
Ke esokan harinya.
Daxon keluar dari rumah sakit dengan penampilan lusuhnya, karena dia memang belum sempat pulang untuk sekedar mengganti baju.
Pria itu bergegas meninggalkan rumah sakit dimana Inka dirawat saat mendapatkan telepon dari Kiki.
Dia mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi. Menuju sebuah gudang tempat Heli di sekap, wanita yang sedang mengaku hamil anak dari Daxon.
Kiki berhasil menangkap wanita itu saat dia berusaha kabur dari kejaran para anak buahnya. Wanita itu sudah menduga akan ketahuan dan ingin segera melarikan diri dengan sejumlah uang bayaran dari seseorang yang sudah memerintahkan nya untuk menjebak Daxon.
Kini mobil yang di kendarai Daxon sudah tiba di gudang tempat Kiki menyekap Heli. Pria itu membuka pintu mobil dan bergegas keluar dari sana.
Dengan langkah lebar nya dia memasuki gudang itu.
" Dimana dia?" kata Daxon pada salah satu anak buahnya yang berjaga disana.
" Dia di ruangan itu, Bos!"
Daxon langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan yang di tunjuk oleh anak buahnya.
Tanpa basa-basi lagi. Pria itu langsung menendang pintu ruangan itu hingga membuat pintu itu terbuka lebar.
BRAAAKK
Seorang wanita yang sedang di ikat di atas kursi tersentak kaget. Dia menyadarkan dirinya dan melihat kearah pria yang sedang berjalan kearah nya.
" D-daxon."
Wanita itu terlihat ketakutan saat melihat wajah menyeramkan Daxon.
" Lepaskan aku, Dax. Aku mohon ... maaf kan aku," kata Heli memohon.
Daxon hanya terus berjalan dengan perlahan menghampiri Heli. Tatapan tajamnya tertuju pada wanita yang kini sedang ada di hadapannya dan yang sebentar lagi akan menjadi korbannya.
Dia menghentikan langkahnya dan mengambil sesuatu dari belakang punggungnya.
" Siapa yang sudah menyuruh mu untuk menjebak ku, katakan atau aku akan menembak mu sekarang juga," kata Daxon dengan nada dingin nya sambil mengeluarkan pistolnya.
Wajah Heli langsung terlihat pucat. Dia bahkan sulit menelan saliva nya melihat senjata itu.
" KATAKAN!!!" bentak Daxon yang cukup membuat Heli terkejut sekaligus takut.
" A-aku akan mengatakan nya. T-tapi aku mohon, lepaskan aku," kata Heli gugup.
Daxon tertawa sinis. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi Heli dan menatap kearah 2 anak buahnya yang berjaga di ruangan itu.
" Bunuh dia sekarang juga."
Heli merasa tubuhnya kaku dan keluar keringat dingin. Dia sangat takut saat ini jika sampai harus kehilangan nyawanya hanya karena menyembunyikan nama seseorang yang sudah menyuruh nya menjebak Daxon.
" BAIK BOS!!"
2 pria berotot itu langsung berjalan menghampiri Heli yang masih tak mau membuka mulutnya.
Lalu 2 pria itu menodong kan di senjata apinya pada Heli dan membuka wanita itu berteriak histeris.
" JANGAN ... AKU MOHON JANGAN BUNUH AKU!!" teriak nya sambil memejamkan matanya.
" Aku mohon jangan ... aku akan mengatakan semuanya. Griss ... Griss yang menyuruh ku untuk menjebak mu dengan sebuah kehamilan. Dia membayar ku dan menyuruh ku untuk menjebak mu dengan kehamilan ku!!" kata Heli akhirnya mengatakan hal itu pada Daxon.
' Ya. Ini sudah benar, aku tidak mau mati karena sesuatu yang bukan urusan ku,' batin Heli sambil meyakinkan diri nya sendiri.
Dan lagi pula. Dia sudah mendapatkan bayaran dari wanita yang sudah menyuruh nya itu.
' Gris? wanita itu benar-benar licik,' batin Daxon.
" Urus wanita itu," perintah Daxon pada anak buahnya dan langsung melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.
" DAXOOONN!!! LEPASKAN AKU!!! AKU SUDAH MENGATAKAN SEMUA NYA!!! LEPASKAN AKU!!" teriak Heli.
Namun sepertinya Daxon tak menggubris nya. Tujuan nya hanya ingin mendapatkan bukti jika dirinya tak bersalah dan tak menghamili wanita itu.
Agar dia bisa memiliki bukti yang kuat untuk di tunjukkan pada Inka jika wanita itu sudah tersadar.
Dan untuk Gris. Dia akan menyerahkan masalah Gris pada sang Daddy yang sudah berteman dekat dengan ayah dari wanita itu.