Forced Wedding

Forced Wedding
41



Mereka Tiba di resort.


Erlina dan Audie langsung masuk kedalam kamar dan sama-sama merendam tubuhnya dengan air hangat di bathtub yang ada di kamar nya masing-masing.


Sementara para pria duduk di ruang tengah dengan laptopnya dan sudah fokus dengan pekerjaannya masing-masing.


Setelah sekitar 30 menit berlalu.


Para wanita sama-sama keluar dari dalam kamarnya. Mereka terlihat begitu segar dan dan wangi karena sudah merendam tubuhnya dengan air hangat dan busa sabun yang wangi.


Tiba-tiba ponsel Er berbunyi. Wanita itu langsung mengangkat panggilan itu.


" Halo, inka? ada apa?" kata Erlin.


" Er ... kau ada di mana? apa kau masih berlibur? Eitts ... bukan berlibur tapi honeymoon," kata Inka sambil tertawa.


" Iiiiishh ... Cepat katakan ada apa? apa ada hal yang penting atau ada pekerjaan yang penting? tanya Erlina.


" Ya. Ada projek besar untukmu, Er. Coba tebak, apa pekerjaan itu?" kata Inka.


" Aku sedang tidak ingin main tebak-tebakan denganmu. Cepat katakan saja apa pekerjaan itu, inka!" jawab Erlina sambil duduk di sofa bergabung dengan yang lainnya.


" Aku yakin kau akan berteriak histeris setelah mendengar apa projek ini," kata Inka.


" kau terlalu bertele-tele Inka, cepat katakan! kau membuatku penasaran saja," sahut Erlina. Hal itu membuat Arga menatap kearah Erlina.


" Ada proyek besar untukmu, Er. Kau dikontrak oleh perusahaan merek terkenal dari paris untuk menjadi brand ambassador produk terbaru mereka," kata Inka menjelaskan.


" Wait ... WHAT!!! ARE YOU SERIOUSLY?" sahut Er terkejut hingga wanita itu berdiri.


Semua yang ada di ruangan itu menatap heran pada Erlina.


" Ya. Aku serius bahkan sangat sangat i serius. Tapi ada satu syarat," kata Inka.


" syarat? syarat apa? untuk apa mereka masih mengajukan syarat?" sahut Er langsung terduduk lagi di sofa.


" Apa kau lupa, Er? kau ini sudah menikah, dan pernikahan mu sudah tersebar bahkan ke luar negeri. Jadi mereka ingin kontrak itu juga ditandatangani oleh Arga. Suami kamu, Nyonya Mahardika!!" kata Inka tegas.


" WHATT !!!"


Erlina begitu terkejut mendengar syarat itu hingga dia kembali berdiri. Dan menjadi perhatian dari orang yang ada ruang tengah.


" Ya. Jadi setelah kau kembali nanti, aku akan mengantarkan surat perjanjian kontrak kerja itu ke mention mu. Kau harus membujuk suamimu agar dia bisa mau menandatangani surat kontrak itu, Er. Selamat berjuang!!! bye." Inka langsung memutuskan panggilan itu sebelum mendengar ocehan dari mulut sahabat nya itu.


Er terduduk lemas sambil menatap kearah ponselnya yang kini sudah mati.


' Apa pria menyebalkan itu akan menandatangani surat itu? Sepertinya aku harus menggoda nya. Ya ... Aku harus berusaha untuk membujuknya," batin Er terdiam.


" Er ... Are you Oke?" kata Audie melihat kearah ekspresi datar Erlina.


" Yes. I'm Ok," sahut Erlina tersenyum pada Audie.


" aku ingin ke kamar dulu," kata Er. Dia langsung pergi meninggalkan mereka yang tengah menatapnya.


' Ada yang aneh,' batin Arga menatap punggung Erlina yang mulai menghilang dari balik pintu.


Er menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi terlentang. Wanita itu menatap kearah langit-langit kamar itu.


" Apa yang harus aku lakukan? bagaimana caranya aku bisa merayu pria itu," gumam Er bingung.


" Apa aku harus menggunakan cara itu untuk membujuk nya?" kata Erlina pelan.


" Aaakkkhh ... Aku sangat malu jika harus menggoda nya terlebih dahulu!!" teriak Er sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


" Menggodanya siapa?" kata Arga yang tiba-tiba masuk kedalam kamar dan mendengar teriakkan dari wanita itu.


Er langsung membuka tangan yang menutupi wajahnya. Wanita itu menoleh pada Arga yang tengah berdiri di ambang pintu.


" Tidak. Aku tidak ingin menggoda siapa-siapa," kata Erlina.


Pria itu masuk dan langsung menutup pintunya serta mengurusi pintu itu. Hal itu membuat Erlina terbangun dari ranjang.


" Apa yang kau lakukan? kenapa kau harus mengunci pintunya, Ar? tanya Erlina.


" Aku hanya ingin berdua dengan istriku. Apa itu salah?" sahut Arga sambil berjalan menuju ranjang.


" Tapi aku ingin keluar, Ar," kata erlina sambil bangkit dari ranjang dan berjalan menuju pintu.


Namun tangannya ditahan oleh Arga. Pria itu menarik tangan Er hingga mendekat ke arahnya dan langsung merengkuh pinggangnya.


"Aku ingin kau melayani ku dulu disini," kata Arga berbisik di telinga Erlina dan membuat wanita itu merinding.


' Mungkin ini sudah waktunya aku membujuknya,' batin Er.


Wanita itu tersenyum dan mengangkat tangan nya serta mendarat kan nya di leher sang suami.


" Aku akan melayani mu, tapi dengan satu syarat," kata Er sambil menatap lekat mata tajam Arga.


Pria itu menyipitkan matanya melihat tingkah aneh sang istri yang tak pernah bersikap seperti itu pada nya.


" Katakan," kata Arga mendekatkan tubuh Er hingga menempel pada tubuhnya.


" Tapi kau harus berjanji untuk mengabulkan nya," sahut Er lagi.


" Jika itu bukan tentang perceraian aku bisa memikirkan nya," sahut Arga sambil tersenyum smirk yang membuat para wanita akan meleleh jika melihatnya.


" Baiklah. Aku pegang janji mu," sahut Er melepaskan tangan nya yang melingkar di leher Arga.


Pria itu langsung mendorong tubuh Er hingga wanita itu terlentang di atas ranjang. Dan dia langsung membuka pakaian nya dengan cepat.


Er kembali merasakan jantungnya yang berdetak begitu cepat ketika melihat tubuh kekar sang suami yang langsung membuat nya panas dingin.


Pria itu perlahan menyusuri tubuh Er dari ujung kakinya. Dia mengecupi kulit mulus sang istri hingga dan menindih nya secara perlahan.


Erlina memejamkan matanya menikmati setiap kecupan yang mendarat di kulit nya. Dia merasakan debaran di dadanya yang luar biasa saat sang suami mencumbui nya.


' Jangan pernah libatkan perasaan mu, Er. Jangan. Ini hanyalah sebutan nafsu,' batin Er sambil memejamkan matanya.


Wanita itu membuka matanya dan menatap mata Arga yang kini sudah berada di atas tubuhnya.


" I love you," kata Arga tiba-tiba mengatakan perasaan nya.


Tanpa Er sempat menjawab, Arga langsung ******* bibir manis itu.


Er mengikuti nalurinya dan membalas ciuman dari sang suami.