Forced Wedding

Forced Wedding
S2 Inka - Daxon 45



~Bertemu Er dan Ar di ruangan Dokter SpOG~


Dokter meletakkan hasil dari pemeriksaan kaki Inka. Lalu dia menatap kearah Inka dan Daxon secara bergantian yang memang sedang menunggu penjelasan dari nya.


" Kondisi tulang kaki Nona Inka sudah benar-benar pulih."


Senyum dari kedua pasangan itu langsung mengembang. Inka sangat senang dengan hasil pemeriksaan nya kali ini dan dia memeluk Daxon yang duduk di sampingnya.


Pria itu memeluk sang istri dan mengusap punggung nya.


" Tapi Nona Inka masih harus meminum vitamin yang aku berikan secara rutin," lanjut Dokter itu.


" Iya, Dokter. Aku akan selalu meminumnya," sahut Inka semangat.


Lalu mereka keluar dari ruangan itu setelah mengucapkan terima kasih pada Dokter itu.


" Kau puas sekarang, Tuan?" kata Inka saat sudah ada di luar ruangan.


Daxon terkekeh dan merengkuh pinggang ramping Inka.


" Ya. Aku sangat senang kau sudah bisa berjalan lagi," sahut Daxon sambil mencium kening Inka meskipun di lorong rumah sakit itu banyak orang yang melihat adegan romantis mereka.


" Lalu ... apa kita akan langsung ke ruangan Dokter SpOG?" tanya Inka dengan senyum cantiknya.


" Hmmm ... Kita akan berkonsultasi dan memeriksa kondisi rahim mu," sahut Daxon.


Lalu mereka berjalan bergandengan tangan menuju ruangan dokter itu.


.


.


Kini mereka sudah ada di depan ruangan dokter SpOG. Mereka sedang menunggu giliran karena Dokter itu sedang ada pasien.


Setelah sekitar 15 menit menunggu. Dia pasangan keluar dari ruangan itu yang tak lain adalah Erlina dan Arga.


" Heii ... Kalian disini?" tanya Arga saat melihat Inka dan Daxon yang duduk di kursi tunggu.


" Hai Ar, Er. Kita bertemu disini," sahut Daxon.


Erlina yang berwajah sumringah langsung duduk di samping Inka dan memeluknya.


" Heii ... ada apa ini? kau terlihat sangat bahagia, Er." Kata Inka karena Er tampak memeluknya dengan sangat erat.


" Ya. Aku bahagia dan sangat sangat bahagia," sahut Erlina sambil melepas pelukannya.


Inka menatap heran pada Erlina begitu pun dengan Daxon yang menatap dengan penuh pertanyaan pada Arga yang juga berwajah sumringah.


" Taraa ... aku hamil Inka!!" kata Er dengan semangat nya sambil menunjukkan hasil foto dari USG nya.


Inka terpaku sambil menutup mulutnya. Dia mengambil hasil USG Erlina dan melihat ada sebuah titik kecil yang akan menjadi calon bayi Er.


" Selamat Er!!! aku ikut bahagia dengan kabar ini. Akhirnya kau hamil," kata Inka memeluk sahabatnya itu.


" Selamat, Ar. Akhirnya kau akan segera menjadi Daddy," kata Daxon memberikan selamat pada Arga dengan menjabat tangan nya.


" Thanks, Ar. Dan seperti nya ada kabar bahagia juga dari kalian," kata Arga saat menyadari Inka yang sudah tak memakai tongkat.


Er melepaskan pelukannya dan melihat kearah Inka. Dan melihat kearah kaki Inka.


" Wait ... dimana tongkat mu?" tanya Er.


Inka tersenyum dan menatap kearah Daxon.


" Sudah aku buang jauh-jauh karena aku sudah tak membutuhkan tongkat lagi," sahut Inka semangat.


" Oh ... benarkah? aku ikut senang mendengar nya, Inka! Akhirnya kau bisa bergerak lebih leluasa lagi," sahut Er kembali memeluk Inka.


" Tapi ... Tunggu!" Er melepaskan pelukannya.


" Coba kau berdiri dan berjalan," lanjut Er.


Inka terkekeh dan langsung berdiri. Dia bahkan berjalan dan berlenggak lenggok di lorong rumah sakit layaknya seorang model yang berjalan di panggung catwalk.


" Wohooo ... kau berbakat juga menjadi model, Inka. Apa kau tidak tertarik untuk terjun kesana?" kata Erlina saat melihat Inka yang sudah bisa berjalan dengan normal bahkan berlenggang di depan nya.


" No!! aku tahu dunia modelling dan itu bukan passion ku," sahut Inka duduk kembali di dekat Er.


" Lalu?" tanya Er dengan penuh selidik.


" Aku akan membuka toko bunga dan akan memberi nama INDA FLORIST."


Er tampak mengerutkan keningnya melihat kearah Inka.


" Kenapa Inda Florist?" tanya Er penasaran.


" Karena itu adalah gabungan dari nama ku dan juga Daxon," sahut Inka hingga membuat semuanya tertawa karena Inka bahkan sudah memikirkan tentang nama untuk toko bunga nya.


" Lalu bagaimana dengan butik mu, Er?" tanya Inka.


" Sudah berjalan 80%," sahut Er.


Lalu terdengar suara seorang perawat yang memanggil nama Inka.


" Aku kedalam dulu," kata Inka bangkit dari kursinya.


" Ya. Semoga hasilnya baik dan kau juga bisa segera hamil," sahut Er.


" Tunggu aku di cafe sebelah rumah sakit ini, Er!" kata Inka sambil berjalan kearah pintu ruangan dokter SpOG.


" Oke!"


Er dan Arga pun langsung menuju cafe sebelah karena mereka akan makan siang disana sembari melanjut obrolan mereka.