orang penumpang mereka, menunggu di dalam masing-masing mobil yang mereka tumpangi.
"Mark William. Laki-laki itu terlalu membanggakan dirinya. Seakan-akan tidak bisa lelah dia berbicara, sampai mulutnya mungkin akan berbusa," ujar Alexa.
"Pffftt ...! Kalau begitu, penumpangku adalah kebalikan dari Mark William. Sejak kita berangkat tadi, penumpangku itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun....
... Bahkan, saat bernafas pun, dia seolah-olah menahannya agar tidak bisa terdeteksi keberadaannya," sahut Damian sambil tertawa tertahan.
"Hahaha!" Alexa tertawa, sambil menutup mulutnya dengan tangan.