
" Hah ... Kau tidak mencintai ku, kau hanya mengasihani ku. Aku tahu itu," kata Inka sinis.
Wanita itu langsung menutup kembali matanya karena dia sangat enggan untuk berbicara dengan pria yang saat ini ada di hadapannya.
Lalu dia merasa kan kecupan yang teramat dalam di permukaan kening nya. Ciuman itu sangat dalam dan lama sehingga tak ayal membuat Inka merasakan ketulusan disana.
" I love you, itulah kenyataannya."
Kata-kata itu terdengar jelas di telinga Inka saat kecupan di kening nya itu tak lagi dia rasakan.
Bahkan tangan besar yang mengusap lembut puncak kepalanya pun turut menghilang.
Wanita itu membuka sedikit matanya dan melihat kearah punggung lebar seorang pria yang sudah mulai menjauh dari pandangan nya.
' Tapi itu tak akan merubah kenyataan bahwa kau akan memiliki seorang anak dari rahim wanita lain. Dan itu bukan aku,' batin Inka tanpa terasa menetes kan air matanya.
.
.
Di siang hari nya. Inka kembali membuka matanya saat mendengar suara dari kedua adik kembar nya.
" Kak ... Kakak bangunlah!!"
Kata-kata itu terus menggema di kedua telinganya bersamaan dengan guncangan pelan di kedua lengan nya.
Wanita itu kembali membuka matanya. Dia melihat kearah dua anak kembar yang sudah duduk di atas ranjang nya. Dan dia juga melihat wajah teduh sang ibu.
" Kakak ... Akhirnya kau bangun!!! Kami merindukan mu, Kak. Jangan pernah tidur panjang seperti itu lagi," ucap kedua adik kembar nya.
Kedua anak itu memeluk tubuh Inka dan menangis haru. Inka tersenyum dan memeluk kedua nya.
Rinda pun turut tersenyum saat melihat pemandangan itu. Dia ikut bergabung dan memeluk ketiga buah hatinya.
Kini dia dapat bernafas dengan lega, karena melihat kondisi Inka yang sudah sadar dan dia juga senang saat mendapati kabar bahwa kaki sang putri hanya patah tulang dan tidak sampai lumpuh.
Tapi Rinda tak mempermasalahkan hal itu asalkan Inka masih bisa berjalan kembali. Dia akan selalu menemani dan merawat putrinya itu.
Mereka menemani Inka seharian itu di rumah sakit. Daxon membiarkan hal itu dan dia memilih untuk pergi ke rumah sakit setelah menugaskan kedua anak buahnya untuk berjaga di depan ruangan Inka.
" Kakak ... Aku meneruskan sekolah ku disini," kata Mars.
" Benarkah?" sahut Inka.
" Iya, Kak. Kata Uncle Kenta dan Aunty Siena, kita akan selamanya tinggal disini. Dan mereka juga sudah mengurus semua surat kepindahan kita kemari," sahut Mark.
Inka menatap kearah Inka dengan kening yang berkerut.
" Benarkah itu, Ibu?" tanya Inka.
" Ya. Ibu sudah memutuskan hal itu dan sudah memikirkan nya. Aku tidak ingin meninggalkan mu sendiri disini, Sayang. Meskipun disini ada Siena dan Tuan Kenta yang akan menjaga mu, tapi ibu ingin selalu ada di dekat mu. Meskipun kau menikah nanti, kau tidak keberatan, kan?" sahut Rinda dengan senyum teduh nya yang mampu membuat Inka luluh.
" Tapi, Ibu. Pernikahan itu tidak akan __"
" Kenapa? Kau keberatan dengan keputusan ibu? Kau mau menghancurkan kebahagiaan ibu dan adik-adik mu ini?" Sahut Rinda memotong perkataan Inka.
Inka melihat perubahan di wajah Rinda. Dia tidak meneruskan ucapannya karena dia takut menghancurkan perasaan sang ibu.
" Tidak. Bahkan aku sangat senang jika ibu selalu menemani ku disini," sahut Inka tersenyum.
Rinda ikut tersenyum dan kembali menyuap kan makanan ke mulut Inka.
' Ya. Ibu tidak perlu tahu tentang masalah itu. Cukup aku dan Daxon yang mengetahui hal itu dan aku akan membicarakan hal ini padanya nanti,' batin Inka.
Tanpa dia tahu. Bahkan Kenta dan Arga pun sudah tahu masalah itu. Mereka juga sudah menyelesaikan semuanya dan juga memiliki bukti yang belum di tunjukkan pada Inka.
Daxon dan Kenta hanya menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan bukti-bukti itu pada Inka. Karena wanita itu masih belum stabil dan baru saja membuka matanya.