Forced Wedding

Forced Wedding
23. ( Er-Ga )



Inka menepati janji nya untuk menemani Er di pant house nya. Selama beberapa hari dia menginap di sana.


Er tetap menyembunyikan sesuatu yang terjadi padanya. Tak ada yang tahu hal itu termasuk Arga yang bersamanya saat wanita itu mendapatkan teror itu.


Bahkan Arga menuduhnya sedang bersandiwara. Tapi Er bersyukur untuk itu karena jika Arga percaya pada apa yang terjadi saat itu, mungkin saja Arga akan menyelidiki hal itu dan rahasia yang Er sembunyikan rapat-rapat bisa terbongkar.


Er tengah berdiri di beranda kamar nya. Wanita itu menatap langit yang sedang indah malam itu dengan banyak bintang yang bertebaran di sana.


Seketika Er merasa tenang saat menatap langit malam.


" Er ... Ayo masuk. Kau bisa masuk angin nanti," panggi Inka dari dalam kamar.


Er menoleh dengan tangan yang berada di dadanya.


" Ya. Aku hanya ingin menatap langit malam yang begitu indah malam ini. Dan malam ini adalah malam terakhir kebebasan ku," kata Er lalu berjalan masuk kedalam kamar nya.


Inka mengernyitkan keningnya, dan melihat kearah Er yang kini duduk di tepi ranjang.


" Maksud mu apa, Er? aku tak mengerti," kata Inka menghampiri Er.


Erlina tak menjawab. Dia terlihat bingung dan tertekan.


Lalu Inka naik keatas ranjang dan memeluk tubuh Er yang terlihat sangat rapuh saat ini.


" Ada apa? apa karena pernikahan mu besok?" tanya Inka.


Inka yang sangat tahu sifat Erlina begitu perihatin saat melihat partner nya itu sedang dalam posisi terendah nya saat ini.


Dia sangat tahu, bahwa ini yang sangat di takut kan oleh wanita cantik itu. Dia sangat takut menghadapi pernikahan nya sendiri.


Di tambah lagi, dia menikah bukan dengan pria yang di cintai nya.


" Ceritakan padaku, Er." Inka melepaskan pelukannya.


" Ini bukan pernikahan seperti pada umumnya, Inka. Ada perjanjian bisnis didalamnya. Dan juga ada kesepakatan yang di buat oleh Arga dalam pernikahan ini," kata Er menjelaskan.


" Perjanjian? jadi ini hanya nikah kontrak maksud mu? bukankah itu bagus, karena kau akan terlepas dari pernikahan ini jika kontrak nya sudah selesai, kan? tanya Inka.


" Bukan. Ini bukan hanya nikah kontrak. Aku di jebak dalam pernikahan ini dan tak akan bisa terlepas dari pernikahan ini," sahut Er sendu.


" Maksud mu, tuan Arga sengaja menjebak mu dalam pernikahan ini?" tanya Inka.


" Ya, dan bodoh nya aku menandatangani surat perjanjian itu tanpa membaca isi dari surat itu," kata Er geram.


" Mungkin ini sudah takdir mu, Er. Dan mungkin saja tuan Arga memang jodoh mu," shut Inka.


" Bulshit dengan itu semua. Aku lelah, aku ingin tidur. Siapa tahu besok aku terbangun sudah ada di surga dan tak perlu menikah dengan pria menyebalkan itu," kata Erlina mulai memejamkan matanya.


" Heii ... jaga bicaramu, Er. Kau menyebalkan jadi Tuhan juga mengirimkan pria yang menyebalkan juga padamu," kata Inka sambil merebahkan tubuhnya di samping Erlina.


" Shut up. Aku ingin tidur," kata Er memejamkan matanya.


Lalu mereka pun tertidur bersama.


.


.


Ke esokan harinya. Tepatnya di sebuah hotel berbintang. Tampak dekorasi bunga bertebaran dari lobby hingga ruang aula.


Bahkan disana sudah terpajang foto Er dan Arga saat pesta pertunangan.


Dekorasi mewah dan indah disana seakan ikut menjadi saksi sebuah janji ikatan suci pernikahan yang akan di ucapkan nanti oleh Er dan juga Arga.


Para pelayan tengah sibuk menyiapkan pesta pernikahan yang cukup mewah itu. Karena ini akan menyatukan dua keluarga yang sangat berpengaruh di kota itu.


