
~Operasi Inka~
Kabar menyedihkan itu tak ada yang tahu termasuk orang tua Daxon dan Inka. Inka tak ingin semuanya menjadi khawatir karena dia sendiri sudah yakin akan baik-baik saja.
Er dan Arga selalu menguatkan Inka dan meyakinkan bahwa setelah operasi itu selesai, Inka pasti akan pulih dan bisa hamil.
Daxon pun juga selalu memberikan dukungannya dan juga meyakinkan Inka bahwa semuanya akan baik-baik saja.
.
.
Hari operasi Inka.
Wanita itu tampak sangat tegang namun dia mencoba menahan ketakutan serta ke khawatiran nya.
Daxon tampak selalu menemani nya untuk memberikan semangat pada Inka agar dia bisa melewati itu semua.
Er dan Arga pun masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Er ingin menemani Inka dan memberikan semangat pada sahabatnya itu.
Hingga satu jam berlalu. Seorang perawat masuk kedalam kamar perawatan Inka, dia memeriksa kondisi Inka dan juga tekanan darah nya.
Lalu Er dan Arga datang dan langsung melihat kondisi Inka sebelum operasi dimulai.
" Tekanan darah Anda normal, Nona. Kita akan langsung melakukan operasi nya sekarang," kata perawat itu.
Er tampak mendatangi ranjang Inka dan memegang tangannya.
" Kau pasti bisa melewati ini, Inka. Yakinkan dirimu bahwa kau akan baik-baik saja, oke? tetap tenang karena ada kami disini," kata Er memberikan semangat pada Inka.
Inka hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Lalu Daxon menghapus sang istri.
" I love you. Kau pasti bisa dan pasti akan sembuh, setelah itu kita bisa memproduksi banyak anak karena tak akan ada lagi yang menghalangi benih ku untuk masuk, oke?"
Inka terkekeh saat mendengar wejangan dari sang suami. Bahkan Er langsung memukul keras lengan Daxon yang masih bisa berbicara random seperti itu disaat semua nya tegang.
" Tunggu aku disini. I love you to," sahut Inka dan Daxon langsung menciumi seluruh wajah Inka sebelum wanita itu di bawa ke ruangan operasi oleh para perawat.
.
.
2 jam berlalu.
Semuanya tampak masih setia menunggu di depan ruangan operasi, dimana Inka sedang di lakukan tindakan untuk mengangkat kista yang ada di rahimnya.
Daxon terlihat khawatir dan mondar-mandir di depan ruangan itu.
" Dax ... bisakah kau duduk? aku pusing melihat mu mondar-mandir seperti itu," kata Er geram.
" Dia akan baik-baik saja. Sekarang duduklah," kata Arga.
Daxon akhirnya menurut dan memilih duduk di kursi yang ada di sebelah Arga duduk.
Tak berselang lama. Lampu yang ada di ruangan operasi itu mati dan ketegangan pun kembali dirasakan oleh Daxon.
Pria itu berdiri dan berjalan mendekati pintu ruangan operasi. Lalu beberapa menit kemudian pintu itu terbuka.
" Dokter ... bagaimana operasi nya?" tanya Daxon saat seorang dokter baru saja keluar dari ruangan itu.
" Operasi nya berjalan lancar, dan kista itu sudah berhasil kami angkat," sahut dokter itu.
Daxon dan yang lainnya sudah bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan dari dokter.
" Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Daxon.
" Nona Inka masih dalam pengaruh obat bius. Tapi keadaannya sangat stabil," sahut dokter.
" Dia akan langsung di pindahkan ke ruang perawatan. Permisi."
Dokter itu langsung pergi dari hadapan Daxon. Dan setelah itu beberapa perawat mendorong Inka yang masih belum sadar di ranjang dan membawanya ke ruangan perawatan.
Semuanya langsung berjalan mengikuti langkah para perawat hingga akhirnya sampai di ruangan perawatan Inka.
Daxon berdiri di samping ranjang dan mengusap lembut puncak kepala Inka. Lalu dia mencium kening sang istri dengan begitu dalam.
" I love you so much," kata Daxon lirih.
Ponsel Erlina berdering, wanita itu langsung mengambil benda pipih itu dan melihat nama Lintang disana.
Dia lekas menggeser tombol berwarna hijau hingga panggilan itu lekas tersambung.
" Hallo, Mom."
" Hallo, sayang. Kau dimana? Momy sudah ada di mansion tapi kau tak ada," kata lintang dari seberang telepon.
" Aku di rumah sakit, Mom," sahut Erlina.
" Rumah sakit? apa kau sakit?" tanya Lintang terkejut.
" Tidak. Aku hanya sedang memeriksa kan calon cucu mu, Mom," sahut Er karena dia tak mau lintang tahu tentang kondisi Inka.
" Wait ... jadi Momy akan segera memiliki cucu?" tanya Lintang dengan nada yang bahagia.
" Ya. Tunggu aku di mansion karena sebentar lagi aku akan pulang. Bye Mom!"
Er langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak karena takut jika lintang bertanya banyak hal.