
" Bagaimana kondisinya, Dokter?" tanya Daxon.
" Keadaan nya mulai stabil tapi dia belum sadar kan diri. Kepalanya terbentur dengan begitu keras dan lukanya lumayan dalam hingga kita harus menjahitnya. Dan tentang kakinya ..."
ucapan dokter itu menggantung.
" Ada apa dengan kaki nya, Dokter?" tanya Daxon mulai khawatir.
" Kedua kakinya mengalami patah tulang yang cukup parah. Dan harus segera di operasi untuk memasang kan pen."
Daxon cukup terkejut mendengar ucapan dari dokter. Tapi dia segera menyadarkan dirinya.
" Ya. Lakukan apapun untuk menyembuhkan nya, Dokter. Berikan penanganan yang terbaik padanya," sahut Daxon.
" Baiklah. Anda harus mengurus administrasi nya terlebih dahulu dan kita akan menyiapkan ruangan operasi nya. Permisi."
Dokter itu kembali masuk kedalam ruangan IGD.
Sementara Daxon langsung mengurus administrasi nya.
Saat sudah mengurus administrasi nya. Daxon kembali berjalan menuju ruang IGD yang pintu nya tampak terbuka.
Pria itu melangkah kan kakinya dengan lebar. Dan melihat ranjang yang di dorong oleh para perawat keluar dari ruangan itu.
Dia melihat Inka yang terbaring lemah di ranjang itu. Daxon menghampiri ranjang itu dan ikut mendorong nya menuju ruangan operasi yang telah disiapkan.
Pria itu menatap lekat wajah pucat Inka yang matanya masih tertutup rapat.
' Aku akan segera meluruskan masalah ini, Inka. Kau harus lekas sadar agar kau bisa mengetahui bahwa itu semua hanya salah paham,' batin Daxon.
Akhirnya mereka sampai di depan ruangan operasi. Daxon tidak bisa ikut kedalam dan menunggu di luar ruangan operasi.
Pria itu duduk dan menyandarkan kepalanya ke dinding rumah sakit. Tangan nya terkepal dan memukuli keningnya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia langsung mengambilnya dan langsung menggeser tombol hijau disana.
" Hallo ..."
" Dax ... katakan di rumah sakit mana Inka dirawat?" tanya Siena dari seberang telepon.
" Tidak perlu kemari, Mom. Kalian kesini besok pagi saja," sahut Daxon lemas.
" Cepat katakan!! kita sudah ada di jalan!!" bentak Siena.
Daxon menghembuskan nafasnya.
" Di rumah sakit Medika," sahut Daxon.
Panggilan pun langsung di putus secara sepihak oleh Siena. Daxon meletakkan kembali benda pipih itu kedalam saku celananya.
" Apa yang harus aku katakan pada Mom and Dad? apa aku harus mengatakan masalah ku?" gumam Daxon.
Dia tampak berpikir. Tapi entah kenapa pikiran nya tampak fokus dengan kondisi Inka saat ini dan dia tak bisa memikirkan hal lain.
Dia kembali mengeluarkan ponselnya. Dia mencari nama Arga dan langsung menghubungi nya.
Panggilan itu tersambung namun tak ada jawaban dari panggilan itu. Hingga Daxon memutuskan untuk mengakhiri panggilan itu.
Dia melihat kearah jam tangan nya yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul 2 dini hari.
" Dia pasti sudah tertidur. Sebaiknya aku menulis pesan singkat saja."
Daxon menuliskan pesan singkat pada Arga dan mengatakan tentang kecelakaan yang menimpa Inka.
Lalu dia meletakkan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Tangannya bersedekap di depan dadanya dan kepalanya bersandar ke dinding.
Pria itu menutup matanya karena dia memang merasa sangat lelah.
Setelah beberapa menit kemudian. Ada langkah kaki beberapa orang berjalan kearah nya dan itu menarik perhatian Daxon untuk segera membuka matanya dan melihat kearah sumber suara.
Disana dia melihat Momy, Daddy dan ibu Rinda sedang berjalan di lorong rumah sakit yang sepi menuju kearah nya.
" Dimana Inka, Daxon? bagaimana keadaannya?" tanya Rinda khawatir.
Moza menatap ruangan yang ada di hadapannya.
" Ruang operasi? apa Inka ada di dalam?" tanya Siena.
" Iya, Mom. Tulang kaki nya patah dan dokter menyarankan operasi agar bisa memasang pen," sahut Daxon.
Rinda dan Siena cukup terkejut. Mereka duduk di kursi tunggu dan saling berpelukan untuk sama-sama saling menguatkan.
Sementara Kenta. Pria paruh baya itu menatap lekat wajah sang putra.
" Ikut aku," ucap Kenta dengan nada dingin nya.
Dia langsung melangkahkan kakinya menjauhi Rinda dan Siena. Daxon mengikutinya dari belakang dan dia sudah menyiapkan mental nya untuk setiap pertanyaan yang akan di lontarkan pada nya.
" Jelaskan pada Daddy, bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi. Dan kenapa Inka sampai menyetir mobil sendiri? bukannya kalian keluar bersama?" tanya Kenta dengan nada yang tertahan.
Daxon menghela nafas panjang dan segera mengangkat wajahnya menatap mata tajam Kenta.
" Kita tak pergi bersama, Dad. Dia mengikuti ku," ucap Daxon.
Kenta mengerutkan keningnya.
" Apa maksudmu Inka mengikutimu?"
Daxon langsung menjelaskan apa yang terjadi hingga kecelakaan itu terjadi. Kenta merasa emosi saat mendengar bahwa ada wanita yang mengaku hamil anak Daxon.
PLAKK
Kenta menampar pipi Daxon dengan keras dan hal itu terlihat oleh Siena.