Keluarga besar Lorenza dan keluarga besar Mahardika akan bersatu serta akan menjadi sebuah keluarga setelah pernikahan ini.


" Er ... bangun Er. Ini sudah jam 7, kau harus bersiap untuk pernikahan mu," kata Inka membangunkan Erlina berkali-kali.


Erlina. Sang pengantin wanita masih tertidur pulas saat para perias sudah datang untuk merias sang pengantin.


Wanita itu teringat perkataan Er semalam yang berharap akan bangun setelah ada di surga.


" Denyut nadinya ada, dan normal. Ayolah Er, ini tidak lucu," kata Inka.


Er, sengaja meminum beberapa obat tidur semalam ketika Inka sudah terlelap, karena dia tak bisa tidur. Dia terlalu stres memikirkan pernikahan itu.


Benar saja, dia tetap tak terjaga meskipun ber ulang kali Inka membangunkan nya. Wanita itu tetap terlelap layaknya putri tidur.


CEKLEK


Pintu kamar terbuka, Lintang masuk kedalam kamar Er bersama Tita. Mereka terlihat sudah siap dengan balutan gaun pesta yang warnanya senada.


" Ada apa, Inka? Kenapa para perias itu belum merias Er. Dimana Erlina?" kata lintang belum melihat Er yang sedang tertidur pulas di atas ranjang.


" Oh my. Er ... dia belum bangun?" kata Tita menyadari Er yang tengah tidur di atas ranjang.


" What ... gadis ini benar-benar," geram lintang.


Dia langsung membangun kan Er dengan cara di gelitiki kakinya. Biasanya Er akan langsung terbangun karena itu adalah kelemahan Er ketika tidur.


Tapi Er tetap tak bangun.


" Sejak tadi aku sudah berusaha membangun kan nya, Aunty. Tapi dia tetap tak bangun," kata Inka frustasi.


Lalu Tita mencoba membangun kan Er. Berulang kali mereka berusaha membangun kan sang pengantin tapi hasilnya tetap sama.


Er tetap terlelap dan tak bergeming, hingga setengah jam berlalu.


Lalu Lintang mengingat sesuatu, dia mencoba mencari sesuatu di tas Erlina tapi dia tak menemukan nya.


" Kau mencari apa, Lintang?" tanya Tita.


Lintang tak menjawab, dia terus mencari sesuatu yang pernah dia temukan di meja Er ketika di mansion. Dia sangat yakin bahwa putrinya itu mengkonsumsi obat itu.


Dia mencari obat itu di semua meja dan sudut kamar itu, tapi tetap tak menemukan obat itu di manapun. Lalu dia bergegas memeriksa tempat sampah yang ada di pojok kamar.


Dia melihat botol plastik kecil yang dia lihat di meja Er ketika itu. Lintang mengambil nya lalu memeriksa botol yang sudah kosong itu.


" Astaga ... Eeerr !!!" teriak Lintang.


Dia menghampiri tubuh Er dan mengguncang tubuh putrinya itu.


" Eeerrr ... Bagaimana kau bisa melakukan ini, Er!! Eerr ... banguunn Er. Momy tak mau kehilangan kamu!!" teriak Lintang sambil menangis.


Tita mengambil botol plastik kecil yang di pegang oleh lintang. Dia terkejut melihat botol obat tidur itu yang kini sudah kosong.


" Oh my God. Dia meminum ini?" kata Tita terkejut.


Lalu Inka menghampiri Tita dan mengambil botol obat itu.


" Oh my. Aku kecolongan," kata Inka menepuk keningnya.


" Bagaimana ini, Aunty," kata Inka panik.


Lalu Tita menghubungi Arga.


" Hallo, Mom. Ada apa?" kata Arga dari seberang sana.


" Ar ..." kata Tita dengan nada yang bergetar.


Arga mendengar suara Tita yang bergetar dan suara Lintang yang terus berteriak memanggil nama Erlina.


" Ada sesuatu yang terjadi disana, Mom?" tanya Arga.


" Ya. Erlina mengkonsumsi obat tidur, Ar. Dan sampai saat ini dia tidak bangun," kata Tita dengan nada suara yang tercekat.


" WHAT !!!" pekik Arga terkejut.